At The Bus Stop



HEARTBREAK THE SERIES

One-Shot
Rating : PG 15+
Genre : Flashback, light-Romance, light-Angst
Main-cast : Jeon Jungkook, Park Sa-Rang
Warning : Less conversation! Dont blame me if you get bored when read this fanfiction. Hehe.
Ada sebuah halte bus yang kosong di ujung jalan. Kondisinya sudah tak layak. Banyak kerusakan disana-sini; kaca-kaca jendela dan tempat duduknya dipenuhi tulisan tak bermanfaat dari cat semprot, beberapa besi terlihat berubah warna karena panas hujan silih berganti menerpanya. Meski begitu, halte itu masih digunakan oleh warga sekitar sebagai tempat menunggu bus atau berteduh dari teriknya matahari atau derasnya hujan.
Seorang laki-laki sedang menuju halte itu sambil berlarian kecil upaya menghindari sengatan sinar matahari yang menyentuh kulitnya. Wajahnya memerah karena panas. Peluh mengucur dari pelipis menuju pipinya. Ia mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna hijau muda dari saku celananya dan perlahan mengusap peluh-peluh itu.
Jeon Jungkook, sebuah nama tertulis di ujung lain sapu tangan itu. Nama laki-laki itu dijahit tangan dengan benang warna merah muda dan diujung nama itu ada sebuah jahitan lain berbentuk hati.
Jungkook memilih kursi yang masih layak untuk diduduki di halte tersebut. Ia baru saja pulang dari rumah temannya. Sambil menunggu bus selanjutnya, ia mengeluarkan ponselnya kemudian memasang earphone di telinganya. Mendengarkan sebuah lagu yang ia sukai akhir-akhir ini. Eyes, Nose, Lips by Taeyang.
Ia menggulung lengan jaketnya hingga siku. Panas membuatnya gerah. Ia salah pilih warna hari ini. Jaket hitam tak cocok dengan cuaca panas. Harusnya ia sudah tahu hal itu. Namun, ia sangat menyukai jaket ini. Jaket terbaik yang ia punya dan paling sering dipakai. Warna hitamnya pun sudah mulai memudar. Jungkook memang tipe orang yang akan menyukai sesuatu dalam waktu lama walau hal itu mungkin sudah usang.
Mata Jungkook tertuju pada ponselnya. Ia sedang membaca sebuah pesan dari seseorang. Pesan itu sudah berada lama di ponselnya dan ia tak berniat sedikit pun untuk menghapusnya.
Jempolnya menggeser naik turun layar itu. Kalimat dalam pesan itu sepertinya menimbulkan berbagai ekspresi dan mimik di wajah Jungkook. Kadang ia tersenyum, kadang ia mengerutkan dahi, dan seringnya ia tak berekspresi sama sekali. Jungkook mengangkat kepalanya kemudian menatap langit di depannya. Ia tiba-tiba teringat sebuah halte bus yang tak jauh dari rumahnya di kota kelahirannya, Busan.
Jungkook kadang menjadikan halte bus itu sebagai tempat sakralnya. Tak jarang ia hanya duduk di halte bus hanya untuk termangu sambil memperhatikan jalan raya yang padat aktivitas atau melakukan kegiatan lain seperti membaca buku, mendengarkan musik dan juga menunggu seseorang yang walau sudah ia yakini tidak akan datang, tapi tetap ia tunggu.
Tepatnya dua tahun yang lalu, ketika Jungkook masih berseragam SOPA, ia bertemu dengan seseorang. Yang membuatnya menyukai jaket hitam, yang membuatnya menyimpan sapu tangan bertulis namanya itu.
Mereka bukan teman, bukan saudara apalagi kekasih. Mereka hanya orang asing yang sedang menunggu bus tujuan masing-masing. Kadang mereka tidak pernah sadar bahwa frekuensi mereka bertemu sama seperti banyaknya bus yang lewat disana. Namun, tak disangka benang merah tak terlihat yang terhubung di antara kelingking mereka mulai saling tarik menarik.
Seorang sahabat yang kebetulan saat itu juga menunggu bersamanya memberitahu bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya diam-diam. Jungkook sebenarnya sudah lama merasa diperhatikan, tapi ia tidak pernah yakin dengan dugaannya dan menganggap hal itu sebuah ketidaksengajaan. Terlalu banyak orang yang berpapasan dengannya dan tak jarang pula mereka beradu pandang.
Suatu hari Jungkook menaiki bus dengan jumlah penumpang yang sedikit. Gadis yang sebaya dengannya itu juga ada disana. Dia berdiri sekitar tiga kursi di depan Jungkook. Kondektur bus sudah menyuruhnya duduk, tapi gadis itu menolak. Alasannya karena tempat yang ditujunya tidak seberapa jauh lagi.
Jungkook menyaksikan hal itu dan sejurus kemudian keduanya saling beradu pandang. Jungkook tersenyum. Gadis itu membalas, tapi cepat-cepat memalingkan wajahnya dan berpura-pura melihat jalanan yang ada di depannya. Jungkook tersenyum geli. Mungkin gadis ini yang dibicarakan sahabatnya itu.
Bus itu berhenti di sebuah halte lainnya. Rupanya gadis itu sudah sampai di tujuannya. Jungkook berjalan ke kursi di dekat gadis itu berdiri. Ia dapat melihat gadis itu masih ada di halte. Mereka beradu pandang lagi. Kali ini gadis itu yang tersenyum padanya sambil melambaikan tangan dengan pelan seolah mengucap salam perpisahan. Jungkook terpaku. Ia terlalu bingung untuk membalas lambaian itu dan memilih memperhatikan saja. Bus itu perlahan kembali bergerak meninggalkan halte tersebut. Jungkook kembali ke posisi duduknya sambil bertanya-tanya ada apa dengan gadis itu.
:station: :station: :station: :station: :station:
Jungkook sedang menunggu bus bersama sahabatnya. Ia akhirnya mengetahui siapa nama gadis yang selalu memperhatikannya selama ini. Park Sa Rang. Sayangnya, beberapa hari ini Jungkook tidak bertemu ataupun satu bus dengannya.
Apa gadis itu sakit? Atau dia takut pada Jungkook? Atau dia sudah pindah dari kota ini? Tiba-tiba Jungkook tersadar dengan pikirannya sendiri. Mengapa ia harus berpikiran sejauh itu untuk orang yang sama sekali tidak dikenalnya?
Bus yang ditumpanginya mulai melaju, tapi berhenti sesaat kemudian. Ada satu penumpang yang tertinggal. Gadis kemarin. Park Sa Rang. Tanpa sadar, Jungkook tersenyum melihat gadis itu naik dan masuk ke dalam bus.
Sa Rang berdiri di tempat yang sama. Ia terlihat lelah karena baru saja berlarian mengejar bus. Jungkook menoleh pada Sa Rang, tapi hari itu ia mendapati Sa Rang sedang tidak sendiri. Seorang laki-laki berseragam sama dengannya berdiri di belakangnya.
Mereka terlihat akrab. Sesekali mereka tertawa dan raut wajah Sa Rang terlihat sangat bahagia. Jungkook tertunduk lesu. Mungkin gadis itu sudah bosan memperhatikannya. Jungkook mencoba menekan perasaannya. Bagaimana pun mereka berdua hanyalah orang asing yang tak sengaja berpapasan di halte bus. Mungkin inilah akhirnya.
Jungkook menyetop bus. Sudah waktunya ia turun. Ia melangkah gontai melewati halte bus sambil menujukan pandangannya ke tanah. Rasa kecewa berkecamuk di dadanya.
Lamunannya buyar karena mendengar namanya dipanggil. Jungkook menoleh ke belakang. Sa Rang berdiri di halte itu. Sendiri.
Mereka hanya berdiam diri sambil memandang satu sama lain. Bus yang mereka tumpangi tadi sudah bergerak lagi meninggalkan mereka; menuju halte berikutnya.
Jungkook menghela nafas. Ada rasa lega dan senang menjadi satu di dadanya. Ia kemudian duduk di kursi halte.
"Entah hanya aku yang terlalu percaya diri, tapi aku merasa diperhatikan dari jauh oleh seseorang." katanya. Matanya menatap jauh ke seberang jalan, tapi senyum masih melengkung di bibirnya.
Sa Rang duduk di sebelahnya dan berkata, "Maaf."
"Tidak usah minta maaf, kita hanya dua orang asing yang belum saling mengenal. Kau mau mengenalku?" tanya Jungkook sambil mengulurkan tangannya.
Gadis itu balik bertanya, "Apa kau mau mengenalku juga?" Ia ragu, tapi tetap membalas uluran tangan Jungkook dan menjabatnya.
"Ya, karena kau telah membuatku tertarik dengan perhatian yang diam-diam itu." jawab Jungkook dengan mantap. Ada desir aneh di dadanya.
Sa Rang tersenyum salah tingkah. Padahal, jelas-jelas dia yang sudah lama sekali tertarik pada Jungkook, tapi malah laki-laki itu yang mengutarakan ketertarikannya duluan.
Sejak saat itu mereka jadi teman. Teman dalam waktu yang sangat lama. Hanya teman. Tak ada satu pun dari mereka yang mengungkapkan perasaan yang sebenarnya.
:station: :station: :station: :station: :station:
Pada malam sebelum pengumuman kelulusan SMA, Jungkook mendapat sebuah pesan dari Sa Rang. Ia diminta untuk menunggu di halte bus biasa karena gadis itu ingin mengutarakan sesuatu yang penting padanya. Jungkook datang tepat waktu. Ia tidak ingin membuat Sa Rang menunggu. Ia tak sabar ingin mengetahui apa yang akan dikatakan Sa Rang padanya. Saat sampai Jungkook mendapati sebuah kotak bertuliskan namanya ada disana. Sebuah jaket hitam dan sapu tangan bertuliskan namanya ada di dalam kotak tersebut.
Detik demi detik berlalu. Leher Jungkook pun sudah lelah berulangkali melihat jam tangannya. Namun, sayangnya ia tak pernah mendengar apa yang akan diutarakan oleh Sa Rang. Ia pun tidak pernah bertemu lagi dengan Sa Rang setelah itu. Kehadiran gadis itu menghilang begitu saja dari hidupnya.
:station: :station: :station: :station: :station:
Jungkook beranjak dari tempat duduknya. Bus yang ia tunggu akhirnya datang. Ia baru saja duduk ketika ekor matanya menangkap kehadiran seseorang di balik jendelanya. Gadis yang sama dengan gadis dua tahun lalu yang dikenalnya berjalan menuju halte yang sama. Jungkook membuka jendela kaca bus -walau ia tahu itu tidak diperbolehkan. Ia membuka mulut, tapi lidahnya terlalu kelu untuk kembali menyapa. Meneriakkan kembali nama gadis itu lagi setelah sekian lama.
Jungkook memilih menutup kembali kaca jendela itu dan diam. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Sejurus kemudian ia kembali menatap ke depan, menatap jalanan yang akan dilaluinya pulang sambil tersenyum.
Halte bus dibuat sebagai tempat perhentian sementara penumpang yang menunggu bus tujuan mereka. Jika bus yang ditunggu tak kunjung datang, pilihannya kembali pada sang penumpang. Ingin terus menunggu atau pergi mencari bus yang lain.
Dan Jungkook sudah memutuskan pilihannya.
.fin.

Comments

Popular Posts