Seberapa Besar?
Aku sedang sendirian di perpustakaan sekolah, menunggumu. Kamu bilang ada hal yang penting yang mau kamu tanyakan. Dengan bosan ku bolak balik buku sastra di hadapanku. Kamu terlalu lama membuatku menunggu kali ini. Perpustakaan pun mulai sepi, hanya guru penjaga yang masih berkutat dengan tumpukan buku yang baru dikembalikan oleh siswa yang meminjam.
"kamu menunggu seseorang?" tanyanya saat sedang menaruh kembali buku-buku itu di rak yang ada di dekatku.
Aku mengangguk.
"siapa? Teman? Pacar?" tanyanya lagi. Aku diam. Teman atau pacar?
Guru itu masih berdiri disana seolah menunggu jawabanku.
Teman atau pacar? Aku mengulangi lagi pertanyaan itu di benakku hingga akhirnya guru itu pergi melanjutkan pekerjaannya di rak buku yang lain.
Kita memang baru saling mengenal beberapa bulan yang lalu. Aku baru saja pindah ke kota ini dan harus beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk sekolah. Canggung. Aku tidak pernah suka lingkungan baru, tidak begitu suka mengawali sesuatu. Teman adalah hal yang paling sulit aku cari ketika pindah tapi kamu datang menyapaku dengan ramah seolah kita telah mengenal lama dan menawarkan diri untuk jadi temanku. Awalnya aku ragu tapi terserahlah, nanti kamu juga akan menjauh sendiri ketika sudah mengenalku.
Dan suatu hari, aku ingat betul saat itu tengah makan siang di kantin, aku sendirian. Beberapa senior datang mendekatiku, menanyakan kabar kedekatanku denganmu. Wah! Sepertinya kau sangat populer di sekolah sampai-sampai banyak yang mendekatiku dengan cara yang seperti ini.
Aku bilang aku tidak punya hubungan apa-apa denganmu, kemudian melanjutkan makan siangku.
Senior-senior wanita ini sepertinya benci tidak dipedulikan, mereka menggebrak mejaku tapi aku tidak bergeming. Aku malah berfikir, kenapa kamu sangat menyusahkanku.
Suaramu terdengar dari arah lain, semua senior itu menoleh padamu. Kamu mendekat sambil menanyakan ada apa, senior-senior itu langsung berubah menjadi manis di depanmu.
'Kamu tidak apa-apa?' tanyamu sesaat setelah rombongan itu pergi.
'tidak apa, aku baik-baik saja.' jawabku sambil membersihkan bibirku dari sisa makanan dengan tissue. Aku memang baik-baik saja dan sebaiknya aku segera pergi.
'ayo kembali ke kelas,' ajakmu sembari menarik tanganku. Disana aku tertegun dan tanpa sadar menepis tanganmu. Kamu menatapku heran.
'maaf, aku harus ke toilet.' ujarku buru-buru.
Aku tahu setelah itu kamu berdiri lama disana, masih heran dengan sikapku. Maaf.
Kamu masih belum datang. Untungnya aku tidak punya jadwal lain hari ini. Aku mengetuk-ngetuk meja, membalik halaman buku sastra yang kubaca. Halaman ketika Romeo menyampaikan perasaannya pada Julliette dari karya William Shakespeare itu ku hayati walau setengah dari pikiranku bertanya kemana kamu, kenapa begitu lama.
Kamu menyukaiku katamu waktu itu. Aku yang sedang menghapus papan tulis terhenti dan berbalik menatapmu. Kita sedang dalam jadwal piket yang sama, berdua dan kamu mendadak bilang seperti itu.
Kamu mengatakan hal yang sama lagi. Seolah memberi pernyataan bahwa itu sebuah kesungguhan. Aku hanya tersenyum kemudian kembali menghapus papan tulis dan begitupun kamu dengan sapuan yang belum selesai. Kita teman dan selamanya akan begitu, pikirku saat itu.
Kamu masih sama, memperlakukanku seperti biasa sebagai seorang teman. Tidak seperti lakilaki yang memperlakukan seorang perempuan ketika telah mengatakan suka. Aku senang berada di dekatmu, tapi perasaan suka itu belum ada, mungkin ada tapi hanya sebatas teman.
Ketika pulang sekolah, ada seorang siswi menghampiri kita. Dia ingin mengajakmu bicara berdua tapi kamu tidak mau dan meminta harus ada aku jika siswi itu ingin mengatakan sesuatu.
'sudah bicara saja berdua, sepertinya penting.' ujarku sambil tersenyum pada siswi itu.
Aku menunggu di gerbang sekolah. Siswi itu pasti mau menyampaikan perasaannya padamu, bodoh. Aku tergelak.
Tak lama kamu menghampiriku.
'ayo pulang,' ajakmu sambil melangkah duluan.
Aku menoleh pada siswi yang masih berdiri disana menatap kepergianmu dengan sedih. Aku melihat beberapa teman berusaha menghiburnya dan ia menangis.
'kamu apakan dia?' tanyaku di tengah perjalanan pulang.
'kamu bicara seolah-olah aku sudah menjahatinya, aku menolaknya.' jawabmu enteng
Aku menepuk dahiku sendiri.
'tega, gadis itu benar-benar menyukaimu kenapa malah kanu tolak. Dia manis.' ujarku
'aku akan lebih tega jika menerima perasaannya disaat aku memikirkan orang lain,' kau menoleh padaku. Aku buang muka.
'aku menyukaimu,' ujarmu lagi.
'bagaimana jika aku tidak?'
'aku akan menunggu sampai kamu bilang suka padaku,' ujarmu seenaknya
'banyak yang menyukaimu, kenapa kamu harus menyukai aku yang tidak menyukaimu?'
Kita berdebat sepanjang jalan mengenai perasaan kita dan kemudian tergelak. Tertawa entah pada kebahagiaan atau kasihan pada diri sendiri.
Pintu perpustakaan terbuka. Seseorang yang aku kira kamu masuk, rupanya bukan. Tapi aku mengenalnya. Dia yang pernah membuatmu marah dan karena dia kamu memenangkan aku.
Dia datang suatu hari saat aku duduk di taman sekolah. Menunggumu seperti ini. Dia menyapaku dan mengajakku bicara. Dia bilang sudah lama dia memperhatikanku, dia juga bilang kalau dia tidak suka jika aku di dekatmu. Aku terkejut. Dia menyatakan perasaannya padaku, aku tidak tahu harus bagaimana jadi aku diam. Aku tidak begitu tahu tentang dirinya dan sangat tidak mungkin menurutku menerima perasaan seseorang yang tidak begitu dikenal. Dia sedikit memaksaku waktu itu, tangannya memegangku dengan kuat sehingga aku sedikit kesakitan. Tiba-tiba kamu datang dan memukul wajahnya. Aku menghentikanmu sebelum perkelahian berlanjut lebih jauh.
'aku tidak apa-apa, sudahlah. Ayo kembali ke kelas,'
Kamu menatapnya dengan amarah. Tidak pernah aku melihatmu semarah ini.
Keramaian terjadi di lapangan basket sekolah sore itu. Aku yang ingin tahu bergegas ke lapangan basket. Sepertinya ada yang berduel, info itu sekilas terdengar dari beberapa orang yang melewatiku.
Duel? Siapa dengan siapa?
Aku sampai di pinggir lapangan dan mendapatimu tengah berduel bersama dia.
Salah seorang temanmu mendekatiku, mengatakan bahwa duel ini demi aku. Jika kamu menang dia tidak akan mendekatiku lagi tapi jika kamu kalah, dia akan menjauhkanku darimu dengan segala cara. Aku tertegun mendengar itu.
Bagaimana ini bisa terjadi? Dan basket? Bukankah kamu lemah di olahraga itu? Bodoh!
Aku mengikuti jalannya pertandingan yang alot, waktu sedikit lagi sementara skor kalian berkejar-kejaran. Aku berharap kamu yang menang.
Tanpa sadar aku berteriak, akhirnya aku menyadari bahwa aku juga menyukaimu. Dan waktu habis. Setelah itu kamu berlari ke arahku, mengabarkan kemenangan yang sudah aku ketahui. Aku tersenyum.
'maaf terlambat,' ujarmu sambil duduk di sebelahku.
'nyaris saja sebentar lagi aku pergi,'
'tadi dipanggil guru olahraga, jadwal piket untuk membersihkan gudang peralatan olahraga sudah keluar,'
'ohh,' aku menutup buku sastra itu, 'jadi, apa yang mau kamu tanyakan?' tanyaku tanpa basa-basi
'aku cinta kamu,' katanya
Aku menatapnya dan tergelak.
'jadi itu?' tanyaku
'aku serius,' dan dia memang terlihat serius
'aku tahu,' jawabku sambil tersenyum
'itu saja?' tanyanya heran
aku mengangguk.
'aku ingin tahu seberapa besar,' ujarnya
aku tersenyum, 'aku mencintaimu dengan cukup,'
ia mengerutkan dahinya kemudian
berkata, 'tidak lebih besar? biasanya orang berkata 'aku mencintaimu lebih dari cintamu padaku' kamu
tidak?'
aku menggeleng dan menatap ke dalam matanya, 'kamu tahu, cintaku memang tidak lebih besar darimu
dan juga tidak akan kurang untukmu tapi akan selalu tumbuh,'
Ia bernafas lega kemudian berkata,
'terima kasih untuk cintamu yang cukup itu,'
-----------------------------------
02/12/12 20:36
Published with Blogger-droid v2.0.9

Comments
Post a Comment