Lengkung Pelangi
Titik-titik air membasahi jendelaku, Hujan
turun lumayan deras sore ini dan tak banyak yang dapat aku lakukan. Kali ini
aku hanya duduk manis di sofa berwarna oranye yang sengaja kuletakkan di
sebelah kaca jendela besar yang terletak di sisi lain kamarku. Aku sering
menghabiskan waktu disana sambil membaca novel, mendengarkan musik, atau
sekedar duduk melamun. Aku menyesap teh tarik yang aku buat beberapa
saat yang lalu. Asap halusnya masih mengepul. Cuaca dingin memang cocok dengan
minuman hangat.
Pandanganku beralih pada titik-titik air yang
sudah membasahi lantai balkonku. Aku menghela nafas berat. Pekerjaan tambahan
setelah hujan, mengepel. Namun, hujan hari ini pasti sampai malam. Setidaknya
itu yang dikatakan pengamat cuaca yang beritanya kusaksikan pagi tadi. Sayang
sekali, padahal aku sedang ingin melihat pelangi.
Hmm, Pelangi ya, jadi teringat sesuatu.
Peristiwa yang pernah melibatkan pelangi dan dia saat masih SMP. Dia pernah
menyebut senyumku seperti lengkung pelangi. Lucu ya, masih kecil tapi sudah sok
mengerti tentang rasa-rasa seperti itu.
Waktu itu sama seperti saat ini. Hujan turun
dengan intensitas sedang namun berkelanjutan. Aku dan beberapa siswa yang lain
masih di sekolah, menunggu hujan reda. Aku berjalan meninggalkan yang lainnya
menuju parkiran sekolah, disana ada tempat yang cocok untuk menunggu.
Sebenarnya itu bukan tempat yang istimewa, hanya saja aku sering menunggu
ayahku datang menjemput sambil mendengarkan lagu disana.
Ketika sampai, aku heran karena bangku yang
sering aku duduki tidak ada di tempatnya. Saat itu kupikir penjaga sekolah
sudah memindahkannya, tapi tiba-tiba aku menangkap siluet seseorang di sisi
lain tempat itu. Aku melongokkan kepalaku dan ternyata dia ada disana. Duduk
sendirian sambil menatap kosong ke langit. Sejurus kemudian dia menoleh.
Ekspresinya sedikit aneh saat melihatku. Kaget dan bercampur malu. Ya,
sebenarnya dia tidak sadar saja kalau telingaku sudah merah karena malu tertangkap
mata sedang memperhatikannya.
Entah mengapa dia cepat-cepat berdiri dan
meminta maaf. Aku terkekeh. Untuk apa dia meminta maaf, dia bahkan tidak
melakukan apapun. Beberapa saat kami hanya bisa diam dengan perasaan canggung.
Dia bukan teman sekelasku, tapi diam-diam aku
sering memperhatikannya. Dia bukan anak laki-laki yang populer. Badannya kecil
tapi tidak kurus, cukup proporsional. Wajahnya tirus, matanya agak sipit,
hidung yang tidak terlalu mancung, dan ada bekas luka kecil di pelipis
kanannya. Aku sering melihatnya berkumpul bersama teman-temannya di kantin. Dia
agak pendiam, tapi aku sangat suka tawanya. Mungkin karena semua hal itulah
mendadak wajahku menjadi panas.
Tiba-tiba dia bersuara. Tangannya terjulur
padaku. Ada dua buah permen disana. Aku mengambil salah satu dan berterima
kasih padanya. Dia mengangguk. Dan yang tidak aku sangka adalah yang
selanjutnya. Dia bilang dia sering melihatku duduk di parkiran ini, kadang juga
di kelas, di kantin. Dia pun bilang sebenarnya ia tahu bahwa aku sedang
memperhatikannya.
Aku terperangah. Bisa dibayangkan betapa
malunya aku saat itu. Rasanya aku ingin lari tapi kakiku mendadak tidak bisa
bergerak. Dia tertawa melihat ekspresiku. Dia juga menenangkanku dengan bilang
bahwa dia tidak terganggu atau pun risih jika diperhatikan seperti itu.
Hujan sudah berhenti, langit pun sudah mulai
cerah. Aku berdiri dan merentangkan tanganku lebar-lebar kemudian menghirup
nafas pelan dan menghembuskannya untuk mengatasi kecanggunganku. Tiba-tiba dia
juga berdiri, melakukan hal yang sama, dan kemudian berkata dia suka petrichor. Baginya bau setelah hujan itu
menyegarkan. Bau itu juga membuat hatinya lebih lega, seperti semua beban tugas
dan ujian sekolah hilang selamanya.
Aku tertawa melihat sisi melankolisnya itu.
Aku kira hanya perempuan yang suka hujan dan petrichor. Dia mengerutkan dahi dan bertanya mengapa aku tiba-tiba
tertawa. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Mungkin hanya aku yang tahu hal
ini.
Tiba-tiba kamu menarik pelan lenganku dan
menunjuk ke langit. Sebuah pelangi melengkung cantik disana. Aku terkagum
sesaat. Belum pernah aku melihat pelangi secantik itu.
“Lengkung cantik itu mengingatkanku pada
senyum seseorang.” katanya saat aku sedang mengabadikan langit saat itu.
Aku menoleh, “Siapa?”
Ada perasaan sedih yang melingkupiku saat itu.
Apa seseorang itu pacarnya?
Dia menggenggam tanganku, “Senyummu.”
Aku merentangkan kedua tanganku, menghirup
nafas pelan dan menghembuskannya. Kejadian itu tak lantas membuat hubunganku
dan dia tidak berlanjut menjadi pacar. Kami tetap saling memperhatikan dari jauh,
sama seperti sebelumnya. Bisa dibilang peristiwa lengkung pelangi adalah memori
paling manis saat aku masih remaja. Dan sampai kapan pun, aku akan
mengingatnya.

Comments
Post a Comment