Timeline of Love

Chapter ?

my loneliness is killing me
I must confess I still believe
When I'm not with you I lose my mind
Give me a sign
Hit me baby one more time.

"yamada ryosukeeeee..." akari nyaris gila melihat isi kamar ryosuke yang benar-benar berantakan.
apa yang dia lakukan?
akari mengambil satu per satu pakaian ryosuke yang berserakan di beberapa tempat. setelah selesai dengan pakaian2, akari beralih pada tempat tidur ryosuke. merapikan selimut dan sprei yang sudah semrawut juga meletakkan bantal-bantal di tempatnya.
akari mengambil vacum-cleaner, kamar itu benar-benar kotor padahal baru dua hari yang lalu akari membereskannya. tak lama, kamar ryosuke kembali bersih. akari tersenyum puas menatap hasil kerjanya,
"akan ku bunuh ryosuke jika dia mengacau lagi," gumam akari sembari meluruskan pinggangnya yang pegal.
akari menguap, hampir satu jam ia membereskan kamar ryosuke dan itu melelahkan. tempat tidur ryosuke kelihatan nyaman untuk ditiduri sebentar. tenang ryosuke aku pinjam hanya 30 menit, akari merebahkan dirinya di tempat tidur ryosuke.
bau ryosuke, akari tersenyum. tanpa sadar wajahnya memerah. apa yang aku fikirkan, jantung akari berdegup. baiklah ryosuke memang menyebalkan tapi dia baik, sebenarnya, dia baik pada setiap orang tapi mengapa dia tega padaku. akari memejamkan matanya. bau ryosuke, aku sepertinya mulai menyukai...baunya? menenangkan. dan akari pun tertidur.

ryosuke sibuk mencari kunci lemari tempatnya menyimpan dokumen. ia menepuk dahinya, tertinggal di meja kanopinya. ia menelfon ke rumah tapi tidak ada jawaban. kemana akari?
ditelfonnya sekali lagi. masih tak ada sahutan. berkali-kali lagi. apakah terjadi sesuatu pada akari? mendadak ryosuke lupa dengan kuncinya. ia langsung menuju parkiran dan memacu mobilnya kembali ke rumah.
"akariii...akariii.." ryosuke memeriksa seluruh ruangan di lantai bawah tapi ia tak menemukan akari. cepat-cepat ia menaiki tangga kemudian menuju kamar akari. nihil. ryosuke gusar. entah kenapa ia takut. takut jika tidak menemukan akari.
ryosuke membuka pintu kamarnya, tempat terakhir yang belum diperiksanya. ia terduduk lemas. keringat membasahi tubuhnya tapi ia lega.
ryosuke tergelak.
apa yang aku fikirkan? aku begitu takut jika tak melihatnya lagi, ryosuke memandangi akari yang tengah tertidur. akari mengapa kau selalu membuat aku gusar? mengapa aku harus merasa selalu ingin melihatmu?

akari perlahan membuka matanya. ia sudah tertidur cukup lama. ia menguap dan meregangkan ototnya.
"hwaaa nyaman sekali," akari membelai bantal yang dipakainya -dan juga dipakai ryosuke- untuk tidur.
"sudah bangun, nona mizunashi?" tanya ryosuke sambil bersedekap di depan pintu kamarnya.
akari terkejut. sejak kapan dia? cepat-cepat ia berdiri dari tempat tidur.
"maaf aku hanya..
"jadi yang kau lakukan selama aku bekerja itu, tidur?" ryosuke berjalan mendekat. akari mengerutkan dahinya.
"aku habis membereskan kamarmu, karena lelah jadi aku..
"aku membayarmu bukan untuk tidur," ryosuke menyunggingkan senyum sinis di wajahnya.
akari hanya menahan kesal. tak ada gunanya berdebat dengan laki-laki di hadapannya ini.
"kau tidak membayarku, aku bekerja untuk melunasi hutang ayah." akari bersuara. ryosuke selalu bersikap seperti ini padanya. sinis dan seenaknya.
"tapi kau baru saja tidur di tempat tidurku,"
akari memutar bola matanya. "aku baru selesai membereskan tempat tidurmu, kamarmu, karena terlalu lelah aku ketiduran." jelas akari panjang lebar. ryosuke tak acuh.
"terserah apa katamu, aku lapar siapkan makan siang."
"hee?"
"kau tidak dengar? aku mau makan siang,"
menahan geram, akari keluar dari kamar ryosuke. ia sedikit membanting pintu kamar ryosuke. melampiaskan kesal.
"hey! aku membayar mahal untuk pintu itu," teriak ryosuke. kemudian ia tergelak. mudah sekali membuat akari kesal.
ryosuke mengusap bagian ranjang yang ditiduri akari tadi sambil tersenyum.
sepertinya malam ini aku akan tidur ditemani bau akari.

apa yang ada di otaknya, mengapa dia begitu akkhhhh... akari tengah meracik makan siang untuk ryosuke. suara langkah kaki ryosuke yang menuruni tangga terdengar. laki-laki itu sudah berganti pakaian, lebih santai dan sepertinya dia tidak akan keluar lagi.
dan kenapa dia tidak kembali ke kantor saja? batin akari.
"sudah selesai?" tanya ryosuke, "jangan terlalu banyak melamun jika sedang melakukan pekerjaan," ujar ryosuke sembari mengambil segelas air putih dari lemari es. akari diam tak menanggapi. ia sedang memotong kentang untuk tambahan pada supnya.
"kau tidak dengar ya?"
"aku.. ouch!" jari akari tersayat pisau dan mulai berdarah. ryosuke secara refleks mendekat, mengambil jari akari yang terluka dan menghisapnya.
akari terkejut.
apa yang dia...lakukan?
"sudah ku bilang jangan melamun, lihat apa yang terjadi,"
akari masih tertegun memperhatikan. wajahnya menghangat dan dadanya terasa akan meledak. ini ia rasakan sudah sangat sering terutama jika ia berada sangat dekat dengan ryosuke.
"akan ku ambilkan obat merah dan plester," ryosuke bergegas menuju lemari dimana kotak obat berada.
"jika tanganmu terluka seperti ini siapa yang akan melakukan pekerjaan rumah,"
heeee? baru saja akari merasa diperhatikan seketika itu juga ia merasa dibohongi. ryosuke tetaplah ryosuke. sinis dan seenaknya.
"sudah..sudah.. aku bisa mengobatinya sendiri," akari menarik jarinya dari ryosuke dan menutup lukanya dengan plester.
ryosuke tersenyum.
kenapa ia cepat sekali kesal? ryosuke tertawa dalam hati. manis.
akari kembali melanjutkan pekerjaannya, tapi tidak nyaman karena luka di jarinya agak nyeri.
tiba-tiba ryosuke menariknya dan menyuruhnya duduk saja di kursi.
"apa yang kau? duh! aku belum selesai,"
"sudah diam saja biar aku yang melanjutkannya," ryosuke mengambil alih pekerjaan akari.
akari kembali tertegun. ryosuke bersikap aneh lagi kali ini. tapi ryosuke memang sedikit aneh sejak kejadian di klub malam, dia sedikit lebih manis yaa walaupun sifat dasarnya masih melekat. akari tersenyum memandangi ryosuke yang sibut memotong dadu kentang-kentang dan memasukkannya ke dalam air untuk dilunakkan.
"jangan memandangiku seperti itu," ujar ryosuke tiba-tiba.
"ehh?"
"aku melakukan ini karena perutku sudah lapar dan jarimu yang terluka itu hanya memperlambat,"
lagi-lagi sinis, batin akari. dan akari sudah kebal mengadapi kata-kata seperti itu.
lima belas menit setelahnya makanan sudah siap. akari membantu ryosuke menghidangkannya.
akari kembali ke dapur untuk makan siang.
"kau, makan saja disini bersamaku." uar ryosuke.
akari memandang tak percaya. dia tak salah dengar kan? ryosuke mengajaknya makan bersama? akari punya perasaan jika ryosuke benar-benar sedang sakit atau mungkin dia dirasuki alien.
"kenapa kau memandangku lekat seperti itu? apa aneh mengajakmu makan bersama? lagipula aku tidak bermaksud apapun,"
errr selalu saja.
akari duduk dua kursi dari ryosuke dan mereka mulai makan siang.
tak banyak pembicaraan yang terjadi dalam makan siang mereka. diam dan kaku. masing-masing ingin menyapa hanya saja mulut mereka seperti tertahan. tiba-tiba ponsel akari berbunyi. ia mendapat sebuah email.

from: hiroyuki-san
tuesday, 08/07/12
konnichiwa, mizunashi-san.. masih ingat aku? haha bagaimana keadaanmu? ngomong-ngomong aku ada di depan rumahmu sekarang..

akari berkedip. hiroyuki ada di depan rumahnya -rumah ryosuke-? akari bergegas meninggalkan meja makan dan menuju halaman.
"hey..hey.. kau mau kemana?" tanya ryosuke heran.
"sebentar..sebentar saja.." ujar akari.

sudah 30 menit dan akari belum juga kembali ke meja makan. ryosuke meneguk air minumnya dan kemudian meninggalkan meja makan, ingin tahu apa yang membuat akari begitu lama.
ryosuke melihat pintu rumahnya terbuka. sepertinya akari keluar. ia berdiri di depan pintu dan mengedarkan pandangannya. ia menemukan akari tengah mengobrol akrab dengan seseorang. ryosuke tampak familiar dengan lawan bicara akari. sepertinya ia pernah bertemu dan ahhh! kenapa dadanya sesak melihat akari dengan laki-laki itu.

akari melihat ryosuke berdiri di depan pintu. mata mereka beradu pandang tak sengaja dan ryosuke menatap sengit padanya. sama seperti di klub malam waktu itu. tatapan tak suka.
ada apa dengannya??
"hmm.. mizunashi san sebaiknya aku pamit ya, maaf jika mengganggu makan siangmu.."
"daijoubu, kemari saja lagi jika kau perlu bantuanku ya.."
hiroyuki beranjak dari tempat duduknya dan naik ke atas motor yang dikendarainya.
"aku pamit,"
akari mengangguk dan motor hiroyuki pun melaju keluar dari halaman rumah ryosuke. akari bergerak malas untuk kembali pasti ia dan ryosuke akan beradu mulut lagi. haa~~
"sudah selesai dengan pacarmu? kenapa tidak diajak masuk dan makan siang bersama?" tanya ryosuke sarkas. akari masuk ke dalam rumah dan ryosuke mengikuti.
akari berbalik, "apa yang sedang kau bicarakan? hiroyuki san bukan pacarku, dia hanya teman. dia hanya ingin meminta pertolonganku, apa itu salah? membantu orang lain?"
"oh ya? bagaimana teman bisa seintim itu?" mereka berdiri berhadapan hanya dipisahkan sebuah sofa.
"intim? kami hanya mengobrol,apa itu disebut intim?" akari menaikkan sebelah alisnya. heran mengapa ryosuke begitu sensitif pada orang yang dekat dengannya. "kau kenapa sih? sikapmu aneh.." sambung akari lagi.
aku bersikap aneh karenamu, akari..batin ryosuke
"aku bukan siapa-siapa kan? aku bukan pacarmu, tunanganmu atau calon istrimu. aku hanya asisten rumah tangga."
"ya karena kau asisten rumah tanggaku kau tidak boleh dekat dengan laki-laki lain,"
karena hanya aku yang boleh memilikimu
kenapa kalimat itu tidak bisa diucapkan secara lugas kenapa hanya bisa disimpan di dalam hati. ryosuke kesal sendiri.
"ha? kau siapa? mungkin kau memang tuanku tapi bukan berarti kau bisa melarangku untuk dekat dengan siapa-siapa,"
ryosuke tertegun. perkataan akari barusan membuatnya sedikit terhenyak.
akari menatap heran ryosuke. dia ini kenapa? sebentar baik sebentar marah kemudian sensitif.
akari meninggalkan ryosuke kembali ke dapur. ia lelah berdebat dengan ryosuke dan alasannya yang tidak masuk akal itu. "terserah kau saja, yamada san." akari menyerah.
"akari,"
akari berhenti mendengar namanya dipanggil.
"aku tidak suka melihatmu dekat dengan laki-laki manapun, sepertinya sudah aku katakan kepadamu malam itu."
sudah ku katakan karena kau hanya milikku. karena aku..aku..
ryosuke menatap punggung akari. gadis itu sama sekali tidak mau berbalik
akari masih menunggu. dia memang pernah mendengar ryosuke mengatakan itu dan masih bingung dengan maksudnya. akari pun masih bingung dengan perasaannya. apakah ia menyukai ryosuke atau tidak, dia tidak tahu.
"ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya akari.
ryosuke mengela nafas berat.
"maafkan aku," kemudian ia naik menuju kamarnya meninggalkan akari sendiri dengan perasaan campur aduk. pertama kali ryosuke berkata maaf padanya. akari tersenyum dalam diamnya.

karena aku mencintaimu, akari.
Published with Blogger-droid v2.0.6

Comments

Popular Posts