Love Reborn
Chapter 3 : Well, I have to introduce myself, again?
Ryosuke masih duduk di kursi rodanya. Kakinya belum bisa digunakan terlalu sering karena 46 hari kemarin alat berjalannya itu lumpuh total. Satu-satunya yang bisa ia lakukan dengan kakinya hanya berjalan ke kamar mandi, itu pun dengan bantuan keluarganya atau Risa.
Siang itu dihabiskannya dengan duduk di balkon rumah. Risa akan datang sebentar lagi. Membantu merawatnya atau sekedar menemani ngobrol. Sejak hari pertama kepulangannya, Risa selalu berada di kediaman Yamada, membantu keperluan laki-laki bermata cokelat itu.
"Hei, kenapa melamun? Maaf terlambat, tadi aku mampir ke swalayan dan membelikanmu ini." gadis manis berambut panjang itu menyerahkan sekotak stroberi pada Ryosuke.
"Arigatou.."
Ryosuke meletakkan kotak itu di pangkuannya. Ia sejak tadi bergantian menatap jam dinding.
"ada apa? Kau ada janji dengan orang?" tanya Risa. Gadis itu menaruh tasnya di atas meja kanopi yang tak jauh darinya.
"Entahlah tapi aku merasa ada hal rutin yang harus aku lakukan setiap jam seperti ini. Namun aku tidak ingat."
Risa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jangan memaksakan diri, mungkin hanya perasaanmu saja, Yama-chan."
"Aku harap begitu."
Siang itu dihabiskannya dengan duduk di balkon rumah. Risa akan datang sebentar lagi. Membantu merawatnya atau sekedar menemani ngobrol. Sejak hari pertama kepulangannya, Risa selalu berada di kediaman Yamada, membantu keperluan laki-laki bermata cokelat itu.
"Hei, kenapa melamun? Maaf terlambat, tadi aku mampir ke swalayan dan membelikanmu ini." gadis manis berambut panjang itu menyerahkan sekotak stroberi pada Ryosuke.
"Arigatou.."
Ryosuke meletakkan kotak itu di pangkuannya. Ia sejak tadi bergantian menatap jam dinding.
"ada apa? Kau ada janji dengan orang?" tanya Risa. Gadis itu menaruh tasnya di atas meja kanopi yang tak jauh darinya.
"Entahlah tapi aku merasa ada hal rutin yang harus aku lakukan setiap jam seperti ini. Namun aku tidak ingat."
Risa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Jangan memaksakan diri, mungkin hanya perasaanmu saja, Yama-chan."
"Aku harap begitu."
"Akari-sensei, apa Yamada-kun tidak menjemputmu lagi hari ini?" tanya Haru-chan.
Akari menggeleng kemudian berjongkok di depan Haru-chan.
"Yamada-kun baru saja sembuh, dia harus banyak istirahat."
"Haru-chaaan," panggil seorang wanita yang berumur sekitar 25tahunan di depan lobby sekolah.
"Okaasan! Aku pulang dulu, Akari-sensei. Nanti kita bicara lagi tentang Yamada-kun." anak itu mengedip centil. Akari tertawa kecil melihat tingkah polos Haru-chan.
Akari berbalik kembali ke ruang guru, semua anak didiknya sudah pulang dan tiba saatnya pula ia pulang.
"Tidak dijemput, Akari-sensei?" tanya seorang guru laki-laki.
"Tidak, kebetulan aku bawa sepeda."
"Bagaimana kelasmu hari ini?" tanya guru itu lagi, mencoba mencairkan suasana.
"Menyenangkan seperti biasa, kalau kelasmu Matsumoto-sensei?"
"Ramai."
Mereka berdua sama-sama tergelak.
"Mau pulang bersama? Sepertinya apartemen kita searah, lagipula tidak enak pulang sendirian."
Akari menimang sejenak kemudian mengangguk setuju.
Akari menggeleng kemudian berjongkok di depan Haru-chan.
"Yamada-kun baru saja sembuh, dia harus banyak istirahat."
"Haru-chaaan," panggil seorang wanita yang berumur sekitar 25tahunan di depan lobby sekolah.
"Okaasan! Aku pulang dulu, Akari-sensei. Nanti kita bicara lagi tentang Yamada-kun." anak itu mengedip centil. Akari tertawa kecil melihat tingkah polos Haru-chan.
Akari berbalik kembali ke ruang guru, semua anak didiknya sudah pulang dan tiba saatnya pula ia pulang.
"Tidak dijemput, Akari-sensei?" tanya seorang guru laki-laki.
"Tidak, kebetulan aku bawa sepeda."
"Bagaimana kelasmu hari ini?" tanya guru itu lagi, mencoba mencairkan suasana.
"Menyenangkan seperti biasa, kalau kelasmu Matsumoto-sensei?"
"Ramai."
Mereka berdua sama-sama tergelak.
"Mau pulang bersama? Sepertinya apartemen kita searah, lagipula tidak enak pulang sendirian."
Akari menimang sejenak kemudian mengangguk setuju.
"Apa yang terjadi pada Yamada-kun, Akari-sensei? Aku sudah lama tidak melihatnya, aku dengar ia masuk rumah sakit." ujar Matsumoto ketika mereka berada di perjalanan pulang.
Lama sekali Akari diam.
"Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian. Tidak apa jika kau tidak menjawabnya."
"Kami baik-baik saja, Matsumoto-sensei." jawab Akari pelan, "Kami baik-baik saja." ulangnya dengan nada getir.
Akari hanya menatap kosong jalanan aspal yang ia lalui. Hari terakhirnya bertemu Ryosuke adalah saat laki-laki itu kembali ke rumahnya.
Lama sekali Akari diam.
"Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan kalian. Tidak apa jika kau tidak menjawabnya."
"Kami baik-baik saja, Matsumoto-sensei." jawab Akari pelan, "Kami baik-baik saja." ulangnya dengan nada getir.
Akari hanya menatap kosong jalanan aspal yang ia lalui. Hari terakhirnya bertemu Ryosuke adalah saat laki-laki itu kembali ke rumahnya.
Ryosuke memandangi dua orang bersepeda yang lewat di depan kediamannya. Gadis itu ia mengenalnya. Akari-chan, seorang teman lama, begitu menurut gadis itu saat ia bertemu pertama kali di rumah sakit. Apakah benar ia hanya seorang teman lama? Ryosuke sesungguhnya merasakan kedekatan yang berbeda daripada seorang teman dengan Akari, tapi ia tidak bisa menemukan di bagian mana ingatan Akari berada.
Satu lagi, seorang laki-laki, Ryosuke tidak tahu siapa laki-laki yang berjalan bersama Akari itu. Mungkin hanya teman. Mata Ryosuke tak lepas hingga kedua orang itu menghilang dari pandangannya. Ada perasaan yang mengusik ketika melihat Akari bersama orang lain, perasaan terganggu, perasaan tidak suka menyelinap di hati Ryosuke.
"Ada apa, Yama-chan?" tanya Risa ketika mendapati tangan Ryosuke mengepal keras.
"Tidak ada." jawab Ryosuke tanpa menatap Risa.
Gadis itu mengikuti arah mata Ryosuke tertuju. Ia mengerti.
Satu lagi, seorang laki-laki, Ryosuke tidak tahu siapa laki-laki yang berjalan bersama Akari itu. Mungkin hanya teman. Mata Ryosuke tak lepas hingga kedua orang itu menghilang dari pandangannya. Ada perasaan yang mengusik ketika melihat Akari bersama orang lain, perasaan terganggu, perasaan tidak suka menyelinap di hati Ryosuke.
"Ada apa, Yama-chan?" tanya Risa ketika mendapati tangan Ryosuke mengepal keras.
"Tidak ada." jawab Ryosuke tanpa menatap Risa.
Gadis itu mengikuti arah mata Ryosuke tertuju. Ia mengerti.
"Arigatou, Matsumoto-sensei, padahal letak apartemenmu lebih dulu daripada apartemenku."
"Daijoubu, sampai bertemu besok di sekolah."
Akari mengangguk.
Matsumoto menaiki sepedanya dan mengayuh pelan kembali ke jalanan. Kembali ke apartemennya.
"Konnichiwa, Akari-chan." sapa seseorang dari tangga apartemen Akari.
"ehh? Misaki?"
Misaki terkekeh, "Apa aku mengagetkanmu?"
"Sedikit."
"Tadi itu siapa?"
Akari membuka knop pintu apartemennya.
"Tadi itu guru di tempatku mengajar, seorang teman juga. Ayo masuk!"
Misaki masuk ke dalam apartemen Akari dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"sudah makan siang?" tanya Akari
"belum."
"kita makan di luar saja yuk sekalian berbelanja ke swalayan, persediaan makananku habis."
"baiklah, Akari-chan yang traktir ya."
"ryoukai!"
"Daijoubu, sampai bertemu besok di sekolah."
Akari mengangguk.
Matsumoto menaiki sepedanya dan mengayuh pelan kembali ke jalanan. Kembali ke apartemennya.
"Konnichiwa, Akari-chan." sapa seseorang dari tangga apartemen Akari.
"ehh? Misaki?"
Misaki terkekeh, "Apa aku mengagetkanmu?"
"Sedikit."
"Tadi itu siapa?"
Akari membuka knop pintu apartemennya.
"Tadi itu guru di tempatku mengajar, seorang teman juga. Ayo masuk!"
Misaki masuk ke dalam apartemen Akari dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"sudah makan siang?" tanya Akari
"belum."
"kita makan di luar saja yuk sekalian berbelanja ke swalayan, persediaan makananku habis."
"baiklah, Akari-chan yang traktir ya."
"ryoukai!"
Mereka berdua sudah duduk di dalam sebuah kedai ramen yang tidak begitu ramai. Satu mangkuk ramen masing-masing sudah berada di atas meja mereka. Asap halusnya masih mengepul.
"itadakimasu.." seru mereka nyaris bersamaan.
"oishii~" seru Misaki lagi.
"Benar kan? Ramen disini paling enak."
"apa kau dan kakak sering makan disini?" tanya Misaki sambil menyeruput ramennya.
Akari tercenung sejenak.
"Kami sering menghabiskan waktu disini jika aku sedang tidak masak. Kami bicara banyak hal sambil menunggu ramennya datang dan lebih banyak hal lagi ketika perut kami sudah terisi penuh." Akari tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Ryosuke. Rasanya baru saja ia makan disini bersama Ryosuke dan keadaan sudah berubah begitu cepat.
"Akari-chan."
"hmm?"
"Kami menantikanmu di rumah."
Misaki menatap Akari.
Akari berhenti menyeruput ramennya.
"Kau masih diterima di rumah kami, jangan karena kakak lupa padamu kau juga ikut menghilang. Apa ini karena Risa?"
Akari diam.
"..."
"jika ini karena Risa,"
"Bukan, ini bukan karena Risa."
"Lalu?"
Akari meletakkan sumpitnya. Mendadak perutnya terasa penuh.
"Misaki, mungkin aku belum siap dengan keadaan seperti ini. Aku.. Aku hanya belum terbiasa dengan keadaan seperti ini."
Akari menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, berusaha menahan tangisnya yang lagi-lagi gagal.
"itadakimasu.." seru mereka nyaris bersamaan.
"oishii~" seru Misaki lagi.
"Benar kan? Ramen disini paling enak."
"apa kau dan kakak sering makan disini?" tanya Misaki sambil menyeruput ramennya.
Akari tercenung sejenak.
"Kami sering menghabiskan waktu disini jika aku sedang tidak masak. Kami bicara banyak hal sambil menunggu ramennya datang dan lebih banyak hal lagi ketika perut kami sudah terisi penuh." Akari tersenyum mengingat kebersamaannya dengan Ryosuke. Rasanya baru saja ia makan disini bersama Ryosuke dan keadaan sudah berubah begitu cepat.
"Akari-chan."
"hmm?"
"Kami menantikanmu di rumah."
Misaki menatap Akari.
Akari berhenti menyeruput ramennya.
"Kau masih diterima di rumah kami, jangan karena kakak lupa padamu kau juga ikut menghilang. Apa ini karena Risa?"
Akari diam.
"..."
"jika ini karena Risa,"
"Bukan, ini bukan karena Risa."
"Lalu?"
Akari meletakkan sumpitnya. Mendadak perutnya terasa penuh.
"Misaki, mungkin aku belum siap dengan keadaan seperti ini. Aku.. Aku hanya belum terbiasa dengan keadaan seperti ini."
Akari menangkupkan kedua tangannya di wajahnya, berusaha menahan tangisnya yang lagi-lagi gagal.
* * *
Misaki menarik tangan Akari masuk ke dalam rumahnya. Sepanjang perjalanan Akari sudah menolak ajakan Misaki tapi gadis itu memaksanya.
"Tadaima~" pekik Misaki sembari melepas sepatunya
"Misaki sudah kubilang jangan teriak, kyaaa~ Akari-chan!"
Chihiro sontak memeluk Akari.
"Cih! Padahal dia sendiri yang teriak-teriak." sungut Misaki seraya masuk ke dalam ruangan lain.
"Konbanwa, Chihiro, adikmu memaksaku kemari jadi ya.."
"daijoubu, kami malah senang kau mampir. Sudah lama sekali rasanya tidak melihatmu di rumah ini."
Akari hanya tersenyum. Ia melihat sepasang sepatu di rak sepatu dekat pintu masuk. Milik Risa?
"Kebetulan kami sedang makan malam, mau ikut?" tanya Chihiro
Akari menggeleng.
"Kami sudah makan ramen tadi, mungkin sisakan kami bagian penutupnya saja." goda Misaki, "ayo Akari kita ke kamarku saja."
"tapi Misaki ini sudah..."
"ah!" Misaki menarik lengan Akari masuk.
"konbanwa okaasan,otousan.." sapa Misaki pada kedua orangtuanya.
"Misaki.. Akari-chan, kenapa tidak pernah kemari?" tanya ibu Yamada
Akari hanya tersenyum. Terlalu sentimentil jika ia terangkan alasan mengapa ia jarang berkunjung, pikirnya.
"Kami ke kamar dulu, bu, kakak mana?" tanya Misaki
"Di kamarnya bersama Risa."
Hati Akari mencelos. Atmosfir mendadak berubah di ruangan itu.
"Kau menginap, Akari-chan?" tanya Chihiro cepat-cepat sebelum suasana semakin tak enak.
"sepertinya tidak..aku.."
"Akari-chaaaan!" pekik Misaki yang sudah lebih dulu tiba di kamarnya.
"aku rasa sebaiknya aku segera kesana, Chihiro."
"Tadaima~" pekik Misaki sembari melepas sepatunya
"Misaki sudah kubilang jangan teriak, kyaaa~ Akari-chan!"
Chihiro sontak memeluk Akari.
"Cih! Padahal dia sendiri yang teriak-teriak." sungut Misaki seraya masuk ke dalam ruangan lain.
"Konbanwa, Chihiro, adikmu memaksaku kemari jadi ya.."
"daijoubu, kami malah senang kau mampir. Sudah lama sekali rasanya tidak melihatmu di rumah ini."
Akari hanya tersenyum. Ia melihat sepasang sepatu di rak sepatu dekat pintu masuk. Milik Risa?
"Kebetulan kami sedang makan malam, mau ikut?" tanya Chihiro
Akari menggeleng.
"Kami sudah makan ramen tadi, mungkin sisakan kami bagian penutupnya saja." goda Misaki, "ayo Akari kita ke kamarku saja."
"tapi Misaki ini sudah..."
"ah!" Misaki menarik lengan Akari masuk.
"konbanwa okaasan,otousan.." sapa Misaki pada kedua orangtuanya.
"Misaki.. Akari-chan, kenapa tidak pernah kemari?" tanya ibu Yamada
Akari hanya tersenyum. Terlalu sentimentil jika ia terangkan alasan mengapa ia jarang berkunjung, pikirnya.
"Kami ke kamar dulu, bu, kakak mana?" tanya Misaki
"Di kamarnya bersama Risa."
Hati Akari mencelos. Atmosfir mendadak berubah di ruangan itu.
"Kau menginap, Akari-chan?" tanya Chihiro cepat-cepat sebelum suasana semakin tak enak.
"sepertinya tidak..aku.."
"Akari-chaaaan!" pekik Misaki yang sudah lebih dulu tiba di kamarnya.
"aku rasa sebaiknya aku segera kesana, Chihiro."
"Sepertinya ada tamu." ujar Risa
"Misaki memang selalu meributkan hal-hal yang tidak penting kan."
Ryosuke mengunyah makan malamnya.
"Tapi aku ingin lihat apa yang diributkan olehnya, bantu aku keluar, Risa."
gadis itu berdiri dan mendorong perlahan kursi roda Ryosuke keluar dari kamarnya dan di saat yang bersamaan mereka bertemu dengan Misaki dan Akari.
Mereka bersitatap tanpa sapa sedikit pun. Akari melihat tangan Ryosuke menggenggam tangan Risa. Hatinya seperti diiris pisau tajam ketika melihat itu tapi yang ia lakukan malah tersenyum pada mereka.
"Nii-chan, Risa-san, mau makan malam bersama yang lain?"
"Tidak, kami sudah makan di kamar." jawab Ryosuke tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari Akari.
"Misaki, ini..."
"Ah, kau belum mengenal Akari-chan ya? Baiklah, baiklah, Akari-chan ini Risa-san dan Risa-san ini Akari-chan."
Akari dan Risa saling berjabat tangan.
"dan kakak, perlukah aku mengenalkan Akari-chan sekali lagi padamu?" tanya Misaki. Sebenarnya ia hanya iseng tapi sepertinya Ryosuke menanggapinya serius. Laki-laki bermata cokelat tua itu mengulurkan tangannya.
"Yamada Ryosuke." ujarnya
Dengan kikuk Akari pun mengenalkan dirinya sekali lagi.
"Mizunashi Akari, senang berkenalan denganmu." Akari mengatakan itu didampingi senyuman.
Segalanya terasa seperti Ryosuke dan Akari tidak saling mengenal sebelumnya dan mereka harus memulai segala sesuatu dari awal. Lagi.
"Misaki memang selalu meributkan hal-hal yang tidak penting kan."
Ryosuke mengunyah makan malamnya.
"Tapi aku ingin lihat apa yang diributkan olehnya, bantu aku keluar, Risa."
gadis itu berdiri dan mendorong perlahan kursi roda Ryosuke keluar dari kamarnya dan di saat yang bersamaan mereka bertemu dengan Misaki dan Akari.
Mereka bersitatap tanpa sapa sedikit pun. Akari melihat tangan Ryosuke menggenggam tangan Risa. Hatinya seperti diiris pisau tajam ketika melihat itu tapi yang ia lakukan malah tersenyum pada mereka.
"Nii-chan, Risa-san, mau makan malam bersama yang lain?"
"Tidak, kami sudah makan di kamar." jawab Ryosuke tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari Akari.
"Misaki, ini..."
"Ah, kau belum mengenal Akari-chan ya? Baiklah, baiklah, Akari-chan ini Risa-san dan Risa-san ini Akari-chan."
Akari dan Risa saling berjabat tangan.
"dan kakak, perlukah aku mengenalkan Akari-chan sekali lagi padamu?" tanya Misaki. Sebenarnya ia hanya iseng tapi sepertinya Ryosuke menanggapinya serius. Laki-laki bermata cokelat tua itu mengulurkan tangannya.
"Yamada Ryosuke." ujarnya
Dengan kikuk Akari pun mengenalkan dirinya sekali lagi.
"Mizunashi Akari, senang berkenalan denganmu." Akari mengatakan itu didampingi senyuman.
Segalanya terasa seperti Ryosuke dan Akari tidak saling mengenal sebelumnya dan mereka harus memulai segala sesuatu dari awal. Lagi.
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment