THE OTHER SIDE OF THE BED
HEARTBREAK THE SERIES
One-Shot
Genre : Hurt/Comfort, Romance, Angst
Main-cast : Aku, Kim Seok Jin
Rating : PG 15+
Language : Bahasa
Plot : Flashback
Disclaimer
: This is a work of fiction. Names, characters, places, events and
incidents are either the products of the authors imagination or used in a
fictitious manner. Any resemblance to actual persons, living or dead,
or actual events is purely coincidental.
•─────────•°•°•─────────•
Tak
kusangka permintaan Jin untuk 'membeli' waktuku selama sehari penuh
akan dihabiskan di sebuah pulau. Aku kira keinginannya sama saja seperti
kaum adam yang kutemui; menghabiskan waktu semalaman dan mendapati sisi
lain tempat tidur kosong di pagi hari. Pergi begitu saja tanpa
mengucapkan selamat tinggal.
Aku berdua saja dengan Jin
berangkat pagi-pagi dari Seoul ke Pulau Jeju dengan pesawat. Kemudian,
melanjutkan perjalanan dengan bus selama kurang lebih satu jam ke
Seongsanpo Harbor dan terakhir, naik kapal ferry ke Pulau Udo selama 20
menit.
Ini perjalanan terjauh dan terpanjang yang pernah
kulalui dalam beberapa tahun terakhir. Tapi, untuk pertama kalinya aku
merasa seperti manusia normal. Aku bisa bernafas dengan leluasa tanpa
merasa bersalah. Tanpa merasa dihimpit sebuah tekanan besar tak kasat
mata.
Hotel bukan tempat pertama yang kami tuju ketika
menapakkan kaki di pulau yang berada di timur Pulau Jeju itu. Jin sempat
menanyai apa yang aku ingin lakukan saat kami masih berada di atas
kapal ferry. Ia menyerahkan agenda hari itu padaku, tapi aku terlalu
bingung dengan semua kejutan ini. Jadi, kukembalikan hak prerogatif itu
padanya. Terserah saja.
Dan disinilah kami, mengambang di
laut biru yang sesekali bergejolak ringan, di atas sebuah kapal sewaan
berukuran sedang yang seluruh bagian badannya bercat putih dengan list
biru di bagian tengah. Nama perusahaan, Udo and Co., ditulis dengan
huruf kapital di sisi depan badan kapal.
Saat naik, aku
melihat peralatan memancing sudah tersusun rapi di dekat sebuah kotak
yang sepertinya berfungsi untuk menyimpan ikan hasil tangkapan. Agenda
pertama adalah memancing?
Aku tertawa dalam hati. Selama
dua puluh enam tahun aku hidup baru kali ini aku pergi memancing.
Kegiatan ini, yang menurutku hanya dilakukan oleh laki-laki usia lanjut
yang sudah pensiun dari pekerjaannya, benar-benar membuang waktu dan
membosankan, Tak kusangka Jin menyukainya. Dan dia belum keriput atau
pun pensiun.
Aku melihat ekspresi wajah Jin yang serius
ketika ia sedang memastikan alat pancing berfungsi sempurna. Joran.
Reel. Senar. Kail. Semua hal itu tak luput dari pemeriksaannya.
Jemarinya lincah memutar reel dan sejurus kemudian mengacungkan jempol
padaku sambil tersenyum riang.
Mungkin artinya kondisi reel
itu sangat prima. Aku memberinya tanda hati dengan jari sebagai
balasan. Jin rupanya tak seperti yang kubayangkan.
Pernah
kubaca di sebuah buku bahwa tidak semua impresi dan ekspektasi harus
direalisasi. Begitu pula yang terjadi antara aku dan Jin. Aku tidak
punya impresi khusus atau pun berekspektasi terlalu tinggi -atau rendah
ketika sebuah peristiwa membuat dunia kami saling bersinggungan.
Waktu itu pukul sembilan malam di hari Sabtu ketika aku tiba di 89 Mansion, sebuah kafe di daerah Gangnam. Seperti
biasa aku naik ke lantai dua dan duduk di sudut ruangan yang didominasi
dengan beberapa set meja kursi berwarna putih dan orange. Di belakangku
sebuah kaca didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan pengunjung
dapat menikmati jalanan Gangnam yang tak pernah sepi. Di sisi lain, ada
sebuah dinding yang dilapisi ubin mengkilap berwarna orange. Lampu-lampu
ulir bercahaya putih kekuningan menggantung rendah di tengah ruangan.
Semua paduan warna itu membuat suasana jadi lebih hidup.
Aku
merasa sedang diperhatikan oleh dua laki-laki yang duduk di mint-green
area -aku menyebutnya begitu karena interiornya didominasi warna
mint-green. Disanalah kulihat Jin pertama kali.
Awalnya aku
tidak begitu mempermasalahkan, tapi tingkah Jin dan temannya semakin
menyebalkan. Setelah mengarahkan tatapan berkali-kali, mereka berdua
akan berbisik-bisik seperti para wanita penggosip.
Aku berbaik hati untuk tidak mengacuhkan mereka, tapi tak lama kemudian mereka menoleh lagi, berbisik lagi.
Mungkin
aku akan mendatangi meja mereka jika saja klienku tidak datang dan
mengajakku pergi dari sana. Sebagai ganti, kutitipkan secarik kertas
berisi pesan singkat untuk mereka pada seorang waitress.
Kenapa kau memperhatikanku terus, huh? Cari mati ya?!
Setelah itu aku tidak memikirkannya lagi. Kuanggap mereka hanya kurang kerjaan.
Suatu hari, ketika kami sudah saling mengenal baik, kutanya mengapa dia berulang kali menoleh padaku saat itu dan ia menjawab,
'Tiap kali terlihat selalu dengan orang yang berbeda. Apa kau merasa bosan dengan secepat itu?'
Ia
mengatakan kalimat itu dengan enteng seperti saat mengatakan ungkapan
'hai, hari ini cerah ya'.
Namun, pernyataan itu pada akhirnya tak
terlalu kutanggapi.
***
Jin
membawa ikan hasil tangkapannya dan bahan makanan lain ke tempat kami
menginap. Bukan sebuah hotel seperti yang kukira, tapi sebuah resort
yang letaknya tak begitu jauh dari bibir pantai. Namun, berada di
dataran yang sedikit lebih tinggi.
Resort itu terdiri dari
delapan bangunan terpisah dengan ukuran dan bentuk yang sama. Di
depannya ada sebuah lapangan cukup luas dengan fasilitas beberapa kursi
pantai gandeng dua, beberapa set meja-kursi lengkap dengan payung kanopi
warna warni, dan yang paling membuat takjub adalah pemandangan yang
tersaji di depanku saat ini.
Laut biru tak berujung dengan
langit bersih yang cerah menyenangkan. Sebuah dorongan bahagia membuatku
bersemangat. Aku nyaris tak peduli lagi bagaimana sisa hari ini akan
dihabiskan.
Jin berdiri di sampingku -menikmati hal yang
sama. Ia mengulas senyum hangat sebelum akhirnya menepuk pelan kepalaku,
dan menyelipkan beberapa helai rambutku yang terpisah dari ikatan ke
belakang telingaku.
Ada sebuah gelombang kejut dari dalam,
gelombang itu menjalar hingga membuat wajahku hangat. Aku mematung, tak
siap menerima perhatian Jin yang terlalu tiba-tiba.
Aku
masuk ke dalam resort untuk mengalihkan perhatian. Menjengkali tiap
ruang disana; satu kamar tidur dengan nuansa serba putih lengkap dengan
kasur king-size, di sisi lain ada sebuah meja rias dengan kaca persegi
yang besar dan lampu-lampu warna kuning hangat mengelilinginya menyatu
dengan lemari baju dari kayu mahoni -atau eboni mungkin- yang menempel
di dinding. Kamar mandi di dalam pun dilengkapi dengan fasilitas shower
dan bathtub yang dibatasi sepotong kaca es yang tingginya nyaris
menyentuh langit-langit.
Aku baru saja mendaratkan tubuh di
atas kasur yang empuk ketika menyadari dua koper berjejer rapi di dekat
meja rias. Tentu saja, seperti biasa, berbagi kamar.
Aku meringis.
Diam-diam kuharap hari ini berjalan di luar kenormalan yang kuhadapi tiap malam yang menjemukan itu.
Tapi, siapalah aku berani berharap begitu banyak?
Jin
sedang ada di dapur dan sibuk dengan ikan tangkapannya. Aku tidak tahu
apa namanya, yang jelas bukan dari jenis beracun dan aman dikonsumsi.
Dapur
itu tersambung langsung dengan meja makan. Sebuket bunga mawar merah
segar berukuran sedang di dalam vas dari keramik putih menjadi pemanis
di sudut meja. Di dekatnya ada dua botol stainless berukuran kecil
berisi garam halus dan merica.
"Kita akan masak apa?" tanyaku sembari memasang apron kemudian mencuci tangan.
"Tidak, tidak, kau tidak ikut memasak. Biar aku saja." Jin mendorong pelan tubuhku ke salah satu kursi di sisi meja makan.
"Kau yakin? Aku milikmu 24 jam. Kau berhak untuk memintaku melakukan apa saja."
"Ah,
simbol 'milikmu 24 jam' yang muncul di kepala kita berdua ternyata
berbeda," Ia tersenyum penuh arti sambil mencincang bawang putih.
Aku tidak mengerti, pasrah. "Terserah kau saja kalau begitu."
Jin
dengan lihai membersihkan ikan, mem-filletnya, dan menyiapkan bahan
pelengkap lain untuk disatukan bersama di dalam frying-pan granit yang
sudah mulai dirambati panas. Minyak di dalamnya mulai menggelegak.
Gelegak
itu seperti Jin. Muncul perlahan kemudian melumat habis apapun yang ada
di dekatnya. Dalam kasusku, Jin berhasil melumat perasaanku
pelan-pelan.
Aku tipe manusia yang percaya bahwa semua hal
yang terjadi di semesta ini bergerak dan berkelindan di bawah kuasa
besar yang tidak perlu dipertanyakan seperti apa bentuknya. Kau cukup
meyakini kuasa itu ada dengan segala bukti-bukti yang dapat ditangkap
dengan panca indera juga intuisi.
Dari pemikiran itu aku beranjak pada sebuah pernyataan bahwa apa yang disebut dengan kebetulan hanyalah buatan manusia belaka.
Pertemuan dan perpisahan, persinggungan-persinggungan manusia, semuanya sudah didesain sedemikian rupa oleh kuasa besar itu.
Termasuk pertemuanku dengan Jin berikutnya.
Hari
itu udara bulan November yang mulai dingin tidak menyurutkan inginku
untuk memakai sebuah gaun halter-top* berwarna merah yang baru saja
dibelikan oleh klienku -kali ini seorang CEO sebuah perusahaan meubel
berusia 35 tahun- khusus untuk menemaninya datang ke sebuah acara
penghargaan.
Ballroom sudah dipenuhi banyak orang ketika
aku sampai dan klienku mulai menyapa beberapa orang. Ia memperkenalkanku
sebagai teman dekat. Kami sudah membahas masalah ini selama perjalanan
tadi. Terserah. Aku tidak begitu peduli dengan label yang diberikan asal
won tetap mengalir ke akunku.
Semua mata kemudian tertuju
ke atas panggung ketika suara renyah seorang emcee berkata ia akan
mengumumkan sesuatu -tentang penghargaan pada pengusaha muda atau
semacamnya.
Saat itulah aku menemukan sosok Jin lagi setelah pertemuan di Gangnam.
Ia
muncul diantara kerumunan banyak orang yang otomatis terbelah membuka
jalan untuknya. Dalam balutan turtle-neck hitam dipadu dengan jas
berwarna ungu gelap, Jin berjalan tegak dan mantap layaknya seorang
model menuju panggung. Wajah tampan itu sesekali tersenyum dengan malu
sambil sedikit membungkuk karena diberi selamat.
Pada titik ini, aku percaya bahwa akan ada konspirasi yang membuat Jin dan aku terlibat dalam sebuah poros yang sama.
Aku
dan Jin dihadapkan pada sebuah situasi canggung sebagai permulaan. Aku
dalam keadaan kacau -rambut kusut masai, pipi merah nyeri dan tanpa
sepatu- saat menabrak Jin yang sedang menunggu lift di lantai dua belas.
'Apa kau baik-baik saja?' tanyanya dengan nada khawatir.
'Apa
aku terlihat baik-baik saja?!' balasku sambil mengelap air mata
kering-kering. Aku sudah tidak peduli lagi pada make-up yang menempel.
Aku hanya ingin pulang sekarang.
Beberapa saat kemudian
suara denting terdengar. Pintu lift terbuka perlahan. Aku masuk dengan
gusar, memencet tombol huruf L dengan kasar. Aku melihat pantulan diri
di kaca. Menyedihkan. Kemudian kurapikan rambut seadanya untuk menutupi
cap merah di pipi.
Jin juga ada di dalam lift. Hanya kami
berdua disana. Ia tak banyak tanya, tapi perlahan melepaskan jas,
menutupi tubuhku dengan jasnya itu. Ia juga melepaskan sepatunya,
berlutut sembari memastikan aku memasangnya dengan benar. Sepatu itu
kebesaran. Jasnya juga.
'Terima kasih, akan kukembalikan nanti.' gumamku pelan.
Kode
lantai yang tertera di atas pintu lift berganti menjadi L diiringi
bunyi denting yang nyaring. Pintu lift terbuka perlahan. Beberapa orang
sudah menunggu di sisi lain dan keheranan melihat kondisiku.
Aku
keluar dari lift, sedikit berlari menjauh dari Jin agar ia tak kena
dampak buruk penampilan kacauku. Namun, laki-laki berbahu lebar itu
malah menyamakan langkahnya denganku.
'Hey, biar kuantar
pulang.' serunya sambil menyerahkan kartu pada petugas valet. Dengan
begitu cepat, mobil Jin sudah ada di lobby hotel, 'Ayo!' Ia menggamit
tanganku menuju mobil.
Suara riang penyiar radio yang
sedang membahas tentang idol kpop yang sedang naik daun mengisi mobil
selama perjalanan menuju rumahku. Setelah dengan begitu tiba-tiba
membawaku pergi dari hotel, Jin tak bicara apa-apa lagi. Ia fokus pada
jalanan Seoul yang masih cukup ramai malam itu.
Aku sendiri
sibuk dengan pikiranku. Malam yang benar-benar di luar dugaan. Aku
mendapat klien yang kasar dan bertemperamen buruk di balik penampilannya
yang bersahaja. Risiko seperti ini memang tak terpisahkan dari
pekerjaanku.
Aku tahu benar itu. Semua wanita yang
berkecimpung di duniaku ini pasti pernah mengalaminya, tapi tak bisa
banyak bicara dan pasrah karena ditekan oleh keinginan. Kebutuhan.
Hasrat.
Sejak statusku -diantara teman-teman yang lain-
naik, aku hanya menerima klien dengan kriteria tertentu. Utamanya dari
pengusaha kaya yang masih lajang, namun tak suka dengan kata komitmen
atau yang sudah menikah, tapi lelah dengan komitmen. Atau dari mereka
yang hanya ingin mencari senang.
Jarang sudah kutemui klien
dengan tata krama buruk karena biasanya mereka berasal dari keluarga
terpandang atau setidaknya mengerti bagaimana memperlakukan seseorang
dengan baik, ya walau pasti selalu ada juga yang bersikap sesukanya.
Ha~ sudahlah. Setelah ini aku harus lebih selektif lagi.
Aku sepertinya menarik perhatian Jin saat sedang memeriksa lengan kananku yang terlihat memar dan terasa nyeri jika disentuh.
'Apa kita perlu ke dokter?' tanya Jin, 'memarnya cukup parah. Pipimu juga.'
Lenganku
dicengkeram kuat sekali oleh klien kasar itu dan ia juga menamparku
dengan keras. Dapat kurasakan ada sedikit luka di sudut bibirku. Aku
frustasi. Memar seperti ini akan mengganggu pekerjaanku.
'Tidak perlu. Ini bisa kuatasi sendiri.'
Diam lagi beberapa saat.
'Apa kau dan pacarmu sedang tidak dalam keadaan baik? Kau bisa melaporkannya ke polisi. Dia sudah berbuat tidak patut padamu.'
'Dia bukan pacarku.' kataku singkat.
Aku
mengeluarkan sebatang rokok dari dalam tas, memantik api di ujung
rokok, dan menurunkan kaca jendela mobil. Asap tipis mengambang beberapa
saat di udara sebelum akhirnya hilang ditiup angin dari luar.
'Yaaaa...yaaaa... Matikan rokokmu! Kau kan wanita, tidak sepatutnya kau merokok.' seru Jin.
Aku tak peduli dan masih mengisap rokok itu.
'Paru-parumu
bisa rusak! Kau mau lehermu yang indah itu bolong? Lehermu itu aset
penting, yaaa.. Nanti tidak ada laki-laki yang mau menikahimu!" Jin
mengomel seperti nenek-nenek.
Aku tertawa keras mendengar
kalimatnya barusan. Baru kali ini ada orang yang mengomel seheboh itu
karena aku merokok. Jadi, aku mengalah. Kubuang sisa rokok itu ke jalan
raya.
Selanjutnya, Jin mengomel tentang pentingnya menjaga
kebersihan, tentang denda membuang sampah sembarangan di jalan raya.
Suara penyiar radio yang riang itu mendadak hilang ditelan omelannya.
Mobil
sedan hitam itu berhenti tepat di jalanan di depan rumahku. Aku sedang
melepas jas dan sepatu milik Jin yang kupakai ketika dia bilang,
'Tidak
perlu. Kau bisa mengembalikannya nanti, ketika sudah dicuci dan
disetrika rapi. Pastikan pakai pewangi yang tahan lama, ya.' Ia
mengatakan hal itu sambil terkekeh sendiri.
Mau tidak mau aku pun ikut tertawa.
'Baiklah. Terima kasih.'
'Nanti, saat aku sudah meninggalkanmu, periksa kantong jas itu. Aku menyelipkan kejutan.'
Saat
mobil Jin menghilang dari pandangan, kuperiksa kantong jas dan
menemukan sebuah kartu nama yang akhirnya menjadi perantara
rencana-rencana pemilik kuasa besar.
***
Aku
dan Jin menghabiskan waktu dengan mengunjungi Udo Lighthouse. Mercusuar
putih kokoh yang berdiri dikelilingi bebatuan besar dengan latar
birunya langit itu sudah menarik perhatianku bahkan sebelum kapal ferry
yang kami tumpangi bersandar di dermaga.
Selanjutnya kami
pergi ke padang bunga canola. Kami makan es krim, menikmati snack khas
Pulau Udo -bentuk dan rasanya mirip Taiyaki*-, mengabadikan momen dengan
kamera ponsel diantara indahnya padang canola kuning berlatar birunya
langit. Jin menyimpan satu fotoku yang tak mau dibaginya padaku.
Menyebalkan.
Yang terakhir, Someori Oreum. Area ini adalah
titik tertinggi di Pulau Udo. Untuk mencapai titik itu aku harus melalui
jalan menanjak yang membuat betisku keram. Akhirnya, aku berakhir di
atas punggung Jin selama sisa perjalanan.
Lelah kami
terbayar dengan tersajinya pemandangan laut biru yang berkilauan ditimpa
cahaya matahari. Aku menyematkan doa dalam hati, berharap suatu hari
bisa kembali lagi kesini.
Waktu bergerak begitu cepat, seperti berlari. Warna langit sudah menggelap begitu pekat ketika kami kembali ke resort.
Jin
melempar tubuhnya di atas sofa di ruang santai, sementara aku langsung
menuju kamar. Aku duduk di kursi meja rias; melepaskan anting dan
aksesoris lain yang melekat di tubuhku dan membersihkan wajahku dari
sisa make-up.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Jin
kemudian masuk dengan kikuk setelah kupersilakan. Sebenarnya ia tak
perlu mengetuk pintu. Kamar ini miliknya. Rasa sungkan seharusnya tidak
perlu hadir dalam situasi seperti ini.
Jin berjalan menuju kopernya, mengeluarkan sehelai handuk putih berukuran kecil.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanyaku sembari beranjak mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.
"Sauna wajah." katanya tanpa menatapku.
"Ha?"
"Menempelkan handuk hangat di wajahmu." Jin mempraktekkan adegan menutup wajah dengan handuk.
Sepertinya menyenangkan.
"Kau bisa menggunakan kamar mandi sekarang. Aku masih ingin membersihkan wajah." kataku.
"Tidak perlu. Wastafel di dapur juga mengalirkan air panas atau aku bisa memasak air dulu jika kerannya, mungkin saja, macet."
Ia keluar dari kamar tanpa menatap mataku sama sekali. Entah kenapa.
Semua
partikel yang memiliki massa di alam semesta pasti akan menghasilkan
gaya tarik menarik. Semakin besar massa, semakin besar pula gaya tarik
yang dihasilkan. Kurasa hal itu juga berlaku dalam hubungan tiap-tiap
manusia.
Entah seberapa besar massa yang kukeluarkan,
jelas terlihat Jin menyimpan ketertarikan padaku. Intuisiku berkata
begitu, tapi tak pernah kutanyakan mengapa.
Kadang segalanya lebih baik jika aku tidak tahu menahu alasannya.
Tak akan kutampik jika ada yang beranggapan bahwa aku pun merasakan ketertarikan padanya.
Hari
ini bukan pertemuan pertama sejak kejadian di hotel itu. Kami beberapa
kali makan siang bersama, bersepeda di tepian Sungai Han, atau berjalan
bersisian di jalan setapak sebuah taman hanya untuk sekedar berbagi
cerita tentang rupa hari yang berbeda-beda.
Namun, pada
puncaknya ia merasa kesal. Ia bersikeras 'membeli' waktuku karena aku
tidak bisa ditemui ketika bulan sedang indah-indahnya. Sementara di saat
matahari masih semangat bersinar, ia lebih sering bekerja.
Dalam
segala hal, Jin benar-benar menarik. Ia berbeda dari yang laki-laki
yang sering kutemui. Perhatian-perhatian kecil yang ia lakukan pada
jarak dan waktu tertentu nyatanya berdampak besar pada kecepatan detak
jantungku.
Sudah lama, begitu lama, perasaan seperti ini
tidak meliputiku. Namun, banyak hal yang menghalangi dan aku harus
sering-sering mengingatkan diri agar tak ditarik terlalu jauh.
Tempat
tidur itu terasa begitu luas meskipun ada dua manusia dewasa yang
sedang berbaring di atasnya. Jin menciptakan jarak sejauh mungkin
denganku, menaruh bolster di antara kami berdua. Mungkin jika kusenggol
sedikit saja tubuhnya, ia akan mendarat keras di lantai.
"Aku tidak akan tahu apa yang terjadi. Aku bisa saja nekat." dalihnya.
Padahal selama ini ia cukup berani untuk menyentuh kepalaku atau menggamit lenganku.
Aku
bersikeras mengajak Jin tidur di kamar setelah melihatnya meringkuk
kedinginan di sofa ruang santai. Setelah kuancam bahwa aku akan pulang
saat itu juga, akhirnya ia patuh.
"Aku sudah lupa bagaimana caranya menjaga jarak di atas tempat tidur, Jin." kataku sambil tertawa miris. Menyedihkan.
"Aku tahu."
Reaksi Jin membuatku terkesiap beberapa saat. Sebanyak apa yang ia tahu?
Kami
sama-sama menghadap ke langit-langit kamar dengan perasaan-perasaan
yang sulit diungkapkan. Tapi, setelah itu semua kata mengalir tanpa
ragu.
"Kenapa kau akhirnya memutuskan untuk menghilangkan
jarak diantara kita? Seperti yang kau tahu, aku suka bergonta ganti
pasangan, kan?" Aku tergelak sambil menoleh pada Jin.
Ingin rasanya kubelai wajah tampan itu. Ingin sekali.
"Karena aku..ingin?"
"Begitu saja?"
"Haruskah ada alasan yang berarti?"
Jin menoleh padaku. Kami bertatapan sepersekian detik, sampai akhirnya aku mengalihkan pandangan. Merasa kalah.
"Entahlah, bukankah segala sesuatu yang terjadi memiliki alasan?"
"Aku
percaya itu, tapi pada saat tertentu aku tersesat karena terlalu jauh
mencari alasannya. Jadi, kubiarkan saja segala sesuatunya mengalir."
Tangan kiri Jin bergerak mendekati wajahku. Detik berikutnya jemari Jin yang jenjang mengusap pipiku dengan lembut.
"Seberapa banyak yang kau tahu tentangku?"
Aku berpindah posisi menghadap Jin. Sedikit meringkuk.
"Hmm..."
Jin menarik tangannya kemudian bersedekap. Lalu, menumpukan kaki
kirinya di atas kaki kanan, "Hampir semuanya. Kau masih ingat temanku
saat pertama kali kita saling tahu, kan?"
Aku mengangguk.
"Dia yang mencari informasi tentangmu. Semuanya. Data diri, pekerjaan, kegiatan, kebiasaan."
"Ha? Kalian ini apa?! Penguntit?! Wartawan gosip murahan?! Mengerikan!"
Sebuah bantal mendarat di wajah Jin. Dia tertawa terbahak-bahak.
"Bercanda. Tapi, aku tahu apa yang kau lakukan tiap malam."
Hening
kembali menyeruak diantara kami. Aku tahu menutupi hal seperti ini dari
Jin sangat tidak mungkin. Ia bisa dengan mudah mendapatkan informasi
apapun karena jaringan luas yang dimilikinya.
"Apa kau percaya bahwa mimpi dan cinta adalah hak prerogatif manusia yang dibawanya sejak lahir**?"
Pertanyaan Jin memecah keheningan. Ia berpindah posisi dan kali ini kami saling berhadapan. Bertatapan. Dengan dalam.
"Mungkin pernyataan itu benar." kataku seraya meraih bolster pembatas. Memeluknya.
"Aku akan menggunakannya sekarang."
Aku terdiam. Kumohon jangan lanjutkan, Jin. Segalanya akan menjadi sulit jika kau tak berhenti sekarang.
"Orangtuaku berkata untuk selalu mengikuti mimpi-mimpiku. Jadi, aku akan mengikutimu."
Ia mengakhiri pernyataan itu dengan senyum yang manis. Daun telinganya terlihat memerah dengan cepat.
Aku terlalu bingung untuk bereaksi. Sesaat kemudian aku tertawa.
"Leluconmu tak lucu, ah!"
Aku tahu itu bukan lelucon.
Jin menatapku. Tatapan itu benar-benar melumat segala yang ada padaku, "Aku serius." katanya lagi.
Gelombang tawaku mendatar dan memudar. Aku berbalik memunggungi Jin. Tak bicara apapun. Jin pun diam.
"Kau
tahu, Jin, manusia akan selalu dihadapkan pada jalan bercabang di
beberapa fase kehidupannya. Ia dituntut untuk memilih." kataku setelah
aksi diam yang menggantung selama beberapa menit diantara kami.
"Aku
sudah memilih jalan yang ingin kutempuh, kehidupan yang kupilih saat
ini terlalu berseberangan dengan kehidupanmu dan aku tidak berniat untuk
melepas apa yang sudah kupilih atau menodai pilihanmu."
Jin
punya kehidupan yang baik. Ia memilih untuk tidak menyerah begitu saja
pada keadaan walau pun harus berpeluh, berdarah karena berjuang untuk
hidup yang baik itu. Ia tidak memilih jalan pintas sepertiku. Hidup
dengan menghalalkan cara yang haram.
"Hidup tak pernah
mudah memang, tapi bukan berarti tak ada cara lain untuk mengubahnya.
Kau bisa memulai pilihan baru itu denganku." Jin mencoba meyakinkan.
Kerongkonganku mulai tercekat, "Kau akan kesulitan mencari titik temu dan aku tidak mau kau mendapat kesulitan karenaku."
Kesunyian kembali menggantung dan membuat dadaku dipenuhi rasa sesak. Aku mengusap air mata yang mulai mengalir.
"Kupastikan
aku akan baik-baik saja jika bersamamu." kata Jin sebelum ia mematikan
lampu terakhir yang hidup di kamar, kemudian menarik selimut hingga
menutupi bahuku.
"Selamat malam," Jin mengusap kepalaku dengan lembut.
"Selamat malam, Jin."
Ini pilihan yang benar-benar tidak mudah.
***
Pagi merekah dengan indah karena dipenuhi sinar kemerahan di ufuk timur merangkak perlahan.
Jin
membayangkan kedekatan yang terjalin semalam dapat berlanjut. Memang
ada hal yang tak sesuai dugaannya, tapi ia tetap tersenyum karena
keyakinannya bahwa pagi ini pasti akan terasa berbeda.
Namun, senyumnya memudar seiring dengan matanya yang terbuka perlahan. Ia menghela nafas berat.
Pilihan benar-benar sudah ditentukan rupanya.
Jin
mendapati sisi lain tempat tidur itu kosong diiringi dengan apa yang ia
yakini sebagai mimpinya yang pergi begitu saja tanpa mengucapkan
selamat tinggal.
..fin..
•─────────•°•°•─────────•
Comments
Post a Comment