Perfect Love

Chapter 5
Akari berjalan di belakang yamada dan miyuki menuju rumah penginapan. Mereka melewati portal depan yang kini terang benderang. Miyuki berlarian ke portal itu.
"jadi disini tempatmu menemukan sinyal ponsel?" tanya miyuki. Yamada mengangguk.
"tidak gelap sama sekali." timpal miyuki
"itu karena akari telah mengganti lampunya beberapa minggu yang lalu."
"hmm.. Terima kasih, akari."
"sama-sama, miyuki." balas akari sambil tersenyum pada miyuki, "tapi sayang yamada tidak kesini lagi setelah kuganti lampunya." ujar akari sambil lalu mendahului mereka.
Yamada mengangkat alisnya ketika mendengar akari. Jelas-jelas akari tidak mungkin mengatakan kalimat seperti itu. Yamada menyadari sesuatu. Ia tersenyum.
Mereka sampai di rumah. Akari langsung ke dapur, menyiapkan dua cangkir teh hangat. Mungkin mereka mau menghabiskan waktu semalam suntuk untuk melepas rindu. Dan entah kenapa akari sebal sendiri.
"wah! Terima kasih untuk tehnya, akari." seru miyuki.
Gadis ini memang baik, sepertinya.
Akari mengangguk kemudian ia keluar rumah.
"mau kemana?" tanya yamada
"aku.." akari tak tahu harus menjawab apa. "mau beli lotion anti nyamuk, ya lotion." jawab akari asal. Apa saja asal ia tidak berada disini melihat yamada berdua saja dengan miyuki.
"bukankah kamu baru beli lotion..
"oh itu bau lavender, aku mau beli yang bau jeruk, ya bau jeruk." akari memotong kalimat yamada kemudian keluar dari rumah.
Padahal akari sama sekali tidak suka lotion anti nyamuk berbau jeruk.
Akari berjalan menuju penginapan nakayama. Laki-laki itu tengah bersantai di teras rumahnya sambil memetik gitar.
"akari-chan?"
"nakayama-san, konbanwa!"
"um, tidak biasanya kamu kemari. Ada apa?"
"tidak apa, yamada sedang ada tamu, tidak enak mengganggu mereka."
"hmm.. Tadi memang ada seorang gadis menanyakannya, jadi kalian sudah bertemu? Syukurlah."
Nakayama memetik gitarnya lagi dan mulai bersenandung.
"pacarnya yamada?" tanya nakayama kemudian
"dulu, tidak tahu sekarang." jawab akari singkat
"ketus sekali, cemburu?" ledek nakayama
"eh? Tidak."
"benarkah?"
Akari menganggukkan kepalanya berkali-kali.
Nakayama tertawa.
"yamada-san itu orang yang baik dan punya karisma. Apa kamu tidak menyukai dia?" tanya nakayama sambil terus menyelaraskan nada di gitarnya.
"aku tidak berharap apapun." jawab akari diselingi helaan nafas, "tapi aku senang berada di dekatnya, senang melakukan banyak hal dengannya. Aku hanya ingin dia bahagia." lanjut akari sambil tersenyum.
"tapi sepertinya yamada masih mencintai miyuki." akari tertunduk lesu.
"ketika kita jatuh cinta pada seseorang yang sudah dimiliki orang lain dan ketika mengetahui kebenaran itu sangatlah menyakitkan."
Akari mendengarkan nakayama dengan seksama.
"semakin kamu tahu seberapa besar mereka saling mencintai maka semakin sakit pula yang akan kamu rasakan dan akan sangat sakit jika kamu memilih untuk berada di tengah-tengah mereka."
Perkataan nakayama benar. Sekarang saja hati akari sakit seperti ditusuk sebilah pedang.
"kamu harus menyimpan perasaanmu rapat-rapat dan terus menunggu untuk terlihat oleh orang yang kamu cintai."
Nakayama mengakhiri penjelasannya. Akari menghela nafas.
"apakah aku salah?" ucap akari
"mungkin kamu berada di waktu yang salah,akari-chan. Tidak salah menyukai seseorang. Hanya saja waktu berjalan lambat untuk mempertemukanmu dengan yamada. Kalian bertemu di waktu yang salah dan kamu yang terluka."
"da yo ne.." akari tertawa miris
Benarkah keadaannya sesedih itu?
"sudahlah, jangan bersedih! Kesempatan selalu ada untuk orang yang berusaha tapi ingat, jangan menghalalkan segala cara!" pesan nakayama
"bahkan cara yang halal pun tak terpikirkan olehku, nakayama-san." akari tergelak
"hmm.. Itu terserah padamu. Hidup ini pilihan dan setiap pilihan punya resiko masing-masing."
Akari mengangguk setuju.
"akari!" seseorang memanggilnya
"yamada?"
"disini kamu rupanya. Apa yang sedang kamu lakukan? Aku kira kamu mau beli lotion bau jeruk."
Nakayama menyipitkan matanya pada akari. Gadis itu cengengesan.
"aku kehabisan, kebetulan nakayama-san sedang santai jadi kami mengobrol saja."
"hmm.. Mau pulang?"
"ya,aku baru saja mau pulang."
"ayo!"
"aku pulang dulu, nakayama-san. Terima kasih."
Akari menyusul yamada. Kenapa laki-laki ini malah menjemputnya dan membiarkan miyuki menunggu di rumah?
Tengah malam akari terbangun. Sebenarnya ia tidak tidur, tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Ia gelisah memikirkan banyak hal terlebih lagi tentang yamada. Tiba-tiba ia teringat perkataan nakayama tentang mencintai seseorang, tentang rasa sakit, tentang aaaakh! Membuatnya frustasi.
Akari memutuskan untuk keluar kamar. Segelas coklat hangat mungkin akan berefek baik untuknya.
"tidak bisa tidur?" suara seseorang mengagetkannya
"miyuki?"
"hai.. Cokelat hangat?"
"un, aku tidak bisa tidur."
"hmm.."
Akari bergegas mengaduk cokelat hangatnya, bermaksud kembali ke kamar.
"tunggu, akari, ada yang mau aku tanyakan." ujar miyuki
"hmm? Bagaimana jika besok?"
"tidak, kita harus bicara denganmu sekarang. Tentang yamada, tentang aku dan juga kamu."
"aku?"
"ya."
Miyuki berjalan menuju beranda samping rumah. Ia duduk di sofa yang ada disana. Akari pun ikut duduk. Ia belum tahu akan kemana perbincangan mereka malam ini.
"apa kamu menyukai yamada?" tanya miyuki. Langsung ke pointnya.
Akari terdiam.
"mungkin ryosuke sudah menceritakan pertengkaran kami waktu itu padamu."
Akari tidak menanggapi.
"aku memang cemburu padamu,akari. Aku cemburu melihat yamada begitu bahagia ketika membicarakan dirimu."
Akari terperanjat. Yamada terlihat bahagia ketika membicarakan tentangnya? Apa itu benar?
"saat itu aku hanya emosi, aku tidak sengaja mengatakan kalinat putus itu, aku mencintainya, masih mencintainya."
Akari sedikit iba pada miyuki. Bagaimanapun ia tidak pernah bermaksud merebut yamada darinya.
Isakan kecil terdengar dari miyuki. Akari tahu jika gadis ini memang sangat mencintai yamada.
"aku minta padamu, akari. Tolong, jika kamu memang menyukai yamada, aku minta kamu mundur."
Akari tidak menyangka kalimat seperti itu akan keluar dari mulut miyuki.
"kamu tahu kan jika ryosuke masih mencintaiku?"
Tahu. Sangat tahu, batin akari.
"aku tidak tahu, miyuki." akari menyesap cokelat hangatnya, "aku tidak tahu apakah aku bisa memenuhi permintaanmu, aku tidak tahu."
Akari menyesap lagi cokelat hangatnya dan menaruh cangkir itu di meja di depan sofa mereka.
"sebaiknya kamu istirahat, miyuki, selamat malam." pamit akari sambil berlalu masuk ke kembali meninggalkan miyuki.
Miyuki menghapus airmatanya. Ia bertekad untuk tidak membuat akari menyukai yamada lagi. Sedikit pun.
Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular Posts