Pengagum Senyummu
Apakah kau pernah menyukaiku? Aku tergelitik untuk berharap bagaimana jadinya jika kamu memang merasakan hal itu padaku. Sejuta khayal menyenangkan memenuhi otakku. Menarik otot-otot pipiku untuk tersenyum. Haa~ tapi bagaimana jika tidak? Ah! Mendadak sendi-sendiku sakit.
Aduh! Tapi aku suka mengingatmu. Apalagi senyumanmu yang khas itu. Mungkin senyummu tak semanis Afgan, tapi setidaknya aku merasa senang jika melihatmu tersenyum. Ekspresi lucu juga tak lepas dari wajahmu.
Kapan sih kita bertemu? Oh! Di ruang dosen dan kamu yang menegurku duluan. Padahal kenal saja tidak. Aku sedang meminta saran tentang laporan akhir pada seorang dosen yang ternyata dosen pembimbingmu. Kita sama-sama sedang dipusingkan oleh Laporan Akhir ya waktu itu.
"pake program itu juga?" tanyamu
Belum sempat aku menjawab, dosen pembimbingmu menawarkan program beasiswa sampai S2 kepadamu dan kalian pun terlibat pembicaraan seputar persyaratan dan izin orangtua. Baiklah. Aku diam sambil memperhatikan. Tapi sembari itu, boleh ya kucentang salah satu kriteria lakilaki yang kusuka? Pintar, check!
Hari berikutnya kita bertemu lagi ruang dosen. Aku ingat betul saat itu bau parfum menyeruak ketika aku duduk bersebelahan denganmu. Aku tersenyum senang. Nilai tambahan untukmu. Wangi, check!
Aduh! Tapi aku suka mengingatmu. Apalagi senyumanmu yang khas itu. Mungkin senyummu tak semanis Afgan, tapi setidaknya aku merasa senang jika melihatmu tersenyum. Ekspresi lucu juga tak lepas dari wajahmu.
Kapan sih kita bertemu? Oh! Di ruang dosen dan kamu yang menegurku duluan. Padahal kenal saja tidak. Aku sedang meminta saran tentang laporan akhir pada seorang dosen yang ternyata dosen pembimbingmu. Kita sama-sama sedang dipusingkan oleh Laporan Akhir ya waktu itu.
"pake program itu juga?" tanyamu
Belum sempat aku menjawab, dosen pembimbingmu menawarkan program beasiswa sampai S2 kepadamu dan kalian pun terlibat pembicaraan seputar persyaratan dan izin orangtua. Baiklah. Aku diam sambil memperhatikan. Tapi sembari itu, boleh ya kucentang salah satu kriteria lakilaki yang kusuka? Pintar, check!
Hari berikutnya kita bertemu lagi ruang dosen. Aku ingat betul saat itu bau parfum menyeruak ketika aku duduk bersebelahan denganmu. Aku tersenyum senang. Nilai tambahan untukmu. Wangi, check!
Suatu hari selesai solat jumat seperti biasa aku sedang berada di kantin. Tiba-tiba kamu muncul dengan jarak yang cukup dekat, dan yang membuatku terkejut adalah kamu melambai sambil tersenyum padaku. Aku bengong sebentar kemudian sontak membalas lambaianmu.
"ciyeee... Penggemar?" tanya salah seorang temanku
"bukan." jawabku singkat
"kenal, kan? Siapa namanya?"
"namanya...."
Aku lupa siapa namamu.
"lupa."
"he? Kok bisa?"
"dia pernah nyebutin namanya cuma ya aku lupa." jawabku sambil nyengir.
Bagaimana aku bisa lupa namamu?
Karena penasaran akhirnya aku putar otak bagaimana cara mencari tahu namamu. Lucu sekali gadis berusia dua-puluhan sepertiku masih mencari tahu tentang seseorang dengan cara-cara remaja. Biarlah, yang penting aku tahu namamu. Seorang teman memberiku sebuah ide yang langsung kusambut dengan antusias. Melihat jadwal bimbingan di kantor jurusan. Dan benar saja, ide temanku berhasil. Setelah tahu namamu, yang kulakukan adalah mencarimu lewat situs media pertemanan di internet. Hahaha. Lagi-lagi cara remaja. Bagaimana pun juga aku harus menahan keinginanku untuk menyapamu langsung. Bagaimana kalau ternyata namamu bukan seperti yang tercantum di jadwal bimbingan? Aku bisa malu sekali. Bersama temanku, aku mulai mencari siapa kamu. Dapat. Nama yang sama, ejaan yang sama dan foto-foto di album fotomu sudah meyakinkanku bahwa kamu orang yang sama. Sip! Add as friend.
Tak lama berselang kamu menerima requestku dan mengirimiku sebuah pesan.
Tunggu! Bagaimana jika isinya ternyata sebaris kalimat, kamu siapa?
Tiba-tiba aku jadi takut. Jangan-jangan kamu lupa padaku. Tapi syukurlah karena itu hanya pikiranku yang berlebihan. Kamu mengirimiku sederet kalimat yang menanyakan sudah sejauh mana laporan akhirku. Ya..ya.. Tidak buruk untuk mengawali sebuah kedekatan.
"ciyeee... Penggemar?" tanya salah seorang temanku
"bukan." jawabku singkat
"kenal, kan? Siapa namanya?"
"namanya...."
Aku lupa siapa namamu.
"lupa."
"he? Kok bisa?"
"dia pernah nyebutin namanya cuma ya aku lupa." jawabku sambil nyengir.
Bagaimana aku bisa lupa namamu?
Karena penasaran akhirnya aku putar otak bagaimana cara mencari tahu namamu. Lucu sekali gadis berusia dua-puluhan sepertiku masih mencari tahu tentang seseorang dengan cara-cara remaja. Biarlah, yang penting aku tahu namamu. Seorang teman memberiku sebuah ide yang langsung kusambut dengan antusias. Melihat jadwal bimbingan di kantor jurusan. Dan benar saja, ide temanku berhasil. Setelah tahu namamu, yang kulakukan adalah mencarimu lewat situs media pertemanan di internet. Hahaha. Lagi-lagi cara remaja. Bagaimana pun juga aku harus menahan keinginanku untuk menyapamu langsung. Bagaimana kalau ternyata namamu bukan seperti yang tercantum di jadwal bimbingan? Aku bisa malu sekali. Bersama temanku, aku mulai mencari siapa kamu. Dapat. Nama yang sama, ejaan yang sama dan foto-foto di album fotomu sudah meyakinkanku bahwa kamu orang yang sama. Sip! Add as friend.
Tak lama berselang kamu menerima requestku dan mengirimiku sebuah pesan.
Tunggu! Bagaimana jika isinya ternyata sebaris kalimat, kamu siapa?
Tiba-tiba aku jadi takut. Jangan-jangan kamu lupa padaku. Tapi syukurlah karena itu hanya pikiranku yang berlebihan. Kamu mengirimiku sederet kalimat yang menanyakan sudah sejauh mana laporan akhirku. Ya..ya.. Tidak buruk untuk mengawali sebuah kedekatan.
"dia ngeliatin kamu tuh!" ujar temanku saat berada di dalam mobil. Bimbingan laporan sudah selesai untuk hari itu dan aku berniat menyegarkan otak sebelum melanjutkan romusha ke bab laporan selanjutnya.
Aku melirik ke balik jendela mobil. Kamu sedang bersama teman kelasmu, memasang sebuah banner.
"klaksonin kenapa? Kasih respon sedikit."
Aku melihatnya memang sedang tersenyum ke arahku.
Aku membunyikan klakson dan kamu mengangguk. Tersenyum lagi. Tapi sayangnya itu terakhir kalinya aku melihat senyum itu. Kita tidak pernah saling berkirim pesan lagi. Kegiatan itu terhenti sendiri setelah tiga hari sejak kita berteman di situs itu. Aku yang terakhir mengirim pesan dan tidak kunjung mendapat balasan hingga sekarang. Terakhir yang kudengar kamu sibuk dengan klub debat bahasa inggrismu.
Sayang sekali, hmm.. tapi boleh ya aku tetap menjadi pengagum senyumanmu itu?
Aku melirik ke balik jendela mobil. Kamu sedang bersama teman kelasmu, memasang sebuah banner.
"klaksonin kenapa? Kasih respon sedikit."
Aku melihatnya memang sedang tersenyum ke arahku.
Aku membunyikan klakson dan kamu mengangguk. Tersenyum lagi. Tapi sayangnya itu terakhir kalinya aku melihat senyum itu. Kita tidak pernah saling berkirim pesan lagi. Kegiatan itu terhenti sendiri setelah tiga hari sejak kita berteman di situs itu. Aku yang terakhir mengirim pesan dan tidak kunjung mendapat balasan hingga sekarang. Terakhir yang kudengar kamu sibuk dengan klub debat bahasa inggrismu.
Sayang sekali, hmm.. tapi boleh ya aku tetap menjadi pengagum senyumanmu itu?
..end..
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment