Do we need a reason to love someone?
CHAPTER ONE
Apa yang aku inginkan? Apa
yang aku butuhkan? Entahlah. Aku sendiri tidak tahu dan tidak terlalu peduli
dengan semua pertanyaan itu sampai akhirnya kami bertemu musim panas lalu.
Himeeee
: Apa kau serius? Kau ingin
bertemu denganku?
Ouji0905
:
Tentu. Aku mengenakan sebuah kacamata hitam dengan frame berwarna merah. Aku
akan menunggumu di taman.
Himeeee : Tunggu! Sekarang?
Ouji0905
:
Ya. Sekarang atau tidak sama sekali.
Himeeee
:
Okey. Aku mengenakan cardigan berwarna ungu.
Ouji0905
:
Oke, aku tunggu.
Setelah
itu aku pergi ke taman dan memperhatikan sekelilingku. Banyak orang disana.
Yang menggunakan kacamata hitam pun banyak tapi dengan frame berwarna merah,
aku belum melihatnya. Dan yang paling penting adalah aku harus memperhatikan
perempuan atau laki-laki. Jujur saja selama kami membahas banyak hal lewat internet
tak pernah sekalipun kami bertanya tentang jenis kelamin. Kalau dilihat dari
username kamu pasti laki-laki, tapi bagaimana jika dugaanku salah dan dia
adalah perempuan. Waktu itu aku langsung bergidik. Aku akan tahu setelah kami
bertemu.
Beberapa
waktu kemudian dia tak juga muncul. Mungkin saja dia sudah melihatku dari sudut
lain taman ini dan terlanjur kecewa dengan wajahku yang tidak terlalu cantik.
Ya, mungkin kita lebih baik menjadi teman dunia maya saja.
“Ups,
maaf.” Seseorang tanpa sengaja menabrakku. Dan sepertinya aku kenal dia.
“Mizunashi-san?”
tanya laki-laki itu. Atau dia yang mengenalku.
“Hai,
Yamada-kun. Sedang apa?” tanyaku. Yamada Ryosuke, dia teman sekolahku.
“Hanya
jalan-jalan saja, kau sendiri?”
“Hanya
jalan-jalan saja.” Aku mengulangi kalimatnya. Dia tergelak.
“Bagaimana
liburanmu?” tanyanya lagi.
Aku
masih sibuk mengedarkan pandangan mencari sosoknya. Ouji yang berkacamata hitam
dengan frame merah, tapi sepertinya memang tidak akan bertemu.
“Mizunashi-san?
Kau mencari seseorang?”
“Ah,
tidak, sepertinya dia tidak datang.”
Yamada
hanya mengangguk. “Baiklah kalau begitu, aku pulang duluan. Sampai bertemu di
sekolah.”
Aku memandang punggung Yamada
yang perlahan menjauh. Aku rasa aku juga harus pulang.
Kembali ke sekolah. Tak ada
hal yang lebih melelahkan sekaligus menyenangkan selain semua kegiatan di
sekolah dan klub. Aku memang bukan siswa teladan atau siswa dengan prestasi
segudang. Tapi setidaknya aku mencoba untuk memperhatikan pelajaran di kelas,
mendapatkan nilai yang baik saat ujian, dan masuk universitas yang baik. Itu
rencana ayahku dan aku adalah bagian penting dalam rencananya. Bukannya aku
tidak punya keinginan sendiri tapi seperti yang kubilang, aku tidak tahu apa
yang aku inginkan dan aku butuhkan jadi kubiarkan ayahku yang merancangnya dan
aku hanya perlu mengikuti rancangan masa depan yang sudah ia buat. Dan sejauh
ini aku tidak punya masalah dengan itu.
Aku
memasang kunci pengaman pada sepedaku. Seaman apapun kota ini tetap saja banyak
tangan-tangan jahil.
“Selamat
pagi, Akari-nyan!” seru salah satu sahabatku.
“Berhentilah
memanggilku akari-nyan, Miyuki.” keluhku.
Miyuki
tertawa, “Kenapa? Bukankah itu terdengar menggemaskan?”
Aku
hanya tersenyum masam. Terserahlah.
“Oh,
bagaimana pertemuanmu dengan ouji-sama? Berhasil?”
Aku
tertunduk lesu. “Tidak berhasil, kami tidak bertemu sama sekali. Aku bahkan
tidak bias mencium aroma kehadirannya.”
“Memangnya
kau tahu bagaimana aroma ouji-sama?”
“Tidak.”
Aku terkekeh.
Kami
sudah sampai di kelas. Ada Yamada dan beberapa temannya sedang ngobrol di
mejaku. Loh? Kenapa di mejaku?
“Selamat
pagi,” sapaku pada semuanya, “Maaf, aku rasa kau harus membiarkan aku duduk
dulu, dan nanti saat istirahat kalian boleh meminjamnya lagi. Bagaimana?”
kataku. Hanya basa-basi untuk menghalau mereka dan buktinya mereka pergi dari
tempatku.
“Apa
kau menemukannya?” tanya Yamada tiba-tiba. Aku menatapnya dengan heran dan
tiba-tiba teringat.
“Oh,
tidak, karena aku juga pulang setelah itu.”
Yamada
hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Baiklah,
aku kembali ke tempat dudukku dulu.” ujarnya sembari tersenyum.
Aku
sedikit terpana dengan senyuman itu. Pertama kalinya dia tersenyum untukku. Yaa
dia memang teman sekelas tapi aku tidak banyak bicara dengannya. Sesekali
mungkin. Miyuki menepuk pundakku.
“Tidak
bertemu dengan ouji-sama, sekarang kau beralih pada Yamada-kun?” ledeknya.
“Ha ha ha, jaga mulutmu ya, Miyuki! Sebaiknya
kau kembali ke tempat dudukmu karena Maya-sensei sudah akan memulai pelajaran.”
“Woo~
sadis!”
Kami
berdua tergelak.
“Maya-sensei
aneh-aneh saja,” keluh Miyuki setelah Maya-sensei keluar dari kelas.
“Apanya
yang aneh?” tanyaku, “Itu hanya tugas mengurus bayi,”
Jadi,
di pelajaran kesehatan tadi Maya-sensei memberi kami tugas untuk mengurus bayi.
Bukan bayi sungguhan, hanya bayi mainan. Selama tiga minggu ke depan kami
diminta mengurus bayi mainan tersebut layaknya bayi sungguhan; memberinya
makan, menidurkannya, mengganti popok, dan sebagainya. Maya-sensei meminta kami
melakukannya secara berpasangan, terserah dengan laki-laki atau perempuan -aku
tentu saja berpasangan dengan Miyuki- dan merekam segala kegiatan kami.
“Kita
akan mengurus bayi mainan itu bersama setelah pulang sekolah, atau bergantian?”
tanya Miyuki lagi, “Aku tidak mau mengurusnya sendiri, Akari-nyan.”
“Miyuki,
kau kan akan jadi seorang ibu, lagipula itu hanya bayi mainan bukan sungguhan,
dan berhenti memanggilku akari-nyan!”
“Aku
belum siap jadi ibu.”
Aku
tertawa keras, “Bukankah sudah jelas itu artinya kita akan melakukannya
bersama?”
“Arigato,
Akariiii-nyan, ups! Akari..” Miyuki meloncat kegirangan, tak sadar jika semua
mata tertuju pada kami. Maa~ siapa peduli.
***
Miyuki
menginap di rumahku malam ini. Sebenarnya aku dan Miyuki bisa berkomunikasi melalui
balkon kamar masing-masing karena rumahnya tepat di sebelah rumahku, orangtua
kami pun bersahabat dengan baik.
“Apa
ouji-sama tidak online malam ini?” tanya Miyuki sembari mengunyah keripik
kentang.
“Tidak
tahu,” jawabku singkat.
“Apa
karena kejadian waktu itu?”
“Waktu
itu? Kau bicara seperti kejadian itu sudah terjadi lama.”
Miyuki
terkekeh.
Aku
menyalakan computer dan mengakses internet. Login ke akun salah satu media
percakapan-dunia-maya. Pertanyaan Miyuki membuatku penasaran. Adakah
usernamenya di online list? Mataku menyisiri username demi username di
online-list akun tersebut. Aku menghela nafas. Tidak ada. Sepertinya dia sudah
melihatku di taman, kecewa, dan memutuskan untuk tidak akan berbicara padaku
lagi.
“Akari!
Ada pop-up chat di akunmu. Akari!!!” Miyuki mengguncang tubuhku.
“Bisa
tidak berteriak? Aku dengar.”
“Oh
ya? Kau tadi sepertinya sedang berada di planet Mars.” seloroh Miyuki sambil
tertawa dan mengambil sebungkus lagi keripik kentang dari dalam lemari
makananku.
“Miyuki,
jangan habiskan keripik kentangnya!” seruku sambil merebut bungkusan itu dari
tangannya.
“Aku
tidak menghabiskannya, aku hanya mencicipinya.” Miyuki merebut lagi bungkusan
itu dari tanganku. Tak lama kami pun saling rebutan dan menimbulkan kegaduhan
sampai-sampai ibuku masuk ke kamar.
“Sedang
apa kalian? Akari, Miyuki?” tanya ibu. Beliau juga membawakan kami nampan
berisi cake dan teh hangat.
“Tidak
ada, bu.” Aku menyikut Miyuki.
“Iya,
bi, kami hanya melatih ketahanan fisik.” Miyuki member alasan asal. Aku melirik
Miyuki sambil menahan tawa. Bias-bisanya dia membuat alasan seperti itu.
Ibuku
hanya tersenyum., “Jangan tidur terlalu malam!”
“Baik.”
jawab kami serempak.
Aku
sedang menghabiskan cake yang diantar ibu sambil mendengarkan celoteh Miyuki
tentang siswa di klub seni yang sedang ditaksirnya.
“Aku
harap aku bisa mengenalnya lebih dekat, Akari-nyan, bisakah kau membantuku?”
pinta Miyuki dengan wajah memelas.
Aku
terbatuk, “Aku tidak salah dengar? Seorang Miyuki yang katanya bisa menaklukkan
setiap laki-laki di sekolah meminta bantuanku?” ledekku.
“Itu
karena aku hanya ingin main-main saja dengan mereka, Akari, dan kali ini aku
sepertinya serius.”
“Sepertinya?”
tanyaku sambil menaikkan sebelah alisku.
“Aku
jatuh cinta padanya.”
“Siapa
namanya?”
Miyuki
memutar matanya lalu mengangkat bahunya.
“Tidak
tahu? Bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya?”
“Love
at first sight and first smile.”
“He
smiled at you?”
“No,
he smiled for his friends.”
“Then?”
“He
has a sweet smile that I’ve ever seen, Akari, and his smile stuck on my head.”
“Kenapa
kita jadi bicara dalam bahasa inggris?”
“Keren,
kan?” Miyuki terbahak, “Akari, kau sudah memeriksa notif di akunmu tadi?”
Aku
menepuk dahi Miyuki. Gadis itu mengaduh.
“Kau
yang lupa kenapa dahiku yang kau tepuk.” Ia mengelus dahinya. Itu hanya tepukan
pelan. Dasar Miyuki berlebihan.
Aku
membuka notif di akunku dan mendapati sederet pesan dari ouji-sama.
Ouji0905 :
Selamat malam.
Ouji0905 :
Apa kau marah?
Ouji0905 :
Maaf, aku tidak bermaksud membohongimu kemarin.
Ouji0905 :
Hime?
Ouji0905 :
Maaf. Aku rasa kau memang berhak marah padaku.
Aku
tersenyum sendiri melihat pesan-pesan itu.
“Jadi,
apa yang ditulisnya?” tanya Miyuki sembari duduk di sampingku dan mengambil
alih PC. “Apa dia menyesal?”
Aku
menggeleng. Tidak tahu.
Miyuki
mengetik sesuatu di keyboard.
“Apa
yang kau lakukan, Miyuki?”
Aku
kembali mengambil alih PC dari Miyuki. Dia tersenyum geli.
Himeeee :
Aku marah. Marah sekali.
“Miyuki!
Apa yang kau lakukan?!” Ya ampun, punya sahabat seiseng Miyuki kadang membuatku
sebal. “Aku tidak marah padanya.”
“Kau
yakin tidak marah?” tanya Miyuki dengan senyum meledek.
“Aku
memang sedikit kecewa tidak bertemu dengannya, tapi itu tidak membuatku marah.”
“Benar,
kan? Sesekali jujur dengan perasaanmu sendiri, Akari, itu tidak akan
melukaimu.”
Aku
menunggu notif lagi. Tapi tidak ada balasan dari ouji-sama. Sepertinya dia jadi
ilfeel padaku.
Ouji0905 :
Maaf. Tiba-tiba saja kemarin aku ditelfon orangtuaku dan mereka tidak mau
menunggu, jadi aku harus pergi.
“He
has a reason, Miyuki.” kataku. Gadis itu malah asyik sendiri dengan majalah
fashion sekarang.
Himeeee :
Sebenarnya yang membalas tadi bukan aku, tapi sahabatku. Dia memang jahil.
Tenang saja, aku tidak marah, kok.
Kemudian
aku teringat perkataan Miyuki beberapa saat yang lalu.
Himeeee :
Mungkin sedikit kecewa, hehehe…
Ouji0905 :
Maaf, mungkin lain kali bisa bertemu.
Himeeee :
Ya, tentu saja.
“Miyuki,
sebaiknya kau mulai merekam aktivitas malam bayi kita.” ujarku. Tak ada
keluhan. “Miyuki?” Aku mendapati Miyuki sudah tertidur di atas majalah
fashionnya padahal tujuan dia menginap adalah untuk memulai project
Maya-sensei. Mungkin aku yang akan memulainya lebih dulu.
Ouji0905 :
Sedang apa?
Himeeee :
Menidurkan bayi.
Ouji0905 :
Bayi?
Himeeee :
Maksudku bukan bayi sungguhan, kami diberi project oleh guru kesehatan untuk
mengurus bayi dan merekam kegiatan tersebut selama satu minggu.
Ouji0905 :
Sepertinya menyenangkan.
Himeeee :
Jika ini bayi sungguhan aku rasa akan lebih menyenangkan lagi, mengurus bayi
mainan itu cukup membosankan.
Ouji0905 :
Hahaha..
Aku
belum membalas lagi pesan itu karena sibuk merekam adeganku menidurkan bayi dan
memberinya susu.
Ouji0905 :
Sepertinya kau sibuk. Besok kita bertemu lagi ya. Selamat malam.
Dan
obrolan kami pun berakhir. Aku penasaran seperti apa wujud nyata ouji-sama ini.
***
Hari
Rabu, ini artinya kami akan memulai perjalanan kemping ke sebuah pedesaan untuk
mengadakan penelitian yang berhubungan dengan kerusakan ekosistem. Perjalanan
ini sudah direncanakan oleh Miyamoto-sensei, guru science kelasku, sebelum
libur musim panas. Kami juga akan menginap di desa tersebut selama dua hari.
Tak
banyak yang kulakukan selama perjalanan, hanya mendengarkan ocehan Miyuki dan
selebihnya tidur. Aku dibangunkan oleh Miyuki beberapa saat sebelum kami
sampai. Dia menawariku sebungkus cemilan.
“Nyenyak
sekali tidurmu, Akari.”
“Ini
karena sahabatku yang iseng dengan seenaknya tidur sementara aku harus mengurus
bayi semalam.”
Miyuki
tertawa, “Maaf, setelah pulang dari sini aku saja yang mengurusnya.”
“I
keep those words, Miyuki.”
“Bagaimana
kalau bersama-sama mengurusnya?” Dia tertawa lagi. Dasar.
Bus
kami berhenti di depan sebuah penginapan. Kemudian Miyamoto-sensei membagi kami
menjadi beberapa kelompok. Aku, Miyuki, Yamada, dan Sanada berada dalam satu
kelompok.
Aku
dan Miyuki masuk ke dalam kamar dengan beberapa teman sekelas kami yang lain. Penginapan
perempuan dan laki-laki berada terpisah. Penginapan kami berada di area yang
dekat dengan pos keamanan, mungkin karena kami semua perempuan dan membutuhkan
pengamanan ekstra.
Penelitian
akan dimulai besok dan Miyamoto-sensei mempersilahkan kami untuk istirahat dan
melakukan kegiatan bebas lainnya. Aku memutuskan untuk mengitari daerah di
sekitar penginapan. Aku mengajak Miyuki tapi gadis itu tidak mau dan memilih
untuk tidur. Jadi, aku pergi sendiri.
Di
luar penginapan ternyata sudah ramai. Teman-teman sekelasku kebanyakan sedang
menghabiskan cemilan mereka sambil ngobrol dan yang lainnya bermain baseball.
“Mizunashi-san,
kau bisa membantuku sebentar?” Yamada mendekatiku.
“Ada
apa?”
“Ini,”
Dia menunjukkan kertas yang berisi daftar pertanyaan yang berhubungan dengan
penelitian kami, “Ada bagian yang tidak aku mengerti, mungkin kau bisa
menjelaskannya padaku.”
“Tentu,
lagipula ini bukan pekerjaan individu, kan?”
Yamada
tersenyum.
Kami
pun duduk di salah satu kursi di taman penginapan itu. Aku membaca sebentar isi
kertas itu dan mulai menjelaskan satu per satu urutan kerja untuk penelitian
besok. Kami diharuskan untuk meneliti dampak dari kerusakan ekosistem di
sekitar lingkungan desa, apa penyebabnya, dan mengisi kolom-kolom mengenai
jumlah populasi dan lainnya. Penelitian ini agak sulit rupanya.
“Kita
hanya punya dua hari untuk membuat laporan dan kesimpulan dari penelitian ini,
aku sarankan kita membagi tugas, Yamada-kun.”
Aku
membolak-balik kertas yang berjumlah empat halaman itu, “Apa kau setuju?”
Aku
menoleh pada Yamada, “Bagaimana?”
“Hm?
Ya, ya, aku rasa ide bagus.”
Aku
tergelak, “Kau tadi melamun.”
“Tidak,
aku tidak melamun.” sanggahnya sembari menggosok tengkuknya.
“Oh
ya?”
Kami
diam beberapa saat.
“Kau
sepertinya mengerti banyak hal, Mizunashi-san.”
“Kau
sedang menilaiku?”
“Maaf,
bukan maksudku begitu.”
Aku
tergelak, “Apa tujuan hidupmu, Yamada-kun?”
“Tujuan?
Hmm, mungkin jadi pemain baseball professional. Kau sendiri?”
“Tidak
ada, tujuan hidupku sudah dirancang dengan baik oleh ayahku, aku hanya tinggal
mengikutinya saja.”
“Benar,
kah? Kau tidak menginginkan apapun untuk hidupmu?”
Aku
menggeleng.
“Yaa,
setidaknya kau sudah memilih, tapi akan lebih menyenangkan jika kau punya
sebuah keinginan sendiri untuk diraih.” Yamada menatapku.
Aku
tersenyum, “Terima kasih, sampai bertemu besok.” Aku beranjak dari kursi dan
berjalan kembali menuju penginapan.
Aku
masuk ke kamar dan bertemu Miyuki yang sedang asyik membaca majalahnya.
“Jadi,
ada cerita yang harus aku dengar?” tanyanya sambil menutup majalah itu.
“Apa?”
Aku pura-pura tidak tahu.
“Seleramu
tidak buruk, kok, meskipun dia tidak terlalu populer tapi dia manis.”
Aku
mengerutkan dahi.
“Aku
lihat apa yang kalian lakukan di pojok sana. Duduk berdua, saling membicarakan
tentang kesukaan masing-masing, dan ….”
Aku
membekap mulut Miyuki sebelum dia berkata hal yang lebih aneh lagi.
“For
your information, we just discussed about our paper for tomorrow and you, as
part on our team, has a duty too.”
“And
those papers were kind of alibi so he has a reason to talk to you, privately.”
“Miyuki,
kau sepertinya kebanyakan tidur.”
“Mungkin
dia menyukaimu, Akari-nyan.” Miyuki mengatakan hal itu tanpa berpikir lagi.
“Benar,
kah? Rasanya tidak mungkin.”
“Impossible
is nothing, Akari, and we don’t need a reason to love someone.”
“Look!
Who’s talking now?”
“Miyuki,
A Queen of Love.”
Aku
terbahak keras. “Sudahlah, semakin lama kau semakin tidak logis. Kau bahkan
belum tahu siapa nama laki-laki di klub seni itu.”
Mendadak
seperti ada awan mendung tepat di atas Miyuki. “I will find his name soon,
Akari.”
“Good
luck!” Aku masih tertawa melihat wajah Miyuki yang masih cemberut.
chapter 1 fin..
-------------------------------------------------------------
hisashiburiiiii, haha nulis lagi di 2014, yosh!!!
karena baru bangun dari hibernasi selama beberapa bulan, gue sedikit kagok ngeluarin idenya >< semoga sementara doank ya bahasa gue begini.. :D enjoy!
(chapter 2 on progress)
karena baru bangun dari hibernasi selama beberapa bulan, gue sedikit kagok ngeluarin idenya >< semoga sementara doank ya bahasa gue begini.. :D enjoy!
(chapter 2 on progress)
Comments
Post a Comment