Your Existence

Musim sudah berganti lagi. 6 bulan, 2 musim berlalu begitu cepat tapi tidak untuk Akari. Bulan-bulan itu harus ia jalani dengan berat. Alasan utamanya, Ryosuke.
Masalahnya belum selesai. Sedikit kesalahpahaman antara ia dan Jun. Ryosuke masih diam, tidak mau berbicara atau pun mendengarkan. Akari sempat beberapa kali bertemu tapi Ryosuke seolah tidak melihatnya atau melengos pergi tanpa senyum ramah. Akari tidak mengerti apa yang ada di fikiran Ryosuke. Dan ia sendiri kalut dengan fikirannya, selalu terpikir bagaimana caranya supaya laki-laki itu mengerti. Haa~ bagaimana mau mengerti, bertemu saja ia tidak mau.
Musim panas. Saatnya menghabiskan waktu libur. Akari tengah berada di sebuah kafe di pusat kota. Kafe dimana ia dan Ryosuke pernah menghabiskan waktu...dulu. Dulu sekali. Awal pertemanan mereka banyak dihabiskan dengan obrolan di tempat ini. Dari pertemanan itu timbul rasa yang mengikat, mereka saling punya perasaan. Mungkin sama-sama tahu tapi tak pernah ada komitmen yang tercetus. Akari mengerti mengapa itu terjadi. Status. Ryosuke tentu saja banyak orang tahu dia siapa, selalu jadi sorotan tentang dengan siapa dia menjalin hubungan. Akari tergelak sendiri, ada masa-masa saat ia berada di situasi keartisan tapi ia tidak pernah takut selama Ryosuke bersamanya.
Strawberry cheese-cakenya datang. Bukan sengaja ia memesan keik ini, hal-hal yang berkaitan dengan Ryosuke seolah jadi kebiasaan. Apa saja dalam kesehariannya selama 6 bulan ini nyaris hal yang berhubungan dengan Ryosuke tidak pernah absen. Menyenangkan sekaligus pahit ketika mengingat Ryosuke.
Akari sedang menyuap sepotong kecil keik itu ketika ia menangkap siluet Ryosuke melewati kafe itu. Dia yakin itu Ryosuke. Iya, itu Ryosuke.
"Ryosuke.." panggilnya tak henti. Banyaknya orang dan suara kendaraan membuat suara Akari tenggelam tak terdengar. "Ryosukeeeee!!!!" dan akhirnya laki-laki itu berhenti. Akari sedikit terengah karena berlari.
Wajah bingung tampak menyelimuti Ryosuke ketika meliat Akari tapi ia tetap tersenyum. Entah apa maksudnya tapi bekas-bekas marah dari kejadian 6 bulan lalu sudah memudar dari wajahnya.
"apa kabar?" akari memberanikan diri berbicara. Ia sedikit canggung.
"baik," ryosuke menjawab dengan nada ramah. Nada yang sama ketika ia menyapa atau berbicara dengan akari dulu.
"syukurlah jika kau baik.. Bagaimana pekerjaanmu?"
"masih sama dan bertambah banyak, dan sepertinya aku harus bergegas. Maaf ya, Akari aku tidak bisa lama-lama.."
Akari mengangguk lemah. Setelah sekian lama tidak bertemu akhirnya ia melihat wajah itu lagi, mendengar suara itu lagi walau sebentar.
Ryosuke berbalik dan melangkah meninggalkan Akari. Akari mengejar Ryosuke dan nekat memeluk laki-laki itu. Rindunya sudah di ubun-ubun, hatinya yang penuh keinginan untuk bertemu Ryosuke sudah tak terbendung lagi.
Ryosuke diam, membiarkan Akari memeluknya. Sebenarnya ia merasa sama.
"akari, maaf.." ryosuke menepuk punggung tangan Akari yang melingkar didadanya.
"aku masih ada pekerjaan, semoga kau bisa mengerti.."
Akari melepaskan pelukannya. Serindu apapun ia, tetap saja tidak boleh egois. Punggung ryosuke sudah tak terlihat lagi dan ia pun kembali ke kafe.
Akari duduk di tempatnya, memandang kosong ke atas meja. Dadanya sesak. Tenggorokannya tercekat. Wajahnya panas. Airmatanya sudah berlinang dan ia menangis. Menangis sejadi-jadinya. Pertemuannya dengan ryosuke barusan membuatnya lega tapi itu belum cukup.
Ia tergugu. Benar-benar sedih dan entah kenapa suasana di kafe itu menjadi gloomy. Membuat tangisnya semakin pecah.
Sebuah tangan memegangnya ketika Akari sedang berusaha menghentikan tangisnya. Ia mendongak dan mendapati ryosuke berdiri di depannya dengan nafas terengah.
"ryosuke..?" nama itu diucapkan dengan sedikit serak karena tangisnya. Airmatanya keluar lagi.
Ryosuke menarik akari ke dalam pelukannya. Dia kembali dengan berlari. Tersadar jika satu-satunya orang yang ia sayang sudah menunggu begitu lama untuknya.
Gadis itu menangis dalam pelukannya. Dada ryosuke ikut sesak, ia yang bertanggungjawab atas segala kerinduan gadis ini padanya dan ia pun tidak bisa mengelak jika ia merasakan hal yang sama.
"aku ada disini, akari.. Jangan menangis lagi.." ryosuke membelai pelan punggung akari. Menenangkan gadis itu. Akari membalas pelukannya dan malah semakin terisak. Rindu itu tumpah ruah di dalam tangisnya, di pelukan Ryosuke yang akhirnya ia rasakan lagi.
Ryosuke menjadi sedikit panik. Ia menepuk pelan kepala akari, menenangkannya sekali lagi.
Perlahan tangis Akari berubah menjadi segukan. Ia sedikit lebih tenang.
"ini, bersihkan wajahmu dari airmata.." ryosuke menyodorkan saputangannya.
"maaf, aku tidak bisa menahannya lagi.." ujar akari dan membuat ryosuke tersenyum.
"aku yang seharusnya minta maaf," ryosuke mengacak pelan rambut akari. "maaf sudah membuatmu begitu lama menungguku,"
Akari menggeleng, "daijoubu,"
Mereka diam cukup lama. Akari sibuk membersihkan wajahnya sementara ryosuke sibuk memandangi akari.
"terima kasih, ryosuke.."
"untuk?"
"sudah mau kembali untukku, setidaknya aku tenang." akari tersenyum
"aku hanya mengikuti apa kata hatiku, akari.." ryosuke menggenggam tangan akari.
"terima kasih,"
Aku senang bisa merasakan pelukmu lagi, batin akari.
"ryosuke, bukannya kau harus kerja?" tanya akari.
"tidak apa, kau keberatan aku disini?"
"bukan..bukan begitu.. Aku tidak mau pekerjaanmu terhambat hanya karenaku."
Ryosuke tergelak.
"kalau begitu, aku pamit dulu ya. Maaf tidak bisa berlama-lama walaupun sebenarnya aku ingin,"
"uun, daijoubu.." akari tersenyum.
"sampai bertemu lagi, akari.." ryosuke memeluk akari sekali lagi dan kemudian pergi.
Akari tersenyum sambil memandangi ryosuke yang perlahan menghilang di depan matanya. 6 bulan itu rasanya bukan apapun jika akhirnya ia bisa merasakan kehangatan ryosuke selama beberapa menit. Akari memandangi sapu tangan ryosuke. Semoga mereka bertemu lagi secepatnya.

..end..

Published with Blogger-droid v2.0.6

Comments

Popular Posts