Perfect Love
Chapter 3
Pagi ini sebelum berangkat ke kota Miyuki, yamada mendapat sedikit kejutan di atas meja makan. Sebuah cupcake kecil dengan tulisan happy birthday di atasnya. Dari akari.
Yamada berniat mengucapkan terima kasih tapi akari sudah pergi pagi-pagi sekali. Mungkin gadis itu masih sedikit marah padanya.
Yamada mengambil pena dan menulis sesuatu di secarik kertas.
Terima kasih. Tulisnya disana.
Ia pun pergi meninggalkan rumah itu untuk sementara.
Yamada berniat mengucapkan terima kasih tapi akari sudah pergi pagi-pagi sekali. Mungkin gadis itu masih sedikit marah padanya.
Yamada mengambil pena dan menulis sesuatu di secarik kertas.
Terima kasih. Tulisnya disana.
Ia pun pergi meninggalkan rumah itu untuk sementara.
Yamada sampai tapi ia belum memberitahu miyuki bahwa ia datang sedikit lebih awal. Kejutan kecil untuk kekasihnya itu.
Ia melihat miyuki tengah asyik bermain air di dermaga. Kata miyuki dia juga free hari ini jadi bisa menemani yamada seharian.
Dengan mengendap yamada mendekati miyuki. Ia menutup kedua mata miyuki.
"eh? Siapa ini?" tanya miyuki sambil meraba tangan yamada
Laki-laki itu hanya diam sambil tersenyum-senyum.
"ryo-chan? Apa ini ryo-chan?" tanya miyuki sekali lagi
Yamada melepas tangannya.
"kejutan!" serunya
Miyuki langsung memeluk yamada. Ia rindu. Benar-benar rindu pada yamada.
"kenapa tidak beritahu jika sampai lebih awal, kan aku bisa menjemputmu."
"sedikit kejutan untuk miyuki." ujar yamada sambil menyentil hidung gadis itu.
Mereka berdua tertawa.
"mau kemana kita hari ini?" tanya miyuki
"hmm..terserah saja. Kan kamu yang lebih kenal tempat ini."
"kita ke pantai saja ya, biasanya setiap malam akan ada beberapa penduduk yang membuat api unggun. Bagaimana?"
Yamada berfikir sejenak, "baiklah."
Miyuki sumringah mendengar jawaban yamada.
"miyuki?"
"ya?"
"apa ada yang terlewat olehmu hari ini?" tanya yamada
"hm..Sepertinya tidak ada. Aku sudah izin pada kepala di perusahaan ikan ini, beberapa tugasku juga sudah selesai. Jadi sepertinya tidak ada yang terlewat."
Yamada mengangguk2kan kepalanya mendengar jawaban miyuki.
Mungkin dia menyimpan kejutan untukku di akhir hari, pikir yamada. Sejak datang miyuki tak sedikit pun membahas tentang ulangtahun yamada, dan ia belum mengucapkan apapun.
Ia melihat miyuki tengah asyik bermain air di dermaga. Kata miyuki dia juga free hari ini jadi bisa menemani yamada seharian.
Dengan mengendap yamada mendekati miyuki. Ia menutup kedua mata miyuki.
"eh? Siapa ini?" tanya miyuki sambil meraba tangan yamada
Laki-laki itu hanya diam sambil tersenyum-senyum.
"ryo-chan? Apa ini ryo-chan?" tanya miyuki sekali lagi
Yamada melepas tangannya.
"kejutan!" serunya
Miyuki langsung memeluk yamada. Ia rindu. Benar-benar rindu pada yamada.
"kenapa tidak beritahu jika sampai lebih awal, kan aku bisa menjemputmu."
"sedikit kejutan untuk miyuki." ujar yamada sambil menyentil hidung gadis itu.
Mereka berdua tertawa.
"mau kemana kita hari ini?" tanya miyuki
"hmm..terserah saja. Kan kamu yang lebih kenal tempat ini."
"kita ke pantai saja ya, biasanya setiap malam akan ada beberapa penduduk yang membuat api unggun. Bagaimana?"
Yamada berfikir sejenak, "baiklah."
Miyuki sumringah mendengar jawaban yamada.
"miyuki?"
"ya?"
"apa ada yang terlewat olehmu hari ini?" tanya yamada
"hm..Sepertinya tidak ada. Aku sudah izin pada kepala di perusahaan ikan ini, beberapa tugasku juga sudah selesai. Jadi sepertinya tidak ada yang terlewat."
Yamada mengangguk2kan kepalanya mendengar jawaban miyuki.
Mungkin dia menyimpan kejutan untukku di akhir hari, pikir yamada. Sejak datang miyuki tak sedikit pun membahas tentang ulangtahun yamada, dan ia belum mengucapkan apapun.
Api unggun, fairy-light menerangi salah satu sudut pantai malam itu. Yamada dan miyuki sedang duduk di sebuah pondokan yang tak.jauh darisana. Suara petikan ukulele dari salah satu penduduk mengiringi nyanyian mereka malam itu. Beberapa sedang membakar barbeque yang sudah disediakan. Seafood barbeque dan itu gratis.
"suasana disini menyenangkan." komentar yamada
"benarkah? Aku rasa memang begitu, coba kamu juga magang disini." miyuki bersandar di lengan yamada. Laki-laki itu mengusap kepalanya.
"sayangnya aku tidak melihat perkebunan disini." ia tergelak.
"bagaimana dengan tempatmu? Apa ada yang seperti ini?"
"disana lebih tenang. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah jika malam."
"kami?"
Miyuki mengerutkan dahinya.
"kami?"
Yamada mengangguk. Salah satu penduduk menyodorkan piring berisi seafood barbeque pada mereka.
"aku pernah cerita kan jika ada aku punya teman satu rumah. Namanya mizunashi-san, dia gadis yang baik dan lucu."
Miyuki mengerutkan dahinya sekali lagi. Ia bisa melihat jelas senyum yamada yang mengembang ketika menceritakan tentang gadis ini.
"semoga dia tidak marah lagi padaku."
"hmm? Kenapa?"
"aku membuatnya kesal kemarin. Setiap pukul delapan ketika aku menelponmu, ia selalu menemaniku. Di lingkungan rumah tidak mendapat sinyal, jadi aku harus ke portal depan untuk menelponmu." jelas yamada sambil tersenyum mengingat akari yang sering duduk bersandar di tiang ketika menungguinya menelpon.
Miyuki hanya diam. Dia tidak begitu tertarik dengan akari.
"mungkin kemarin aku terlalu lama menelpon dan dia sedikit kesal karena nyamuk. Aku menariknya terburu-buru jadi dia lupa membawa lotion anti nyamuk yang biasa ia bawa."
"dia mendengar semua pembicaraan kita?"
"sepertinya tidak."
"kamu sepertinya begitu khawatir jika akari marah. Dia bukan siapa-siapa jadi kamu tidak usah pedulikan apa dia marah atau tidak padamu." kata-kata dingin itu keluar dari mulut miyuki. Wajahnya mengeras.
"kenapa bilang begitu? Dia temanku, itu saja."
Yamada tahu kemana arah pembicaraan ini dari nada suara miyuki yang dingin itu. Gadis ini pencemburu berat.
"kamu sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, nanti dia punya perasaan padamu."
Yamada terkejut mendengar kalimat miyuki.
"kenapa bisa berfikiran begitu? Aku hanya menganggapnya teman."
"kamu iya tapi dia? Dia belum tentu berfikiran sama denganmu."
Yamada menatap miyuki dengan terkejut. Gadis ini mulai lagi, moodnya begitu cepat berubah menjadi sangat buruk.
"hentikan fikiran kekanakanmu itu, miyuki." tegur yamada
"kekanakan? Aku tidak kekanakan. "aku sama seperti akari, kami akan merasa sesuatu yang berbeda ketika ada laki-laki ramah menegur dan mengajak kami berteman, apalagi satu rumah. Pasti kalian banyak menghabiskan waktu berdua, lebih banyak daripada yang lain, ya kan?"
Pertengkaran mereka menarik perhatian beberapa penduduk disana. Yamada tersenyum tidak enak.
"miyuki, aku rasa tidak ada gunanya kita bertengkar."
Miyuki menatap kesal yamada dan beranjak pergi meninggalkan pondokan itu.
Yamada menghela nafas dan mengejar gadis itu.
"miyuki! Miyuki!"
Percuma berteriak yang dipanggil tidak dengar. Pura-pura tidak mendengar tepatnya.
"miyuki!"
Yamada terpaksa menarik lengan gadis itu.
"tidakkah pertengkaran kita sebelumnya sudah cukup?"
Sebelum ini mereka sudah pernah bertengkar mengenai yamada yang tidak bilang jika ia sudah menemukan tempat magang terlebih dahulu. Hal itu membuat miyuki kecewa dan marah seharian, ia tidak ingin jauh dari yamada.
"pancaran matamu ketika membahas akari dan senyummu itu begitu bahagia setelah menyebut namanya. Kamu tidak pedulikan perasaanku. Lebih baik kita sudahi saja hubungan ini."
Yamada terkejut. "demi tuhan, miyuki! Kecemburuanmu ini tidak beralasan sama sekali."
Sudah cukup yamada menahan perasaannya sendiri.
Sudah cukup ia mengalah selama ini.
Miyuki. Kenapa gadis yang disayanginya ini begitu~ ha~
Dan kalimat putus itu keluar dari mulut miyuki sendiri. Yamada sangat membenci kata itu dan selalu mengingatkan miyuki untuk tidak mengatakan itu ketika ia sedang emosi tapi sekarang tak ada gunanya lagi.
"bukankah kamu yang tidak peduli perasaanku? Aku berharap mendapat ucapan selama ulangtahun darimu tapi tak satu pun kata terucap, kamu lupa kan?"
Raut wajah miyuki berubah. Ia tertegun. Ia lupa hari ini ulangtahun yamada.
"kamu malah menyuguhiku dengan pertengkaran kecil tak beralasan ini, kecemburuanmu berlebihan, miyuki."
Debur ombak membuat mereka berada dalam diam sejenak.
"dan jika kamu memang mau hubungan ini berakhir, baiklah, aku tidak akan mempertahankannya lagi jika kamu pun sudah tidak ingin."
Yamada tahu mereka sedang sama-sama marah tapi kata-kata itu tak bisa ditarik kembali. Jadi hubungan mereka berakhir dengan cara seperti ini?
"maafkan aku jika selama ini tidak peduli dengan perasaanmu." ujar yamada sambil berlalu meninggalkan miyuki. Ia berniat kembali ke perkebunan malan itu juga. Tak ada gunanya lagi ia disini.
"ryosuke!" suara serak miyuki kembali terdengar.
Tapi yamada tidak mengindahkan.
"yamada ryosuke!" panggil miyuki lagi.
Wajah gadis itu sudah basah dengan airmata.
Tapi yamada tetap pergi meninggalkannya.
"suasana disini menyenangkan." komentar yamada
"benarkah? Aku rasa memang begitu, coba kamu juga magang disini." miyuki bersandar di lengan yamada. Laki-laki itu mengusap kepalanya.
"sayangnya aku tidak melihat perkebunan disini." ia tergelak.
"bagaimana dengan tempatmu? Apa ada yang seperti ini?"
"disana lebih tenang. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di rumah jika malam."
"kami?"
Miyuki mengerutkan dahinya.
"kami?"
Yamada mengangguk. Salah satu penduduk menyodorkan piring berisi seafood barbeque pada mereka.
"aku pernah cerita kan jika ada aku punya teman satu rumah. Namanya mizunashi-san, dia gadis yang baik dan lucu."
Miyuki mengerutkan dahinya sekali lagi. Ia bisa melihat jelas senyum yamada yang mengembang ketika menceritakan tentang gadis ini.
"semoga dia tidak marah lagi padaku."
"hmm? Kenapa?"
"aku membuatnya kesal kemarin. Setiap pukul delapan ketika aku menelponmu, ia selalu menemaniku. Di lingkungan rumah tidak mendapat sinyal, jadi aku harus ke portal depan untuk menelponmu." jelas yamada sambil tersenyum mengingat akari yang sering duduk bersandar di tiang ketika menungguinya menelpon.
Miyuki hanya diam. Dia tidak begitu tertarik dengan akari.
"mungkin kemarin aku terlalu lama menelpon dan dia sedikit kesal karena nyamuk. Aku menariknya terburu-buru jadi dia lupa membawa lotion anti nyamuk yang biasa ia bawa."
"dia mendengar semua pembicaraan kita?"
"sepertinya tidak."
"kamu sepertinya begitu khawatir jika akari marah. Dia bukan siapa-siapa jadi kamu tidak usah pedulikan apa dia marah atau tidak padamu." kata-kata dingin itu keluar dari mulut miyuki. Wajahnya mengeras.
"kenapa bilang begitu? Dia temanku, itu saja."
Yamada tahu kemana arah pembicaraan ini dari nada suara miyuki yang dingin itu. Gadis ini pencemburu berat.
"kamu sebaiknya jangan terlalu dekat dengannya, nanti dia punya perasaan padamu."
Yamada terkejut mendengar kalimat miyuki.
"kenapa bisa berfikiran begitu? Aku hanya menganggapnya teman."
"kamu iya tapi dia? Dia belum tentu berfikiran sama denganmu."
Yamada menatap miyuki dengan terkejut. Gadis ini mulai lagi, moodnya begitu cepat berubah menjadi sangat buruk.
"hentikan fikiran kekanakanmu itu, miyuki." tegur yamada
"kekanakan? Aku tidak kekanakan. "aku sama seperti akari, kami akan merasa sesuatu yang berbeda ketika ada laki-laki ramah menegur dan mengajak kami berteman, apalagi satu rumah. Pasti kalian banyak menghabiskan waktu berdua, lebih banyak daripada yang lain, ya kan?"
Pertengkaran mereka menarik perhatian beberapa penduduk disana. Yamada tersenyum tidak enak.
"miyuki, aku rasa tidak ada gunanya kita bertengkar."
Miyuki menatap kesal yamada dan beranjak pergi meninggalkan pondokan itu.
Yamada menghela nafas dan mengejar gadis itu.
"miyuki! Miyuki!"
Percuma berteriak yang dipanggil tidak dengar. Pura-pura tidak mendengar tepatnya.
"miyuki!"
Yamada terpaksa menarik lengan gadis itu.
"tidakkah pertengkaran kita sebelumnya sudah cukup?"
Sebelum ini mereka sudah pernah bertengkar mengenai yamada yang tidak bilang jika ia sudah menemukan tempat magang terlebih dahulu. Hal itu membuat miyuki kecewa dan marah seharian, ia tidak ingin jauh dari yamada.
"pancaran matamu ketika membahas akari dan senyummu itu begitu bahagia setelah menyebut namanya. Kamu tidak pedulikan perasaanku. Lebih baik kita sudahi saja hubungan ini."
Yamada terkejut. "demi tuhan, miyuki! Kecemburuanmu ini tidak beralasan sama sekali."
Sudah cukup yamada menahan perasaannya sendiri.
Sudah cukup ia mengalah selama ini.
Miyuki. Kenapa gadis yang disayanginya ini begitu~ ha~
Dan kalimat putus itu keluar dari mulut miyuki sendiri. Yamada sangat membenci kata itu dan selalu mengingatkan miyuki untuk tidak mengatakan itu ketika ia sedang emosi tapi sekarang tak ada gunanya lagi.
"bukankah kamu yang tidak peduli perasaanku? Aku berharap mendapat ucapan selama ulangtahun darimu tapi tak satu pun kata terucap, kamu lupa kan?"
Raut wajah miyuki berubah. Ia tertegun. Ia lupa hari ini ulangtahun yamada.
"kamu malah menyuguhiku dengan pertengkaran kecil tak beralasan ini, kecemburuanmu berlebihan, miyuki."
Debur ombak membuat mereka berada dalam diam sejenak.
"dan jika kamu memang mau hubungan ini berakhir, baiklah, aku tidak akan mempertahankannya lagi jika kamu pun sudah tidak ingin."
Yamada tahu mereka sedang sama-sama marah tapi kata-kata itu tak bisa ditarik kembali. Jadi hubungan mereka berakhir dengan cara seperti ini?
"maafkan aku jika selama ini tidak peduli dengan perasaanmu." ujar yamada sambil berlalu meninggalkan miyuki. Ia berniat kembali ke perkebunan malan itu juga. Tak ada gunanya lagi ia disini.
"ryosuke!" suara serak miyuki kembali terdengar.
Tapi yamada tidak mengindahkan.
"yamada ryosuke!" panggil miyuki lagi.
Wajah gadis itu sudah basah dengan airmata.
Tapi yamada tetap pergi meninggalkannya.
Yamada sudah sampai kembali di perkebunan menjelang subuh. Perasaannya campur aduk. Marah, bingung dan lebih banyak kecewa. Ia sampai di portal depan dan mendapati tak hanya satu lampu penerang yang hidup tapi semuanya. Tapi percuma, ia tidak akan berada disana lagi setiap pukul delapan malam.
Dilihatnya akari tengah menyiram tanaman di samping rumahnya. Akari belum sadar jika yamada telah kembali dan tengah berjalan mendekatinya.
"selamat pagi." sapa yamada
"selamat pa.." akari tertegun sejenak, "bukankah kamu pulang dua hari lagi?"
Yamada hanya tersenyum.
Akari ikut tersenyum.
"hmm.. Kamu sudah lihat lampu penerangan di portal depan?"
Yamada mengangguk.
"tidak gelap lagi disana, kamu bisa menelpon miyuki sampai puas tanpa membuatku sebal karena ikut menungguimu dan digigiti nyamuk." ujar akari sembari berjalan kesana kemari menyiram tanaman.
"maaf." ujar yamada
"untuk apa? Aku tidak marah padamu."
"untuk semuanya."
Akari tertawa.
"ayo sarapan! Aku buat roti isi. Tadi nakayama-san mengantarkan beberapa sayuran segar."
Akari mencuci tangannya yang kotor terkena tanah kemudian berjalan masuk ke rumah.
Tiba-tiba yamada menarik lengan gadis itu dan memeluknya.
"maaf, akari, sebentar saja."
Gadis itu tertegun.
Sebentar saja?
Dilihatnya akari tengah menyiram tanaman di samping rumahnya. Akari belum sadar jika yamada telah kembali dan tengah berjalan mendekatinya.
"selamat pagi." sapa yamada
"selamat pa.." akari tertegun sejenak, "bukankah kamu pulang dua hari lagi?"
Yamada hanya tersenyum.
Akari ikut tersenyum.
"hmm.. Kamu sudah lihat lampu penerangan di portal depan?"
Yamada mengangguk.
"tidak gelap lagi disana, kamu bisa menelpon miyuki sampai puas tanpa membuatku sebal karena ikut menungguimu dan digigiti nyamuk." ujar akari sembari berjalan kesana kemari menyiram tanaman.
"maaf." ujar yamada
"untuk apa? Aku tidak marah padamu."
"untuk semuanya."
Akari tertawa.
"ayo sarapan! Aku buat roti isi. Tadi nakayama-san mengantarkan beberapa sayuran segar."
Akari mencuci tangannya yang kotor terkena tanah kemudian berjalan masuk ke rumah.
Tiba-tiba yamada menarik lengan gadis itu dan memeluknya.
"maaf, akari, sebentar saja."
Gadis itu tertegun.
Sebentar saja?
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment