Perfect Love
chapter 1
Laki-laki itu membiarkan kaca jendela mobilnya terbuka agar udara segar dapat ia hirup sepuasnya. Ia dalam perjalanan menuju sebuah kota kecil di kyoto untuk mengikuti program magang yang diberikan oleh sekolahnya. sesekali ia melihat pada syal yang ia kenakan, syal diberikan oleh kekasihnya sesaat sebelum ia pergi. Mereka satu sekolah, kekasihnya juga mengikuti program internship di tempat berbeda. Untuk pertama kalinya mereka berada dalam jarak yang cukup jauh dan dalam waktu yang cukup lama setelah satu tahun mereka menjalin hubungan.
"kita sampai." ujar sopirnya
Laki-laki itu turun dari mobil. Ia sampai di sebuah jalan yang dihalangi oleh portal. Ada tanda mobil dilarang masuk melalui jalan itu. Di sisi kirinya terdapat tanah perkebunan yang luas. Disanalah ia akan melakukan sejumlah penelitian dan lainnya.
"aku hanya mengantarmu sampai disini." ujar sopir itu lagi. Ia kembali ke mobil dan memutar balik mobilnya kembali ke kota.
Laki-laki itu memandang jalanan yang ada di depannya. Dua bulan ke depan ia akan menghabiskan waktunya disini. Ia melangkah menyusuri jalanan itu dan menuju ke kantor pemilik perkebunan.
"kita sampai." ujar sopirnya
Laki-laki itu turun dari mobil. Ia sampai di sebuah jalan yang dihalangi oleh portal. Ada tanda mobil dilarang masuk melalui jalan itu. Di sisi kirinya terdapat tanah perkebunan yang luas. Disanalah ia akan melakukan sejumlah penelitian dan lainnya.
"aku hanya mengantarmu sampai disini." ujar sopir itu lagi. Ia kembali ke mobil dan memutar balik mobilnya kembali ke kota.
Laki-laki itu memandang jalanan yang ada di depannya. Dua bulan ke depan ia akan menghabiskan waktunya disini. Ia melangkah menyusuri jalanan itu dan menuju ke kantor pemilik perkebunan.
"ada rumah penginapan khusus yang sudah kami sediakan untukmu. Selamat bergabung, Yamada-san." sambut pemilik perkebunan itu dengan ramah.
"terima kasih."
"ada baiknya kamu berkeliling perkebunan ini dulu, nakayama-san akan memandumu."
Pemilik perkebunan itu menunjuk seorang laki-laki yang memang sudah berdiri daritadi di dekat mereka. Umurnya tak beda jauh dari Yamada dan sepertinya ia juga siswa magang.
"terima kasih."
"ada baiknya kamu berkeliling perkebunan ini dulu, nakayama-san akan memandumu."
Pemilik perkebunan itu menunjuk seorang laki-laki yang memang sudah berdiri daritadi di dekat mereka. Umurnya tak beda jauh dari Yamada dan sepertinya ia juga siswa magang.
Nakayama mengajaknya mengelilingi separuh perkebunan. Kebetulan penginapan mereka juga melewati tempat2 itu.
"oi, akari-chan, perkenalkan ini yamada ryosuke-san." teriak nakayama pada seorang gadis bertopi caping yang tengah melakukan sesuatu pada tanamannya.
Gadis itu hanya melambai.
Yamada tak dapat melihat wajah gadis itu karena masker yang ia kenakan nyaris menutupi seluruh wajahnya.
Mereka melanjutkan melihat-lihat perkebunan itu hingga sore menjelang.
"oi, akari-chan, perkenalkan ini yamada ryosuke-san." teriak nakayama pada seorang gadis bertopi caping yang tengah melakukan sesuatu pada tanamannya.
Gadis itu hanya melambai.
Yamada tak dapat melihat wajah gadis itu karena masker yang ia kenakan nyaris menutupi seluruh wajahnya.
Mereka melanjutkan melihat-lihat perkebunan itu hingga sore menjelang.
"aku hanya mengantarmu sampai sini. Selamat beristirahat." pamit nakayama sesaat setelah mereka sampai di rumah penginapan yamada.
Rumah yang tidak terlalu besar dan sepertinya...sepi.
Yamada membuka pintu rumah itu.
Senyap. Apa tidak ada orang lain selain dirinya yang tinggal disini?
Kemudian ia mendengar suara gaduh di dapur.
"hyaaa~ ittai!"
Seseorang tengah terduduk di lantai dapur, beberapa wadah sayuran terjatuh di dekatnya.
"apa kamu tidak apa-apa?" tanya yamada. Ia berdiri di pinggir pintu.
"daijoubu, daijoubu." ujar gadis itu sembari menggosok pantatnya yang sakit.
"kamu perlu bantuan?" tanya yamada lagi
"tidak, tidak. Sebaiknya kamu membersihkan diri, aku akan menyiapkan makan malam."
Yamada masih belum melihat wajah teman serumahnya itu karena gadis itu membelakanginya.
"baiklah."
Yamada pergi ke kamarnya. Tiba-tiba ia teringat miyuki, kekasihnya. Gadis itu pasti menunggu telponnya seharian ini.
Yamada keluar kamar, mengangkat ponselnya untuk mencari sinyal.
"nanti aku antar kamu ke portal depan, disini tidak ada sinyal ponsel."
Gadis tadi keluar dari dapur dengan dua piring berisi makan malam di tangannya.
"ayo kita makan malam dulu." ujarnya lagi.
Yamada duduk di meja makan. Ia memperhatikan makan malam yang dihidangkan.
"ah! Mizunashi Akari desu."
"oh, jadi kamu yang memakai masker tadi?" seru yamada
Gadis itu tersenyum.
"Yamada Ryosuke desu!"
"aku sudah tahu."
"apa ini?" yamada menunjuk piring yang hanya berisi sayuran.
"salad."
"dan ini?" kali ini piring yang berisi daging dengan kuah.
"beef steak."
"itadakimaaasu!"
Yamada mulai memakan kedua menu itu.
"dou?"
"enak."
"bohong!" seru akari
Yamada tersenyum. Ia memakan sekali lagi.
"dou?"
"kurang enak."
"hwaaa~ sudah kuduga. Aku memang tidak pandai memasak." sungut akari
"bagaimana jika mulai besok aku yang memasak makan malam?"
"benarkah?"
Yamada mengangguk.
"onegaishimasu, yamada-san. Semuanya kuserahkan padamu." ujar akari.
"un.."
"kamu tidak usah memaksakan diri untuk memakan masakan itu jika tidak enak."
Akari tergelak. Mereka menghabiskan malam itu dengan banyak perbincangan. Sesaat Yamada lupa akan Miyuki.
Yamada membuka pintu rumah itu.
Senyap. Apa tidak ada orang lain selain dirinya yang tinggal disini?
Kemudian ia mendengar suara gaduh di dapur.
"hyaaa~ ittai!"
Seseorang tengah terduduk di lantai dapur, beberapa wadah sayuran terjatuh di dekatnya.
"apa kamu tidak apa-apa?" tanya yamada. Ia berdiri di pinggir pintu.
"daijoubu, daijoubu." ujar gadis itu sembari menggosok pantatnya yang sakit.
"kamu perlu bantuan?" tanya yamada lagi
"tidak, tidak. Sebaiknya kamu membersihkan diri, aku akan menyiapkan makan malam."
Yamada masih belum melihat wajah teman serumahnya itu karena gadis itu membelakanginya.
"baiklah."
Yamada pergi ke kamarnya. Tiba-tiba ia teringat miyuki, kekasihnya. Gadis itu pasti menunggu telponnya seharian ini.
Yamada keluar kamar, mengangkat ponselnya untuk mencari sinyal.
"nanti aku antar kamu ke portal depan, disini tidak ada sinyal ponsel."
Gadis tadi keluar dari dapur dengan dua piring berisi makan malam di tangannya.
"ayo kita makan malam dulu." ujarnya lagi.
Yamada duduk di meja makan. Ia memperhatikan makan malam yang dihidangkan.
"ah! Mizunashi Akari desu."
"oh, jadi kamu yang memakai masker tadi?" seru yamada
Gadis itu tersenyum.
"Yamada Ryosuke desu!"
"aku sudah tahu."
"apa ini?" yamada menunjuk piring yang hanya berisi sayuran.
"salad."
"dan ini?" kali ini piring yang berisi daging dengan kuah.
"beef steak."
"itadakimaaasu!"
Yamada mulai memakan kedua menu itu.
"dou?"
"enak."
"bohong!" seru akari
Yamada tersenyum. Ia memakan sekali lagi.
"dou?"
"kurang enak."
"hwaaa~ sudah kuduga. Aku memang tidak pandai memasak." sungut akari
"bagaimana jika mulai besok aku yang memasak makan malam?"
"benarkah?"
Yamada mengangguk.
"onegaishimasu, yamada-san. Semuanya kuserahkan padamu." ujar akari.
"un.."
"kamu tidak usah memaksakan diri untuk memakan masakan itu jika tidak enak."
Akari tergelak. Mereka menghabiskan malam itu dengan banyak perbincangan. Sesaat Yamada lupa akan Miyuki.
Yamada sedang sibuk memeriksa tanaman-tanamannya. Mencatat setiap perkembangan pada jurnal yang ada di pangkuannya.
Tak jauh darisana Akari juga tengah melakukan hal yang sama.
"sore ini mau berkeliling kota?" tanya Akari
"memangnya boleh?" tanya yamada sembari memeriksa daun selada. Ada beberapa yang rusak disana karena dimakan ulat.
"setiap sabtu sore adalah waktu bebas."
Yamada menimang-nimang.
"kamu belum kemana-mana sejak tiba kan?"
"ini baru hari pertamaku, mizunashi-san." ujar yamada
Akari garuk kepala. Ia lupa.
"tapi baiklah, nanti sore kita pergi. Kamu yang jadi pemanduku, oke?"
"siap!"
Akari kembali ke tempatnya sambil bersenandung.
Tak jauh darisana Akari juga tengah melakukan hal yang sama.
"sore ini mau berkeliling kota?" tanya Akari
"memangnya boleh?" tanya yamada sembari memeriksa daun selada. Ada beberapa yang rusak disana karena dimakan ulat.
"setiap sabtu sore adalah waktu bebas."
Yamada menimang-nimang.
"kamu belum kemana-mana sejak tiba kan?"
"ini baru hari pertamaku, mizunashi-san." ujar yamada
Akari garuk kepala. Ia lupa.
"tapi baiklah, nanti sore kita pergi. Kamu yang jadi pemanduku, oke?"
"siap!"
Akari kembali ke tempatnya sambil bersenandung.
Sorenya mereka benar-benar pergi ke kota. Sekedar jalan-jalan mencicipi kue dango atau duduk di kedai kopi. Mengambil gambar diri di taman yang penuh bunga-bunga cantik. Jika lapar lagi, mereka berhenti di sebuah kedai sushi dan berlomba siapa yang lebih dahulu menghabiskan sushi-sushi itu. Tanpa terasa malam tiba dan mereka saat ini tengah berada di perjalanan pulang.
"yamada, kamu bisa menggunakan ponselmu disini."
Yamada melihat portal masuk yang ia lewati saat pertama kali datang kesini. Hanya ada satu lampu penerangan yang hidup disana, itu pun redup.
Sejenak ia ragu tapi jika tidak miyuki mungkin akan khawatir karena dari semalam tidak mendapat kabar dari yamada.
"aku tinggal ya." ujar akari sambil lalu meninggalkan yamada. Tiba-tiba yamada menahan lengan akari.
"eh? Nani?" tanya akari
"kamu disini saja, temani aku."
Akari mengerutkan dahinya.
"kamu takut gelap ya?" ledek akari. Gadis itu kemudian tergelak.
Yamada buang muka.
"baiklah, baiklah, aku akan menemanimu."
Yamada menekan dial pada kontak Miyuki dan beberapa detik kemudian suara yang ia rindukan menyambutnya dengan girang dan setengah khawatir.
Aku baik-baik saja.
Disini susah sinyal.
Jangan marah, Miyuki.
Kalimat-kalimat itu yg didengar akari dari mulut yamada. Ia tidak tahu siapa yang ditelpon yamada,ia tidak tahu siapa miyuki, yang ia tahu disana banyak nyamuk yang mencoba menghisap darahnya. Akari tak berhenti menepuk-nepuk bagian tubuhnya yang terasa seperti digigit, sesekali ia menepuk daerah kepalanya. Suara dengungan nyamuk itu benar-benar mengganggunya.
Yamada terkekeh melihat tingkah akari. Gadis itu cemberut.
Aku sedang bersama akari.
Teman serumahku.
Dia gadis yang manis.
Sejenak akari tertegun mendengar kalimat yamada barusan tapi ia tahu kalau itu hanya untuk menggoda yang sedang ia telpon.
Baiklah, selamat malam, miyuki. Aku akan menelponmu setiap jam delapan malam. Oke?
Ya. Aku juga menyayangimu.
Kalimat terakhir terucap sangat pelan dari mulut yamada.
"maaf, membuatmu menunggu." ujar yamada ketika selesai menelpon.
"daijoubu."
"kita pulang?"
"tentu saja. Lenganku sudah habis digigiti nyamuk." sungut akari
Yamada tertawa. Rupanya gadis ini cemberut karena nyamuk.
"jika seperti ini setiap malam pukul delapan, ada baiknya kamu membelikanku selusin lotion anti nyamuk." kata akari kemudian
"siap, nyonya!"
Dan mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat karena selanjutnya yang terjadi setiap pukul delapan malam akan selalu sama. Menemani yamada. Tentu saja akari selalu membawa lotion nyamuknya.
"yamada, kamu bisa menggunakan ponselmu disini."
Yamada melihat portal masuk yang ia lewati saat pertama kali datang kesini. Hanya ada satu lampu penerangan yang hidup disana, itu pun redup.
Sejenak ia ragu tapi jika tidak miyuki mungkin akan khawatir karena dari semalam tidak mendapat kabar dari yamada.
"aku tinggal ya." ujar akari sambil lalu meninggalkan yamada. Tiba-tiba yamada menahan lengan akari.
"eh? Nani?" tanya akari
"kamu disini saja, temani aku."
Akari mengerutkan dahinya.
"kamu takut gelap ya?" ledek akari. Gadis itu kemudian tergelak.
Yamada buang muka.
"baiklah, baiklah, aku akan menemanimu."
Yamada menekan dial pada kontak Miyuki dan beberapa detik kemudian suara yang ia rindukan menyambutnya dengan girang dan setengah khawatir.
Aku baik-baik saja.
Disini susah sinyal.
Jangan marah, Miyuki.
Kalimat-kalimat itu yg didengar akari dari mulut yamada. Ia tidak tahu siapa yang ditelpon yamada,ia tidak tahu siapa miyuki, yang ia tahu disana banyak nyamuk yang mencoba menghisap darahnya. Akari tak berhenti menepuk-nepuk bagian tubuhnya yang terasa seperti digigit, sesekali ia menepuk daerah kepalanya. Suara dengungan nyamuk itu benar-benar mengganggunya.
Yamada terkekeh melihat tingkah akari. Gadis itu cemberut.
Aku sedang bersama akari.
Teman serumahku.
Dia gadis yang manis.
Sejenak akari tertegun mendengar kalimat yamada barusan tapi ia tahu kalau itu hanya untuk menggoda yang sedang ia telpon.
Baiklah, selamat malam, miyuki. Aku akan menelponmu setiap jam delapan malam. Oke?
Ya. Aku juga menyayangimu.
Kalimat terakhir terucap sangat pelan dari mulut yamada.
"maaf, membuatmu menunggu." ujar yamada ketika selesai menelpon.
"daijoubu."
"kita pulang?"
"tentu saja. Lenganku sudah habis digigiti nyamuk." sungut akari
Yamada tertawa. Rupanya gadis ini cemberut karena nyamuk.
"jika seperti ini setiap malam pukul delapan, ada baiknya kamu membelikanku selusin lotion anti nyamuk." kata akari kemudian
"siap, nyonya!"
Dan mereka kembali ke penginapan untuk beristirahat karena selanjutnya yang terjadi setiap pukul delapan malam akan selalu sama. Menemani yamada. Tentu saja akari selalu membawa lotion nyamuknya.
Published with Blogger-droid v2.0.10
Comments
Post a Comment