Ceritaku pada Tuhan

Tuhan itu baik. Ia selalu mendengarkan keluh kesahku diantara pekatnya malam dan rona fajar yang mulai merekah. Aku ingat ketika aku bicara padanya tentang rupa hariku yang berujung biru. Ia mendengarkan dengan seksama, padahal Dia-lah penulis dari dialog-dialog yang aku sampaikan. Tapi, dengan keheningan yang diberikan-Nya, aku mendapat ketenangan.
Tuhan itu baik. Dalam pengawasan-Nya aku diberikan rasa aman yang tak punya batas akhir. Tidak seperti rasa aman yang diberikan oleh penjaja asuransi, hanya dalam hitungan tahun. Selesai.
Tuhan itu baik. Aku bagaikan anak kecil yang baru belajar berucap kata. Mengoceh dihadapan-Nya tanpa henti. Tapi, dengan baiknya Ia menjawab semua pertanyaanku, permintaanku yang terkadang tak masuk akal. Baik menurutku tapi belum tentu bagi-Nya. Tak jarang aku mengeluh dan menyalahkan-Nya. Meski begitu tak pernah lelah Ia mendengarku.
Pernah aku berbincang dengan-Nya tentang seorang adam yang hadir dalam rupa hariku yang lain. Aku menyelipkan namamu di hampir setiap doaku. Memuja kesempurnaanmu di depan-Nya. Dia pun menuliskan skenario tak terduga yang menjalin aku dan kamu dalam satu cerita. Perlahan, aku mulai lupa pada-Nya. Malam yang dulu milik-Nya tak lagi ada.
Tangisku pecah ketika skenario antara aku dan kamu tak lagi sejalan. Bisa jadi aku makhluk yang tak tahu diri. Kembali lagi ke hadapan-Nya di kala susah hati tengah menggelayut di dadaku. Bersimpuh aku sambil menahan malu dan pilu. Bercerita aku lagi pada-Nya. Tentang hariku yang kembali biru.
Dan Tuhan memang selalu baik. Lupaku tak membuatNya jengah mendengar ceritaku. Hatiku dikejutkan oleh dingin yang menyejukkan.
Aku tersedu. Bagaimana bisa aku memberikan diriku pada satu ciptaannya, sementara tak kuberikan segenap jiwaku pada Penciptanya?
Aku ingin mengenal-Nya lagi. Belajar mencintai-Nya seperti Ia mencintaiku. Jarak yang kutempuh tak perlu jauh untuk itu, karena Dia ada di dekatku bahkan lebih dekat dari urat nadiku yang berdenyut. Tak perlu aku tergesa mencari sang adam yang akan menggantikanmu. Dia yang akan menghadirkannya. Dia yang akan menulis skenario lain untuk kamu atau sang adam lainnya.
Masih akan kuselipkan namamu di dalam perbincanganku dengan Tuhan. Tapi tak lagi dengan cara yang sama. Karena Dia tak terganti dan aku inginkan kamu yang juga inginkan Dia dalam setiap nafas yang kamu hembuskan.

Comments

Popular Posts