Timeline of Love

Chapter ?

One look from you girl and it's too
hard to get by
But excuse me girl, I've been watchin' you
All night' that's right, I'd like to
Take this night over
What I'm tryin' to say is you should be mine

Suara dentuman musik memenuhi sebuah klub malam eksklusif. Ekslusif karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa masuk. Pejabat, pengusaha kaya dan beberapa juga ternyata mafia. Ryosuke ada disana malam itu, ia sedang sibuk berdiskusi dengan salah satu rekan bisnisnya. Sayangnya ia tidak fokus, dia hanya memperhatikan satu sudut. Akari. Gadis itu ikut dengannya dan sekarang sedang duduk dengan bosan menungguinya. Sesekali terlihat dia menyesap orange juice. Ryosuke tergelak melihat tingkah lugu gadis itu.
"maaf, yamada-san. Ada yang mengganggu konsentrasi anda?" tanya rekannya.
"ah? Tidak ada, aku hanya.. Sampai mana pembahasan kita tadi?" dan diskusi pun kembali berlanjut.
Haa~ apa yang aku lakukan disini? Dasar ryosuke bodoh! Mengajakku ke klub malam seperti ini, dia fikir aku apa, batin Akari. Ia menyesap orange juicenya lagi. Satu-satunya minuman yang mungkin aman dikonsumsi karena tidak mengandung alkohol. Akari benci alkohol. Sedari tadi sudah banyak pelayan yang menawarinya wine, wiski atau apapun namanya, tapi ia menolak dengan halus. Entah bagaimana dengan ryosuke, apa dia sudah mabuk sekarang. Yang pasti akan sangat menyusahkan jika tuan muda itu mabuk.
Akari gusar sendiri. Sudah satu jam lebih dia menunggu dan ryosuke belum juga keluar dari ruangan. Entah diskusi macam apa yang dilakukan di tempat seperti ini. Akari curiga apakah ryosuke tergabung dalam sebuah sindikat atau jangan-jangan dia seorang mafia.
Oh, Tuhan! Semoga itu hanya fikiran bodohku saja, sejauh yang terlihat ryosuke bersih..Akari menepuk dahinya sendiri.
"sendiri saja?" seseorang tiba-tiba menghampirinya
"aku sedang menunggu seseorang," jawab akari ramah. Ia bergeser sedikit, menjaga jarak.
"orang juice? Di klub seperti ini kau minum orange juice?" laki-laki itu setengah tertawa.
"aku tidak suka alkohol," akari terlihat tidak nyaman tapi ia tetap bersikap wajar.
"wine? Aku rasa itu tidak terlalu memabukkan, tentu saja mabuk jika terlalu banyak diminum."
Akari hanya tersenyum kemudian ia kembali mengedarkan pandangannya, berharap sekali ryosuke keluar dan membawanya pergi darisini.
"hiroyuki, namaku ishikawa hiroyuki." laki-laki itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya.
"mizunashi akari," balas akari.
Ishikawa hiroyuki, cukup tampan, senyumnya manis dan sangat ramah, setidaknya itu yang ditangkap oleh akari untuk saat ini.
"jadi mizunashi-san, siapa yang kau tunggu?" tanya hiroyuki
"seorang teman yang ada di ruangan itu," jawab akari singkat.
"sokka, pasti dia orang yang penting jika bisa ada didalam sana."
Hiroyuki menyesap wine-nya.
"penting? Mungkin bagi sebagian orang tapi tidak untukku," gumam akari.
"maaf?"
"eh? Tidak ada," akari tersenyum, "kau sendiri bagaimana, ishikawa-san?"
"aku? Panggil saja hiroyuki," ia tersenyum, "aku sedang melepas penat, refreshing dari tugas kantor."
Akari mengangguk.
Sejurus kemudian pintu ruangan ryosuke berdiskusi terbuka, tampak beberapa orang keluar dan ryosuke ada di belakang.
"sepertinya temanmu sudah selesai? Yang mana?" tanya hiroyuki
"itu yang di belakang sekali," tunjuk akari. Matanya beradu pandang denan ryosuke dan tatapan ryosuke agak...tidak senang? Akari memicingkan matanya. Kenapa dia menatapku seperti itu?
"yamada ryosuke-san?"
"kau tahu?" akari seketika menoleh pada hiroyuki
"tentu, tapi aku hanya tahu nama dan orangnya tidak kenal.. Pengusaha muda yang sukses, tampan, baik..
Seketika akari tertegun mendengar kata baik. Yamada ryosuke? Baik? Akari mendesis sinis.
"aku kira dia tidak suka ke klub malam, rupanya.. Ngomong-ngomong kau siapanya? Tunangan? Calon istri?"
Akari nyaris tersedak mendengar pertanyaan hiroyuki. Tunangan ataupun calon istri aku tidak berharap satu pun.
"asisten rumah tangga," jawab akari mantap. Sesuai kenyataan.
Hiroyuki berkedip tak percaya. "kau? Asisten rumah tangga?" tawa hiroyuki pecah.
"ya ya ya, asisten rumah tangga.. Kau pandai melucu, mizunashi san.."
"aku tidak bercanda," akari menggigit sedotannya. Gusar dengan tatapan ryosuke beberapa saat yang lalu dan sekarang orang itu entah hilang kemana. Sepertinya tadi ia duduk di meja bartender dan kemudian? Ikut berdansa di bawah sana? Akari menjulurkan kepalanya melihat ke lantai dansa. Tak terlihat sosok ryosuke karena disana remang dan semua orang nampak sama.
"jadi kau serius?" tanya hiroyuki lagi
Akari mengangguk.
"entah apa yang ada di pikiran yamada-san menjadikanmu asisten rumah tangganya," hiroyuki kembali menyesap wine-nya.
Akari memperhatikan hiroyuki. Sepertinya dia bukan orang jahat, tidak ada salahnya berteman. Kemudian akari dan hiroyuki larut dalam pembicaraan seputar pekerjaan dan sebagainya.
Ryosuke menenggak gelas ke enam alkoholnya. Jenis yang memabukkan. Tadi sewaktu keluar dari ruangan ia melihat akari bersama seseorang dan mereka terlihat akrab. Siapa laki-laki itu? Apa hubungannya dengan akari? Ryosuke menenggak lagi alkoholnya. Entah kenapa ia merasa buruk. Perasaannya jadi tidak nyaman dan ia seperti terbakar...cemburu? Apapun itu dia tidak senang melihat akari begitu akrab dengan orang lain.
Seorang gadis dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya mendekati ryosuke.
"frustasi?"
Ryosuke tidak mengindahkan. Gadis itu mencoba memeluknya tapi ryosuke menolak. Ia masih fokus dengan gelas alkoholnya. Yang ke sembilan kali ini.
"kau setidaknya harus meregangkan otot-ototmu, mau ikut aku kesana?" gadis itu mengajak ryosuke ke lantai dansa. Gelas ke sepuluh dan ryosuke mengikuti gadis itu.
Di bawah sinar lampu gemerlap, di kerumunan orang-orang yang menari, ryosuke yang mabuk mengikuti hentakan musik yang menggema. Kesadarannya di ambang batas sekarang.
Akari tak henti melihat jam di tangannya. Pukul satu pagi dan ryosuke belum juga menghampirinya. Kemana orang itu? Akari gusar.
"kau tidak pulang?" tanya hiroyuki. Laki-laki itu berbaik hati menemaninya.
"aku menunggu yamada-san, tidak mungkin aku pulang tanpanya.."
Hiroyuki hanya mengangguk.
Sesaat kemudian terdengar keributan dikerumunan sana. Akari berdiri mendekat untuk melihat ada apa.
Ryosuke? Apa yang? Mata akari melebar terkejut. Ia segera menuruni tangga untuk mendekat diikuti hiroyuki.
Ryosuke sepertinya terlibat sebuah keributan.
"yamada-san, apa yang kau lakukan?" tanya akari setengah berteriak.
Ryosuke tidak mengindahkan, ia terlibat perkelahian dengan salah satu pengunjung. Dan mereka pun saling pukul.
Akari mendekat, mencoba melerai.
"yamada ryosuke, kau!" akari menampar pipi ryosuke untuk mencoba menyadarkan.
"kau bodoh atau apa?"
Perhatian semua orang tertuju pada ryosuke dan akari, juga orang yang terlibat perkelahian dengan ryosuke.
Hiroyuki diam tapi ia berada di belakang akari.
"kau pikir kau siapa membuat keributan seperti ini?! Terserah kau mau berbuat apa tapi jangan berkelahi!" akari sedikit tersulut emosi. Ia sudah lama menunggu dan sekarang direpotkan seperti ini.
Ryosuke diam. Pipinya berdenyut karena tamparan akari.
"lihat keadaanmu! Kau mabuk dan sekarang wajahmu lebam seperti itu! Kenapa kau selalu saja menyusahkanku?!" airmata akari mengalir. Ia tidak mengerti mengapa ia berkata seperti itu. Lelah? Iya, dia lelah dengan sikap ryosuke yang seenaknya. Lelah dengan tatapan ryosuke yang mengintimdasi. Lelah dengan perasaan yang sedang ditanggungnya terhadap ryosuke, yang bahkan ia sendiri tidak mengerti perasaan apa ini.
Ryosuke terdiam mendengar penuturan akari. Jadi selama ini aku menyusahkannya?
"mizunashi-san," hiroyuki mencoba menenangkan.
Akari tergugu. "terserah apa maumu, aku sudah tidak peduli lagi." akari berbalik meninggalkan ryosuke. Harusnya ia pulang saja daritadi.
Ryosuke, dengan sempoyongan berdiri dan menyusul akari. Ia meneriakkan nama akari tapi gadis itu tak sedikit pun menoleh. Tiba-tiba pandangannya mengabur dan kemudian gelap. Ryosuke pingsan.
Ryosuke membuka perlahan matanya. Kepala sakit, perutnya sedikit mual dan buruknya lagi ia terlalu lemah untuk bergerak. Dia sudah ada di dalam mobil bersama Mouri-san. Mereka sedang di perjalanan pulang.
"dimana dia?" tanya ryosuke.
"mizunashi-san? Dia naik taksi setelah menolongmu pingsan tadi,"
"taksi? Kenapa dia tidak naik bersama kita?"
"sepertinya dia sedang tidak ingin dekat denganmu," ujar Mouri-san. Kenyataan itu membuat ryosuke sedikit terkejut. Apa yang sudah ia lakukan?
Akari sampai di rumah ryosuke. Ia menghela nafas.
"kau akan baik-baik saja kan?" tanya hiroyuki. Ia ikut mengantar akari. Akari sempat menolak tawaran hiroyuki tapi ia bersikeras untuk mengantar akari dengan alasan sudah larut malam. Seandainya saja ryosuke sebaik hiroyuki, eh? Akari tiba-tiba tersentak dengan pikirannya sendiri, ryosuke tidak akan pernah sebaik ini padanya.
"un, sebaiknya kau juga pulang dan beristirahat, hiroyuki. Maaf sudah merepotkanmu," akari membungkuk sebagai tanda terima kasih.
"tidak apa-apa lagipula tidak baik kau pulang sendirian,"
Mobil ryosuke masuk ke pelataran halaman. Tak lama dia keluar dari mobil dibantu Mouri-san. Bahkan ia tak sanggup menopang tubuhnya sendiri karena mabuk.
Ryosuke menatap hiroyuki dan akari bergantian. Ia kembali tersulut rasa tidak suka. Ryosuke menarik nafas, mencoba tenang.
Akari memandanginya heran. Apa yang salah dengan ryosuke hari ini? Mengapa ia begitu tidak senang melihat hiroyuki? Terserahlah.
"aku pamit pulang, mizunashi-san." pamit hiroyuki. Kemudian ia tersenyum pada Mouri-san dan ryosuke. Ryosuke balas tersenyum tapi sinis. Cepat-cepat ia masuk ke dalam rumah.
"akariii.." teriaknya kemudian.
Akari memutar bola matanya. "apalagi kali ini?" umpatnya.
Akari berada di kamar ryosuke. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, ia kembali harus membantu ryosuke.
"haa~ aku tidak mengerti apa yang ada fikiranmu, berkelahi? Lihat keadaanmu, wajahmu biru seperti ini. Kau kira keren berkelahi dan membuat keributan?!" akari mengoceh sembari membersihkan luka ryosuke dengan cairan antiseptik, mengolesinya krim pereda rasa nyeri dan menutupnya dengan perban.
"kau sudah dewasa, jangan bertindak seenaknya. Berapa gelas yang kau minum sampai membuatmu hilang sadar?" akari berdiri dan menaruh kotak obat itu di atas lemari.
Ryosuke tersenyum. Akari persis seperti seorang ibu sekarang.
"apa yang kau senyumkan? Tidak ada yang lucu disini," akari melipat tangannya di depan dada.
"aku heran denganmu, sebenarnya kau kenapa?"
Ryosuke diam. Dia sendiri tidak tahu ia mengapa menjadi kalut dan bertindak seperti tadi.
"ini sudah ku buatkan sup hangat, kau pasti mual. Untung saja kau tidak muntah di depanku, jika iya aku tidak mau mengurusmu seperti ini." akari duduk di pinggir tempat tidur ryosuke. Meniup sup yang ada di sendok dan menyodorkannya pad ryosuke. Wajahnya memerah ketika melakukan itu. Entah mengapa ia menjadi lunak seperti ini padahal beberapa saat yang lalu ia marah bukan main.
Ryosuke berdebar. Kupu-kupu menari di perutnya. Ini jarak terdekatnya dengan akari dalam kurun waktu selama ini.
"apa yang kau fikirkan? Cepat makan, aku lelah." ujar akari menutupi gugupnya. Ryosuke tergelak.
"eh?"
Dan kemudian ryosuke menghirup sup dari sendok akari. Rasa lega memenuhi perutnya.
"sepertinya kau sudah baik-baik saja, ini makan sendiri. Aku mau tidur." akari meletakkan mangkuk sup itu di meja kanopi di sebelah kanan ryosuke.
"tunggu!" ryosuke menarik lengan akari yang baru saja beranjak dari tempat tidurnya. Membuat gadis itu sedikit terhempas dan membuat jarak mereka semakin dekat.
"sepertinya aku harus mabuk dan berkelahi dulu supaya kau bisa bersikap manis seperti ini," bisik ryosuke. Wajah akari panas. Ryosuke benar-benar berbisik di telinganya dan itu suaranya sangat...seksi?
Oh baiklah akari sebaiknya jernihkan fikiranmu! Batinnya.
Ryosuke masih memegang erat lengan akari.
"aku tidak akan memperdulikanmu jika hal seperti ini terjadi lagi," sanggah akari. "kau tahu, kau merepotkan." akari menatap ryosuke dan sesaat kemudian ia menyesali. Menatap ryosuke adalah sebuah kesalahan. Akari seperti ditarik masuk kesana, membuat pipinya semakin merah. Sial! umpatnya.
"yamada-san, bisa lepaskan aku? Ini sudah malam dan aku butuh istirahat untuk bekerja besok."
Ryosuke tersadar dan kemudian ia melepas lengan akari.
"terima kasih," akari beranjak keluar dari kamar ryosuke.
"satu lagi, akari."
Akari menoleh.
"aku tidak suka melihatmu dengan laki-laki lain, oyasumi.." ryosuke menyelimuti dirinya sendiri dan kemudian memejamkan mata.
"ha?" akari tertegun. Apa maksudnya?
Akari keluar dari kamar ryosuke. Hari yang lelah dan ryosuke sungguh merepotkan. Pernyataan ryosuke barusan aneh dan aaakkhhh! Terserahlah, aku mau tidur.
Dibalik selimutnya ryosuke tersenyum. Tak ada yang boleh memilikimu selain aku.
Published with Blogger-droid v2.0.6

Comments

Popular Posts