Timeline of Love
Chapter ?
Dan kamu hanya perlu terima
dan tak harus memahami
dan tak harus berfikir
hanya perlu mengerti
aku bernafas untukmu
jadi tetaplah disini
dan mulai menerimaku
dan tak harus berfikir
hanya perlu mengerti
aku bernafas untukmu
jadi tetaplah disini
dan mulai menerimaku
"haa~~ membosankan.." keluh akari seraya membetulkan letak topinya.
"oi, akari! Jangan diam saja," teriak ryosuke. Ia berjarak beberapa meter dari akari, sibuk memainkan layangannya.
Akari hanya melirik sinis. "main saja sendiri,"
Aku akan kesana jika kau sendirian,
Ada seorang lagi di dekat ryosuke dan itu membuat akari sedikit tidak suka.
"oi, akari! Jangan diam saja," teriak ryosuke. Ia berjarak beberapa meter dari akari, sibuk memainkan layangannya.
Akari hanya melirik sinis. "main saja sendiri,"
Aku akan kesana jika kau sendirian,
Ada seorang lagi di dekat ryosuke dan itu membuat akari sedikit tidak suka.
Flashback
Akari tengah membersihkan kamarnya ketika ryosuke menyelinap masuk.
"ketuk pintu dulu, sembarangan saja masuk kamar orang.."
"wah! Ini rumahku jadi aku berhak mengetuk atau tidak,"
Akari memutar matanya. Tidak ada gunanya bicara pada ryosuke.
"aku mau mengajakmu liburan," ujar ryosuke tiba-tiba, kalimat itu membuat akari otomatis menoleh padanya.
"liburan?"
Anak ini sedang tidak sakit kan ya?
"dalam rangka?"
"tidak ada, hanya liburan biasa."
"ohh.." akari kembali membereskan tempat tidurnya. Ia sedikit tidak tertarik pada rencana liburan ryosuke.
"oi,kau ini.. Aku berbaik hati mengajakmu kau malah kelihatan tidak mau,"
"memang,"
"ehhhh??? Kau harus ikut!" ujar ryosuke sedikit memaksa.
Akari mengerutkan dahi. Tidak pernah ryosuke memaksanya sampai begini. Ia mengulum senyumnya.
"haa, bagaimana ya aku sedang tidak ingin kemana-mana.." ujar akari.
"aku tidak mau tahu, besok kau harus sudah siap." dan ryosuke meninggalkan kamar akari.
"ketuk pintu dulu, sembarangan saja masuk kamar orang.."
"wah! Ini rumahku jadi aku berhak mengetuk atau tidak,"
Akari memutar matanya. Tidak ada gunanya bicara pada ryosuke.
"aku mau mengajakmu liburan," ujar ryosuke tiba-tiba, kalimat itu membuat akari otomatis menoleh padanya.
"liburan?"
Anak ini sedang tidak sakit kan ya?
"dalam rangka?"
"tidak ada, hanya liburan biasa."
"ohh.." akari kembali membereskan tempat tidurnya. Ia sedikit tidak tertarik pada rencana liburan ryosuke.
"oi,kau ini.. Aku berbaik hati mengajakmu kau malah kelihatan tidak mau,"
"memang,"
"ehhhh??? Kau harus ikut!" ujar ryosuke sedikit memaksa.
Akari mengerutkan dahi. Tidak pernah ryosuke memaksanya sampai begini. Ia mengulum senyumnya.
"haa, bagaimana ya aku sedang tidak ingin kemana-mana.." ujar akari.
"aku tidak mau tahu, besok kau harus sudah siap." dan ryosuke meninggalkan kamar akari.
» « » «
"akari, aku tunggu di bawah.." teriak ryosuke dari bawah kemudian ia keluar menuju mobilnya. Mouri-san tidak ikut kali ini.
Tak berapa lama akari keluar. Pakaiannya amat sangat santai. Tanktop yang dipadu kemeja, celana jeans sedikit di atas lutut dan sendal jepit.
"kau tidak salah kostum kan, akari?" tanya ryosuke.
"tenang, aku bawa semua yang dibutuhkan orang ketika liburan di pantai,"
Akari membuka pintu depan mobil.
"kau duduk di belakang," ujar ryosuke
"eh?" akari urung masuk.
Ryosuke menunjuk ke arah lain. Seseorang dengan pakaian yang benar-benar pantai melambai kepada mereka. Ryosuke tersenyum pada akari. Senyum aneh yang tidak dimengerti oleh akari.
"hai, yamachan.." gadis itu menyapa ryosuke. Akari menaikkan alisnya. Sikap ryosuke manis pada gadis itu, bahkan pada dirinya saja tidak pernah."Hai, anou? Maaf," gadis itu bermaksud menyapa akari.
"mizunashi akari, panggil saja aku akari.." akari menyodorkan tangannya dan sedikit memaksa tersenyum.
"panggil saja aku akane.." kemudian gadis itu masuk ke mobil, duduk di kursi depan.
"ayo, akari chan.. Kenapa bengong?"
"ahh? Maaf,"
Akari tidak bisa berkata apapun. Ia terkejut karena ryosuke mengajak orang lain juga dalam liburannya ini. Dia bukan cemburu hanya saja kenapa ryosuke tidak bilang sejak awal jika ada orang lain. Tahu begini ia tidak akan ikut atau mungkin ia juga bisa mengajak orang lain supaya tidak jadi obat nyamuk, hiroyuki misalnya. Dan akari hanya diam sebal selama perjalanan.
Ryosuke memperhatikan ekspresi akari dari sudut matanya. Ryosuke tersenyum, tahu jika akari sedang kesal. Rencananya berhasil.
Tak berapa lama akari keluar. Pakaiannya amat sangat santai. Tanktop yang dipadu kemeja, celana jeans sedikit di atas lutut dan sendal jepit.
"kau tidak salah kostum kan, akari?" tanya ryosuke.
"tenang, aku bawa semua yang dibutuhkan orang ketika liburan di pantai,"
Akari membuka pintu depan mobil.
"kau duduk di belakang," ujar ryosuke
"eh?" akari urung masuk.
Ryosuke menunjuk ke arah lain. Seseorang dengan pakaian yang benar-benar pantai melambai kepada mereka. Ryosuke tersenyum pada akari. Senyum aneh yang tidak dimengerti oleh akari.
"hai, yamachan.." gadis itu menyapa ryosuke. Akari menaikkan alisnya. Sikap ryosuke manis pada gadis itu, bahkan pada dirinya saja tidak pernah."Hai, anou? Maaf," gadis itu bermaksud menyapa akari.
"mizunashi akari, panggil saja aku akari.." akari menyodorkan tangannya dan sedikit memaksa tersenyum.
"panggil saja aku akane.." kemudian gadis itu masuk ke mobil, duduk di kursi depan.
"ayo, akari chan.. Kenapa bengong?"
"ahh? Maaf,"
Akari tidak bisa berkata apapun. Ia terkejut karena ryosuke mengajak orang lain juga dalam liburannya ini. Dia bukan cemburu hanya saja kenapa ryosuke tidak bilang sejak awal jika ada orang lain. Tahu begini ia tidak akan ikut atau mungkin ia juga bisa mengajak orang lain supaya tidak jadi obat nyamuk, hiroyuki misalnya. Dan akari hanya diam sebal selama perjalanan.
Ryosuke memperhatikan ekspresi akari dari sudut matanya. Ryosuke tersenyum, tahu jika akari sedang kesal. Rencananya berhasil.
End of Flashback
"daijoubu ka..akari chan? Kau tidak bersemangat, ini musim panas.. Ayo bersemangat!" akane duduk di dekatnya. Berusaha mengajaknya bicara. Akari tersenyum, ia tahu akane gadis baik tapi ryosuke sudah merusak moodnya untuk menikmati musim panas di pantai yang menyenangkan, itulah yang dikatakan kata akane.
Di saat yang bersamaan, di pantai itu sedang diadakan festival layang-layang. Pesertanya banyak, dari remaja hingga orang dewasa. Jenis layangan yang beragam, dari yang berukuran besar hingga bentuk yang unik. Cuaca pun tidak terlalu panas walaupun itu musim panas. Cerah, tapi sejuk dan berangin. Akari mungkin bisa saja tidur di atas pasir saat itu juga jika tidak banyak orang disana.
"oi, akane.. Bisa pegangkan layanganku sebentar?" panggil ryosuke
Gadis itu mengangguk dan beranjak dari sebelah akari. Akari pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu karena tidak ada yang bisa ia lakukan.
"mau kemana?" ryosuke menahan tangan akari. Gadis itu menoleh, melihat ke arah tangan ryosuke yang menahannya.
"kembali ke mobil, tidur. Aku rasa tidak ada yang bisa ku lakukan, ya kan? Dan sepertinya tanganmu terlalu lama memegang tanganku," ujar akari dingin.
Ryosuke melepas tangannya, "maaf.. Aku rasa kau bisa menikmati festivalnya," saran ryosuke. Entah kenapa ia jadi canggung.
"sudah, festival yang menyenangkan tapi aku tidak begitu suka, kalau kau mau kau bisa kembali pada akane-mu sekarang," akari mengalihkan pandangannya pada akane. Gadis itu nampak melambai pada mereka sambil tersenyum dan sedikit kepayahan karena layangan yang dikendalikannya cukup besar untuk tubuhnya yang mungil.
"kau tidak ingin akane-mu terseret layang-layang kan?" akari kembali menyeret langkahnya menuju mobil.
"kau kenapa? Aku mengajakmu liburan untuk bersenang-senang," pancing ryosuke.
"aku tidak kenapa-napa, cepat akane-mu sudah menunggu,"
"kau cemburu, akari. Kau cemburu pada akane, iya kan?" teriak ryosuke. Laki-laki itu sudah merasa sejak awal jika kehadiran akane sedikit membuat akari sebal.
"cemburu?" akari senyum sinis, "kenapa harus? Kau bukan siapa-siapa,"
"lalu kenapa kau daritadi diam, terlihat sebal dan selalu bilang akane-mu akane-mu, akane hanya seorang teman seperti hiroyuki-mu,"
mereka mulai bertengkar kecil.
"entahlah, ryosuke."
Akari sadar jika ia memang kesal dengan kehadiran akane tapi cemburu? Apa iya ia cemburu? Jika ia cemburu itu artinya ia suka pada ryosuke? Akari tertawa.
"kenapa tertawa?"
Akari menggeleng. "tidak," kemudian ia melangkah pergi.
Ryosuke menatap punggung akari yang mulai menjauh. Kau tahu, akari, kau cemburu. Ryosuke sumringah.
"oi, akane.. Bisa pegangkan layanganku sebentar?" panggil ryosuke
Gadis itu mengangguk dan beranjak dari sebelah akari. Akari pun memutuskan untuk meninggalkan tempat itu karena tidak ada yang bisa ia lakukan.
"mau kemana?" ryosuke menahan tangan akari. Gadis itu menoleh, melihat ke arah tangan ryosuke yang menahannya.
"kembali ke mobil, tidur. Aku rasa tidak ada yang bisa ku lakukan, ya kan? Dan sepertinya tanganmu terlalu lama memegang tanganku," ujar akari dingin.
Ryosuke melepas tangannya, "maaf.. Aku rasa kau bisa menikmati festivalnya," saran ryosuke. Entah kenapa ia jadi canggung.
"sudah, festival yang menyenangkan tapi aku tidak begitu suka, kalau kau mau kau bisa kembali pada akane-mu sekarang," akari mengalihkan pandangannya pada akane. Gadis itu nampak melambai pada mereka sambil tersenyum dan sedikit kepayahan karena layangan yang dikendalikannya cukup besar untuk tubuhnya yang mungil.
"kau tidak ingin akane-mu terseret layang-layang kan?" akari kembali menyeret langkahnya menuju mobil.
"kau kenapa? Aku mengajakmu liburan untuk bersenang-senang," pancing ryosuke.
"aku tidak kenapa-napa, cepat akane-mu sudah menunggu,"
"kau cemburu, akari. Kau cemburu pada akane, iya kan?" teriak ryosuke. Laki-laki itu sudah merasa sejak awal jika kehadiran akane sedikit membuat akari sebal.
"cemburu?" akari senyum sinis, "kenapa harus? Kau bukan siapa-siapa,"
"lalu kenapa kau daritadi diam, terlihat sebal dan selalu bilang akane-mu akane-mu, akane hanya seorang teman seperti hiroyuki-mu,"
mereka mulai bertengkar kecil.
"entahlah, ryosuke."
Akari sadar jika ia memang kesal dengan kehadiran akane tapi cemburu? Apa iya ia cemburu? Jika ia cemburu itu artinya ia suka pada ryosuke? Akari tertawa.
"kenapa tertawa?"
Akari menggeleng. "tidak," kemudian ia melangkah pergi.
Ryosuke menatap punggung akari yang mulai menjauh. Kau tahu, akari, kau cemburu. Ryosuke sumringah.
Mereka sedang menikmati sore di pantai itu. Setelah siangnya makan siang bersama -akari sangat diam hari ini-, mereka benar-benar menghabiskan waktu di pantai. Malamnya akan diadakan festival api unggun. Satu hal yang disukai akari jika ada festival api unggun adalah fairy-light. Akan banyak lampu-lampu kecil berwarna-warni di pantai ini, membuat suasana pantai yang ramai dengan riuh rendah suara musik dan debur ombak yang beradu dengan karang semakin indah. Setidaknya ada yang membuat mood akari membaik.
Acara pun dimulai. Pengunjung mulai merapat ke arah api unggun. Begitu pun akari, ryosuke dan akane. Salah seorang pemusik mulai mengalunkan alat musiknya. Lagu jazz yang membuat suasana cozy. Membuat para pengunjung larut dalam gerakan pelan tubuh mereka masing-masing.
Acara pun dimulai. Pengunjung mulai merapat ke arah api unggun. Begitu pun akari, ryosuke dan akane. Salah seorang pemusik mulai mengalunkan alat musiknya. Lagu jazz yang membuat suasana cozy. Membuat para pengunjung larut dalam gerakan pelan tubuh mereka masing-masing.
Akari memutuskan untuk menyisiri tepi pantai. Menikmati keindahan fairy-light yang digantung di sepanjang pantai oleh penyelenggara festival.
"Seperti memandang bintang di langit," sebuah suara memecah lamunannya.
"akane?"
"kau sangat tahu suasana indah ya, akari chan.."
Akari hanya tersenyum. Akane menyejajarinya.
"ryosuke laki-laki baik," akane memulai pembicaraan. Permulaan yang membuat akari menoleh otomatis ke arah ryosuke. Laki-laki itu tengah duduk bercengkrama dengan pengunjung yang lain. Tipe orang yang cukup mudah dekat dengan orang.
"walau kadang ia menyebalkan," akane tergelak.
Dan gadis ini sepertinya sangat mengenal ryosuke.
"kau tahu akari, aku selalu menyukai yamachan.."
"hm?" akari menatap akane. Sebuah pernyataan? Untuk apa akane memberitahunya? Tapi akari hanya diam. Hatinya merasa gelisah saat itu juga.
"kenapa tidak kau sampaikan saja? Bukankah akan sangat lega jika menyampaikan perasaan pada orang yang disukai?" suara akari bergetar. Entah apa ia bisa melakukan apa yang ia katakan.
"tidak mungkin," akane berjongkok. Mengambil sebatang kayu dan menuliskan sesuatu di atas pasir basah tapi sesaat kemudian jilatan ombak menghapusnya.
"karena ada sesuatu.."
"sesuatu?" akari tambah tak mengerti.
Akane hanya tersenyum.
Ryosuke mendekati mereka berdua. Di tangannya ada dua jagung bakar.
"kalian berdua sedang apa?" tanya ryosuke sembari menyerahkan jagung bakar itu pada akane kemudian akari.
"tidak ada. Hanya pembicaraan antara dua gadis," jawab akane asal, "ah, yamachan, akari chan sangat suka fairy-light, aku rasa balkon rumahmu tempat yang bagus untuk didekor dengan fairy-light."
"eh?" akari melongo. Akane ini....
"oh ya? Baiklah," ryosuke mengangguk
"eh? Tidak usah, aku suka fairy-light di pantai bukan di balkon rumah,," akari menggigit jagungnya. Mengalihkan pandangannya dari ryosuke. Akari tidak bisa lagi melihat wajah ryosuke terlalu lama.
"ayo kita pulang, sudah malam.."
Akane berjalan mendahului ryosuke dan akari. Ryosuke mengacak rambut akari.
"ayo pulang," laki-laki itu menyunggingkan senyumnya kemudian berlalu, membuat akari sejenak berhenti bernapas.
Apa yang baru saja ia rasakan?
» « » «
"tidak usah banyak berfikir," ujar ryosuke tiba-tiba. Mereka baru saja mengantar akane pulang. Saat ini mereka tengah di perjalanan pulang dan akari duduk di sebelah kursi pengemudi.
"aku tidak berfikir, tidak memikirkan apapun.." akari menatap keluar jendela. Pemandangan berganti sangat cepat seiring dengan laju mobil.
"lalu kenapa diam?"
"tidak ada," akari menarik nafas.
"apa karena akane?"
Akari mengerutkan dahinya. Spontan menoleh pada ryosuke yang kini fokus pada jalanan di depannya.
"akane? Kau tahu akane menyukaimu?"
Ryosuke mengangguk.
"lalu?"
"lalu? Kau bertanya lalu? Akane gadis baik, kau tidak mau melihatnya terluka karena kau tidak membalas perasaannya?"
"tidak bisa, akari. Ada sesuatu,"
"he?" akari tiba-tiba ingat. Akane juga mengatakan hal yang sama. Ia memilih diam. Kembali pada pemandangan di luar. Rasanya ia ingin cepat-cepat sampai rumah dan istirahat. Tidur adalah hal tepat. Tepat untuk fisiknya dan hatinya. Semuanya kacau hari ini dan semua karena ryosuke.
"kau tidak marah mendengar akane mengatakan itu?" mereka sudah memasuki parkiran rumah tapi nampaknya pembicaraan masih berlanjut.
"alasannya? Aku tidak punya alasan untuk marah dan oh Tuhan yamada ryosuke kau banyak sekali bertanya hari ini, ada apa denganmu? Kau bilang aku cemburu, bilang aku begini begitu.. Ada apa?" tanya akari panjang lebar. Ia tidak marah pada ryosuke hanya saja laki-laki ini perlu menjelaskan beberapa hal padanya.
"aku tidak apa-apa. Malah aku yang harusnya bertanya, kenapa kau seharian ini diam dan terlihat kesal?" ryosuke mengendalikan nada suaranya.
"aku? Aku kesal padamu, kenapa tidak bilang sejak awal jika mengajak orang lain,"
"jadi intinya kau tidak suka?"
"ha? Aku belum selesai. Aku jadi obat nyamuk, kalian sibuk menghabiskan waktu berdua sementara aku duduk seperti orang bodoh,"
Ryosuke tertawa.
"kenapa kau tertawa?"
"alasanmu rupanya itu? Kau masih belum sadar juga ya?"
"eh? Aku cukup sadar untuk bersikap kesal. Tahu begitu aku tidak usah ikut atau mungkin bisa mengajak orang lain, hiroyuki-san mungkin. Setidaknya dia tidak membuatku terlihat bodoh sendirian," akari membuka handle pintu namun ia ditahan ryosuke.
"ada apa sih denganmu? Sikapmu aneh sekali belakangan ini, dulu kau bersikap dingin padaku sekarang menyebalkan ditambah lagi kau serimg bertanya hal aneh dan bersikap posesif padaku.."
"kau tahu aku kenapa,akari?" ryosuke mendekatkan dirinya pada akari. Gadis itu diam, matanya menatap ryosuke.
"aku menyukaimu,"
Ryosuke mencium bibir akari, membuat gadis itu beku seketika. Jantungnya berdebar. Tangannya dingin dan sengat listrik seperti mengaliri tubuhnya.
Ryosuke mengakhiri ciumannya.
"dan cobalah untuk menerimaku,"
Ryosuke tersenyum kemudian keluar dari mobil.
Akari baru tersadar beberapa detik kemudian. "ciumanku, ciuman pertamaku. YAMADA RYOSUKEEEEE."
Yang diteriaki namanya hanya tertawa geli.
Akari memegang bibirnya. Ia terkejut, sebal, marah namun kemudian tersenyum. Manis.
"aku tidak berfikir, tidak memikirkan apapun.." akari menatap keluar jendela. Pemandangan berganti sangat cepat seiring dengan laju mobil.
"lalu kenapa diam?"
"tidak ada," akari menarik nafas.
"apa karena akane?"
Akari mengerutkan dahinya. Spontan menoleh pada ryosuke yang kini fokus pada jalanan di depannya.
"akane? Kau tahu akane menyukaimu?"
Ryosuke mengangguk.
"lalu?"
"lalu? Kau bertanya lalu? Akane gadis baik, kau tidak mau melihatnya terluka karena kau tidak membalas perasaannya?"
"tidak bisa, akari. Ada sesuatu,"
"he?" akari tiba-tiba ingat. Akane juga mengatakan hal yang sama. Ia memilih diam. Kembali pada pemandangan di luar. Rasanya ia ingin cepat-cepat sampai rumah dan istirahat. Tidur adalah hal tepat. Tepat untuk fisiknya dan hatinya. Semuanya kacau hari ini dan semua karena ryosuke.
"kau tidak marah mendengar akane mengatakan itu?" mereka sudah memasuki parkiran rumah tapi nampaknya pembicaraan masih berlanjut.
"alasannya? Aku tidak punya alasan untuk marah dan oh Tuhan yamada ryosuke kau banyak sekali bertanya hari ini, ada apa denganmu? Kau bilang aku cemburu, bilang aku begini begitu.. Ada apa?" tanya akari panjang lebar. Ia tidak marah pada ryosuke hanya saja laki-laki ini perlu menjelaskan beberapa hal padanya.
"aku tidak apa-apa. Malah aku yang harusnya bertanya, kenapa kau seharian ini diam dan terlihat kesal?" ryosuke mengendalikan nada suaranya.
"aku? Aku kesal padamu, kenapa tidak bilang sejak awal jika mengajak orang lain,"
"jadi intinya kau tidak suka?"
"ha? Aku belum selesai. Aku jadi obat nyamuk, kalian sibuk menghabiskan waktu berdua sementara aku duduk seperti orang bodoh,"
Ryosuke tertawa.
"kenapa kau tertawa?"
"alasanmu rupanya itu? Kau masih belum sadar juga ya?"
"eh? Aku cukup sadar untuk bersikap kesal. Tahu begitu aku tidak usah ikut atau mungkin bisa mengajak orang lain, hiroyuki-san mungkin. Setidaknya dia tidak membuatku terlihat bodoh sendirian," akari membuka handle pintu namun ia ditahan ryosuke.
"ada apa sih denganmu? Sikapmu aneh sekali belakangan ini, dulu kau bersikap dingin padaku sekarang menyebalkan ditambah lagi kau serimg bertanya hal aneh dan bersikap posesif padaku.."
"kau tahu aku kenapa,akari?" ryosuke mendekatkan dirinya pada akari. Gadis itu diam, matanya menatap ryosuke.
"aku menyukaimu,"
Ryosuke mencium bibir akari, membuat gadis itu beku seketika. Jantungnya berdebar. Tangannya dingin dan sengat listrik seperti mengaliri tubuhnya.
Ryosuke mengakhiri ciumannya.
"dan cobalah untuk menerimaku,"
Ryosuke tersenyum kemudian keluar dari mobil.
Akari baru tersadar beberapa detik kemudian. "ciumanku, ciuman pertamaku. YAMADA RYOSUKEEEEE."
Yang diteriaki namanya hanya tertawa geli.
Akari memegang bibirnya. Ia terkejut, sebal, marah namun kemudian tersenyum. Manis.
Published with Blogger-droid v2.0.6
Comments
Post a Comment