Perfect Love
Chapter 4
Akari kembali dengan secangkir coklat hangat yang dia buat untuk yamada. Laki-laki itu pernah mengatakan padanya jika ia sedang dalam perasaan yang tidak baik secangkir coklat hangat dapat membuatnya kembali tenang.
"ini," akari menyodorkan cangkir itu pada yamada, "siapa tahu bisa meredakan perasaanmu yang sedang galau."
Yamada tertawa.
"terima kasih." ujarnya sambil menyesap coklat hangat itu.
"mungkin aku tidak akan kembali ke portal itu lagi untuk menelpon, akari."
Yamada menatap ke dalam cangkirnya.
"eh? Kenapa? Padahal kan sudah ku ganti lampu-lampunya agar tidak gelap lagi."
Yamada tersenyum, "terima kasih tapi aku dan miyuki sudah tidak bersama lagi."
"hmm?"
Akari mengerutkan dahinya. Sudah tidak bersama lagi maksudnya putus?
"kami bertengkar semalam dan miyuki mengatakan kalimat itu."
Ada terselip senang di antara rasa sedih yang dirasakan akari ketika melihat raut lesu di wajah yamada. Sedih karena orang yang disukainya bersedih, senang karena setidaknya ia punya sedikit kesempatan sekarang.
"miyuki itu..orang yang seperti apa?" tanya akari
"kenapa?"
"tidak, aku hanya ingin tahu saja karena selama ini aku hanya tahu miyuki dari telponmu saja."
"miyuki, dia gadis yang manis. Kami berkenalan di sekolah setahun yang lalu tapi jurusan kami berbeda."
Akari mendengarkan yamada dengan seksama.
"miyuki itu periang, banyak orang yang dekat dengannya, kami berdua dulunya sering bertengkar." yamada menerawang sambil tersenyum. Ia teringat ketika pertemuannya pertama kali dengan miyuki, pertengkaran kecil mereka.
"miyuki itu tsundere, meski terlihat tidak peduli di luar tapi dalam hatinya ia juga ikut memikirkan."
"hmm.." akari tersenyum, "terus?"
"miyuki sedikit pemarah. Ia tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik tapi akan segera baik lagi jika dibuatkan kue cokelat. Aku sering membuatkannya kue cokelat jika ia sedang marah seharian."
Akari mengamati raut wajah yamada. Masih ada cinta yang tersimpan untuk miyuki disana. Seketika akari lemas. Dan ia tahu cinta itu tidak akan pernah dimilikinya meskipun ia punya kesempatan.
"tapi kecemburuannya semalam memang keterlaluan, dia juga melupakan ulangtahunku."
Akari mendelik.
Yamada tersenyum pahit.
"aku rasa memang sulit mempertahankan hubungan kami, sifat miyuki yang cepat naik darah membuat hubungan ini tegang."
Akari menepuk pelan bahu yamada.
"terima kasih."
"sama-sama."
Kemudian mereka diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"apa alasan miyuki cemburu?" tanya akari lagi
"kamu."
"heee?" akari terperanjat, "aku?"
"sebenarnya itu berlebihan, miyuki memang seperti itu, dia tidak begitu suka aku dekat dengan perempuan lain apalagi jika ia belum mengenalnya."
Akari masih tidak percaya ia penyebab pertengkaran yamada dan miyuki. Tapi sepertinya tidak ada alasan untuk cemburu padanya.
"padahal aku sudah jelaskan bahwa kamu hanya temanku."
Hati akari mencelos mendengar kata teman dari mulut yamada.
"teman?" gumam akari
"un, kita teman kan?"
Akari tersenyum. Teman ya?
"haa~ terima kasih sudah mau mendengarkanku,akari. Terima kasih untuk cokelat hangatnya juga."
Akari mengangguk.
Tidak apa hanya teman asal bisa melihat senyum yamada.
Mereka sudah kembali ke rutinitas biasa dengan tanaman, dengan jurnal-jurnal penelitian dan sebagainya. Sejak putus dengan miyuki, yamada fokus dengan magangnya. Namun walau begitu akari sering mendapati yamada tengah melamun menatapi ponselnya. Beberapa kali juga miyuki menelpon yamada tapi laki-laki itu tidak mengangkatnya.
"waaa~ capek!" seru akari sambil meregangkan otot-ototnya.
Mereka berdua sedang berada di sebuah padang rumput. Menikmati angin sore yang bertiup juga matahari yang akan tenggelam.
"aku tidur sebentar ya, nanti bangunkan aku jika kamu sudah mulai bosan menungguiku tidur." yamada tergelak.
"uun, aku akan menunggu sampai kamu terbangun."
Yamada memejamkan matanya. Suasana sore itu membuatnya sangat mengantuk.
Akari masih sibuk dengan mengisi jurnal penelitiannya sementara yamada masih tidur. Dipandangi wajah laki-laki itu. Akari memberanikan diri untuk menyentuh pipi yamada. Perasaannya sudah terlampau kuat untuk dibendung dan ia sudah tidak sanggup.
Tiba-tiba ponsel yamada berbunyi. Dari miyuki. Sejenak akari ragu untuk mengangkatnya.
"halo.."
Suara miyuki.
"halo.." jawab akari
Ada jeda sejenak disana, mungkin miyuki heran mengapa bukan yamada yang mengangkat.
"apa yamada ada?" sambungnya
"ada tapi dia sedang tidur." akari menoleh pada yamada yang masih tertidur nyenyak.
"oh..kamu akari?" tanya miyuki
"un, aku akari."
Kemudian diam lagi.
"kalau begitu sampaikan saja pada yamada jika aku menelponnya."
"ya.."
"terima kasih."
Telpon itu diputus.
Akari menghela nafas. Suara miyuki memang menyenangkan, mungkin karena itu juga yamada jatuh cinta padanya. Akari menggigit bibirnya sendiri, ada rasa nyeri di dadanya.
Yamada mulai terbangun.
"kenapa tidak membangunkanku, akari?" tanyanya sambil mengucek matanya.
"tidurmu nyenyak sekali, aku jadi tidak tega."
"hmm.."
"ayo pulang, sudah mau malam. Kamu takut gelapa kan?" ledek akari.
Yamada tertawa.
"bisa saja.." tanpa sadar yamada mengacak poni akari. Membuat gadis itu bersemu.
"yamada~ poniku jadi rusak!" ujar akari cepat-cepat sebelum yamada menyadari semu merah dipipinya.
"ayo~" yamada mengulurkan tangannya pada akari. Gadis itu tercenung memperhatikan uluran tangan yamada.
"hey! kenapa melamun? Ayo!" suara yamada membuatnya tersadar.
Akari tersenyum. "un."
Gadis itu menyambut tangan yamada. Ia menggenggam tangan yamada. Ia merangkul lengan yamada. Yamada membiarkan akari melakukan itu. Jujur saja ia merasa nyaman berada di sisi akari. Merasa hangat jika melihat tawa renyah akari.
"ryosuke!" seru seseorang di hadapan mereka.
Mereka terdiam dan sontak saling melepaskan rangkulan.
"miyuki.." ucap yamada hampir tak terdengar.
Akari menatap gadis manis berambut sebahu yang berdiri tak jauh di depan mereka. Gadis itu tersenyum padanya.
"hisashiburi, ryo-chan.. Salam kenal, akari."
Comments
Post a Comment