Perfect Love
Chapter 2
Mereka berdua pergi kota hari ini. Pemilik perkebunan menyuruh mereka untuk ikut nakayama ke pasar, mengantar sayuran segar ke salah satu pedagang.
"segarnyaaaa.." seru akari saat turun dari bak mobil. Ia dan yamada duduk berdua disana bersama keranjang-keranjang sayur yang mereka bawa.
"akari-chan ku~"
Seseorang menghampiri akari. Gadis itu menepuk dahinya sendiri.
"dia lagi." gumamnya pelan.
Yamada memandang akari kemudian melirik laki-laki yang menyapa akari.
"ohayou, akari-chan. Sudah lama tidak melihatmu kemari? Apa kau tidak merindukanku?" tanyanya.
Yamada berdeham.
"ohayou, hiroshi-kun." akari tersenyum. Mencoba bersikap ramah pada laki-laki yang ada dihadapannya ini.
Hiroshi memang sudah lama tergila-gila pada akari. Penampilannya sedikit konyol dan kadang itu cukup mengganggu, tapi hiroshi baik jadi tidak ada alasan bagi akari untuk membencinya.
Walau tak jarang juga merasa terganggu.
"aku pergi dulu kalau begitu, mizunashi-san, sepertinya kalian sudah lama tidak melepas rindu." ujar yamada sembari tersenyum geli pada akari. Gadis itu menyipitkan matanya pada yamada.
Sialan, umpatnya.
"hiroshi-kun, aku sedang banyak pekerjaan jadi nanti saja kita bicara lagi ya." akari pergi menjauh dari hiroshi. Berpura-pura memeriksa sayur-sayur di keranjang.
Yamada berjalan mendekati akari tapi kemudian hiroshi menghalanginya.
"ada apa, hiroshi-kun?" tanya yamada ramah
"siapa kau?"
"yamada ryosuke."
"aku tidak tanya namamu, aku tanya siapa kau? Siapanya akari?"
"oh, aku hanya teman magangnya."
Hiroshi mengangguk-angguk.
"tenang saja, aku sudah punya pacar."
Wajah hiroshi terlihat lega.
"tapi walau begitu masih banyak wanita yang tertarik padaku." ujar yamada iseng.
Rahang hiroshi mengeras. Ia bergantian memandang akari dan yamada.
"yamada-san! Kita akan kembali." panggil akari
"aku pulang dulu, hiroshi-kun. Jangan menyerah!" yamada menepuk pelan pundak hiroshi dan pergi menuju mobil.
"segarnyaaaa.." seru akari saat turun dari bak mobil. Ia dan yamada duduk berdua disana bersama keranjang-keranjang sayur yang mereka bawa.
"akari-chan ku~"
Seseorang menghampiri akari. Gadis itu menepuk dahinya sendiri.
"dia lagi." gumamnya pelan.
Yamada memandang akari kemudian melirik laki-laki yang menyapa akari.
"ohayou, akari-chan. Sudah lama tidak melihatmu kemari? Apa kau tidak merindukanku?" tanyanya.
Yamada berdeham.
"ohayou, hiroshi-kun." akari tersenyum. Mencoba bersikap ramah pada laki-laki yang ada dihadapannya ini.
Hiroshi memang sudah lama tergila-gila pada akari. Penampilannya sedikit konyol dan kadang itu cukup mengganggu, tapi hiroshi baik jadi tidak ada alasan bagi akari untuk membencinya.
Walau tak jarang juga merasa terganggu.
"aku pergi dulu kalau begitu, mizunashi-san, sepertinya kalian sudah lama tidak melepas rindu." ujar yamada sembari tersenyum geli pada akari. Gadis itu menyipitkan matanya pada yamada.
Sialan, umpatnya.
"hiroshi-kun, aku sedang banyak pekerjaan jadi nanti saja kita bicara lagi ya." akari pergi menjauh dari hiroshi. Berpura-pura memeriksa sayur-sayur di keranjang.
Yamada berjalan mendekati akari tapi kemudian hiroshi menghalanginya.
"ada apa, hiroshi-kun?" tanya yamada ramah
"siapa kau?"
"yamada ryosuke."
"aku tidak tanya namamu, aku tanya siapa kau? Siapanya akari?"
"oh, aku hanya teman magangnya."
Hiroshi mengangguk-angguk.
"tenang saja, aku sudah punya pacar."
Wajah hiroshi terlihat lega.
"tapi walau begitu masih banyak wanita yang tertarik padaku." ujar yamada iseng.
Rahang hiroshi mengeras. Ia bergantian memandang akari dan yamada.
"yamada-san! Kita akan kembali." panggil akari
"aku pulang dulu, hiroshi-kun. Jangan menyerah!" yamada menepuk pelan pundak hiroshi dan pergi menuju mobil.
"kamu tadi bicara apa saja pada hiroshi-kun?" tanya akari saat mereka berada di perjalanan pulang
"tidak ada."
"benarkah?"
Yamada mengangguk.
"bohong!"
"sepertinya dia menyukaimu, mizunashi-san."
"kamu orang kesekian yang bilang begitu."
"lantas?"
"hiroshi-kun baik tapi aku sedang tidak berminat menjalin hubungan dengan siapapun."
"tapi dia sangat merindukanmu." ledek yamada
Akari tertawa, "dia selalu bilang begitu tiap bertemu."
Tiba-tiba mobil yang melaju itu sedikit terguncang karena melewati lubang berbatu di jalanan. Tanpa sengaja akari menabrak yamada. Laki-laki itu merangkul pundak akari agar gadis itu tidak terjatuh.
Mobil terguncang sekali lagi dan tanpa sengaja mereka berpelukan. Keduanya saling tatap sesaat kemudian.
Akari merasa sedikit aneh. Jantungnya berdetak tak beraturan dan darahnya berdesir melihat mata yamada. Jarak mereka begitu dekat.
"maaf." ujar akari kemudian.
"tidak apa." jawab yamada
Mereka saling melepaskan pelukan yang tak sengaja itu.
Sisa perjalanan pun diisi dengan saling diam. Canggung meliputi mereka seketika itu juga.
"tidak ada."
"benarkah?"
Yamada mengangguk.
"bohong!"
"sepertinya dia menyukaimu, mizunashi-san."
"kamu orang kesekian yang bilang begitu."
"lantas?"
"hiroshi-kun baik tapi aku sedang tidak berminat menjalin hubungan dengan siapapun."
"tapi dia sangat merindukanmu." ledek yamada
Akari tertawa, "dia selalu bilang begitu tiap bertemu."
Tiba-tiba mobil yang melaju itu sedikit terguncang karena melewati lubang berbatu di jalanan. Tanpa sengaja akari menabrak yamada. Laki-laki itu merangkul pundak akari agar gadis itu tidak terjatuh.
Mobil terguncang sekali lagi dan tanpa sengaja mereka berpelukan. Keduanya saling tatap sesaat kemudian.
Akari merasa sedikit aneh. Jantungnya berdetak tak beraturan dan darahnya berdesir melihat mata yamada. Jarak mereka begitu dekat.
"maaf." ujar akari kemudian.
"tidak apa." jawab yamada
Mereka saling melepaskan pelukan yang tak sengaja itu.
Sisa perjalanan pun diisi dengan saling diam. Canggung meliputi mereka seketika itu juga.
"akari, bangun, kita sudah sampai." ujar yamada. Rupanya gadis itu tertidur di pundak yamada.
"hmm?" ia mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk.
"bangun, kita sudah sampai." yamada mengusap pelan kepala gadis yang masih menyenderkan kepala di pundaknya itu.
Beberapa detik kemudian akari sadar. Ia sadar sepanjang sisa perjalanan ia tertidur di pundak yamada.
"maaf." ujarnya sontak menjauh dari yamada
Laki-laki itu tergelak. "tidak apa-apa, nyenyak sekali tidurmu,aku jadi tidak tega membangunkanmu."
"kepalaku tidak berat kan?" tanya akari dengan polos.
Yamada tertawa geli.
"daijoubu, miyuki juga sering tertidur di pundakku."
Akari diam ketika mendengar nama miyuki. Sedikit terganggu tapi akari tidak mengerti kenapa.
Mereka pamit pada nakayama dan kembali ke rumah.
"hmm?" ia mengerjapkan matanya. Menyesuaikan cahaya yang masuk.
"bangun, kita sudah sampai." yamada mengusap pelan kepala gadis yang masih menyenderkan kepala di pundaknya itu.
Beberapa detik kemudian akari sadar. Ia sadar sepanjang sisa perjalanan ia tertidur di pundak yamada.
"maaf." ujarnya sontak menjauh dari yamada
Laki-laki itu tergelak. "tidak apa-apa, nyenyak sekali tidurmu,aku jadi tidak tega membangunkanmu."
"kepalaku tidak berat kan?" tanya akari dengan polos.
Yamada tertawa geli.
"daijoubu, miyuki juga sering tertidur di pundakku."
Akari diam ketika mendengar nama miyuki. Sedikit terganggu tapi akari tidak mengerti kenapa.
Mereka pamit pada nakayama dan kembali ke rumah.
"besok aku akan izin pada pemilik perkebunan untuk pergi beberapa hari." ujar yamada yang saat sedang memotong sayuran untuk makan malam.
"memangnya kamu mau kemana?" tanya akari.
"mengunjungi miyuki."
Gadis yang tengah mencuci sayuran itu tiba-tiba berhenti.
"miyuki?"
"un, besok hari ulangtahunku dan rencananya aku akan menghabiskan waktu dengannya."
"oh.."
Akari sedikit kecewa. Dan ia masih belum mengerti mengapa.
Hening. Hanya ada suara pisau yamada yang sedang memotong-motong daging sekarang.
"astaga!" yamada menepuk dahinya dan bergegas melepas celemeknya. Ia berlarian kecil keluar dapur.
Akari menatap kepergian laki-laki itu dengan bingung.
"pasti lupa sesuatu." akari mengecek jam. Jam setengah sembilan, "oh, miyuki."
Terdengar suara langkah kaki. Yamada kembali dan ia menarik lengan akari keluar dari dapur. Keluar dari rumah. Menuju portal.
"memangnya kamu mau kemana?" tanya akari.
"mengunjungi miyuki."
Gadis yang tengah mencuci sayuran itu tiba-tiba berhenti.
"miyuki?"
"un, besok hari ulangtahunku dan rencananya aku akan menghabiskan waktu dengannya."
"oh.."
Akari sedikit kecewa. Dan ia masih belum mengerti mengapa.
Hening. Hanya ada suara pisau yamada yang sedang memotong-motong daging sekarang.
"astaga!" yamada menepuk dahinya dan bergegas melepas celemeknya. Ia berlarian kecil keluar dapur.
Akari menatap kepergian laki-laki itu dengan bingung.
"pasti lupa sesuatu." akari mengecek jam. Jam setengah sembilan, "oh, miyuki."
Terdengar suara langkah kaki. Yamada kembali dan ia menarik lengan akari keluar dari dapur. Keluar dari rumah. Menuju portal.
Akari lupa membawa lotion anti nyamuknya karena tergesa-gesa ditarik yamada. Ia menatap kesal yamada yang sedang menanti miyuki mengangkat telponnya diujung sana.
Maaf, miyuki.
Iya tadi aku sangat sibuk.
Ayolah, jangan bersikap seperti anak kecil.
Sepertinya mereka bertengkar,batin akari.
Akari duduk di portal sambil menepuki lengannya.
Aku janji ini terakhir kalinya aku terlambat.
Un, besok aku akan mengunjungimu.
Akari melihat senyum bahagia di wajah yamada.
Andai saja senyum itu untukku, pikirnya. Eh? Apa yang aku pikirkan?! Ia menepuki pipinya berkali-kali.
Yamada menatapnya heran. Akari nyengir.
"lanjutkan saja," bisiknya
Yamada mengangguk kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan miyuki.
Aku menyayangimu, miyuki. Jangan katakan hal seperti tadi jika sedanf emosi ya, kamu tahu kan aku tidak suka kata-kata seperti itu.
Iya, aku saaaangat menyayangimu.
Akari menoleh pada yamada. Ia sudah bosan menunggu disini, belum lagi pembicaraan mesra antara dia dan miyuki yang entah kenapa membuatnya senewen. Ia beranjak dari portal dan berjalan meninggalkan yamada namun laki-laki itu menahannya.
"aku mengantuk." ujar akari tanpa menatap yamada
Miyuki, aku harus kembali ke rumah.
Sinyal tiba-tiba hilang dan telpon terputus.
"maaf membuatmu terganggu, aku hanya....
"aku mengantuk." akari kembali berjalan meninggalkan yamada namun yamada menarik tangan akari karena ponselnya berdering lagi.
"tunggu sebentar saja."
Maaf, miyuki tapi aku harus istirahat untuk perjalanan ke tempatmu besok. Kita akan segera bertemu. Aku juga menyayangimu.
Tak sabaran, akari melepaskan tangan yamada dan berjalan meninggalkannya. Laki-laki itu segera mengakhiri pembicaraannya dengan miyuki dan menyusul akari sampai rumah.
"maaf, aku tidak bermaksud untuk...."
Blam! Akari menutup pintu kamarnya.
Yamada mengetuk pintu kamar akari beberapa kali tapi gadis itu tak kunjung membukakannya.
"maafkan aku, akari." ujar yamada dengan nada menyesal
Akari berbaring di tempat tidurnya. Menahan dengan sekuat tenaga agar airmatanya tidak keluar. Ia sadar saat ini ia telah menyukai seseorang di waktu yang salah.
Maaf, miyuki.
Iya tadi aku sangat sibuk.
Ayolah, jangan bersikap seperti anak kecil.
Sepertinya mereka bertengkar,batin akari.
Akari duduk di portal sambil menepuki lengannya.
Aku janji ini terakhir kalinya aku terlambat.
Un, besok aku akan mengunjungimu.
Akari melihat senyum bahagia di wajah yamada.
Andai saja senyum itu untukku, pikirnya. Eh? Apa yang aku pikirkan?! Ia menepuki pipinya berkali-kali.
Yamada menatapnya heran. Akari nyengir.
"lanjutkan saja," bisiknya
Yamada mengangguk kemudian melanjutkan pembicaraannya dengan miyuki.
Aku menyayangimu, miyuki. Jangan katakan hal seperti tadi jika sedanf emosi ya, kamu tahu kan aku tidak suka kata-kata seperti itu.
Iya, aku saaaangat menyayangimu.
Akari menoleh pada yamada. Ia sudah bosan menunggu disini, belum lagi pembicaraan mesra antara dia dan miyuki yang entah kenapa membuatnya senewen. Ia beranjak dari portal dan berjalan meninggalkan yamada namun laki-laki itu menahannya.
"aku mengantuk." ujar akari tanpa menatap yamada
Miyuki, aku harus kembali ke rumah.
Sinyal tiba-tiba hilang dan telpon terputus.
"maaf membuatmu terganggu, aku hanya....
"aku mengantuk." akari kembali berjalan meninggalkan yamada namun yamada menarik tangan akari karena ponselnya berdering lagi.
"tunggu sebentar saja."
Maaf, miyuki tapi aku harus istirahat untuk perjalanan ke tempatmu besok. Kita akan segera bertemu. Aku juga menyayangimu.
Tak sabaran, akari melepaskan tangan yamada dan berjalan meninggalkannya. Laki-laki itu segera mengakhiri pembicaraannya dengan miyuki dan menyusul akari sampai rumah.
"maaf, aku tidak bermaksud untuk...."
Blam! Akari menutup pintu kamarnya.
Yamada mengetuk pintu kamar akari beberapa kali tapi gadis itu tak kunjung membukakannya.
"maafkan aku, akari." ujar yamada dengan nada menyesal
Akari berbaring di tempat tidurnya. Menahan dengan sekuat tenaga agar airmatanya tidak keluar. Ia sadar saat ini ia telah menyukai seseorang di waktu yang salah.
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment