Don't Be Careless of Me

Akari dan dua temannya baru saja selesai menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan. Mereka keluar dengan beberapa barang belanjaan, setidaknya satu orang memegang satu tas belanjaan.
"sayang sekali liburan semester sudah selesai," keluh Rika, salah satu teman Akari di kampus.
"Un.. padahal belum puas berlibur, besok sudah disibukkan dengan tugas kuliah lagi." sambung Namie
Akari hanya tersenyum. Ia sibuk melihat ponselnya. Tidak satu pun email atau telpon dari Ryosuke. Ini sudah satu minggu. Akari tahu Ryosuke sibuk tapi apa salahnya memberi kabar. Akari gusar sendiri.
"Kenapa? Yang diharap tak kunjung memberi kabar?" ledek Rika
"Eh?"
Rika menepuk pelan bahu Akari.
"Lebih baik kita bersenang-senang, bagaimana kalau setelah ini karaokean?"
"Karaokean? Boleh juga."
"Ini belum terlalu malam kan?"
Langit memang belum gelap.
Sejenak Akari ragu tapi...
"ayolah, Akari-chan, kau yang paling jarang ikut kami bersenang-senang." rengek Namie
"Baiklah.."
"sebentar,"
Langkah mereka terhenti karena Rika tiba-tiba berhenti.
"ada apa?" tanya Namie
"lihat itu bukannya... Ken?"
"Ken?" Namie mengerutkan dahi
Di seberang jalan ada seorang laki-laki yang juga menatap ke arah mereka.
"ah! Ken yang..."
Namie dan Rika sontak menoleh pada Akari.
"Eh? Nani?" gadis itu keheranan. Kedua temannya itu kemudian saling pandang dan tersenyum seperti merencanakan sesuatu.
"Keeeen! Ken-chaaan!" teriak Rika sambil melambai pada laki-laki yang disinyalir bernama Ken itu.
"Kau tidak lupa pada Ken, iya kan Akari?" tanya Namie.
Ken, seorang teman di SMA Akari dulu. Akari pernah merasa menyukai laki-laki itu tapi rupanya itu sebatas suka biasa. Terakhir bertemu Ken saat menghadiri acara reuni sekolahnya, itu sudah sangat lama sekali dan Akari pun sudah biasa saja.
"Hai, Namie, Rika dan ... Akari." sapa Ken. Akari hanya tersenyum singkat.
"Hisashiburi, Ken, mau kemana?" tanya Namie
"Tidak tahu, sepertinya kami mau pergi karaokean."
"hee? benar? kami juga."
"barengan saja?"
Namie dan Rika saling pandang kemudian mengangguk. Akari pasrah.

"Kau banyak diam selama di dalam tadi, sedang tidak enak badan?" tanya Ken pada Akari.
Acara mereka telah selesai dan sekarang tengah berjalan menuju stasiun.
"tidak, aku tidak apa-apa." jawab Akari
"Sokka."
Namie dan Rika berjalan tepat di depan Akari. Mereka berdua asyik ngobrol dengan dua teman Ken.

"Akari-chan pernah suka pada Ken, ya kan?" celetuk salah satu teman Ken.
"he?"
Ken menatap Akari. Seolah mencari pembenaran.
"Dulu, sekarang sudah biasa saja. Lagipula sepertinya perasaanku saat itu tidak bisa dikategorikan rasa suka."
Namie dan Rika saling pandang mendengar jawaban Akari yang agak sedikit ketus. Mereka tahu Akari paling tidak suka dijadikan bahan pembicaraan di depan orang-orang khususnya tentang hal seperti ini.
"ah Tama-kun, apa hobimu?" tanya Namie. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Atmosfer disana sudah berubah menjadi tidak enak.
Mereka kembali berjalan. Entah mengapa jarak stasiun jauh sekali malam itu.
"Aku tahu kau sudah punya seseorang."
"hmm?"
Akari menoleh pada Ken. Laki-laki itu meraih tangannya.
"Jadi kenapa?"
"Dia seorang artis terkenal kan?"
"Memangnya kenapa?" tanya Akari ketus.
"Hmm.. aku pikir aku bisa merebutmu darinya." Ken tersenyum.
Akari mengerutkan dahinya. Namie dan Rika lagi-lagi saling bertukar tatapan, sementara teman Ken tertawa cekikikan.
"Maksudmu?"
"Karena banyak celah di antara kalian berdua, mungkin aku bisa memanfaatkan celah itu untuk merebutmu."
lagi-lagi Ken tersenyum. Akari bingung dengan pernyataan Ken dan senyumnya itu.
"Kalian berdua kenapa cekikikan daritadi?" tanya Rika pada kedua teman Ken.
"Akari-chan, kau masih suka pada Ken, kan? Tidak usah malu-malu." celetuk Tama
"he? Malu-malu?" Akari makin bingung kemana arah pembicaraan ini. Tangan Akari masih digenggam Ken walau berkali ia mencoba menepisnya.
"Dulu mungkin perasaanku biasa saja, mungkin dulu aku belum menyadarinya saja, tapi sekarang..."
"Sekarang apa?" tanya Akari bertambah ketus. Ia mencoba melepas genggaman Ken.
"Sekarang aku su..."
"suka? kenapa bisa?" Akari memotong kalimat Ken.
"Hei, Ken, hentikan! Kau menyakiti Akari!" Rika mencoba membantu Akari tapi teman Ken menahannya.
"Tidak butuh alasan untuk menyukai seseorang, Akari-chan, kau dulu kenapa bisa menyukai Ken?" celetuk teman Ken yang lain.
Situasi disana benar-benar aneh.
"Pokoknya aku menyukaimu, Akari, sekarang aku menyukaimu. Bagaimana kau lupakan artis bodoh itu dan menjadi pacarku?" paksa Ken. Laki-laki itu menarik paksa Akari ke dalam pelukannya.
"Kau yang bodoh! Lepaskan aku, bodoh!" Akari memberontak.
Namie dan Rika berteriak tapi tak ada yang mendengar. Jalanan sudah sepi. Mereka pun ditahan oleh kedua teman Ken dan tidal.bisa melakukan apapun untuk Akari.
"Oh ya? Aku bodoh?"
Ken mendekap tubuh Akari dan mencoba mencium bibir gadis itu dengan paksa. Akari menolak, ia takut. Pikirannya melayang pada Ryosuke.
Buk!!!
Sekepal tangan melayang ke pipi Ken.
Akari terduduk lemas. Tidak percaya pada apa yang dia alami.
"Akari-chan, daijoubu?" tanya Namie dan Rika setelah lepas dari tahanan teman Ken.
Akari mengangguk lemah. Di depannya sedang berdiri sosok Ryosuke. Pukulan mentah itu berasal dari Ryosuke dan lebam kebiruan kini bersarang di pipi Ken. Mereka bertatapan penuh benci.

"Aku kira kau tidak datang, kau mengganggu acaraku saja, padahal sedikit lagi aku bisa menciumnya, ck!" Ken berdiri. Menepis debu dari celana jeansnya.
Ryosuke melihat ke arah Akari. Pendar takut terlihat dari mata gadisnya itu.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tangan Ryosuke terkepal karena menahan amarah. Sebenarnya amarahnya sudah menggelegak ke ubun-ubun.
"Aku tadi hanya memegang tangannya, mendekap tubuhnya dan jika saja kau tidak datang, mungkin aku sudah merasakan...
BUK!!! pukulan lagi. Darah segar terlihat di ujung bibir Ken.
"Hanya segitu pukulanmu, artis bodoh?" Ken menghapus darah di ujung bibirnya tersebut dan tersenyum sinis.
"Kau!" Ryosuke memukul Ken berkali-kali. Ia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi. Kupingnya panas mendengar perlakuan Ken pada Akari.
"Hal seperti itu harusnya tak terjadi pada Akari jika kau ada di dekatnya, apa kau tidak khawatir padanya? Aku melihatnya sibuk memperhatikan ponsel selama bersamaku. Sayangnya maksud baikku untuk merebutnya darimu sia-sia, sayang sekali, padahal aku menyukainya. Akari harusnya bisa jadi milikku jika saja kau tidak ada." Ken membalas pukulan Ryosuke.
"Lebih baik kau menyerah saja, Akari hanya akan terluka jika bersama denganmu, dia tidak bisa menjalani hubungan normal selayaknya pasangan karena statusmu sebagai artis super sibuk."
"Kau!!!" Ryosuke sudah siap menghabisi Akari jika saja ia tidak mendengar gadis itu berteriak.

"Ryosuke! Sudah cukup!" teriak Akari. Akari mendekat.
Plak! Ia menampar keras pipi Ken.
"Kau tidak berhak bicara seperti itu tentang Ryosuke."
"Aku sudah bilang padamu aku tidak pernah sedikit pun menyukaimu kan? Apa kurang jelas?"
"Baiklah, jika sekarang tidak menyukaimu lagi, tidak apa tapi sayang sekali Akari-chan, aku terlanjur menyukaimu. Dan untukmu artis super sibuk, ada baiknya jangan lengah, bisa saja suatu hari aku merebut Akari darimu." Ken tersenyum pada Akari dan menepuk pundak Ryosuke kemudian ia berlalu pergi bersama kedua temannya.
Akari bisa bernafas lega, tapi masalahnya belum selesai. Tubuh Ryosuke masih menegang karena amarah. Laki-laki itu berbalik dan berjalan meninggalkan Akari.
"Mau kemana?" tanya Akari
"Jika mau tahu kenapa tidak mengikutiku saja?!" ujar Ryosuke setengah berteriak. Akari tersenyum.
"Rika-chan, Namie-chan, kalian pulang saja duluan. Aku ada sedikit urusan."
Akari mengerling. Kedua temannya itu mengangguk.

"Jalanmu lambat sekali, sayang, ah eh, maksudku Akari." ujar Ryosuke tanpa menoleh pada Akari dan terus berjalan.
Akari bersemu, "ulangi lagi?"
"Apa?"
"Yang kau katakan tadi."
"Jalanmu lambat sekali."
"Bukan, bukan yang itu."
Akari tertawa geli.
"Apa kabarmu, Ryosuke?" tanya Akari kemudian
"Aku baik. Siapa laki-laki tadi?" tanya Ryosuke dingin.
"Ken. Temanku saat SMA dulu."
"Kenapa kau tidak melawan saat ia memegang tanganmu?" nadanya masih dingin.
"Aku sudah coba tapi tenaganya terlalu kuat."
Ryosuke menghela nafas.
"Apa dia sempat mencium.."
"ahhh.. tidak.. tidak.. Kau datang tepat waktu."
Ada jeda diam yang cukup lama diantara mereka.
"Kemana saja kau?" tanya Akari, "Kau tidak pernah menghubungiku lagi, sesibuk itu kah?"
"...."
"Haha.. apa yang sedang aku bicarakan, tentu saja kau sibuk ya dan aku harusnya mengerti itu." Akari menggigit bibirnya.
"Maaf.." ujar Ryosuke sambil membelai rambut Akari.
"Uun, daijoubu."
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa sampai kesini?" tanya Akari
"Sepertinya salah satu temanmu mengirimiku email melalui ponselmu."
Akari baru ingat jika tasnya tadi dipegang oleh Rika.
"Apa yang dikatakan Ken benar? Apa dulu kau pernah menyukainya?"
"hmm?"
"....."
"Kau cemburu?"
Ryosuke buang muka. Selama ini ia cukup berhasil menyimpan rasa cemburunya dari Akari, biasanya ia hanya diam dalam beberapa waktu yang sangat lama jika ia cemburu tapi kali ini...
"tidak."
"oh ya?"
"aku hanya ingin tahu karena selama ini kau tidak pernah cerita padaku soal Ken."
Ya. Akari tidak -belum- cerita soal Ken pada Ryosuke.
"Dia itu hanya teman sekolahku, aku satu kelas dengannya, dan mungkin dulu aku pernah berfikir aku menyukainya.."
"hmm?" Ryosuke mulai gusar.
"Tapi itu tidak bisa dikategorikan sebagai suka, mungkin hanya perasaan klise karena setelah itu aku bahkan tidak pernah merasakan apapun pada Ken."
Ekspresi lega terlihat dari wajah Ryosuke.
"Tapi perkataannya tadi tidak main-main, sekarang dia menyukaimu."
Sebenarnya Akari sendiri takut pada perkataan Ken. Laki-laki itu terlihat tidak main-main.
Tiba-tiba Ryosuke menarik kepala Akari ke dadanya.
"Aku tidak akan lengah, Akari."
Gadis itu tersenyum dan memeluk Ryosuke.
Ryosuke, sejauh apapun dia dari Akari, sesibuk apapun dia dengan pekerjaannya, dia tidak akan lengah. Tidak ada yang bisa merebut Akari darinya.

_the end_

----------

finally, ff pertama di bulan April hehehe.. One-shot kali ini, lagi g bernapsu nulis multi-chapter XD maaf kalo judulnya agak maksa, yg sebenernya gue bingung mau ngasih judul apa..hehe enjoy!

Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular Posts