Love Reborn
Final Chapter : Mushroom Soup
Akari mengibaskan roknya yang sedikit basah terkena cipratan air hujan. Ia menaruh payungnya yang juga basah di rak khusus di dekat pintu masuk sebuah konbini. Seorang pegawai menyapanya dengan ramah ketika ia masuk. Akari tersenyum sepintas sambil mengambil troli belanja. Hari ini ia harus membeli kebutuhan dapur sebelum ia lupa.
Ia melalui sebuah vending-machine yang khusus menjual minuman hangat dan berhenti sebentar. Ia memasukkan beberapa koin yen dan menekan tombol yang bertuliskan hot cappucino. Secangkir cappucino hangat dengan asap halus yang masih keluar dari kotak kecil, Akari memegang cangkir itu dengan kedua tangannya. Menghangatkan diri. Hujan turun lumayan deras dan udara malam itu begitu dingin. Seteguk demi seteguk cappucino hangat itu mengalir ke perut dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Akari mendorong troli belanjanya melewati rak-rak makanan siap saji. Kadang ia malas masak. Tanpa sadar ia mengambil beberapa gram jamur shitake. Sesaat kemudian ia sadar satu hal. Kebiasaan ini selalu ia lakukan bersama Ryosuke. Jika hari hujan biasanya Ryosuke akan meminta Akari membuatkannya sup jamur. Mereka akan menghabiskan sepanjang hari hujan dengan memasak dan memakannya sambil berbincang tentang banyak hal. Ekspresi Akari berubah ketika ia teringat semuanya telah berubah. Gadis itu meraih kantong berisi jamur shitake yang sudah ditimbang oleh pegawai counter sayuran dan memasukkannya ke dalam troli. Ia akan makan sendirian hari ini. Dan begitu seterusnya.
Apartemen Akari tak begitu jauh dari konbini ini jadi ia memutuskan untuk jalan kaki. Lagipula hujan deras sudah perlahan mereda berganti gerimis. Tak lama kemudian Akari sampai di gedung apartemennya. Ia mengetuk-ngetukkan payungnya yang basah dan menggantungnya di lemari penyimpan benda-benda. Akari naik ke kamar apaftemennya yang terletak di lantai dua. Sambil menenteng belanjaannya, ia sibuk mencari kunci apartemennya selama menaiki tangga. Ia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf." ucapnya tanpa melihat siapa yang ditabraknya. Tapi orang itu malah menahan Akari dan memeluknya.
"Bantu aku mengingat siapa dirimu."
Gadis itu terpaku.
"Sejak kapan kau berada disini,Yama-chan?" tanyanya.
Laki-laki bermata cokelat tua itu melepas pelukannya.
"Cukup lama hingga membuatku menggigil kedinginan." dan laki-laki itu tersenyum.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" tanya Akari ketika mereka sudah berada di dalam apartemen Akari. Gadis itu mengeluarkan handuk kering dari dalam lemari dan menyerahkannya pada Ryosuke.
"Aku menunggumu seharian di rumah, tapi kau tidak datang."
Akari tercenung. dia menungguiku?
"Kenapa kau tidak datang ke rumah, Akari-chan?" tanya Ryosuke sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Sebaiknya kau ganti pakaian, nanti masuk angin. Itu pakaianmu sudah aku siapkan di kamar." ujar Akari. entah mengapa ia sedikit ketus pada Ryosuke.
"Bagaimana kau bisa punya pakaianku? Setidaknya aku ingat yang aku pakai dan semua peralatan mandi di kamar mandi itu, semua merknya sama dengan punyaku. Apa -mungkin- aku dulu pernah tinggal bersamamu?"
Akari memandang Ryosuke.
"Maaf, maaf, bukan maksudku untuk mengira kau yang tidak-tidak tapi..
"ya, semua itu memang punyamu. Pakaian dan perlengkapan mandi itu milikmu, bahkan handuk yang kau pakai itu juga punyamu." Akari sedikit geram.
"Jadi aku pernah tinggal disini?" tanya Ryosuke lagi. Akari berdecak kemudian meninggalkan Ryosuke dan menuju dapur.
Ryosuke berjalan mengitari ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ia melihat-lihat rak-rak buku Akari, pigura-pigura yang tergantung di dinding, benda-benda kecil di atas meja yang menjadi pemanis. Kebanyakan miniatur stroberi dan babi. Babi? Akari suka babi? Ryosuke tersenyum geli. Di antara sekian.banyak pigura ia tak menemukan satu foto Akari dengan kekasihnya. Mendadak Ryosuke ingin -sangat ingin- tahu siapa kekasih Akari. Apakah yang pulang bersamanya beberapa hari yang lalu?
Akari membawakan dua cangkir mint-tea dan menaruhnya di depan Ryosuke.
"Minumlah, untuk menghangatkan diri. Aku sedang masak sup jamur, nanti setelah makan, pulanglah."
"Ada apa, Akari-chan? Kau ketus sekali padaku. Biasanya bahkan tatapanmu padaku lembut. Apa aku melakukan sebuah kesalahan?"
"Tidak ada." Akari menyeruput tehnya.
"Jika kau marah karena Risa menciumku waktu itu..
"Aku tidak marah, aku tidak punya hak untuk marah."
Daripada marah Akari sebenarnya sedih ketika melihat itu.
"Apa kau masih menjaga hatimu untukku?" tanya Ryosuke tiba-tiba. Akari menatap Ryosuke tak percaya. Ia tidak salah dengar kan?
"Yamada-kun? Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya seorang gadis kecil ketika ia sedang berdiri di depan sebuah gedung sekolah TK.
Ryosuke mengerutkan dahinya.
"Kau kenal aku?"
"Tentu saja. Aku Haruka. Kau biasanya panggil aku Haru-nyan."
"Haru-nyan?"
Haruka mengangguk-angguk.
"Kenapa tidak pernah ke sekolah lagi?"
"Sekolah ini maksudmu?"
Haruka mengangguk lagi.
"Biasanya kau menjemput Akari-sensei setelah pulang sekolah." celoteh Haruka sambil menjilati permennya.
"hmm?"
"Iya, kemana saja, Yamada-kun? Aku dengar dari Akari-sensei kau sakit, apa sudah sembuh?" tanyanya polos
Ryosuke menepuk pelan kepala gadis itu.
"Apa kau mau membantuku, Haru-nyan?"
"Bantu apa?"
"Ceritakan padaku semua tentang Akari-sensei dan aku."
Anak itu terdiam sejenak. Ia berlari menuju ibunya dan mengatakan sesuatu. Ryosuke melihat ibunya mengangguk dan tersenyum padanya.
"Titip Haruka ya, Yamada-kun." nampaknya ibu Haruka pun mengenalnya. Ryosuke mengangguk. Ia menggandeng tangan gadis kecil itu dan memasuki gedung sekolah itu.
"Sebaiknya kau pulang, Yama-chan, keluargamu pasti khawatir apalagi Risa." ujar Akari. Ia sudah memutuskan untuk melihat Ryosuke bahagia walaupun harus berkorban kebahagiaannya sendiri.
"Kenapa kau tidak berusaha untuk membuatku mengingatmu?"
Akari terdiam.
"Ada Risa yang sudah menggantikanku." jawab Akari getir.
"Lupakan Risa, aku tidak membahas Risa sekarang, yang kubahas adalah tentang kau...dan aku."
Ryosuke meraih tangan Akari, mencoba menggenggamnya namun gadis itu menarik tangannya.
"Aku rasa supnya sudah matang." Akari meninggalkan Ryosuke ke dapur. Ryosuke menghela nafas.
Akari menahan tangisnya. Ia sangat ingin memeluk laki-laki bermata cokelat tua itu dan mengatakan bahwa hatinya masih tetap ia jaga untuknya. Tapi Akari tidak ingin Ryosuke merasakan sakit setiap ia mencoba mengingatnya.
Di luar masih gerimis, udara semakin dingin karena senja mulai beranjak malam. Dua orang itu tengah menikmati sup masing-masing dalam diam, hati mereka sebenarnya berkecamuk. Segala perasaan bertabrakan.
"Aku sudah menelpon Chihiro untuk menjemputmu, mungkin ia sedang dalam perjalanan." ujar Akari ketika menghabiskan satu suapan terakhir supnya.
"Akari, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"...."
"Apa kau masih menjaga hatimu untukku?" tanya Ryosuke dengan sorot mata hangat.
"Letakkan saja mangkuknya disana jika sudah selesai biar aku yang...
"Jangan menghindar dari pertanyaanku, Akari."
"Yama-chan, aku
"kau tidak memanggilku dengan sebutan itu, bukan?"
Ryosuke berdiri dari tempat duduknya, mendekati Akari dan memeluk gadis itu. Akari berusaha menarik diri tapi...ia merindukan pelukan ini.
"Tolong lepaskan aku, Yama-chan,"
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku."
"Yama-chan aku mohon!"
Laki-laki itu masih memeluknya malah makin erat.
"Yama-chan, nafasku sesak.."
"...."
"RYOSUKE!!!!" pekik Akari
Ryosuke tersenyum dan melepas pelukannya.
"Aku sudah mengingatmu, Akari. Aku ingat bagaimana berartinya kau untukku." Ryosuke membelai pelan rambut gadis itu.
Akari hanya diam. Hatinya senang ketika Ryosuke mengatakan hal itu.
"Tapi pertanyaanku belum kau jawab. Masihkah hatimu kau jaga untukku?"
Akari mengangguk.
Ryosuke menghela nafas lega.
"Tapi mengapa kau tidak berusaha membuatku ingat tentangmu?"
"Aku tidak mau kau kesakitan ketika mengingat sesuatu."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Chihiro."
"Cih! Sudah kubilang padanya untuk tidak mengatakan apapun." umpat Ryosuke
"Eh?"
"Aku tahu bagaimana dirimu, Akari. Kau akan sangat khawatir jika tahu aku akan kesakitan, dan Chihiro, bodohnya ia mengatakan hal itu dan lihat, aku nyaris kehilanganmu, kan?"
Akari tertawa geli.
"Kenapa malah tertawa? Aku begitu khawatir kau akan melupakanku." raut wajah sedih menggurati Ryosuke.
"Aku memang sudah menyerah tentang ingatanmu, aku pikir Risa memang lebih pantas untuk..."
Akari merasakan kelembutan bibir Ryosuke dibibirnya.
"Risa hanya sebuah masa lalu."
Ryosuke mencium bibir Akari lagi.
"Mungkin aku sempat kehilangan ingatan tentangmu.."
Kebiasaan Ryosuke yang tiba-tiba mencium Akari di tengah pembicaraan belum berubah rupanya. Wajah gadis itu merona merah.
"Aku belum ingat sepenuhnya karena itu bantu aku, Akari. Karena bagiku saat ini dan seterusnya adalah kau."
Ryosuke mencium Akari lagi. Lebih dalam dan penuh perasaan kali ini.
"Tidakkah kau merindukan ciuman ini?" ledek Ryosuke.
"Eh? Kau masih pervert rupanya."
Ryosuke tertawa melihat Akari yang buang muka karena salah tingkah.
"tapi rasa ciumanmu kali ini sup jamur, Akari-chan."
Malam itu berakhir dengan indah untuk mereka. Masih ada sup jamur lainnya setelah ini.
-end-
Akari mengibaskan roknya yang sedikit basah terkena cipratan air hujan. Ia menaruh payungnya yang juga basah di rak khusus di dekat pintu masuk sebuah konbini. Seorang pegawai menyapanya dengan ramah ketika ia masuk. Akari tersenyum sepintas sambil mengambil troli belanja. Hari ini ia harus membeli kebutuhan dapur sebelum ia lupa.
Ia melalui sebuah vending-machine yang khusus menjual minuman hangat dan berhenti sebentar. Ia memasukkan beberapa koin yen dan menekan tombol yang bertuliskan hot cappucino. Secangkir cappucino hangat dengan asap halus yang masih keluar dari kotak kecil, Akari memegang cangkir itu dengan kedua tangannya. Menghangatkan diri. Hujan turun lumayan deras dan udara malam itu begitu dingin. Seteguk demi seteguk cappucino hangat itu mengalir ke perut dan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Akari mendorong troli belanjanya melewati rak-rak makanan siap saji. Kadang ia malas masak. Tanpa sadar ia mengambil beberapa gram jamur shitake. Sesaat kemudian ia sadar satu hal. Kebiasaan ini selalu ia lakukan bersama Ryosuke. Jika hari hujan biasanya Ryosuke akan meminta Akari membuatkannya sup jamur. Mereka akan menghabiskan sepanjang hari hujan dengan memasak dan memakannya sambil berbincang tentang banyak hal. Ekspresi Akari berubah ketika ia teringat semuanya telah berubah. Gadis itu meraih kantong berisi jamur shitake yang sudah ditimbang oleh pegawai counter sayuran dan memasukkannya ke dalam troli. Ia akan makan sendirian hari ini. Dan begitu seterusnya.
Apartemen Akari tak begitu jauh dari konbini ini jadi ia memutuskan untuk jalan kaki. Lagipula hujan deras sudah perlahan mereda berganti gerimis. Tak lama kemudian Akari sampai di gedung apartemennya. Ia mengetuk-ngetukkan payungnya yang basah dan menggantungnya di lemari penyimpan benda-benda. Akari naik ke kamar apaftemennya yang terletak di lantai dua. Sambil menenteng belanjaannya, ia sibuk mencari kunci apartemennya selama menaiki tangga. Ia bertabrakan dengan seseorang.
"Maaf." ucapnya tanpa melihat siapa yang ditabraknya. Tapi orang itu malah menahan Akari dan memeluknya.
"Bantu aku mengingat siapa dirimu."
Gadis itu terpaku.
"Sejak kapan kau berada disini,Yama-chan?" tanyanya.
Laki-laki bermata cokelat tua itu melepas pelukannya.
"Cukup lama hingga membuatku menggigil kedinginan." dan laki-laki itu tersenyum.
"Bagaimana kau bisa sampai kesini?" tanya Akari ketika mereka sudah berada di dalam apartemen Akari. Gadis itu mengeluarkan handuk kering dari dalam lemari dan menyerahkannya pada Ryosuke.
"Aku menunggumu seharian di rumah, tapi kau tidak datang."
Akari tercenung. dia menungguiku?
"Kenapa kau tidak datang ke rumah, Akari-chan?" tanya Ryosuke sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
"Sebaiknya kau ganti pakaian, nanti masuk angin. Itu pakaianmu sudah aku siapkan di kamar." ujar Akari. entah mengapa ia sedikit ketus pada Ryosuke.
"Bagaimana kau bisa punya pakaianku? Setidaknya aku ingat yang aku pakai dan semua peralatan mandi di kamar mandi itu, semua merknya sama dengan punyaku. Apa -mungkin- aku dulu pernah tinggal bersamamu?"
Akari memandang Ryosuke.
"Maaf, maaf, bukan maksudku untuk mengira kau yang tidak-tidak tapi..
"ya, semua itu memang punyamu. Pakaian dan perlengkapan mandi itu milikmu, bahkan handuk yang kau pakai itu juga punyamu." Akari sedikit geram.
"Jadi aku pernah tinggal disini?" tanya Ryosuke lagi. Akari berdecak kemudian meninggalkan Ryosuke dan menuju dapur.
Ryosuke berjalan mengitari ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ia melihat-lihat rak-rak buku Akari, pigura-pigura yang tergantung di dinding, benda-benda kecil di atas meja yang menjadi pemanis. Kebanyakan miniatur stroberi dan babi. Babi? Akari suka babi? Ryosuke tersenyum geli. Di antara sekian.banyak pigura ia tak menemukan satu foto Akari dengan kekasihnya. Mendadak Ryosuke ingin -sangat ingin- tahu siapa kekasih Akari. Apakah yang pulang bersamanya beberapa hari yang lalu?
Akari membawakan dua cangkir mint-tea dan menaruhnya di depan Ryosuke.
"Minumlah, untuk menghangatkan diri. Aku sedang masak sup jamur, nanti setelah makan, pulanglah."
"Ada apa, Akari-chan? Kau ketus sekali padaku. Biasanya bahkan tatapanmu padaku lembut. Apa aku melakukan sebuah kesalahan?"
"Tidak ada." Akari menyeruput tehnya.
"Jika kau marah karena Risa menciumku waktu itu..
"Aku tidak marah, aku tidak punya hak untuk marah."
Daripada marah Akari sebenarnya sedih ketika melihat itu.
"Apa kau masih menjaga hatimu untukku?" tanya Ryosuke tiba-tiba. Akari menatap Ryosuke tak percaya. Ia tidak salah dengar kan?
"Yamada-kun? Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya seorang gadis kecil ketika ia sedang berdiri di depan sebuah gedung sekolah TK.
Ryosuke mengerutkan dahinya.
"Kau kenal aku?"
"Tentu saja. Aku Haruka. Kau biasanya panggil aku Haru-nyan."
"Haru-nyan?"
Haruka mengangguk-angguk.
"Kenapa tidak pernah ke sekolah lagi?"
"Sekolah ini maksudmu?"
Haruka mengangguk lagi.
"Biasanya kau menjemput Akari-sensei setelah pulang sekolah." celoteh Haruka sambil menjilati permennya.
"hmm?"
"Iya, kemana saja, Yamada-kun? Aku dengar dari Akari-sensei kau sakit, apa sudah sembuh?" tanyanya polos
Ryosuke menepuk pelan kepala gadis itu.
"Apa kau mau membantuku, Haru-nyan?"
"Bantu apa?"
"Ceritakan padaku semua tentang Akari-sensei dan aku."
Anak itu terdiam sejenak. Ia berlari menuju ibunya dan mengatakan sesuatu. Ryosuke melihat ibunya mengangguk dan tersenyum padanya.
"Titip Haruka ya, Yamada-kun." nampaknya ibu Haruka pun mengenalnya. Ryosuke mengangguk. Ia menggandeng tangan gadis kecil itu dan memasuki gedung sekolah itu.
"Sebaiknya kau pulang, Yama-chan, keluargamu pasti khawatir apalagi Risa." ujar Akari. Ia sudah memutuskan untuk melihat Ryosuke bahagia walaupun harus berkorban kebahagiaannya sendiri.
"Kenapa kau tidak berusaha untuk membuatku mengingatmu?"
Akari terdiam.
"Ada Risa yang sudah menggantikanku." jawab Akari getir.
"Lupakan Risa, aku tidak membahas Risa sekarang, yang kubahas adalah tentang kau...dan aku."
Ryosuke meraih tangan Akari, mencoba menggenggamnya namun gadis itu menarik tangannya.
"Aku rasa supnya sudah matang." Akari meninggalkan Ryosuke ke dapur. Ryosuke menghela nafas.
Akari menahan tangisnya. Ia sangat ingin memeluk laki-laki bermata cokelat tua itu dan mengatakan bahwa hatinya masih tetap ia jaga untuknya. Tapi Akari tidak ingin Ryosuke merasakan sakit setiap ia mencoba mengingatnya.
Di luar masih gerimis, udara semakin dingin karena senja mulai beranjak malam. Dua orang itu tengah menikmati sup masing-masing dalam diam, hati mereka sebenarnya berkecamuk. Segala perasaan bertabrakan.
"Aku sudah menelpon Chihiro untuk menjemputmu, mungkin ia sedang dalam perjalanan." ujar Akari ketika menghabiskan satu suapan terakhir supnya.
"Akari, kau belum menjawab pertanyaanku tadi."
"...."
"Apa kau masih menjaga hatimu untukku?" tanya Ryosuke dengan sorot mata hangat.
"Letakkan saja mangkuknya disana jika sudah selesai biar aku yang...
"Jangan menghindar dari pertanyaanku, Akari."
"Yama-chan, aku
"kau tidak memanggilku dengan sebutan itu, bukan?"
Ryosuke berdiri dari tempat duduknya, mendekati Akari dan memeluk gadis itu. Akari berusaha menarik diri tapi...ia merindukan pelukan ini.
"Tolong lepaskan aku, Yama-chan,"
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku."
"Yama-chan aku mohon!"
Laki-laki itu masih memeluknya malah makin erat.
"Yama-chan, nafasku sesak.."
"...."
"RYOSUKE!!!!" pekik Akari
Ryosuke tersenyum dan melepas pelukannya.
"Aku sudah mengingatmu, Akari. Aku ingat bagaimana berartinya kau untukku." Ryosuke membelai pelan rambut gadis itu.
Akari hanya diam. Hatinya senang ketika Ryosuke mengatakan hal itu.
"Tapi pertanyaanku belum kau jawab. Masihkah hatimu kau jaga untukku?"
Akari mengangguk.
Ryosuke menghela nafas lega.
"Tapi mengapa kau tidak berusaha membuatku ingat tentangmu?"
"Aku tidak mau kau kesakitan ketika mengingat sesuatu."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Chihiro."
"Cih! Sudah kubilang padanya untuk tidak mengatakan apapun." umpat Ryosuke
"Eh?"
"Aku tahu bagaimana dirimu, Akari. Kau akan sangat khawatir jika tahu aku akan kesakitan, dan Chihiro, bodohnya ia mengatakan hal itu dan lihat, aku nyaris kehilanganmu, kan?"
Akari tertawa geli.
"Kenapa malah tertawa? Aku begitu khawatir kau akan melupakanku." raut wajah sedih menggurati Ryosuke.
"Aku memang sudah menyerah tentang ingatanmu, aku pikir Risa memang lebih pantas untuk..."
Akari merasakan kelembutan bibir Ryosuke dibibirnya.
"Risa hanya sebuah masa lalu."
Ryosuke mencium bibir Akari lagi.
"Mungkin aku sempat kehilangan ingatan tentangmu.."
Kebiasaan Ryosuke yang tiba-tiba mencium Akari di tengah pembicaraan belum berubah rupanya. Wajah gadis itu merona merah.
"Aku belum ingat sepenuhnya karena itu bantu aku, Akari. Karena bagiku saat ini dan seterusnya adalah kau."
Ryosuke mencium Akari lagi. Lebih dalam dan penuh perasaan kali ini.
"Tidakkah kau merindukan ciuman ini?" ledek Ryosuke.
"Eh? Kau masih pervert rupanya."
Ryosuke tertawa melihat Akari yang buang muka karena salah tingkah.
"tapi rasa ciumanmu kali ini sup jamur, Akari-chan."
Malam itu berakhir dengan indah untuk mereka. Masih ada sup jamur lainnya setelah ini.
-end-
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment