Love Reborn
Chapter 1 : Lost
Published with Blogger-droid v2.0.10
Akari merindukan matanya yang berwarna cokelat tua itu. Mata yang selalu menatapnya dengan hangat didampingi senyuman manis yang membuat hati Akari selalu merasa tenang. Pemilik mata itu masih terbaring koma di ruang 309, tempatnya dirawat setelah kecelakaan yang nyaris saja merenggut nyawanya. Akari benar-benar akan sangat kehilangan jika seandainya itu benar-benar terjadi. Sebuah janji belum mereka laksanakan.
Akari perlahan membuka matanya setelah mendengar suara sepatu yang melangkah terburu-buru memasuki ruangan itu. Ia jatuh tertidur di sofa. Satu orang dokter dan dua orang suster mendekati ranjang pemilik mata cokelat tua itu. Akari masih belum mengerti apa yang terjadi, ia hanya mendengar suara mesin pendeteksi denyut jantung itu berbunyi semakin cepat. Apa yang terjadi? Jangan! Semoga bukan yang selama ini ditakutkan, Akari belum siap jika harus dipisahkan dengan cara seperti ini. Bulir airmata jatuh dari matanya.
Tak lama salah satu suster keluar dari ruangan itu dan mengatakan bahwa keadaan laki-laki itu sudah membaik. Akari menangis haru. Kedua saudarinya saling berpelukan, wajah mereka setidaknya menyiratkan kelegaan.
"Apakah kakak sudah sadar sepenuhnya, suster?" tanya sang adik.
Akari menaruh harapan pada jawaban yang akan didengarnya.
Suster itu menggeleng.
"Masih koma, tapi sudah menunjukkan kondisi yang membaik. Tanda-tanda vitalnya sudah mulai berfungsi."
Setidaknya jawaban itu masih lebih baik daripada tidak ada kemajuan sama sekali.
Tak lama salah satu suster keluar dari ruangan itu dan mengatakan bahwa keadaan laki-laki itu sudah membaik. Akari menangis haru. Kedua saudarinya saling berpelukan, wajah mereka setidaknya menyiratkan kelegaan.
"Apakah kakak sudah sadar sepenuhnya, suster?" tanya sang adik.
Akari menaruh harapan pada jawaban yang akan didengarnya.
Suster itu menggeleng.
"Masih koma, tapi sudah menunjukkan kondisi yang membaik. Tanda-tanda vitalnya sudah mulai berfungsi."
Setidaknya jawaban itu masih lebih baik daripada tidak ada kemajuan sama sekali.
Hari ke 46, Akari kembali mengunjungi ruang 309 itu. Tidak ada siapapun di dalam ruangan. Mungkin anggota keluarga yang menjaganya sedang makan siang di kantin rumah sakit.
Akari membuka tirai jendela yang berada tepat di samping ranjang laki-laki pemilik mata berwarna cokelat tua itu.
"apa kabarmu hari ini? Hari ini aku sibuk mengajarkan anak-anak membuat origami. menyenangkan sekali menghabiskan waktu bersama anak-anak yang menggemaskan itu."
Akari tahu bahwa ia tidak akan mendapat respon apapun, tapi ia yakin kalau laki-laki itu mendengarnya.
"Haru-chan membuatkanmu ini," Akari menaruh origami bangau yang tidak terlalu rapi disamping tangan laki-laki itu.
"gadis kecil itu mendoakan agar kau cepat sembuh, dia rindu padamu. dia rindu bermain ayunan di taman sekolah bersamamu."
kerongkongan Akari tercekat. Ia menangis lagi.
Akari membuka tirai jendela yang berada tepat di samping ranjang laki-laki pemilik mata berwarna cokelat tua itu.
"apa kabarmu hari ini? Hari ini aku sibuk mengajarkan anak-anak membuat origami. menyenangkan sekali menghabiskan waktu bersama anak-anak yang menggemaskan itu."
Akari tahu bahwa ia tidak akan mendapat respon apapun, tapi ia yakin kalau laki-laki itu mendengarnya.
"Haru-chan membuatkanmu ini," Akari menaruh origami bangau yang tidak terlalu rapi disamping tangan laki-laki itu.
"gadis kecil itu mendoakan agar kau cepat sembuh, dia rindu padamu. dia rindu bermain ayunan di taman sekolah bersamamu."
kerongkongan Akari tercekat. Ia menangis lagi.
Aku juga merindukanmu.
* * *
Jika pun aku terlahir kembali dengan ingatan yang baru, jangan pernah berubah. tetaplah simpan hatimu untukku.
Bunyi ponsel membangunkan Akari. Telfon dari nomor yang tak dikenal. Akari melirik jam di tangannya, pukul dua pagi. Siapa yang menelfon di jam seperti ini.
"Moshi-moshi," sapa Akari
"Akari-chan, kakak, kakak.." suara di seberang telfon itu penuh kepanikan.
"Kakak?"
Akari baru tersadar. Laki-laki itu...
"Tunggu aku, sebentar lagi aku kesana. Tunggu aku."
Akari bergegas keluar dari apartemennya menuju rumah sakit. Sesuatu telah terjadi pada laki-laki itu.
"Moshi-moshi," sapa Akari
"Akari-chan, kakak, kakak.." suara di seberang telfon itu penuh kepanikan.
"Kakak?"
Akari baru tersadar. Laki-laki itu...
"Tunggu aku, sebentar lagi aku kesana. Tunggu aku."
Akari bergegas keluar dari apartemennya menuju rumah sakit. Sesuatu telah terjadi pada laki-laki itu.
"Akari-chan!" sambut Misaki, saudari yang terkecil. Tidak ada nada panik, tidak ada wajah sedih. Akari mulai menebak-nebak.
"Ada apa menelfonku? Apa sesuatu terjadi padanya?" Akari melongok ke dalam ruangan.
Misaki menggeleng. Gadis itu menarik tangan Akari memasuki ruangan, mendekat ke ranjang yang masih tertutup tirai penghalang yang cukup tebal. Akari melihat ada beberapa pasang kaki di balik tirai itu.
Jantung Akari berdebar. Entah mengapa waktu seolah bergerak perlahan ketika ia mendekati ranjang itu.
"Akari-chan, kakak," Misaki tersenyum.
Tirai itu tersibak. Laki-laki bermata cokelat tua yang ia tunggu selama ini tengah duduk bersandar di ranjang dengan mata terbuka dan kesadaran penuh. Setelah 46 hari menunggu akhirnya keajaiban itu datang. Akari bisa merasakan lagi kehangatan dari mata cokelat tua itu.
"Ada apa menelfonku? Apa sesuatu terjadi padanya?" Akari melongok ke dalam ruangan.
Misaki menggeleng. Gadis itu menarik tangan Akari memasuki ruangan, mendekat ke ranjang yang masih tertutup tirai penghalang yang cukup tebal. Akari melihat ada beberapa pasang kaki di balik tirai itu.
Jantung Akari berdebar. Entah mengapa waktu seolah bergerak perlahan ketika ia mendekati ranjang itu.
"Akari-chan, kakak," Misaki tersenyum.
Tirai itu tersibak. Laki-laki bermata cokelat tua yang ia tunggu selama ini tengah duduk bersandar di ranjang dengan mata terbuka dan kesadaran penuh. Setelah 46 hari menunggu akhirnya keajaiban itu datang. Akari bisa merasakan lagi kehangatan dari mata cokelat tua itu.
"Misaki, dia siapa?" tanya laki-laki itu. Mata Akari melebar.
"Aku tidak ingat siapa dia." ujarnya lagi. Misaki menatap kakaknya tak percaya, begitu juga keluarga yang lain.
Terlebih lagi Akari. Tubuhnya lemas seketika setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut laki-laki yang memiliki hatinya itu.
"eh? masa' kakak lupa. ini Akari-chan, kak." Misaki berusaha mengingatkan
"Akari-chan?" gumamnya, "aku tidak ingat."
Akari mematung. Ia tidak tahu harus bagaimana, perasaannya campur aduk. Airmata mengalir perlahan dari matanya.
Laki-laki itu terkejut melihat Akari menangis.
"Misaki, mengapa ia menangis? Apa aku salah bicara?" tanyanya lagi
"Kakak, Akari-chan itu..."
Akari menahan lengan Misaki. Memberinya kode untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Misaki memandang Akari.
"tapi Akari-chan,"
Akari tersenyum pada Misaki, "Daijoubu,"
Gadis itu menghapus airmatanya.
"Aku hanya seorang teman lama, Misaki memberitahukan bahwa kau sadar sesaat yang lalu." ujar Akari getir. Dadanya benar-benar sakit sekarang.
"Aku senang kau sudah kembali, Ryo, ah maksudku Yama-chan." Akari tersenyum. Laki-laki bermata cokelat tua itu menatapnya. Mungkin masih mencerna perkataan Akari atau mencoba mengingat dimana memori tentang Akari diletakkannya.
"Semoga cepat sembuh dan kembali menghabiskan waktu bersama keluargamu. Aku rasa aku harus pulang, kau juga harus istirahat kan, Yama-chan."
Yamada hanya mengangguk. Ada sesuatu pada gadis itu tapi ia tidak bisa menemukan letak memorinya tentang gadis ini. Mungkin belum sekarang, mungkin nanti.
Akari pamit pada ayah dan ibu Yamada. Kedua orang yang sudah dianggapnya seperti orangtua sendiri itu mencoba menenangkan hati Akari bahwa Yamada masih perlu proses. Akari sangat mengerti itu. Menunggu sedikit lagi tidak akan membuatnya kehilangan harapan. Misaki memeluk Akari, berkata jika ia akan membantu memulihkan ingatan kakaknya tentang dirinya.
"Jangan dipaksakan, Misaki. Aku tidak apa-apa, pastikan saja Ryosuke dalam kondisi baik itu sudah cukup."
Misaki mengangguk.
"Aku pulang ya, sampaikan salamku pada Chihiro."
"Ya."
Akari berjalan meninggalkan ruang 309. Ia menghapus airmatanya yang terus mengalir. Kenyataan bahwa Ryosuke 'melupakannya' memang menyedihkan, tapi setidaknya Akari dapat melihat mata cokelat tua itu lagi.
"Aku tidak ingat siapa dia." ujarnya lagi. Misaki menatap kakaknya tak percaya, begitu juga keluarga yang lain.
Terlebih lagi Akari. Tubuhnya lemas seketika setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut laki-laki yang memiliki hatinya itu.
"eh? masa' kakak lupa. ini Akari-chan, kak." Misaki berusaha mengingatkan
"Akari-chan?" gumamnya, "aku tidak ingat."
Akari mematung. Ia tidak tahu harus bagaimana, perasaannya campur aduk. Airmata mengalir perlahan dari matanya.
Laki-laki itu terkejut melihat Akari menangis.
"Misaki, mengapa ia menangis? Apa aku salah bicara?" tanyanya lagi
"Kakak, Akari-chan itu..."
Akari menahan lengan Misaki. Memberinya kode untuk tidak melanjutkan kalimatnya. Misaki memandang Akari.
"tapi Akari-chan,"
Akari tersenyum pada Misaki, "Daijoubu,"
Gadis itu menghapus airmatanya.
"Aku hanya seorang teman lama, Misaki memberitahukan bahwa kau sadar sesaat yang lalu." ujar Akari getir. Dadanya benar-benar sakit sekarang.
"Aku senang kau sudah kembali, Ryo, ah maksudku Yama-chan." Akari tersenyum. Laki-laki bermata cokelat tua itu menatapnya. Mungkin masih mencerna perkataan Akari atau mencoba mengingat dimana memori tentang Akari diletakkannya.
"Semoga cepat sembuh dan kembali menghabiskan waktu bersama keluargamu. Aku rasa aku harus pulang, kau juga harus istirahat kan, Yama-chan."
Yamada hanya mengangguk. Ada sesuatu pada gadis itu tapi ia tidak bisa menemukan letak memorinya tentang gadis ini. Mungkin belum sekarang, mungkin nanti.
Akari pamit pada ayah dan ibu Yamada. Kedua orang yang sudah dianggapnya seperti orangtua sendiri itu mencoba menenangkan hati Akari bahwa Yamada masih perlu proses. Akari sangat mengerti itu. Menunggu sedikit lagi tidak akan membuatnya kehilangan harapan. Misaki memeluk Akari, berkata jika ia akan membantu memulihkan ingatan kakaknya tentang dirinya.
"Jangan dipaksakan, Misaki. Aku tidak apa-apa, pastikan saja Ryosuke dalam kondisi baik itu sudah cukup."
Misaki mengangguk.
"Aku pulang ya, sampaikan salamku pada Chihiro."
"Ya."
Akari berjalan meninggalkan ruang 309. Ia menghapus airmatanya yang terus mengalir. Kenyataan bahwa Ryosuke 'melupakannya' memang menyedihkan, tapi setidaknya Akari dapat melihat mata cokelat tua itu lagi.
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment