Love Reborn
Chapter 4 : Drama
Sekelumit masa lalu yang kembali. Itulah yang ada di pikiran Risa saat ini. Ia memang pernah menjalin hubungan serius dengan Ryosuke, cukup lama malah, tapi sayangnya hubungan itu kandas di tengah jalan karena kesalahannya sendiri. Risa begitu meremehkan cinta Ryosuke dan mencoba sedikit 'bermain' dengan laki-laki lain. Hasilnya, laki-laki itu hanya mempermainkannya. Hubungan gelap itu diketahui Ryosuke dan bahkan ketika belum sempat terucap kata maaf dari mulut Risa, Ryosuke pergi meninggalkannya. Risa sangat menyesal saat itu, ia sudah mencampakkan orang yang sudah tulus kepadanya. Tapi beberapa minggu lalu ia dikejutkan dengan kabar bahwa Ryosuke memintanya datang ke rumah sakit. Awalnya Risa merasa malu untuk datang tapi Chihiro, kakak Ryosuke, menjelaskan keadaan Ryosuke padanya dan Risa menganggap ini sebagai penebus kesalahannya di masa lalu. Ia ingin memperbaikinya dan kesempatan baik sedang berada di depannya.
Ryosuke menyambutnya dengan hangat, tidak ada dendam masa lalu di matanya, bahkan ia tidak berkata apa-apa tentang masa lalu. Tatapan hangat mata cokelat tua itu masih sama seperti ketika Risa mengenalnya, menenangkan. Namun ia menangkap hal lain dari mata itu, mungkin tatapan itu masih sama hangatnya, tapi Risa merasa ada hal yang hilang dari dalam diri Ryosuke. Sesuatu yang Ryosuke amat cintai.
Ryosuke menyambutnya dengan hangat, tidak ada dendam masa lalu di matanya, bahkan ia tidak berkata apa-apa tentang masa lalu. Tatapan hangat mata cokelat tua itu masih sama seperti ketika Risa mengenalnya, menenangkan. Namun ia menangkap hal lain dari mata itu, mungkin tatapan itu masih sama hangatnya, tapi Risa merasa ada hal yang hilang dari dalam diri Ryosuke. Sesuatu yang Ryosuke amat cintai.
"Risa.." sapa Ryosuke mengagetkannya
"Yama-chan.."
"Sudah lama menunggu?" tanya Ryosuke
"Belum."
Laki-laki itu sudah lebih baik sekarang. Kondisinya sudah berangsur normal kembali.
"Sebenarnya aku sudah bosan di rumah tapi ibu belum mengizinkanku keluar rumah."
"kau belum sembuh benar, Ryosuke."
"kau jangan seperti ibu ya, aku sudah bisa berjalan sekarang, sudah bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain."
"oh ya?" Risa tergelak, "Mau teh? aku buatkan ya."
Ryosuke mengangguk. Gadis itu masuk ke dalam rumah dan menuju dapur. Risa menyeduh dua cangkir chamomile tea, ia juga mengambil setoples cookies dari dalam lemari sebagai teman minum tehnya sore itu.
"Yama-chan.."
"Sudah lama menunggu?" tanya Ryosuke
"Belum."
Laki-laki itu sudah lebih baik sekarang. Kondisinya sudah berangsur normal kembali.
"Sebenarnya aku sudah bosan di rumah tapi ibu belum mengizinkanku keluar rumah."
"kau belum sembuh benar, Ryosuke."
"kau jangan seperti ibu ya, aku sudah bisa berjalan sekarang, sudah bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain."
"oh ya?" Risa tergelak, "Mau teh? aku buatkan ya."
Ryosuke mengangguk. Gadis itu masuk ke dalam rumah dan menuju dapur. Risa menyeduh dua cangkir chamomile tea, ia juga mengambil setoples cookies dari dalam lemari sebagai teman minum tehnya sore itu.
"hai, douzo.." ujar Risa sekembalinya dari dapur. Ia meletakkan secangkir chamomile tea di depan Ryosuke.
"terima kasih."
Laki-laki itu meniup pelan tehnya dan menyeruput sedikit. Laki-laki itu tercenung sedikit, ada perasaan ganjil.
"daijoubu Yama-chan?"
Laki-laki di depannya hanya menggeleng dan tersenyum.
benarkah tidak ada apa-apa? atau tiba-tiba kau teringat sesuatu? batin Risa.
"terima kasih."
Laki-laki itu meniup pelan tehnya dan menyeruput sedikit. Laki-laki itu tercenung sedikit, ada perasaan ganjil.
"daijoubu Yama-chan?"
Laki-laki di depannya hanya menggeleng dan tersenyum.
benarkah tidak ada apa-apa? atau tiba-tiba kau teringat sesuatu? batin Risa.
"Tadaimaaa~" pekik Misaki, "kami pulaaaang."
kami? siapa satu lagi?
Misaki masuk ke ruang keluarga dan melihat Ryosuke juga Risa tengah asyik berbincang.
"aku pikir tidak ada orang, ternyata ada kalian berdua disini." ujar Misaki, "Akari-chan, ayo masuk!"
Ryosuke langsung berdiri dari tempat duduknya ketika mendengar nama Akari disebutkan. Laki-laki itu mendadak salah tingkah. Risa menangkap jelas jika Ryosuke merasakan sesuatu pada Akari walau nyatanya laki-laki itu tidak menyadarinya.
"ada apa denganmu, kakak, tiba-tiba berdiri seperti itu?" Misaki tertawa
Risa menatap gadis dengan pakaian sederhana yang membalut tubuhnya. Gadis itu tersenyum padanya. Risa membalasnya walau enggan.
Risa tahu jika Akari punya hubungan spesial dengan Ryosuke, tapi hubungan itu nampaknya harus putus karena kondisi Ryosuke yang hilang ingatan. Pertanyaannya, putusnya Ryosuke dan Akari apakah selamanya atau hanya sementara hingga ingatan Ryosuke pulih. Yang mana pun setidaknya Risa harus berusaha untuk mendapatkan cinta Ryosuke kembali.
"tidak, aku hanya.. aku.." ujar Ryosuke terbata
Misaki menaikkan sebelah alisnya.
"kau ini, bicara saja gagap." cela Misaki. Ryosuke hanya bisa menggaruk kepalanya. Ia sendiri heran mengapa rasanya begitu gugup jika ada Akari di dekatnya.
"Akari-chan, kau duduk disini dulu. Aku mau ganti baju."
"tapi, Misaki, aku harus pulang."
"tunggu sebentar saja, ada pekerjaan rumah yang mau aku tanyakan."
Gadis itu menghela nafas.
Akari menatap Ryosuke yang juga menatapnya. Risa masih memperhatikan apa yang akan terjadi. Baiklah, harus ada sedikit drama disini, pikirnya.
Gadis berambut ikal panjang itu menarik lengan Ryosuke kemudian mencium bibir laki-laki itu sekilas.
Akari menatap shock. Ryosuke mundur selangkah, terkejut dengan tindakan Risa. Gadis yang mencium bibirnya itu tersenyum.
"rasa chamomile.."
"Risa apa yang.." tiba-tiba Ryosuke teringat pada Akari. Gadis itu sudah menghilang dari hadapannya.
kami? siapa satu lagi?
Misaki masuk ke ruang keluarga dan melihat Ryosuke juga Risa tengah asyik berbincang.
"aku pikir tidak ada orang, ternyata ada kalian berdua disini." ujar Misaki, "Akari-chan, ayo masuk!"
Ryosuke langsung berdiri dari tempat duduknya ketika mendengar nama Akari disebutkan. Laki-laki itu mendadak salah tingkah. Risa menangkap jelas jika Ryosuke merasakan sesuatu pada Akari walau nyatanya laki-laki itu tidak menyadarinya.
"ada apa denganmu, kakak, tiba-tiba berdiri seperti itu?" Misaki tertawa
Risa menatap gadis dengan pakaian sederhana yang membalut tubuhnya. Gadis itu tersenyum padanya. Risa membalasnya walau enggan.
Risa tahu jika Akari punya hubungan spesial dengan Ryosuke, tapi hubungan itu nampaknya harus putus karena kondisi Ryosuke yang hilang ingatan. Pertanyaannya, putusnya Ryosuke dan Akari apakah selamanya atau hanya sementara hingga ingatan Ryosuke pulih. Yang mana pun setidaknya Risa harus berusaha untuk mendapatkan cinta Ryosuke kembali.
"tidak, aku hanya.. aku.." ujar Ryosuke terbata
Misaki menaikkan sebelah alisnya.
"kau ini, bicara saja gagap." cela Misaki. Ryosuke hanya bisa menggaruk kepalanya. Ia sendiri heran mengapa rasanya begitu gugup jika ada Akari di dekatnya.
"Akari-chan, kau duduk disini dulu. Aku mau ganti baju."
"tapi, Misaki, aku harus pulang."
"tunggu sebentar saja, ada pekerjaan rumah yang mau aku tanyakan."
Gadis itu menghela nafas.
Akari menatap Ryosuke yang juga menatapnya. Risa masih memperhatikan apa yang akan terjadi. Baiklah, harus ada sedikit drama disini, pikirnya.
Gadis berambut ikal panjang itu menarik lengan Ryosuke kemudian mencium bibir laki-laki itu sekilas.
Akari menatap shock. Ryosuke mundur selangkah, terkejut dengan tindakan Risa. Gadis yang mencium bibirnya itu tersenyum.
"rasa chamomile.."
"Risa apa yang.." tiba-tiba Ryosuke teringat pada Akari. Gadis itu sudah menghilang dari hadapannya.
* * *
"aku masih menyimpan hatiku untuk Ryosuke, Misaki, apa itu salah?" tanya Akari.
"tentu saja salah, sampai kapan kau mau menyimpannya terus sementara kau sendiri tidak berbuat apapun untuk membuat kakak ingat padamu. Sampai kapan kau mau melihat kakak selalu berdua dengan Risa?" tanya Misaki tanpa jeda.
Akari terdiam. Pertanyaan itu menusuk perasaannya. Semua yang dikatakan Misaki benar, akari selama ini hanya diam memperhatikan kebersamaan Risa dan Ryosuke sambil menahan pedih hatinya. Seperti sekarang, tak jauh dari mereka duduk, Risa dan Ryosuke sedang berjalan, bergandengan tangan.
"aku sakit kepala melihat mereka berdua." ujar Misaki tiba-tiba. Akari tergelak.
"kenapa malah tertawa, Akari-chan? Kau ini aneh sekali, tidak, kalian berdua aneh. Kakak selain aneh juga bodoh. Setelah Risa menciumnya semalam dia bukannya marah malah bilang, jangan lakukan hal itu di depan Akari," Misaki menirukan mimik Ryosuke.
Ekspresi Akari berubah. Ia menggigit bibirnya ketika mendengar ucapan Misaki.
"Akari-chan, maaf, seharusnya aku tidak mengatakan itu." ujar Misaki sambil menggenggam tangan Akari.
"tidak apa-apa, Mi-chan." Akari tersenyum. Ia menatap ke arah Ryosuke dan Risa.
"apa kau yakin kau tidak apa-apa?"
"ya, aku juga sudah bilang pada Chihiro." Akari menatap Misaki. Matanya menyiratkan keyakinan.
"aku sudah bilang pada Chihiro, apapun akan aku lakukan agar Ryosuke selalu bahagia termasuk jika ia melupakanku."
Misaki terhenyak.
Akari menatap Ryosuke lagi. Misaki mengikutinya.
"bukankah mencintai itu bahagia melihat orang yang kau cintai tertawa lepas seperti itu?"
Ada jeda sejenak di antara mereka berdua.
"tidak peduli bagaimana perasaanku, aku baik-baik saja,Misaki. Yang aku inginkan hanya melihat senyum bahagia selalu menyertai Ryosuke, dan nampaknya ia bahagia bersama Risa."
Misaki berdiri dari tempatnya duduk.
"Bagaimana bisa?"
"Eh?"
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu, Akari-chan? Bagaimana bisa kau begitu tenang mengatakan menyedihkan seperti itu dengan tatapan terluka?" ujar Misaki setengah berteriak.
Ryosuke dan Risa menoleh pada mereka berdua.
"Mi-chan.."
"Kau dan kakak adalah sepasang kekasih." gumam Misaki pelan. Gadis yang baru beranjak remaja itu menangis.
"Ada apa ini? Kenapa Misaki? Ada apa dengannya Akari-chan?" tanya Ryosuke. Laki-laki itu sudah berdiri di dekat mereka.
"Kakak bodoh!" teriak Misaki sambil berlalu pergi meninggalkan ketiga orang itu.
Ryosuke terperanjat mendengar perkataan Misaki. Ia menoleh pada Akari, berniat meminta penjelasan tapi gadis itu sekarang hanya menatap kosong lantai di bawahnya. Drama ini harus menemukan akhir, apapun itu.
"tentu saja salah, sampai kapan kau mau menyimpannya terus sementara kau sendiri tidak berbuat apapun untuk membuat kakak ingat padamu. Sampai kapan kau mau melihat kakak selalu berdua dengan Risa?" tanya Misaki tanpa jeda.
Akari terdiam. Pertanyaan itu menusuk perasaannya. Semua yang dikatakan Misaki benar, akari selama ini hanya diam memperhatikan kebersamaan Risa dan Ryosuke sambil menahan pedih hatinya. Seperti sekarang, tak jauh dari mereka duduk, Risa dan Ryosuke sedang berjalan, bergandengan tangan.
"aku sakit kepala melihat mereka berdua." ujar Misaki tiba-tiba. Akari tergelak.
"kenapa malah tertawa, Akari-chan? Kau ini aneh sekali, tidak, kalian berdua aneh. Kakak selain aneh juga bodoh. Setelah Risa menciumnya semalam dia bukannya marah malah bilang, jangan lakukan hal itu di depan Akari," Misaki menirukan mimik Ryosuke.
Ekspresi Akari berubah. Ia menggigit bibirnya ketika mendengar ucapan Misaki.
"Akari-chan, maaf, seharusnya aku tidak mengatakan itu." ujar Misaki sambil menggenggam tangan Akari.
"tidak apa-apa, Mi-chan." Akari tersenyum. Ia menatap ke arah Ryosuke dan Risa.
"apa kau yakin kau tidak apa-apa?"
"ya, aku juga sudah bilang pada Chihiro." Akari menatap Misaki. Matanya menyiratkan keyakinan.
"aku sudah bilang pada Chihiro, apapun akan aku lakukan agar Ryosuke selalu bahagia termasuk jika ia melupakanku."
Misaki terhenyak.
Akari menatap Ryosuke lagi. Misaki mengikutinya.
"bukankah mencintai itu bahagia melihat orang yang kau cintai tertawa lepas seperti itu?"
Ada jeda sejenak di antara mereka berdua.
"tidak peduli bagaimana perasaanku, aku baik-baik saja,Misaki. Yang aku inginkan hanya melihat senyum bahagia selalu menyertai Ryosuke, dan nampaknya ia bahagia bersama Risa."
Misaki berdiri dari tempatnya duduk.
"Bagaimana bisa?"
"Eh?"
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu, Akari-chan? Bagaimana bisa kau begitu tenang mengatakan menyedihkan seperti itu dengan tatapan terluka?" ujar Misaki setengah berteriak.
Ryosuke dan Risa menoleh pada mereka berdua.
"Mi-chan.."
"Kau dan kakak adalah sepasang kekasih." gumam Misaki pelan. Gadis yang baru beranjak remaja itu menangis.
"Ada apa ini? Kenapa Misaki? Ada apa dengannya Akari-chan?" tanya Ryosuke. Laki-laki itu sudah berdiri di dekat mereka.
"Kakak bodoh!" teriak Misaki sambil berlalu pergi meninggalkan ketiga orang itu.
Ryosuke terperanjat mendengar perkataan Misaki. Ia menoleh pada Akari, berniat meminta penjelasan tapi gadis itu sekarang hanya menatap kosong lantai di bawahnya. Drama ini harus menemukan akhir, apapun itu.
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment