Kopi dan Hujan di Pagi Selasa

Tes..tes..tes bunyi air turun dari langit. Hujan, gumamku. Aku masih bergelung di bawah selimut melawan rasa dingin yang menusuk yang datang dari kipas anginku.
Tak lama kemudian aku bangun, hari sudah subuh dan hujan ternyata turun deras. Aku mendekat ke lemari di dapur dan mengambil toples berisi bubuk hitam pekat dan butiran pemanis. Kopi hari ini sepertinya spesial karena ditemani hujan. Aku berdiri di dekat jendelaku, titik-titik air membasahi kaca-kacanya yang sudah mulai buram. Aku harus bersih-bersih setelah ini. Setelah kusesap kopi pertama di pagi selasaku.
Sambil menunggu hujan reda aku mengecek linimasa di salah satu akun sosial mediaku. Yah, sudah kuduga isinya tak lain tak bukan pasti tentang hujan pagi ini. Ada yang mengeluh, ada yang gembira, ada yang kembali bergumul kembali dengan selimutnya dan tidur. Aku mungkin salah satu dari yang gembira itu. Hujan deras seperti ini membuat segala pekerjaan tertunda. Biarlah, sesekali terlambat tak mengapa, hmn.. atau sebaiknya aku meliburkan diri saja dari kantor? pikirku nakal. Aku tersenyum geli dan kemudian menyesap kopiku lagi. Libur adalah sebuah kemungkinan yang sangat tidak mungkin, tapi anehnya aku menikmati itu.
Kemudian mataku tertuju pada salah satu postingan yang mengumpat hujan hari ini. Iseng, aku juga ikut memposting di sosial media 140 karakter itu.
'percuma mengumpat hujan, ia tak akan berhenti sebelum waktunya,' tulisku disana sambil menyesap kopiku lagi.
Bosan di kamar, aku pergi ke teras dan mendapati ibu sedang duduk disana, menunggu ojek langganannya. Mau pergi ke pasar. Ia bersenandung, sebuah lagu yang cukup populer di tahun 70an. Apa ya judulnya? Hujan turun lagi? Lagu yang berkisah tentang hujan dan kebersamaan sepasang kekasih di bawah hujan, berbagi payung. Aku menghela nafas. Teringat suatu hal tentang seseorang yang sudah lama terkubur di alam bawah sadarku. Sayangnya aku tidak punya kebersamaan apapun dengannya di bawah hujan seperti orang-orang, berpayung berdua misalnya. Yang kuingat hanya perkataannya saat aku mengeluh tentang hujan,
'ayolah, hujan hanya air yang jatuh dengan intensitas tertentu, ia tidak akan menghentikan langkahmu kecuali kau yang ingin berhenti,' ujarnya sambil berlari menembus hujan. Meninggalkanku termangu dan hanya bisa memendam perasaan yang mungkin tak akan pernah ia ketahui.
Aku mendesah berat. Hujan selalu membangkitkan kenangan, kenangan manis dan pahit.
Ah! Ini bukan tentang dirinya, ini tentang kopiku yang hampir habis dan hujan yang mungkin takkan berhenti di pagi Selasa ini.



Published with Blogger-droid v2.0.9

Comments

Popular Posts