Let Me In

caution : hmm.. sedikit mengandung unsur dewasa

Chapter 2 

#we will always together from now on

gyuu..gyuu.. akari berjongkok di depan ryosuke dan menekan-nekan lembut pipi ryosuke ketika laki-laki itu sedang tidur.
"lembuuut~" akari tertawa geli. ia memperhatikan setiap lekuk wajah ryosuke. menyusuri wajah itu dengan jari telunjuknya. akari tidak sadar jika sebenarnya ryosuke tidak tidur.
"haa~ bagaimana aku bisa meninggalkanmu, ryosuke. kau bahkan tidak bisa tidur tanpa aku." tanpa sadar jari akari bergerak menuju bibir ryosuke.
deg!
wajah akari memerah. ia teringat ciuman beberapa hari lalu.
"apa yang sedang kau lakukan, a ka ri chan?" ryosuke menahan tangan akari dan membuat gadis itu tersentak.
"fufufu~ pervert!" ledek ryosuke
akari memalingkan wajahnya yang memerah, "aku tidak pervert seperti kau," jantung akari berdegup keras.
"oh ya? kalau aku pervert kalau begitu," ryosuke meraih dagu akari, memalingkan wajah gadis itu sehingga berhadapan dengan wajahnya. sangat dekat.
"mau apa kau?"
ryosuke tersenyum mesum kemudian berbisik.
"ryosuke bodoh!" akari memukul keras kepala ryosuke, membuatnya mengaduh.
"simpan itu untuk nanti, ryosuke. ketika kita sudah menikah," akari beranjak dari tempat duduknya. ryosuke melongo, ia menggamit tangan akari.
"apa lagi?" tanya akari dingin
"ki..kissu shite.." ryosuke lagi-lagi bertingkah seperti anak kecil.
akari menghela nafas.
"baka!" tapi ia mencium sekilas pipi ryosuke. "cukup untuk pagi ini," akari tersenyum melihat wajah muram ryosuke yang hanya diberi ciuman di pipi.
"nee~ akari.."
"um?"
"kenapa kemarin kau membiarkan aku menciummu? tapi kau tidak membiarkanku melakukan itu ?"
akari tertawa. "sudah ku bilang ketika kita sudah menikah, aku ingin memberikan yang terbaik untukmu nanti." kemudian akari keluar dari kamar ryosuke.
"fiuh~" akari mengelus dadanya. sebenarnya is sangat gugup tadi dan jika ia bertahan di dalam, mungkin ia juga tidak bisa mengontrolnya.
» « » «
"mizunashi..akari.." suara itu mengejutkan lamunan akari. ia sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
akari menoleh ke arah sumber suara. "kau,"
yang memanggilnya adalah salah satu orang yang terlibat perkelahian dengan ryosuke dan dirinya beberapa minggu lalu.
"mau apa kau?!"
"sendirian? kemana tuan mudamu?" tanya laki-laki itu seraya mendekat. akari mundur teratur.
"dia ada, kau mau apa?!"
laki-laki itu malah tersenyum dan menarik paksa akari. gadis itu sempat meronta namun sia-sia karena ia dibekap dan dibius hingga tak sadarkan diri.
perlahan akari membuka matanya. pandangannya masih kabur namun cukup baginya untuk mnyadari bahwa ia sedang berada di sebuah ruangan asing.
"sudah sadar, nona akari?" sebuah suara mengejutkannya. suara dari orang yang berbeda.
laki-laki itu duduk di sofa sambil menghisap rokoknya.
"masih ingat aku, akari chan?"
akari memandangi laki-laki yang hampir sebaya dengannya itu.matanya melebar.
"kau,"
laki-laki itu tersenyum.
"kau,"
"sudah ingat?"
"kau siapa?"
"ehhh??? kau tidak ingat denganku?!"
akari memiringkan kepalanya. bingung.
laki-laki itu mendesah berat. "aku takuya,"
"takuya? ah! takuya yang itu!"
"sudah ingat?"
takuya adalah teman sekelas akari dan ryosuke sewaktu sekolah dasar. takuya sering berkelahi dengan ryosuke karena sikapnya yang tidak sopan terhadap akari.
"apa yang kau inginkan?!" tanya akari dingin.
"aku? aku hanya ingin bermain-main denganmu, akari chan. sudah terlalu lama kau berada di dekat ryosuke," takuya mendekati akari. gadis itu tak bisa bergerak karena tangan dan kakinya diikat.
"jangan mendekat!"
"kenapa? kau takut?"
akari cemas. laki-laki ini bisa saja nekat.
takuya berjongkok di depannya. mengambil ponsel akari dari kantongnya.
"tuan mudamu perlu diberitahu, jika ia ingin melihatmu selamat."
takuya menekan nomor ryosuke.
"haa~ kemana akari seharian aku tidak melihatnya," gumam ryosuke. ia baru saja keluar dari resto sushi milik keluarga akari ketika ponselnya berbunyi. nama akari tertera di layar ponselnya.
"moshi-moshi akari, kemana saja kau..aku mengkhawatir..
"yamada ryosuke.."
ini bukan suara akari. siapa?
"siapa kau berani beraninya memakai ponsel akari?!!!! dimana akari?! apa yang kau..
"tenang..tenang.. akarimu tidak mengapa, dia ada bersamaku. masih ingat denganku, ryosuke?"
"kau?"
"takuya.."
"ehhh? takuya siapa? aku tidak kenal.."
"kalian berdua benar-benar melupakan aku, yaa sudah delapan tahun berlalu dan semua sudah berubah."
"aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika kau macam-macam pada akari.. dimana kau sekarang?!"
"jika ingin melihat akarimu, datang saja ke takuya building, kau akan menemukan akari sedang berada di atas tempat tidur bersamaku,"
klik! telpon terputus.
ryosuke menuju takuya building dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"haa~ kita lihat bagaimana usaha ryosuke untuk menolongmu, sementara itu kau bermain dulu bersamaku.."
takuya mendekatkan wajahnya pada akari. mencoba menciumnya namun akari meludahi wajahnya membuat takuya geram dan menampar pipi akari. darah keliar dari sudut bibirnya.
"dasar gadis bodoh! berani-beraninya kau,"
"hah! picik sekali," desis akari
"jangan munafik, akari. ryosuke pasti melakukan hal yang sama, berkelahi dan bermain perempuan. kau hidup di lingkungan yakuza pasti sudah tahu,"
"hh.. ryosuke tidak sama sepertimu, manusia busuk. ia tidak pernah berkelahi tanpa alasan, dia tidak pernah menusuk orang dari belakang apalagi menggunakan kelemahan seseorang untuk memanfaatkannya. ryosuke juga sangat menghormati perempuan, tidak seperti kau!"
takuya geram. ia mulai bertindak nekat, membuka kancing baju akari satu persatu. gadis itu memekik perlahan. ia menangis.
brak!!!! pintu ruangan itu terbuka. membuat takuya menghentikan perbuatannya.
"ryosuke..."
ryosuke yang melihat akari diperlakukan seperti itu menjadi terbakar amarah. tanpa pikir panjang ia langsung menyerang takuya, membungkam takuya yang baru saja akan bicara.
"kau! manusia busuk! lebih baik mati saja.." ryosuke menendang berkali-kali perut takuya hingga laki-laki itu pingsan.
"ryosuke cukup ryosuke.. hentikan!" teriak akari. ia berhasil membuka ikatan tangannya.
"dia pantas mati,"
"cukup,ryosuke." akari memeluk ryosuke. pelukan akari membuatnya berhenti.
"aku tidak apa-apa, ayo kita pulang.." dan mereka meninggalkan gedung itu.
» « » «
"dia hanya sedikit kekurangan darah," ujar dokter yang menangani ryosuke. mereka sudah berada di rumah sekarang.
punggung ryosuke terluka karena tusukan pisau saat ia mencoba masuk takuya building. semua orang yang ada di gedung itu adalah anak buah takuya.
"tapi dia tidak apa-apa kan?" tanya Satou-san cemas.
"dia akan sadar sebentar lagi,  untuk sekarang biarkan ia tidur."
akari terisak pelan. ryosuke terluka karenanya. semua salahnya, jika saja ia bisa berhati-hati. ini maksud perkataan ryosuke waktu itu, mengapa ia ingin melepaskan akari karena hal seperti ini bisa saja terjadi, lagi. akari semakin tenggelam dalam tangisnya.
ia merasa tangan seseorang menyentuh kepalanya. akari mendongak.
"jangan menangis," ucap ryosuke lembut.
"ryosuke kau sudah sadar? kau harus istirahat," akari cepat-cepat menghapus airmatanya.
ryosuke memandangi akari.
"maafkan aku," airmata akari keluar lagi.
"daijoubu,"
"tapi.."
ryosuke memeluk akari. "sudah ku bilang, aku melepasmu bukan tanpa alasan. aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu,"
akari terisak.
"aku terlalu mencintaimu karena itu aku melepasmu, kehidupanku tidak cocok untukmu."
akari menggeleng dalam pelukan ryosuke. "aku tidak mau jika tidak bersamamu," ucapnya pelan.
ryosuke tersenyum.
"aku sudah tahu resikonya dan sudah mempersiapkan diri untuk ini, hanya saja hari ini aku..terlalu mendadak.."
ryosuke tergelak.
"kenapa tertawa?"
"haa.. kalau kau sudah seperti ini, aku bisa apa. baiklah kalau begitu, aku akan mengambil-alih klan asal kau selalu bersamaku,"
akari mengangguk. tentu.
"jadi sekarang," ryosuke meraih bahu akari dan merebahkan tubuh gadis itu di futonnya. ia berada di atas akari sekarang.
ryosuke tersenyum mesum. akari memalingkan wajahnya yang memerah.
"akari chan.."
akari menoleh. ryosuke menciumi bibir akari. akari pun membalasnya. ciuman hangat dan dalam. lembut dan berperasaan.
hanya sebentar.
ryosuke mulai membuka kancing bagian atas baju akari tapi gadis itu menahannya. ryosuke mendesah berat.
"sudah aku bilang untuk nanti,"
ryosuke malah menindih tubuh akari.
"kau berat,"
ryosuke duduk di sebelah akari.
"kalau begitu akari, ayo kita menikah!" ryosuke nyengir.
"ehhhhh???? kita belum lulus sekolah lagipula aku tidak mau menikah denganmu jika alasannya hanya ingin itu, " akari cemberut. ia beranjak dari samping ryosuke.
"hwaaaaa akari, iya baiklah maaf maaf, aku tidak bermaksud seperti itu,"
ryosuke bergelanjut manja pada akari. gadis itu tersenyum. ia hanya pura-pura kesal.
"sabar.. karena kita akan selalu bersama mulai dari saat ini dan seterusnya,"
akari mencium sekilas bibir ryosuke sebelum keluar dari kamarnya. ryosuke garuk kepala.
"akari sebelum kau keluar dari ruangan ini," kalimat ryosuke terhenti.
akari berbalik. menunggu.
ryosuke mengeluarkan sebuah kotak kecil dari balik yukatanya.
mata akari melebar. apakah...
"akari," ryosuke membuka kotak tersebut. cincin mungil dengan aksen bintang berpendar disana.
akari menutup mulutnya.
"mau kah kau menjadi pendampingku? menemaniku disemua kondisi. menerima keadaanku, menerima bagaimanapun aku nanti?" kali ini tatapan ryosuke serius. ia menanti jawaban akari.
"ryosuke.." airmata akari berlinang. tidak bisa mengatakan bagaimana senangnya ia. ryosuke melamarnya.
akari mengangguk.
ryosuke memasang cincin itu di jari manis akari kemudian memeluknya.
mereka akan bersama selamanya.

-the end-
Published with Blogger-droid v2.0.6

Comments

Popular Posts