Simple but Sweet Love
Akari's POV
stasiun cukup ramai sore itu, jam sibuk. semua yang bekerja dan sekolah baru saja pulang termasuk akari. akari baru saja selesai baito dan sekarang sedang berdiri menunggu kereta untuk pulang. sebuah kereta berhenti di depannya, pintu kereta itu terbuka dan beberapa penumpang turun. akari masuk tak lama kemudian. ia menuju gerbong ujung dan duduk di dekat jendela, sudah kebiasaannya menikmati pemandangan sore dari tempat itu.
perlahan keretanya bergerak, akari memangku dagunya dengan tangan di pinggir jendela.
"disini kosong?" tanya seseorang. akari mengangguk tanpa melihat lawan bicaranya. ia masih menatapi siluet-siluet dari gedung-gedung yang tertimpa cahaya matahari sore. sore yang indah, ia tersenyum.
sebuah buku terjatuh tepat di kaki akari.
"maaf, aku.."
akari mengambil buku itu, memperhatikan covernya sebuah buku novel berjudul Chocolat kemudian mengembalikannya pada si pemilik.
"ini bukumu," ujar akari sembari tersenyum. pemilik buku itu seorang laki-laki yang duduk tepat di depannya. orang yang sama dengan yang bertanya padanya beberapa saat yang lalu.
"terima kasih," ujarnya sembari membalas senyum akari.
senyuman yang manis. akari sempat terpana beberapa saat.
laki-laki itu membetulkan letak kacamatanya dan kembali membaca bukunya dan akari kembali menatap pemandangan dari balik jendela.
"mau permen?" laki-laki itu menawarinya sebuah permen lollipop.
"eh? tidak usah, terima kasih.." akari menolak dengan lembut.
"ambil saja, aku punya banyak." laki-laki itu menaruh sebatang lollipop di pangkuan akari.
"terima kasih," ucap akari. ia membuka bungkusnya dan mengulum lollipop rasa strawberry itu.
"daritadi aku melihatmu hanya menatapi jendela, bosan?" laki-laki itu mengajaknya bicara.
"tidak, aku hanya suka pemandangan sore seperti ini." jawab akari sembari menatap lagi jendelanya.
laki-laki itu hanya mengangguk. akari melihat laki-laki itu melepas kacamatanya, mengurut batang hidungnya. wajahnya tetap tampan walau tanpa kacamata.
laki-laki itu berbalut kaus putih polos dengan vest berwarna gelap, jeans dan sneakers yang berpadu sesuai. stylist. laki-laki ini sepertinya cukup mengerti fashion.
akari tanpa sadar sudah memperhatikan laki-laki itu.
"kau suka baca novel?" tanya akari.
"oh ini?" laki-laki itu memperlihatkan lagi bukunya, "tidak juga, hanya iseng. buku ini berisi tentang filsafat cokelat..." dan laki-laki itu mulai menjelaskan isi buku yang sedang dibacanya. akari mendengarkan dengan seksama sambil mengulum lollipopnya yang mulai mengecil.
"aku kira cokelat hanya makanan biasa rupanya juga ada arti ya," akari mengangguk-angguk. lollipopnya sekarang tinggal batang. laki-laki itu mengangguk.
"mau pinjam?" tanya laki-laki itu
"ha? kapan aku akan mengembalikannya," sebenarnya akari cukup tertarik dengan buku itu tapi...
"kapan saja, aku rasa kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat." laki-laki itu tersenyum dan menyerahkan buku itu pada akari. akari menimang-nimang, pinjam atau tidak.
"tidak usah ragu, pinjam saja. aku tahu kau penasaran dengan buku itu," lagi-lagi laki-laki itu tersenyum. akari seolah sudah terbiasa dengan senyum itu, jadi ia tidak terpana lagi. mungkin ia tidak sadar jika senyum itu akan jadi candu baginya kelak.
kereta itu berhenti di stasiun berikutnya.
"aku turun disini," ujar laki-laki itu, "kau?"
"stasiun selanjutnya," jawab akari
"oh, aku duluan ya.. sampai jumpa," laki-laki itu kembali tersenyum dan kemudian melangkah keluar dari kereta.
kereta itu kembali bergerak perlahan meninggalkan stasiun. akari melihat laki-laki itu masih berdiri, menunggui keretanya kembali bergerak. ia melambai pada akari sambil tersenyum lagi. akari membalasnya. tak berapa lama laki-laki itu sudah tak terlihat lagi, akari membuka novel yang dipinjamnya. di halaman awal tertera sebuah nama.
yamada ryosuke
oh jadi namanya yamada ryosuke, batin akari. ia tersenyum. dan sepertinya yamada-san, kenapa kau sangat yakin kita akan bertemu lagi.. akari tertawa kecil. yaa semoga, aku ingin melihat lagi senyummu itu, pintanya dalam hati. akari mulai membaca chapter awal novel itu.
Ryosuke's POV
ryosuke berjalan menyusuri koridor gerbong kereta yang baru saja dinaikinya, ia masih mencari tempat duduk. beruntung seorang petugas memberitahunya bahwa ada tempat yang masih kosong di ujung gerbong.
ryosuke segera menuju tempat yang ditunjuk dan ia mendapati seorang gadis sebagai teman duduknya. gadis itu mungkin tidak sadar dengan kehadirannya, sibuk memperhatikan pemandangan di balik jendela. ryosuke meminta izin pada gadis itu untuk duduk di depannya, gadis itu mengiyakan tanpa melihat padanya.
ryosuke duduk, ia sedang membaca sebuah novel yang berisi tentang filsafat cokelat. namun karena tangannya sedikit licin buku itu terjatuh.
"maaf, aku.."
gadis itu mengambil bukunya, memperhatikan buku itu sebentar dan mengembalikan buku itu padanya.
"ini bukumu," gadis itu tersenyum ramah padanya. ryosuke balas tersenyum kemudian kembali membaca bukunya. ryosuke melirik sedikit pada gadis itu. ia tidak benar-benar membaca, ia memperhatikan gadis itu di balik bukunya.
sebenarnya ryosuke tidak asing dengan gadis ini. mereka selalu berada dalam satu gerbong kereta perjalanan pulang. ryosuke juga tahu kebiasaan gadis ini, sama seperti sekarang, seolah tak bosan memandang pemandangan di balik jendela. ekspresi gadis itu selalu berubah sesuai dengan apa yang dilihatnya. ryosuke kadang tergelak jika tanpa sengaja melihat ekspresi lucu dari gadis itu.
tiba-tiba ryosuke teringat jika ia punya permen lollipop. entah mengapa ia ingin memberi gadis itu lollipop. apakah karena gadis itu terlihat seperti anak kecil? entahlah. yang jelas gadis ini menarik perhatian ryosuke.
gadis itu sempat menolak pemberian ryosuke tapi akhirnya diterima setelah ryosuke menaruh lollipop itu di pangkuannya.
"daritadi aku hanya melihatmu menatapi jendela, bosan?" tanya ryosuke. ia ingin tahu lebih banyak tentang gadis ini.
"tidak, aku hanya suka pemandangan sore.." dan benar saja, gadis itu kembali menatap jendela. ryosuke selalu menyukainya, ekspresi yang terpancar di wajah gadis itu.
"kau suka baca novel?" tanya gadis itu.
"oh ini?" ryosuke memperlihatkan bukunya, "tidak juga, hanya iseng." gadis itu sepertinya tertarik dengan buku miliknya. "buku ini berisi tentang filsafat cokelat," dan ryosuke mulai menjelaskan isi bukunya pada gadis itu. gadis itu mendengarkan ryosuke dengan seksama, seolah ryosuke adalah story-teller.
gadis itu mengatakan komentarnya dan tibatiba saja ryosuke berinisiatif tentang sesuatu.
"mau pinjam?" tanya ryosuke
gadis itu ragu. sepeetinya ia bingung kapan akan mengembalikannya pada ryosuke.
"kapan saja, aku rasa kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat," ryosuke tersenyum. tentu saja alasannya meminjamkan bukunya adalah agar dapat bertemu lagi dengan gadis itu.
"tidak usah ragu, pinjam saja. aku tahu kau penasaran dengan buku itu," dan aku penasaran denganmu, batin ryosuke. gadis itu menerimanya sambil tersenyum.
tak lama kemudian kereta itu sudah sampai di stasiun tempat ryosuke akan turun.
"aku turun disini," ujar ryosuke, "kau?"
"stasiun selanjutnya," jawabnya
sayang sekali, batin ryosuke lagi.
kereta itu berhenti, ryosuke melangkah keluar sebelum akhirnya pintu kereta itu tertutup. ia berdiri sejenak, menunggu kereta itu kembali bergerak. ryosuke melihat gadis itu tersenyum, ryosuke melambai padanya dan gadis itu membalasnya. tadi saat di kereta ryosuke sempat melihat nama gadis itu di blazer yang dipakainya.
mizunashi akari
aku yakin kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat, mizunashi-san. ryosuke menyelipkan tangannya ke dalam kantong celananya dan mulai berjalan meninggalkan stasiun.
*we meet in a simple way and fall in love in a sweet way
sudah beberapa bulan sejak akari dan ryosuke bertemu. akari masih menyimpan buku ryosuke dan sudah selesai membacanya beberapa kali. ia menunggu kapan waktunya bertemu lagi dengan ryosuke tapi akari tidak pernah bertemu lagi dengan ryosuke sejak hari itu. terkadang akari sengaja berjalan perlahan di koridor gerbong, mengecek satu per satu tempat duduk penumpang tapi ryosuke tak terlihat.
ryosuke sendiri sedang disibukkan dengan pekerjaannya. shiftnya diubah oleh karena itu ia tidak pernah lagi berada di jam dan gerbong yang sama dengan akari. ia pulang tiga jam lebih lambat daripada biasanya dan akari tidak mungkin akan menunggunya selama itu.
dan hari ini kebetulan ryosuke sedang off. jadi ia memutuskan untuk menghabiskan waktunya untuk refreshing. ia sedang duduk di sebuah cafe, menikmati secangkir latte dan beberapa potong cookies yang disajikan gratis oleh pemilik cafe.
jujur saja ryosuke ingin bertemu lagi dengan akari. melihat ekspresi gadis itu lagi.
saat latte-nya habis ryosuke kembali melanjutkan perjalanannya. tadi sesaat sebelum minum kopi ia melihat ada sebuah toko menarik jadi ia memutuskan untuk kesana.
akari sedang baito. ia sedang mendorong troli berisi beberapa judul buku yang akan disusun di rak. akari baru beberapa hari baito disini, baitonya yang lama masih berjalan hanya saja jam kerja akari dimulai sore jadi untuk mengisi waktu akari baito di book-cafe ini.
akari mendengar pintu toko dibuka. satu pelanggan masuk. akari tidak memperhatikan siapa yang datang karena sibuk menjaga keseimbangan. ia sedang menyusun buku di rak paling atas.
kemudian akari turun dari tangga, kembali mendorong trolinya ke rak lain.
ryosuke masuk ke sebuah toko buku. mirip sebuah cafe karena ada beberapa sofa dan kursi. ada beberapa orang yang sedang membaca buku sambil menyesap minuman atau cemilan masing-masing. ada yang sedang menghadapi laptopnya, mengetik. menulis sebuah cerita mungkin. ryosuke sebenarnya tidak berencana akan membeli buku, tapi jika ada yang menarik kenapa tidak.
ryosuke berjalan dari satu rak ke rak yang lain. belum menemukan buku yang pas. kemudian ia berhenti di salah satu lorong, menyusuri deretan buku dengan jarinya sembari membaca judulnya. ada seorang gadis yang berdiri tak jauh membelakanginya. gadis itu berpakaian seragam cafe dan tengah menggendong beberapa buku dengan kesusahan untuk disusun di rak. ryosuke bermaksud menolongnya namun sesaat kemudian gadis itu dapat mengatasi masalahnya. ryosuke hanya tersenyum kemudian kembali membaca bukunya.
"fiiuh, nyaris saja jatuh.." akari kembali mendorong trolinya.
"akari chaaaan.. bisa bantu aku disini sebentar?" teriak namie, temannya baito.
"baiklah.."
akari menghampiri namie.
"aku mau minta tolong ambilkan buku itu," namie menunjuk deret teratas rak, "seorang pelanggan mencari buku itu tapi aku tidak bisa menggapainya,"
"sokka~ sini aku bantu, tolong ambilkan tanggaku, namie.."
gadis bernama namie itu bergegas mengambil tangga yang tak jauh darinya.
"terima kasih," akari memanjat tangga itu dan mencoba mengambil buku yang dimaksud namun sayang akari kehilangan keseimbangan.
ryosuke menoleh saat nama yang familiar di telinganya dipanggil. ia bergegas berjalan mendekat. mengintip di balik rak buku, memastikan bahwa pemilik nama familiar itu adalah orang yang ingin ia temui. seorang gadis menaiki tangga, mencoba mengambil sebuah buku tapi ia kehilangan keseimbangan dan ya, gadis itu memang orang yang sudah lama ingin dijumpai ryosuke. mizunashi akari.
"aku rasa kau harus sedikit berhati-hati," ujar ryosuke.
tubuh akari mendarat di pelukan ryosuke. gadis itu nyaris saja jatuh jika ryosuke tidak cepat-cepat menolongnya.
akari berkedip. "yamada ryosuke?"
ryosuke tersenyum, "apa kabar, mizunashi-san? kau ada waktu sore ini?"
akari mengangguk pelan. masih terkejut. tidak menyangka akan bertemu ryosuke disini.
namie menatap bingung dua orang di depannya.
"sudah berapa bulan kita tidak bertemu ya?" tanya ryosuke membuka pembicaraan. mereka duduk di salah satu sofa cafe itu, akari sudah selesai dengan baitonya.
"beberapa bulan, aku tidak tahu pasti yang jelas dari pertama bertemu hingga saat ini kau ada di depanku, bukumu sudah aku baca berkali-kali,"
"wow!" ryosuke tergelak.
"kau sedang apa disini?" tanya akari
"melepas penat, rupanya bertemu kau disini, aku sudah lama ingin bertemu denganmu," ujar ryosuke tanpa ragu. akari sedikit gugup dengan pernyataan ryosuke. dia merasa ryosuke merindukannya, bukankah hal yang sama juga terjadi padanya? betapa ia ingin melihat senyum ryosuke lagi.
"hey, kenapa bengong?" ryosuke tergelak
"ah? eh? maaf,"
"kau mau pulang?" tanya ryosuke.akari memeriksa jam tangannya. sebentar lagi ia harus pergi untuk baito selanjutnya.
"iya, kau?"
"sepertinya begitu,"
"ya sudah kalau begitu barengan saja," tanpa sadar akari menggenggam tangan ryosuke.
ryosuke tersenyum.
"maaf, aku tidak bermaksud.." akari cepat-cepat melepas genggamannya ketika tersadar.
"tidak apa, ayok.." ryosuke menggenggam tangan akari dengan leluasa, membuat gadis itu terkejut namun sesaat kemudian tersenyum.
mereka sudah tiba di stasiun. menunggu kereta mereka datang. tibatiba ponsel akari berbunyi, email dari namie.
from : namie
thursday, april 8th 2010
jadi akari chan, itu lakilaki yang kau ceritakan selama ini? yang kau temui di kereta? yang kau sukai senyumnya? yang membuatmu perlahan jatuh cinta? waaaa~
akari tersenyum dan membalas email tersebut.
sent : namie
thursday, april 8th
;)
"siapa?" tanya ryosuke
"namie," jawab akari singkat. kemudian menyimpan ponselnya di tas.
"ah, itu keretanya datang.." ujar ryosuke
mereka masuk dan duduk di gerbong tempat mereka pertama kali bertegur sapa dan awal dari perasaan mereka tumbuh.
ryosuke dan akari duduk berdampingan. mereka tidak merasa canggung lagi, banyak hal yang mereka bicarakan selama perjalanan di kereta. dua bulan waktu yang lama untuk setiap hal yang terjadi di dalam keseharian mereka. namun kini ada jeda dimana mereka kembali pada kebiasaan mereka dulu. akari menatap pemandangan di balik jendela dan ryosuke dengan bukunya.
akari menoleh pada ryosuke, lakilaki itu tenggelam pada bacaannya, keseriusannya membuat akari tersenyum. sadar sedang diperhatikan ryosuke menoleh pada akari.
"ada apa?" ryosuke menutup bukunya.
"tidak ada,"
ryosuke tersenyum kemudian kembali pada bukunya.
"rambutmu sepertinya lebih panjang dari yang ku lihat dulu ya," komentar akari sembari mengeluarkan ikat rambut kecil dari tasnya.
"hmm.." ryosuke masih fokus pada bukunya.
akari menggeser tubuhnya lebih dekat dengan ryosuke. mencoba mengikat rambut lakilaki itu.
"apa tidak risih membaca dengan rambut yang..
mendadak ryosuke berubah posisi, ia memegang lengan akari yang sudah berhasil menyatukan rambutnya dan baru saja akan diikat.
ryosuke tersenyum sambil menatapnya, membuat akari gugup.
"ryosuke, rambutmu..
jarak mereka semakin dekat dan dekat dan dekat hingga akhirnya kedua bibir mereka bersentuhan. ryosuke mencium lembut bibir akari, menurunkan perlahan tangan gadis itu dari rambutnya yang sudah terikat.
"aku menyukaimu, akari chan" ucap ryosuke
kemudian mereka melepaskan bibir mereka satu sama lain. mereka sama gugupnya. sama senangnya. sama malunya. akari membuang mukanya, menyembunyikan wajahnya yang memerah dari ryosuke. namun pernyataan ryosuke tadi lebih membuatnya senang.
kereta mereka sudah sampai di stasiun. ryosuke harus turun sekarang.
"kita akan bertemu lagi secepatnya," ujar ryosuke. akari mengangguk. sulit rasanya berpisah sekarang.
"hatihati,"
gerbong itu mulai ditinggalkan oleh orang-orang, tinggal akari dan tidak banyak orang lagi yang akan berhenti di stasiun selanjutnya.
"akari chan," ryosuke masih berada di pinggir pintu. masih ada beberapa menit sebelum kereta itu melanjutkan perjalanan.
"ya?"
ryosuke berjalan lagi mendekati akari, dan memeluk gadis itu.
akari merasa nyaman dipeluk ryosuke, laki-laki ini benarbenar hangat.
"kau tahu ryosuke, mungkin kita hanya saling mengenal satu hari dua bulan yang lalu, mungkin hanya beberapa menit kita berbicara tapi dari waktu hingga waktu dua bulan ini sudah cukup bagiku untuk sadar bahwa aku juga menyukaimu," ujar akari. ia tersenyum ketika mengatakan perasaannya.
ryosuke melepaskan pelukannya dan mencium kening akari.
"jaga dirimu ya, kita akan bertemu lagi setelah ini, akan ada banyak pertemuan setelah ini. walaupun jarak kita jauh, ingat saja bahwa ada yang menunggumu untuk bertemu."
ryosuke keluar dari gerbong. pintunya mulai tertutup, akari masih berdiri di pinggir pintu. tersenyum pada ryosuke dan kereta itu pun kembali bergerak menuju stasiun berikutnya. mereka lega walaupun dipertemukan dengan cara yang singkat tapi hati mereka terjalin dengan manis. simple but sweet love.
Comments
Post a Comment