Halte Bus

halte bus yang tampak kosong itu hanya dijadikan tempat pejalan kaki berlalu-lalang saja. di jaman seperti ini halte bus hanyalah sebuah formalitas untuk melengkapi infrastruktur kota.  tidak banyak bus yang benar-benar berhenti tepat di depannya untuk mengangkut penumpang dan penumpang pun terkadang lebih memilih naik di sembarang tempat daripada di halte. halte bus benar-benar berguna jika matahari sedang terik-teriknya atau hujan sedang deras-derasnya. ya, tempat berteduh. namun, ada sebagian orang yang ternyata senang menghabiskan waktu di tempat perhentian sementara itu sebagai tempat menunggu.
tak lama setelah halte itu kosong seorang gadis duduk disana. sepertinya seorang mahasiswi salah satu universitas swasta di Palembang, terlihat dari almamater berwarna biru muda yang tersampir di salah satu tangannya. blouse bercorak tribal yang ia pakai dibiarkannya tak terkancing di bagian atas. cuaca memang sedang gila-gilanya; berubah dengan seenaknya.
gadis itu mengikat rambutnya tinggi-tinggi. matanya sekarang tertuju pada ponselnya. ia sedang mengetik sebuah pesan untuk temannya atau mungkin kekasihnya. yang tahu hanya gadis itu.
sebenarnya gadis itu sudah menjadikan halte ini sebagai tempat sakralnya. tak jarang ia hanya duduk di halte itu hanya untuk termangu sambil memperhatikan jalan raya yang padat aktivitas. atau kegiatan lain seperti membaca buku, mendengarkan musik, menunggu teman kampusnya. Menunggu seseorang yang walau sudah ia yakini tidak akan datang tapi tetap ia tunggu.
tepatnya dua tahun yang lalu ketika gadis itu masih berseragam putih abu-abu. di halte yang sama, tapi kala itu halte masih diberi kepercayaan sebagai tempat menunggu bus. mereka bukan teman, saudara apalagi kekasih. mereka kala itu hanya orang asing yang sedang menunggu bus jurusan masing-masing. mereka tidak pernah sadar bahwa frekuensi mereka bertemu sama seperti banyaknya bus jurusan Plaju-KM 12. Dan suatu hari benang merah tak terlihat yang terhubung di antara kelingking mereka mulai saling tarik menarik.
seorang sahabat yang kebetulan saat itu juga menunggu bersamanya memberitahu bahwa ada seseorang yang sedang memperhatikannya diam-diam. si gadis sebenarnya sudah lama merasa diperhatikan tapi ia tidak pernah yakin dengan dugaannya dan menganggap hal itu sebuah ketidaksengajaan. bukan hanya saat di halte saja, tapi laki-laki itu juga selalu berada di bus yang sama dengannya.
kebetulan saat itu bus yang dinaiki sang gadis tidak banyak penumpang. hanya terlihat beberapa kursi yang terisi. laki-laki yang sebaya dengannya itu juga ada disana. dia berdiri sekitar tiga kursi di depan sang gadis. kondektur bus sudah menyuruhnya duduk tapi laki-laki itu menolak. alasannya karena tempat yang ditujunya tidak seberapa jauh lagi.
gadis itu tetap melanjutkan kegiatannya mendengarkan musik dari mp3 player yang ada di kantong baju seragamnya. tiba-tiba keduanya saling beradu pandang. gadis itu tersenyum, laki-laki itu membalasnya tapi sejurus kemudian cepat-cepat memalingkan wajahnya. ia tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu.
setelah itu yang terjadi adalah sang laki-laki berpura-pura melihat jalanan yang ada di depannya sambil sesekali melirik gadis itu.
gadis itu mengangkat kepalanya saat bus berhenti. rupanya yang turun laki-laki itu. gadis itu bergeser ke kursi disebelahnya dan mendapati sang laki-laki masih berdiri di halte bus, menunggu hingga bus itu benar-benar lenyap dari pandangannya.

***

kali itu sang gadis tidak sendiri menunggu di halte. ia bersama seorang teman laki-lakinya. gadis itu menganggapnya teman tapi tidak dengan teman laki-lakinya itu. sebuah perasaan khusus tersimpan di hatinya untuk sang gadis.
laki-laki kemarin belum dilihatnya lagi sejak ia menunggu beberapa menit yang lalu. mungkin sedang ada kegiatan di sekolahnya atau bahkan ia tidak sekolah, kenapa ia tidak sekolah, dimana sekolahnya. gadis itu tersadar dengan pikirannya sendiri. mengapa ia harus berpikiran sejauh itu untuk orang yang sama sekali tidak dikenalnya.
bus yang mulai melaju itu berhenti sesaat kemudian. ada satu lagi penumpang yang tertinggal. laki-laki kemarin. tanpa sadar gadis itu tersenyum.
laki-laki itu terlambat karena baru saja menyelesaikan tugas piketnya di kelas. ia berdiri lagi di tempat yang sama seperti kemarin. dan mendapati gadis yang diperhatikannya selama ini tidak sendirian. teman laki-laki gadis itu mengajaknya bicara banyak terkadang terselip canda disana. gadis itu pun tampak senang bersama temannya itu.
laki-laki itu tertunduk lesu. mungkin ia sudah terlambat, ia terlalu lama mengulur waktu untuk menyapa langsung gadis itu. mungkin inilah akhirnya. ia hanya bisa memperhatikan tanpa pernah mengenal siapa gadis itu. laki-laki itu menyetop bus dan turun. sudah waktunya ia berhenti.
gadis itu menatap aneh laki-laki kemarin yang baru saja turun dari bus. ia tidak sedikit pun menangkap laki-laki itu meliriknya, memperhatikannya, tersenyum padanya, dan itu membuatnya entah mengapa, kecewa. tiba-tiba gadis itu menyetop bus yang sedang berjalan perlahan itu kemudian turun. ia tidak mendengarkan panggilan teman laki-lakinya.
ia sudah berada di hadapan laki-laki kemarin yang kini tengah menatapnya dengan perasaan bingung. mereka diam beberapa saat. gadis itu tersenyum kemudian duduk di kursi panjang halte.
"entah hanya aku yang terlalu percaya diri atau kamu yang terlalu pemalu, tapi aku merasa diperhatikan dari jauh oleh seseorang." gadis itu menggoyangkan kakinya naik turun dengan pelan. matanya menatap jauh ke seberang jalan. entah pada apa.
laki-laki kemarin duduk di sebelahnya. "maaf." katanya pelan.
"tidak usah minta maaf, kita hanya dua orang asing yang belum saling mengenal. kamu mau mengenalku?" tanya gadis itu sambil tersenyum pada laki-laki kemarin.
Laki-laki itu balik bertanya, "apa kamu mau mengenalku juga?"
"ya, karena kamu telah membuatku tertarik padamu dengan perhatian yang diam-diam itu."
laki-laki itu tersenyum salah tingkah. padahal jelas-jelas dia yang sudah lama sekali tertarik pada sang gadis tapi malah gadis itu yang mengutarakan ketertarikannya duluan. dan sejak saat itu mereka jadi teman. teman dalam waktu yang sangat lama.
malam sebelum pengumuman kelulusan SMA gadis itu mendapat sebuah pesan dari laki-laki itu. dia diminta untuk menunggu di halte bus karena laki-laki itu ingin mengutarakan sesuatu yang penting padanya. namun, gadis itu tak pernah mendengar apa yang akan diutarakan oleh laki-laki itu. gadis itu pun tidak pernah bertemu lagi dengan laki-laki yang memintanya menunggu di halte bus.

***

gadis itu beranjak dari kursi halte. temannya tidak jadi datang. ia hendak kembali menuju kampusnya ketika perasaannya menangkap kehadiran seseorang. laki-laki yang sama dengan laki-laki dua tahun yang lalu baru saja melewatinya.  gadis itu menghentikan langkahnya. ia tidak berbalik untuk menyapa, ia tak bergerak untuk mengejar. ia tak bisa berbuat apa-apa. sejurus kemudian ia kembali melangkah sambil tersenyum.
halte bus dibuat sebagai tempat perhentian sementara penumpang yang menunggu bus tujuan mereka. jika bus yang ditunggu tak kunjung datang pilihannya kembali pada penumpang. ingin terus menunggu atau pergi mencari bus yang lain. Dan gadis itu sudah memutuskan.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular Posts