Love Reborn

Chapter 5 : Realize

"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu, Akari-chan? Bagaimana bisa kau begitu tenang mengatakan hal menyedihkan seperti itu dengan tatapan terluka?"
kalimat Misaki masih memenuhi pikiran Akari. Ia menghela nafas. Misaki nyatanya dapat membaca dengan baik ekspresi mata Akari. Anak itu benar. Ia mungkin bahagia tapi satu sisi ada yang terluka dari dalam dirinya. Ia menghela nafas lagi.
"Hey, hey, aku perhatikan kau dari tadi melamun saja? Ada apa Akari-sensei?" tanya Jun sambil duduk di sebelah Akari. Mereka mengamati anak-anak yang sedang bermain di playground.
"Tidak ada." Akari tersenyum lemah
"Kau yakin?" tanya Jun lagi
"Apa ekspresi ku begitu mudah dibaca?" Akari tertawa kecil
"Tidak juga, tapi kadang aku melihatmu sedang menatap kosong, menghela nafas berkali-kali, ada apa? jika mau cerita,aku siap mendengarkan." tawar Jun
Akari diam.
"Apa aku salah, Matsumoto-sensei, memilih untuk tidak bertindak apapun agar Ryosuke mengingat siapa aku?" ada nada getir disana, "Aku hanya ingin Ryosuke mengingatku pelan-pelan, aku tidak mau memaksanya. Chihiro bilang setiap Ryosuke mencoba untuk mengingat sesuatu, kepalanya akan sakit luar biasa, aku tidak mau menimbulkan kesakitan seperti itu."
"Kau tidak salah, hanya keliru."
Akari menoleh pada Jun. Laki-laki bermata cokelat muda itu tersenyum.
"Membiarkan Yamada-kun perlahan mengingatmu bukan hal yang salah, tapi apa kau yakin kau bahagia dengan cara seperti itu?" Jun diam beberapa saat.
"Kau orang yang sangat baik, Akari-chan." pertama kalinya Jun menyebut nama Akari dengan embel-embel seperti itu di lingkungan sekolah.
"Kau terlihat tegar di luar tapi apakah kau tahu kau sangat rapuh? Jangan abaikan perasaanmu sendiri, bukan hal egois untuk memperjuangkan kebahagiaanmu juga, setiap orang berhak bahagia kan?"
Tanpa sadar Akari menyandarkan kepalanya di bahu Jun. Laki-laki itu menepuk pelan kepala Akari.
"Kau harus pikirkan orang-orang di sekitarmu juga, apa mereka bahagia melihatmu dalam keadaan seperti ini?"
Akari tiba-tiba teringat Misaki. Gadis itu mau berbuat apa saja agar dirinya dan Ryosuke bersatu kembali.
"Pilihannya hanya ada dua, Akari-chan."
Akari menegakkan kepalanya dan menatap Jun.
"Pilihan?"
"Berusaha agar Yamada-kun mengingatmu lagi atau..." kalimat Jun terhenti
"atau?"
"atau melupakan Yamada-kun selamanya dan mencari kebahagiaanmu di tempat lain."
Akari tercenung. Bukan pilihan yang mudah tapi pilihan yang kedua jelas sesuatu yang rasanya mustahil Akari lakukan.
"Pikirkan baik-baik, jangan sampai waktumu habis untuk kebahagiaan orang lain sementara kebahagiaanmu sendiri terkikis dengan luka yang makin dalam." Jun menepuk pelan bahu Akari dan berdiri sambil berseru menyuruh anak didiknya kembali ke kelas.
"Arigatou atas nasehatmu, Matsumoto-sensei, tapi sepertinya melupakan Ryosuke bukan pilihanku." Gadis itu membungkuk sejenak sebagai rasa hormat kemudian berbalik ke kelasnya.
Jun menatap nanar pada Akari kemudian tersenyum. Memang sudah dari awal ia kalah dari Ryosuke.
Semoga berhasil, Akari-chan.

* * *

"Risaaa.." seru Ryosuke ketika ia menangkap keberadaan Risa dan Akari tengah berada di taman rumahnya. Mereka nampaknya sedang terlibat pembicaraan serius.
Gadis yang dipanggilnya melambai padanya sementara Akari, gadis itu hanya tersenyum sekilas pada Ryosuke dan sesaat kemudian berbalik.
Ryosuke merasa sedikit kecewa dengan respon Akari yang hanya seperti itu. Diam-diam ia mengharapkan lebih.
Ryosuke sudah sering mencoba mengingat Akari tapi yang didapatnya hanya potongan-potongan kecil. Beberapa kilas ingatan pernah muncul atau perasaan yang tiba-tiba. Seperti saat minum teh bersama Risa kemarin, ia merasa sering melakukan hal itu bersama orang lain dan yang ada di pikirannya saat itu adalah Akari. Ia juga harus menjemput seseorang di jam tertentu, setidaknya itu yang pernah dikatakan Chihiro saat mendapati dirinya sedang melihat terus menerus ke jam dinding dengan perasaan gelisah. Siapa yang harus ia jemput? Dimana? Ryosuke berusaha mengingat tapi kepalanya jadi sakit.

Akari melihat Ryosuke keluar dari rumahnya. Laki-laki itu terlihat buru-buru. Ada suatu hal yang sepertinya membuat Ryosuke gusar.
"Yama-chan," panggil Risa. Laki-laki itu berhenti sebentar.
"Mau kemana?" tanya Risa.
Mata Akari dan Ryosuke beradu namun sejurus kemudian Akari menundukkan pandangannya.
"Hanya jalan-jalan sebentar."
"Mau kutemani?"
"Tidak usah. Aku ingin pergi sendiri." jawab Ryosuke sambil berjalan kembali.
Akari menatap Ryosuke sampai laki-laki itu hilang dari pandangannya.
"Kau masih mencintainya kan, Akari?" ujar Risa kemudian
Akari hanya diam.
"Aku tahu karena terlihat jelas dari caramu menatapnya. Kau selalu menatapnya dengan tatapan hangat tapi terkadang menyiratkan kepahitan."
Lagi-lagi orang lain dapat menebak perasaan Akari dengan benar.
"Kenapa kau tidak mengingatkannya tentang siapa dirimu?" tanya Risa
"Aku tidak ingin Yama-chan merasa kesakitan."
Risa berdecak.
"Jika begitu serahkan Yama-chan padaku, lupakan dia. Dia tidak akan mengingatmu kembali, Akari, kau harus terima kenyataan itu." ujar Risa
Akari terhenyak dengan kalinat Risa.
"Mengapa kau bicara seperti itu, Risa-san?"
"Karena aku sangat mencintai Ryosuke, aku memang bersalah padanya di masa lalu tapi kesalahan itu tidak akan terulang lagi sekarang. Aku akan memperbaikinya dan aku akan semakin mudah jika kau memilih mundur. Bagaimana pun yang ada di ingatan Ryosuke hanya aku, dan bukan kau."
Hati Akari nyeri mendengar perkataan Risa. Bagaimana kata-kata menyakitkan seperti itu bisa meluncur dari mulut gadis yang selama ini ia percaya bisa membahagiakan Ryosuke.
"Aku rasa cukup, Risa-san, mungkin saat ini Ryosuke lupa padaku,tapi kau tidak berhak mengatakan hal seperti itu."
"Kenapa tidak berhak? Bagaimana bisa kau memperjuangkan kebahagiaan Ryosuke jika kau sendiri tidak bisa memperjuangkan kebahagiaanmu?!" Nada Risa meninggi.
"Lupakan saja semua hal tentang Yama-chan, itu saranku." setelah mengatakan itu Risa kembali ke rumah. Memeluk Ryosuke yang baru pulang. Akari menatap getir mereka berdua.
Apa pilihannya adalah harus melupakan Ryosuke? Akari menghela nafas, ia menghapus airmatanya. Kalimat-kalimat Risa adalah hal menyakitkan yang pernah ia dengar selama hidupnya, tapi Akari merasa itu juga sebuah tamparan untuknya. Dan ia telah mengambil keputusan yang sangat sulit. Akari menyadari jika cepat atau lambat semuanya akan berakhir dengan cara seperti ini.
Matsumoto-sensei, kau benar.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular Posts