Tegami

Ia merasakan angin berhembus ketika ia turun dari mobil yang membawanya ke pantai di kota tempat tinggalnya. Gadis itu beberapa saat yang lalu tengah mengikuti instruksi yang didapatnya melalui sebuah surat.
Sesaat kemudian penutup matanya dibuka. Gadis itu mengerjapkan matanya. Seseorang memegangi bahunya dan menyelipkan selembar kertas di tangannya.
Jangan berbalik dan ikuti kemana aku membawamu, dahi gadis itu berkerut ketika membaca tulisan itu. Nekat, ia malah berbalik.
Gadis itu terperangah. Seseorang dengan topeng tepat berdiri di belakangnya. Perasaan takut mulai menjalarinya.
"Mau apa?" bentak gadis itu
Laki-laki itu mulai menulis lagi.
Aku tidak akan berbuat jahat, seseorang menyuruhku untuk membawamu ke tempatnya berada sekarang.
"Siapa?" tanyanya
Aku juga tidak tahu.
Gadis itu berdecak. Ia memandangi laki-laki di depannya itu. Apakah orang ini bisu?
"Baiklah, aku akan ikuti tapi biarkan aku menelpon seseorang dulu."
Laki-laki itu mengangguk.
Seseorang mengangkat teleponnya.
"Moshi-moshi, Akari-chan.."
"Ryosuke, sebaiknya kau ke pantai sekarang juga!"
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Ryosuke dengan nada cemas.
"Aku mengikuti instruksi di surat yang pertama kali kita temukan."
"Dan kau disuruh ke pantai?"
"Un, dan tiba-tiba aku disapa seseorang yang kemudian membawaku dengan mobil ke pantai ini."
"Apa sudah lapor polisi? Kenapa kau tidak menolak ajakannya?" ujar Ryosuke bertambah cemas.
"Aku penasaran dengan surat-surat itu."
Terdengar decakan kesal dari Ryosuke.
"Maaf, tapi sekarang aku mulai takut, sebaiknya kau kesini sekarang juga."
"Baiklah. Pastikan ponselmu aktif, Akari, aku akan segera kesana."
Akari menutup ponselnya dan menyelipkannya dibalik celana jeans yang dipakainya.
"Temanku sebentar lagi datang dan....
Laki-laki itu membekap Akari dengan sapu tangan yang sudah dibius. Gadis itu pun pingsan.

***

1 jam sebelumnya...

Ryosuke mengantarnya sampai di depan rumah Akari. Laki-laki itu menolak halus ketika Akari menawarinya untuk mampir sebentar. Tidak biasanya.
Ia kemudian memeriksa kotak pos yang ada di halaman rumahnya dan menemukan surat lagi. Akari bingung dengan semua surat-surat yang diterimanya. Apa ia pernah membuat kenangan bersama seseorang? Ia menghela nafas. Entahlah.
Malamnya, Akari duduk sambil memandangi lima surat tanpa nama yang ia susun berjejer di atas meja belajarnya. Surat-surat tanpa nama itu ia temukan sepanjang hari ini di berbagai macam tempat. Dan yang terakhir sampai dengan cara normal seperti surat-surat sewajarnya. Melalui kotak pos rumahnya. Tidak seperti yang lain, tidak ada benda apapun bersama surat itu.
Awalnya ia mengira Ryosuke yang mengirim semua ini tapi ketika ditanyai sahabatnya itu hanya menggeleng.
Empat surat sudah dibacanya dan tinggal surat yang terakhir. Gadis itu kemudian memutuskan untuk menelpon Ryosuke.
"Moshi-moshi, Ryo-chan! Apa kau sedang sibuk?"
"Tidak. Ada apa?"
"Aku menemukan surat yang terakhir."
"Kau sudah membacanya?"
"Belum."
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku mau kau datang ke rumahku dan kita baca bersama."
Mereka sama-sama terdiam.
"Maaf,maaf," Akari buru-buru mencairkan suasana, "Nanti aku telepon lagi.."
Akari tiba-tiba memutus panggilan sebelum Ryosuke sempat mengatakan sesuatu.
Akari jadi malu sendiri. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu.
Fokus Akari berpindah pada surat-surat itu lagi. Tanpa ragu Akari membuka surat terakhir itu.

Apakah kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Aku merasakan kehangatan senyum darimu. Kita akan bertemu tak lama lagi. Berjalanlah ke arah pantai di kotamu, aku akan menunggumu disana.

Apakah ini sebuah instruksi untuknya? Gadis itu mengambil syal dan jaketnya kemudian keluar dari rumahnya. Menuju pantai.

2 jam sebelumnya...

"Kau yakin ini tempat yang terakhir?" tanya Akari sembari melirik ke kanan dan ke kiri. Akari dan Ryosuke sedang berada di depan sebuah kedai sushi untuk menemukan surat yang ke empat.
"Mungkin saja,"
"Aku pikir ini aneh, Ryo-chan, kita sudah menjelajah seluruh tempat seperti yang dikatakan surat itu tapi tidak ada yang kita dapatkan."
"Aku rasa tidak ada salahnya mencoba, mungkin kita akan menemukan kejutan."
Ryosuke masuk ke dalam kedai sushi itu diikuti Akari dari belakang.
"Lalu apa hubungannya dengan gelang ini?" tanya Akari ketika mereka memutuskan untuk duduk sebentar disana. "Di setiap surat ada benda yang rasanya sepertinya familiar dengan ingatanku."
"Apa kau masih tidak ingat tentang siapa atau apa?"
Gadis itu menggeleng pelan.
"Maaf, apa namamu Mizunashi Akari?" tanya seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba mendekati meja mereka.
Akari mengangguk bingung. Wanita itu tersenyum.
"Ada titipan untukmu." Wanita itu mengeluarkan surat dan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya.
"Maaf, apa anda tahu siapa yang menitipkan ini?" tanya Ryosuke.
"Tidak, laki-laki itu hanya menyuruhku memberikan surat ini pada wanita muda bernama Akari."
Akari dan Ryosuke saling pandang. Wanita itu kemudian pergi dari hadapan mereka.
Akari menemukan sebuah kalung berliontin bentuk bintang yang tak beraturan.
"Haa~ rasanya aku pernah melihat kalung ini, dimana, ya?" Kemudian Akari membuka surat yang diterimanya barusan.

Menyenangkan bisa menghabiskan waktu bersamamu. Lihat bintang itu! Semoga aku juga masih bintang di hatimu, Akari. Pulang dan istirahatlah. Kita akan bertemu setelah semua ini.

"Apa dia mantan pacarmu?" tanya Ryosuke tiba-tiba. Ekspresi wajahnya nampak tidak begitu suka ketika mengatakan hal itu.
"Mantan pacar, ya? Aku belum pernah terlibat urusan percintaan serius dengan siapa pun."
Ryosuke menatapnya tak percaya.
"Benar, aku tiba-tiba teringat sesuatu."
"Apa?" tanya Ryosuke lagi. Ia menjadi antusias.
"Mungkin semua ini ada hubungannya dengan seseorang di lima tahun yang lalu." Akari tiba-tiba diam. Ia seperti sedang mencoba mengingat-ingat tentang sesuatu dan nampaknya tak begitu berhasil. "Sudahlah, aku tidak mau begitu menanggapi serius surat-surat ini."

3 jam sebelumnya...

"Apa tidak ada kalimat lainnya selain itu?" tanya Ryosuke.
Akari menggeleng. "Tapi ada gambar lingkaran disini." Akari menunjukkan sebuah gambar yang ada di surat itu.
"Aduh, aku tidak mengerti maksudnya, kita sudahi saja, Ryo-chan!"
"Eh?"
"Kau yakin? Apa kau benar-benar tak ingin bertemu dengannya?"
Akari memandang Ryosuke sejenak. Heran dengan maksud perkataannya. "Apa kau tahu siapa orang ini?"
"Maksudku, kita sudah sejauh ini, Akari." Laki-laki itu jadi salah tingkah.
Mata Akari masih mengawasinya. "Baiklah, baiklah. Sebenarnya aku yang ingin tahu siapa pengirim surat ini." ungkap Ryosuke. Akari tergelak.
"Kenapa?"
"Kita sudah cukup dekat, Akari, aku hanya ingin mengenalmu. Mengetahui siapa kau."
Pernyataan tiba-tiba itu membuat wajah Akari bersemu. Tidak dipungkiri sosok Ryosuke sangat menarik perhatiannya.
"Dan aku rasa kita harus menemukan arti gambar itu.."
"Kenapa?"
"Karena aku ingin tahu seperti apa orang yang bisa membuatmu menyatakan perasaan." Ryosuke membelai rambut Akari.
Mereka menemukan sebuah gelang tersangkut di salah satu tanaman dengan lagi-lagi sebuah surat. Entah bagaimana caranya tapi yang menemukan itu Ryosuke.
Akari mengamati gelang itu. Perasaan itu muncul lagi. Jepit stroberi kemudian gelang ini. Mereka sama-sama membangkitkan perasaan rindu akan sesuatu. Benarkah apa yang dikatakan Ryosuke bahwa mungkin ada seseorang yang ingin menemuinya?

Aku masih ingat dengan sentuhan tanganmu. Dengan suara tawamu yang menyenangkan, dan obrolan yang tak pernah putus di tempat itu. Saat-saat yang tak pernah ku lupakan.

4 jam sebelumnya...

"Dia bilang menara merah, Ryo-chan, apalagi kalau bukan Tokyo Tower."
Ryosuke tertawa.
"Kenapa tertawa?"
"Seingatku kau tadi sungkan untuk meladeni surat ini, sekarang malah jadi antusias."
Akari menatap Ryosuke, "Anggap saja sedang berburu harta karun. Aku tidak mengerti apa yang diinginkan pengirim surat ini, tapi sepertinya ini akan menarik."
Akari menyusuri taman di dekat menara kebanggaan negaranya itu. Ia familiar dengan tempat ini. Suasana ini.
"Apa ingat sesuatu?" tanya Ryosuke.
Akari menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Ryo-chan, tapi aku merasa seperti pernah mengalami kejadian penting disini."
Ryosuke hanya mengangguk.
"Apalagi yang ada di surat itu?" tanya Akari sembari mendekat pada Ryosuke.

Aku memberimu sepasang stroberi dulu. Temukan di salah satu sudut bangku taman. Itu akan menghantarkanmu padaku.

Akari dan Ryosuke menyisiri sekitar taman untuk menemukan benda yang dimaksud. Pencarian mereka cukup lama karena tempat itu cukup luas dan memiliki beberapa bangku taman. Namun, tiba-tiba Ryosuke menemukan sesuatu dan menyerahkan kedua benda itu pada Akari.
"Surat lagi dan," Akari membuka sebuah kotak kecil yang dipegangnya, "Jepit stroberi?" Ia menoleh pada Ryosuke, "Sepasang jepit stroberi?"
"Apa kau punya kenangan dengan jepit itu?" tanya Ryosuke.
Akari mengangkat bahunya. Rasanya ia memang punya jepit seperti ini. Sudah lama sekali.
"Pelan-pelan saja mengingatnya," ujar Ryosuke, "Apa kau mau membaca surat berikutnya?"

Sudah ingat saat terakhir kali kita bertemu? Kau menyatakan perasaanmu padaku. Jujur saja saat itu aku senang mendengarnya karena aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu.

5 jam sebelumnya...

"Selamat Ulang Tahun, Akari-chaaaaan.."
Tulisan di banner yang terpajang di dinding ruangan kantornya membuatnya terkejut. Tak lama kemudian semua rekan kerjanya masuk ke ruangan itu. Menebar confeito dan mengucapkan selamat untuknya. Kue ulang tahun pun rupanya sudah dipersiapkan.
"Make a wish, Akari-chan!" seru salah satu rekan kerja perempuannya. Akari memejamkan matanya. Membisikkan dalam hati permohonannya.
Lilin-lilin di atas kue itu pun padam setelah ditiup olehnya beberapa saat yang lalu. Akari memotong kue itu menjadi beberapa bagian yang kemudian dibagikan kepada rekan dan staff di kantornya pada hari itu.
"Apa aku masih ada bagian untukku?" celetuk seseorang sambil tersenyum padanya.
"Ryosuke!!!" Akari dengan riang menghampiri sahabatnya itu. Mereka baru berkenalan satu bulan yang lalu di sebuah acara peresmian kantor cabang perusahaan tempat Akari bekerja dua bulan yang lalu. Sebenarnya sosok Ryosuke mengingatkannya pada seseorang. Tapi rasanya seseorang itu sudah terkubur sangat dalam di kenangan Akari. Gadis itu tidak begitu ingat lagi.
"Selamat ulang tahun," Laki-laki itu mengacak rambut Akari, "Maaf,aku belum menyiapkan hadiah."
"Tidak apa-apa, ucapan selamat saja cukup."
"Benarkah?"
Akari mengangguk.
"Aku tidak yakin! Pasti besok kau sudah ribut minta dibelikan ini itu." ujar Ryosuke sambil tertawa.
Akari memasang tampang sebal.
"Kau ini!" Akari mendorong tubuh Ryosuke menjauh darinya.
"Mizunashi-san," seorang staffnya menghampiri, "Ada kiriman untukmu."
Akari menerima sebuah buket bunga mawar dan surat dari staffnya itu dengan kikuk. "Dari siapa?"
"Maaf, Aku juga tidak tahu, dia tidak bilang siapa namanya."
Akari menoleh pada Ryosuke. Laki-laki itu mengangkat bahunya. Sepertinya Ryosuke memang tidak tahu soal surat ini. Akari membuka surat itu.

Kau masih hidup dalam hatiku. Mungkin kau sudah lupa denganku tapi aku tak sedikit pun pernah melupakanmu sejak kita bertemu di tempat itu.

Akari berhenti sejenak. "Ini surat pernyataan cinta atau apa?" tanyanya pada Ryosuke.
"Selesaikan saja dulu."
Akari memutar matanya. Ia tidak begitu tertarik dengan surat ini.

Bagaimana jika kita mengulang apa yang pernah kita lakukan bersama dulu? Ingatkah kau dengan menara merah itu? Tempat dimana cerita kita berawal?

Akari menggigit bibirnya. Tempat yang dimaksud si pengirim sama sekali tak terlintas di pikirannya.
"Mungkin dia ingin bertemu denganmu."
Akari menoleh kaget. "Mungkin ini hanya surat iseng."
"Kau yakin? Bagaimana jika itu serius?"
Kalimat Ryosuke barusan membuat rasa penasarannya bangkit. "Kita bukan remaja belasan tahun lagi, Ryo-chan!" sanggahnya. Bagaimana pun Akari tidak punya waktu untuk meladeni surat tak penting seperti itu.
"Terserah kau saja, sih, tapi aku yakin surat itu bukan hanya sekedar iseng."
Akari menelpon salah satu staff untuk membawakan vas bunga. Buket bunga mawar ini perlu sebuah tempat.
"Baiklah, kita akan pergi selepas makan siang. Ngomong-ngomong, kenapa kau ada di kantorku?"
"Bukannya kau yang menyuruhku datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun?" Ryosuke memicingkan matanya.
Akari tergelak.

***


Akari tersadar dan mendapati dirinya sudah berada di sebuah gazebo. Gelap. Tidak ada apapun disana. Tidak ada seorang pun disana. Akari menoleh ke mobil yang membawanya tadi. Si laki-laki beropeng turun dari mobil itu.
"Jadi, siapa yang akan kutemui disini? Kenapa harus repot-repot mengirim surat berantai?" tanya Akari ketika laki-laki bertopeng itu mendekatinya. Akari mundur teratur. Hanya ada mereka berdua di tempat ini dan apa saja bisa terjadi padanya.
Laki-laki itu memegang bahu dan menyuruhnya berbalik menghadap gazebo.
"Tutup matamu.." katanya
Akari mengerutkan dahinya, "Untuk apa?"
"Tutup saja, tidak usah banyak tanya!"
Suara galak laki-laki itu membuat Akari cepat-cepat menutup matanya.
Beberapa saat kemudian ia merasa ada cahaya terang di hadapannya.
"Apa boleh aku buka mata sekarang?"
"Belum. Kau ini cerewet sekali, ya, Akari tidak berubah."
"Kau siapa,sih?"
"Kau tidak kenal suaraku?"
"Bagaimana aku tahu jika kau merubah suaramu menjadi aneh dengan alat itu?!" Akari mengintip sedikit tapi laki-laki itu masih mengenakan topeng. Ia mendecak. Kemana Ryosuke? Kenapa juga dia belum datang juga?
Kemudian Akari merasa sebuah kain menutupi matanya.
"Aku sudah tutup mata kenapa ditutup lagi dengan kain?" tanyanya dengan sebal.
"Aku mau membuka topengku."
Akari terkejut. "Jadi, kau dalang semua surat-surat itu dan semua ini? Maumu apa sih?"
"Aku mau kau mengingatku, Akari." Laki-laki itu menggandeng lengan Akari dan membimbingnya berjalan ke gazebo.
Penutup matanya dilepas. Akari tidak mendapati siapa-siapa di hadapannya.
"Jangan berbalik dulu!" perintah laki-laki itu lagi. Akari sedikit terlonjak.
"Bisa tidak usah teriak?"
"Aku tidak teriak." Laki-laki itu tergelak.
Mereka diam. Akari bisa merasakan deru nafas laki-laki di belakangnya itu. Semakin lama semakin dekat.
"Aku merindukanmu, Akari, sudah lama sekali sejak saat itu."
Jantung Akari berdegup keras ketika mendengar suara asli laki-laki itu. Tiba-tiba tangan laki-laki itu sudah melingkar di pinggangnya.
"Sudah lama aku ingin memelukmu seperti ini, sebentar saja, tidak apa kan?"
Akari tidak bisa menjawab. Mulutnya terkunci. Bukankah ia harusnya senang karena laki-laki dari masa lalunya datang kembali?
Akari memandangi sosok laki-laki yang ada disampingnya sekarang. Rasanya seperti mimpi.
"Kau banyak berubah, Ryo-chan, aku tidak mengenalimu lagi padahal sudah berminggu-minggu kita dekat, bahkan seharian ini pun aku bersamamu mencari surat-surat aneh itu."
Laki-laki masa lalu itu adalah Ryosuke sendiri. 5 tahun yang lalu Akari pernah menyampaikan perasaannya pada Ryosuke. Waktu itu mereka masih sekolah. Tokyo Tower adalah saksi bisu pernyataan itu. Dan semua hal yang Akari temukan hari itu memang ada hubungannya dengan masa lalu Akari bersama Ryosuke. Begitu pun tempat-tempat yang didatanginya.
"Surat itu tidak aneh, Akari, itu seperti nostalgia kenangan kita dulu."
Dan akhirnya Akari bisa mengingat sedikit demi sedikit semuanya.
"Apa kau sengaja melupakanku?" tanya Ryosuke sambil menatap matanya.
"Tidak, aku rasa itu tidak sengaja. Mungkin karena begitu banyak hal yang terjadi setelahnya dan kau yang menghilang begitu saja mungkin menjadi trauma tersendiri untukku." Akari memandang jauh ke pemandangan di depannya.
Setelah pernyataan di tempat itu, Ryosuke memang menghilang sama sekali. Tak ada kabar sedikit pun darinya. Mungkin Ryosuke tanpa sengaja terhapus dari ingatan Akari.
"Maaf, aku sudah membuatmu khawatir dan sedih."
"Tidak apa-apa, itu masa lalu, kan?"
Mereka sama-sama tersenyum.
"Ngomong-ngomong, Ryo-chan, bagaimana kau bisa menjawab telponku tadi? Bukankah tadi kau ada di hadapanku?" Akari kebingungan. Laki-laki bertopeng tadi tidak terlihat sedang memegang ponsel saat ia menelpon Ryosuke.
"Itu rekaman suaraku, Akari."
"Memangnya kau bisa tahu apa yang akan kukatakan?"
"Hanya menebak. Kau mudah ditebak, Akari." Ryosuke tergelak.
Akari menyikut perut Ryosuke. Laki-laki itu mengaduh kesakitan tapi Akari malah tertawa.
"Terima kasih sudah kembali." kata Akari, "Aku senang."
Ryosuke menarik tubuh Akari ke pelukannya.
"Mulai hari ini, aku akan ada di dekatmu." ucap Ryosuke dengan penuh keyakinan, "Aku akan membuatmu menyatakan perasaanmu lagi seperti waktu itu."
Akari tersenyum. Tidak perlu. Perasaan Akari selalu terpelihara untuknya.
Ryosuke melepaskan pelukannya.
"Ayo kita pulang!" ajak Akari, "Sudah sangat larut." Ia melihat jam tangannya. Hari ulang tahunnya akan segera berakhir satu menit lagi.
"Akari!"
"Hm?"
Tiba-tiba bibir Ryosuke sudah menempel di bibirnya. Gadis itu terdiam. Satu menit terakhir adalah kejutan yang benar-benar menyenangkan.

-The End-

Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular Posts