Timeline of Love

Chapter ?

In that soft light
I held your hands
Both of us together, we can
feel the pain even in wrong times
I still love you


ryosuke tidak menegurnya sama sekali sejak tiga hari yang lalu. sikapnya dingin pada akari. ketika diajak bicara pun ryosuke hanya mengangguk seperlunya. sedikit sekali kalimat yang diucapkannya, jika pun bersuara hanya ya atau tidak. akari sebenarnya tidak ambil pusing dengan keadaan itu, ia juga tidak begitu peduli ryosuke mau bicara atau tidak. tapi lama kelamaan akari resah. sekarang dia tidak melakukan pekerjaan rumah lagi. kamar ryosuke sudah rapi ketika laki-laki itu berangkat ke kantor. sarapan tidak disentuhnya, akari melihat tadi pagi ryosuke membuka lemari es dan menuang segelas susu kemudian berlalu pergi. pakaian kotor pun tak ada, akari berkali-kali memeriksa kamarnya tapi tak ada pakaian yang tertinggal. ryosuke pun sering pulang sangat larut, seperti kemarin malam. ryosuke pulang pukul satu pagi, tak berkata sepatah pun ketika melihat akari duduk di ruang tamu, menungguinya pulang. hati akari mencelos seketika. dia seolah tidak ada di rumah ini. akari menangkupkan keduatangannya di wajah. ingin menangis, tidak tahu kenapa ia ingin menangis. ingin saja. akari mendesah berat. apa kesalahan yang sudah ia lakukan sehingga ryosuke jadi begitu?
"daijoubu ka, akari chan?" tanya hiroyuki yang baru saja datang. mereka berdua berjanji bertemu di sebuah cafe kecil. kencan? bukan. hanya pertemuan biasa. tapi cukup rutin beberapa hari ini mengingat ryosuke sangat jarang di rumah.
tadi pagi saja saat akari minta izin, ryosuke hanya mengangguk samar sambil berlalu masuk ke mobil. Mouri-san sempat memberi tanda tanya pada akari namun akari hanya menggeleng. dia sendiri tidak mengerti.
akari menusuk-nusuk strawberry cheese-cakenya dengan malas. ia tersenyum, teringat jika ryosuke suka strawberry. akari belum terlalu kenal dengan ryosuke namun seiring waktu ia sudah tahu apa yang disukai ryosuke, apa yang tidak disukainya, apa kebiasaannya walaupun sifatnya terkadang menyebalkan tapi ryosuke cukup terbuka dengannya. namun belakangan ryosuke memang terlihat aneh.
"tadi mukamu ditekuk sekarang senyum sendiri, kau kenapa?" hiroyuki mengetuk pelan dahi akari.
"daijoubu, hiroyuki.. dai jou bu.." akari menyeruput ochanya.
hiroyuki, bukan siapa-siapa. hanya teman. mereka memang sering menghabiskan waktu bersama jika sempat tapi tidak ada hubungan yang terjalin di antara mereka selain teman. titik. hiroyuki pun sudah punya gadis yang ditaksirnya dan akari pernah bertemu dengan gadis itu. tapi jika difikir sejak akari bertemu hiroyuki saat itu juga sikap ryosuke berubah. ehhh? akari seperti menyadari sesuatu.
"ehhh? kau ini kenapa?" tanya hiroyuki lagi, "dan sepertinya dirimu tidak mendengarkanku bicara,"
akari tersenyum, "gomen~"
"daijoubu, sebenarnya ada apa? ceritakan saja. apa ini tentang tuanmu?" ledek hiroyuki.
"hmm.." akari mengangguk dan ia mulai bercerita ada apa. secara tidak sadar, seseorang tengah mengamati mereka berdua dari kejauhan.
ryosuke tengah dalam perjalanan menuju kantor rekan bisnisnya hingga ketika ia melewati sebuah cafe. cafe kecil tapi terlihat nyaman. cafe dimana strawberry cheese-cake kegemarannya dijual. ia mengedarkan pandangannya ke cafe itu dan menangkap sosok yang dikenalnya duduk di sudut cafe. sendiri. ryosuke menyuruh Mouri-san menghentikan mobil.
akari sendirian di cafe? ohh tadi pagi dia minta izin untuk ini. ryosuke melihat seorang pelayan menghampirinya dan meletakkan pesanan akari. strawberry cheese-cake. ryosuke tersenyum. mendadak tubuhnya seperti dialiri listrik.
"kenapa hanya memperhatikan dari sini, ryosuke? sepertinya akari sendiri saja," ujar Mouri-san tiba-tiba.
"hmm.." baru saja ryosuke akan membuka pintu mobil, ia melihat seseorang datang dan duduk di meja akari. raut wajah gadis itu nampak cerah ketika laki-laki itu datang. ryosuke mengurungkan niatnya.
ia kembali memperhatikan dalam diam. berkali-kali tangannya mengepal, wajahnya kembali kaku. ia melihat laki-laki itu menyentuh dahi akari. dadanya mendadak berat. bahkan ia belum pernah menyentuh akari seperti itu dan akari bisa-bisanya ia membiarkan hal itu terjadi.
"apa kita pergi saja? aku rasa kita ada pertemuan setelah ini," ujar Mouri-san. ia merasakan hal yang tidak baik akan terjadi setelah ini. ryosuke mendesah berat. mobilnya pun melaju meninggalkan jalanan itu.
» « » «
"arigatou, hiroyuki-san.." akari membungkuk, "maaf selalu merepotkanmu.."
"tidak apa," hiroyuki tersenyum, "kalau begitu aku pulang ya, dan semangat untuk yamada-san.."
akari mengangguk. hiroyuki menghidupkan mesin motornya, mengangguk sedikit pada akari dan kemudian memacu motornya keluar dari rumah ryosuke.
akari masuk ke rumah, ia menenteng sebuah kotak kue. strawberry cheese-cake untuk ryosuke, siapa tahu laki-laki itu sedikit lebih lumer hatinya.
terdengar suara derum mobil di luar. ryosuke sudah pulang. akari meletakkan sepotong cake-nya kemudian menuju ruang depan untuk menyambut ryosuke.
"okaerinasaaaai.." sambut akari riang ketika ryosuke masuk. namun laki-laki itu hanya menatap sekilas pada akari. wajahnya benar-benar tanpa ekspresi. akari hanya mengedip heran.
"ahhh!!! aku ada kejutan untukmu," akari mengeluarkan piring berisi strawberry cheese-cake di depan ryosuke. laki-laki itu sebenarnya terkejut. senang. tapi ia menyembunyikannya dibalik wajah tanpa ekspresinya.
"kau sangat suka kan?"
ryosuke menerima piring itu. akari tersenyum puas, usahanya berhasil.
namun senyum itu hilang ketika ryosuke menaruh piring itu di atas meja. tak menyentuhnya sedikitpun barang sepotong. akari terpaku.
ryosuke kembali berlalu, ia baru saja menaiki beberapa anak tangga ketika mendengar isakan pelan. ryosuke menoleh. akari sedang menoleh ke arah lain sembari menghapus air matanya. ryosuke terkejut.
"kau kenapa sih? aku tidak mengerti kenapa kau berubah seperti ini," akari bersuara.
ryosuke diam.
"jika aku salah setidaknya kau beritahu aku, bukan malah mendiamkanku seperti ini. bersikap tak acuh padaku." akari menatap ryosuke. bukan tatapan marah tapi tatapan kecewa. ryosuke yang melihat itu menjadi merasa bersalah. ia tidak sadar jika sikapnya selama ini telah melukai perasaan akari. ia turun perlahan. akari mencoba berhenti menangis tapi tidak bisa.
"bodoh sekali aku menangis seperti ini," tapi airmatanya terus mengalir.
"akari..aku.." ryosuke tidak tahu harus bagaimana menghadapi gadis yang sedang menangis. apalagi itu akari. ia menyukai akari tapi ia membuat akari menangis.
"aku membawakanmu strawberry cheese-cake ini dengan harapan kau bisa sedikit lebih lunak atau setidaknya tersenyum,"
akari merindukan senyum ryosuke.
"tapi aku salah," airmatanya terus mengalir, "bahkan kau tidak ingin memakannya walau sepotong,"
ryosuke menatap piring cake itu. menyesal mengapa tidak memakannya tadi, ia lebih memilih untuk mengikuti egonya yang berlebihan daripada membuat akari senang.
"akari, berhenti menangis. aku tidak bermaksud," kini ryosuke nampak bingung. egonya lumer perlahan ketika melihat akari terus menangis.
"aku tidak tahu apa yang salah, tidak mengerti bagaimana harus bersikap padamu tapi.." akari kembali menangis sejadinya. ia lelah menyimpan tangisnya dalam hati dan entah kenapa ia justru menangis di depan ryosuke dengan cara seperti ini. ia ingin ryosuke tahu bahwa ia resah memikirkan ryosuke yang cuek padanya. ia ingin ryosuke tahu bahwa ia tidak suka jika tidak mencuci pakaian ryosuke, membereskan kamar ryosuke, merasakan bau ryosuke, mendengar suara ryosuke, melihat senyum ryosuke. ia ingin ryosuke tahu bahwa ia perlahan memiliki perasaan khusus pada ryosuke. bahwa ia menyukainya.
melihat akari yang menangis semakin jadi, membuat ryosuke ingin memeluk gadis itu. semua ini salahnya, dan sesalnya karena telah membuat akari menangis karenanya.
ryosuke meraih tangan akari dan perlahan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
"maaf,"
ryosuke membelai pelan rambut akari.
akari diam. setengah kaget karena ryosuke memeluknya.
"tapi.." akari melanjutkan kalimatnya,"jika memang aku melakukan hal yang tidak kau sukai, tolong katakan karena aku tidak ingin kau bersikap dingin lagi, ryosuke.. aku minta maaf,"
"sshh, bukan kau yang bersalah. mungkin aku terlalu egois padamu," ungkap ryosuke.
akari merasa jantung ryosuke berdegup kencang. ia pun sebenarnya begitu. apakah ryosuke juga...? cepat-cepat ia menghapus fikiran aneh itu, bagaimanapun statusnya hanyalah asisten rumah tangga.
"dan kesalahanmu sepertinya sudah aku beritahu,"
"ng?" akari tertegun
ryosuke melepas pelukannya dan menatap akari. ryosuke merasakan darahnya berdesir ketika melihat akari. ia mencoba mengontrol perasaannya.
"ne? sudahkah?"
"un," ryosuke mengambil piring strawberry cheese-cakenya dan menyuap sepotong, "dua kali.."
"dua?"
"ini yang ketiga?"
"tiga?"
tingkah akari membuat ryosuke tergelak. "ku kira kau gadis keras kepala dan pemberontak rupanya kau bisa jadi tidak sensitif juga ya," ia kembali menyuap sepotong lagi.
"kau! seenaknya saja bicara tentangku, kau belum tahu apapun,," akari bersedekap. ia tidak benar-benar marah. akari diam-diam menggantung senyumnya.
"ngomong-ngomong tadi kau berada di cafe ya?" tanya ryosuke. ia sudah lebih santai. sedikit.
akari mengangguk, "menjumpai seorang teman dan membeli itu untukmu," akari menunjuk piring ryosuke yang sudah kosong.
"teman ya?" ryosuke mengangguk. teman?
"kenapa? kau cemburu?" ledek akari. tidak sepenuhnya meledek hanya saja kalimat itu terlontar begitu saja.
"aku? cemburu padamu?" ryosuke tergelak. ya aku sangat cemburu,akari. "tidak mungkin, kau hanya asisten rumah tangga." ryosuke memasang senyum sinisnya untuk menutupi perasaannya.
akari memutar matanya. terserahlah.
"hmm, jadi apa salahku? sudah dua, eh? tiga kali, aku lakukan padamu.. sepertinya semua pekerjaan rumah sudah aku selesaikan dengan baik, apa lagi?" akari terlihat berfikir.
ryosuke melepas dasinya, kemudian jasnya sembari menunggu akari selesai berfikir.
"tidak ada! jangan-jangan kau hanya mempermainkanku?" sungut akari.
ryosuke kembali menaiki tangga,
"hey,kau! diajak bicara malah meninggalkanku, tidak sopan!" protes akari. ryosuke sudah kembali ke sikap awalnya.
"kau mau tahu apa salahmu?" tanya ryosuke. ia melempar jasnya ke arah akari dan ditangkap gadis itu dengan sigap.
akari mengangguk.
ryosuke tersenyum sinis.
"aku tidak suka melihat...
dan tiba-tiba ponsel ryosuke berbunyi.
"ehhhhh????"
ryosuke mengangkat telponnya dan menyuruh akari menunggu.
"ryosuke selesaikan dulu ka.."
ryosuke masuk ke kamarnya.
"hyaaaa..." akari frustasi tapi ia tersenyum lega. apapun yang akan dikatakan ryosuke setidaknya suasana kembali mencair. syukurlah. akari menatap senang jas ryosuke yang sedang dipegangnya dan melangkah ringan menuju paviliun belakang.
ryosuke berada di dalam kamar. sebenarnya ia tidak benar-benar menerima panggilan hanya saja tiba-tiba alarm ponselnya berbunyi di saat yang tepat. ryosuke tadi mendadak sangat gugup menghadapi akari. perasaannya semakin besar pada gadis ini dan sepertinya akari pun mulai merasa hal yang sama. ryosuke tersenyum. tadi ia juga memeluk akari. refleks. melihat gadis itu menangis rasanya ingin memukul dirinya sendiri. begitu bodohnya. tapi setidaknya sekarang ia bisa lega.
tinggal satu hal lagi yang harus aku lakukan agar akari yakin dengan perasaannya dan satu hal yang harus aku ingatkan untuknya. alasan mengapa ia menyukai akari.
ryosuke lagi-lagi tersenyum.
dan perasaan tumbuh seiring berjalannya waktu, bukan?

Published with Blogger-droid v2.0.6

Comments

Popular Posts