Let Me In
Chapter 1
#he is the third heir of yakuza clan and i'm in love with him
"oii ryosuke, apa yang kau lakukan?" seorang gadis dengan seragam sekolah SMA tampak menegur seseorang.
"eh? Akari chan? Apa yang kau lakukan disini? Aku hanya membereskan beberapa urusan." jawab laki-laki bernama ryosuke itu sambil terkekeh.
"urusan?" gadis bernama akari itu menengok ke arah tiga orang dewasa yang sedikit babak belur karena baru saja dihajar ryosuke.
Akari geleng kepala. "ryosuke, kapan kau berhenti berkelahi? Dan kau Toya! Kenapa ikut-ikut?!"
Laki-laki bernama Toya yang berdiri di sebelah Ryosuke hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"mereka duluan yang mengajak berkelahi, akari chan." ryosuke memutus kalimatnya pada akari dan beralih pada tiga orang dewasa yang dihajarnya, "sebaiknya kalian pergi darisini jika tidak ingin hal buruk terjadi,"
dan ketiga laki-laki itu berlari ketakutan meninggalkan mereka. "Ngomong-ngomong ada keperluan apa? Mau menyatakan cinta padaku ya?" ujar Ryosuke sambil terkekeh.
"eh?" akari mengerutkan dahinya, ia menghela nafas. "kau ini tidak pernah serius ryosuke, fiuh~"
Akari berbalik meninggalkan ryosuke.
"akari chan," tingkah ryosuke berubah kekanakan. Ia merangkul akari. "kau tidak suka aku ya?" sungutnya seperti anak kecil.
Akari melepas rangkulan ryosuke dan berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di bahu ryosuke.
"ryosuke," akari menatap serius
Ryosuke mendadak gugup. Apakah akari akan..
"sebaiknya kau bersikap sebagai pemimpin, bukankah kau penerus generasi keluarga Yamada? Bertindaklah seperti ayahmu ya dan segera ambil alih klan yang sudah jadi tanggung jawabmu," akari tersenyum sembari menepuk-nepuk bahu ryosuke kemudian berbalik meninggalkannya.
"ehhh?" ryosuke terkejut, "oii akari! Ku kira kau akan menyatakan cinta, akari.." ryosuke mengejarnya.
Gadis itu hanya melambai sambil terus berjalan.
"eh? Akari chan? Apa yang kau lakukan disini? Aku hanya membereskan beberapa urusan." jawab laki-laki bernama ryosuke itu sambil terkekeh.
"urusan?" gadis bernama akari itu menengok ke arah tiga orang dewasa yang sedikit babak belur karena baru saja dihajar ryosuke.
Akari geleng kepala. "ryosuke, kapan kau berhenti berkelahi? Dan kau Toya! Kenapa ikut-ikut?!"
Laki-laki bernama Toya yang berdiri di sebelah Ryosuke hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"mereka duluan yang mengajak berkelahi, akari chan." ryosuke memutus kalimatnya pada akari dan beralih pada tiga orang dewasa yang dihajarnya, "sebaiknya kalian pergi darisini jika tidak ingin hal buruk terjadi,"
dan ketiga laki-laki itu berlari ketakutan meninggalkan mereka. "Ngomong-ngomong ada keperluan apa? Mau menyatakan cinta padaku ya?" ujar Ryosuke sambil terkekeh.
"eh?" akari mengerutkan dahinya, ia menghela nafas. "kau ini tidak pernah serius ryosuke, fiuh~"
Akari berbalik meninggalkan ryosuke.
"akari chan," tingkah ryosuke berubah kekanakan. Ia merangkul akari. "kau tidak suka aku ya?" sungutnya seperti anak kecil.
Akari melepas rangkulan ryosuke dan berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu meletakkan kedua tangannya di bahu ryosuke.
"ryosuke," akari menatap serius
Ryosuke mendadak gugup. Apakah akari akan..
"sebaiknya kau bersikap sebagai pemimpin, bukankah kau penerus generasi keluarga Yamada? Bertindaklah seperti ayahmu ya dan segera ambil alih klan yang sudah jadi tanggung jawabmu," akari tersenyum sembari menepuk-nepuk bahu ryosuke kemudian berbalik meninggalkannya.
"ehhh?" ryosuke terkejut, "oii akari! Ku kira kau akan menyatakan cinta, akari.." ryosuke mengejarnya.
Gadis itu hanya melambai sambil terus berjalan.
Yamada Ryosuke adalah penerus generasi klan Yamada yang ketiga. Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga itu, ryosuke dituntut untuk meneruskan kepemimpinan klannya. Klan Yamada sangat berpengaruh di kotanya. Meskipun mereka diidentikkan dengan image yakuza tapi klan Yamada tidak pernah melakukan hal buruk atau kejahatan terhadap masyarakat sekitar. Klan-klan kecil di kota itu juga tunduk pada klan Yamada. Dan gadis bernama Mizunashi Akari adalah teman ryosuke. Mereka sudah bersama sejak kecil. Tak heran jika mereka nampak selalu berdua. Banyak gadis di sekolahnya yang iri pada akari. Tapi akari tidak ambil pusing tentang itu karena ia tahu bagaimana ryosuke. Laki-laki yang diluar nampak keren dan berkarisma itu hanyalah remaja labil yang terkadang bertingkah kekanakan. Contohnya, baru saja. Lagipula mereka hanya bersahabat, walau ryosuke kerap menyatakan bahwa ia menyukai akari tapi akari tidak terlalu berharap banyak. Akari mengakui jika ia memang menyukai ryosuke, ia pernah menyatakan itu dan tentu saja disambut baik oleh ryosuke tapi biarlah hubungan mereka tetap seperti ini sementara. Masalah berlanjut atau tidak, lihat nanti.
"haaa~ apa yang salah dengan keputusanku?" ujar ryosuke sambil mengipas-ngipas. Udara cukup panas hari itu. Ia sedang berada di satu ruangan bersama salah satu orang kepercayaan ayahnya, Satou-san, juga Akari yang duduk manis mendengarkan apa pembicaraan yang terjadi.
Tepatnya beberapa hari yang lalu ryosuke membuat keputusan untuk tindak mengambil alih klan dan akan mencari pekerjaan normal. Hal ini tentu saja mengejutkan ayahnya juga seluruh orang di dalam klan yamada. Pengambil-alihan tinggal satu bulan lagi dan ryosuke mengacaukan semuanya.
"tapi ryosuke! Kau satu-satunya penerus klan, sudah takdirmu untuk menjadi pemimpin klan yamada." protes Satou-san.
"paman, ayah juga menyerahkan semuanya padaku apa yang ingin aku lakukan, jadi sepertinya tidak masalah."
"tapi,Ryosuke!" Satou-san kembali protes,
Ryosuke berdiri dan duduk di sebelah Akari, "lagipula aku sudah berencana untuk mengambil pekerjaan normal dan membangun keluarga bahagia bersama Akari," ryosuke merangkul gadis disebelahnya. Akari memutar matanya. Apa yang difikirkan remaja bodoh ini, batinnya.
"iya kan, akari..?" ryosuke mengedip.
"tapi sepertinya akari setuju kau mengambil alih klan," ujar Satou-san dengan enteng.
Ryosuke menatap Akari seketika. Memandang dengan mata kau-juga-ingin-aku-mengambil alih-klan?
Akari mengangguk. "kau lebih terlihat normal jika jadi pemimpin klan daripada bekerja normal,"
Ryosuke menghela nafas, "bahkan kau juga akari.." kemudian Ryosuke berdiri, "tidak, pokoknya aku tidak akan mengambil alih klan.." bentaknya sambil keluar dari ruangan.
"apa yang dia fikirkan? Hanya kau orang yang didengarkan olehnya, Akari.."
akari mendengar derap langkah ryosuke yang semakin menjauh.
Ryosuke kau benar-benar tidak berfikir, dan gadis itu hanya bisa geleng kepala.
Tepatnya beberapa hari yang lalu ryosuke membuat keputusan untuk tindak mengambil alih klan dan akan mencari pekerjaan normal. Hal ini tentu saja mengejutkan ayahnya juga seluruh orang di dalam klan yamada. Pengambil-alihan tinggal satu bulan lagi dan ryosuke mengacaukan semuanya.
"tapi ryosuke! Kau satu-satunya penerus klan, sudah takdirmu untuk menjadi pemimpin klan yamada." protes Satou-san.
"paman, ayah juga menyerahkan semuanya padaku apa yang ingin aku lakukan, jadi sepertinya tidak masalah."
"tapi,Ryosuke!" Satou-san kembali protes,
Ryosuke berdiri dan duduk di sebelah Akari, "lagipula aku sudah berencana untuk mengambil pekerjaan normal dan membangun keluarga bahagia bersama Akari," ryosuke merangkul gadis disebelahnya. Akari memutar matanya. Apa yang difikirkan remaja bodoh ini, batinnya.
"iya kan, akari..?" ryosuke mengedip.
"tapi sepertinya akari setuju kau mengambil alih klan," ujar Satou-san dengan enteng.
Ryosuke menatap Akari seketika. Memandang dengan mata kau-juga-ingin-aku-mengambil alih-klan?
Akari mengangguk. "kau lebih terlihat normal jika jadi pemimpin klan daripada bekerja normal,"
Ryosuke menghela nafas, "bahkan kau juga akari.." kemudian Ryosuke berdiri, "tidak, pokoknya aku tidak akan mengambil alih klan.." bentaknya sambil keluar dari ruangan.
"apa yang dia fikirkan? Hanya kau orang yang didengarkan olehnya, Akari.."
akari mendengar derap langkah ryosuke yang semakin menjauh.
Ryosuke kau benar-benar tidak berfikir, dan gadis itu hanya bisa geleng kepala.
Akari sedang membantu ibunya melayani sejumlah tamu di resto sushi milik keluarganya.
"terima kasih atas kedatangannya," ucap akari ramah. Ia masih memikirkan ryosuke. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa dimengerti. Bekerja normal dan membangun keluarga normal dengannya? Akari tergelak. Apa yang ada di otak ryosuke sampai bisa berencana seperti itu? Jujur saja ada rasa senang di dalam diri akari tapi melihat ryosuke meneruskan klannya lebih membuatnya tenang. Itu takdir ryosuke, bukan?
"nee~ sedang memikirkan apa akari?" tanya ibunya yang diam-diam.rupanya memperhatikan bahasa tubuh akari.
"tidak ada,"
"kau bertemu ryosuke tadi siang?"
"ya.."
"dia tidak pernah mampir kesini, sedikit sepi jika tidak memdengar suaranya,"
"eh?? Ibu?"
"kenapa? Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri,"
Dan rasanya akan sulit punya saudara seperti ryosuke, pikir akari ngeri. Dia cukup jadi sahabat saja atau yang lain, akari terkikik geli dengan pikirannya.
Tiba-tiba ada bunyi ketukan dari pintu belakang. Akari bergegas membukanya.
"hai.." ryosuke berdiri di depan pintu dan melambaikan tangannya pada akari.
"ryosuke? Ehhhhhh!!!! Wajahmu kenapa?"
Laki-laki itu hanya nyengir. Akari berdecak, anak ini pasti berkelahi lagi.
"terima kasih atas kedatangannya," ucap akari ramah. Ia masih memikirkan ryosuke. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa dimengerti. Bekerja normal dan membangun keluarga normal dengannya? Akari tergelak. Apa yang ada di otak ryosuke sampai bisa berencana seperti itu? Jujur saja ada rasa senang di dalam diri akari tapi melihat ryosuke meneruskan klannya lebih membuatnya tenang. Itu takdir ryosuke, bukan?
"nee~ sedang memikirkan apa akari?" tanya ibunya yang diam-diam.rupanya memperhatikan bahasa tubuh akari.
"tidak ada,"
"kau bertemu ryosuke tadi siang?"
"ya.."
"dia tidak pernah mampir kesini, sedikit sepi jika tidak memdengar suaranya,"
"eh?? Ibu?"
"kenapa? Aku sudah menganggapnya seperti anak sendiri,"
Dan rasanya akan sulit punya saudara seperti ryosuke, pikir akari ngeri. Dia cukup jadi sahabat saja atau yang lain, akari terkikik geli dengan pikirannya.
Tiba-tiba ada bunyi ketukan dari pintu belakang. Akari bergegas membukanya.
"hai.." ryosuke berdiri di depan pintu dan melambaikan tangannya pada akari.
"ryosuke? Ehhhhhh!!!! Wajahmu kenapa?"
Laki-laki itu hanya nyengir. Akari berdecak, anak ini pasti berkelahi lagi.
"sampai kapan kau akan berkelahi? Mau terlihat hebat?" omel akari saat sedang memberi obat pada luka ryosuke dan melapisinya dengan perban.
"jangan salah sangka, mereka yang menyerang duluan. Aku tidak akan membalas jika mereka tidak membuat ulah,"
"paman Satou sudah tahu?"
"tidak usah beritahu mereka, selama masih bisa diatasi sendiri olehku tidak perlu melibatkan mereka,"
Ryosuke, sadar atau tidak kau punya jiwa kepemimpinan..batin akari. Ia tersenyum kecil.
"nee..akari~"
"hmm?" akari tengah membereskan kembali obat-obatan ke dalam kotaknya.
"menoleh padaku.."
"ha? Hmmp.." akari menoleh dan secara tidak sengaja bibirnya bersentuhan dengan bibir ryosuke.
Apa yang... Wajah akari memerah dan refleks ia menjauh kemudian memukul keras kepala ryosuke.
"itttaaaaiiii..."
"ryosuke bodoh!!! apa yang kau lakukan bodoh bodoh bodooohhh.. Sudah ku bilang simpan itu untuk pacarmu, calon istrimu, bodoh!!!" akari memberengut. Ia sangat terkejut dengan kelakuan ryosuke barusan.
"aku tidak mau punya pacar, aku hanya ingin akari.."
Akari berdiri. Walaupun mereka saling suka bukan berarti ryosuke bisa seenaknya.
"akari..akari..akari..akariii.." ryosuke bertingkah seperti anak kecil, ia bergelayut di pinggang akari.
"ada apa denganmu ryosuke? Hormonmu sedang naik?" ungkap akari kesal.
"ya, dan itu semua karenamu."
Ryosuke menarik dagu gadis itu kemudian mencium lembut bibir akari. Merasakan tiap kecup yang terjadi. Hal itu membuat akari sedikit terpancing dan membalas ciuman ryosuke. Wajahnya memanas. Ryosuke menangkupkan tangannya dikedua pipi akari dan memberinya ciuman lebih dalam. Perlahan tangan ryosuke menyelinap masuk ke balik piyama gadis itu dan...
"itttaaaii..ittaaaii..ittaaaiii..."
Akari mengunci tangan ryosuke. Laki-laki itu kesakitan.
"aku membiarkanmu menciumku bukan berarti bisa berlanjut ke arah lain,"
"aku hanya bercandaaaaa.."
"haaa.. Kau ini ryosukeeeee!!!"
"maaf, aku tidak bisa mengontrol jika ada di dekatmu,"
"kalau begitu, mulailah belajar mengontrol dirimu." akari meletakkan kotak obat di atas lemarinya.
"apa yang kau bisa lakukan tanpa aku,ryosuke?" gumam akari. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar tergantung padanya dalam segala hal.
"apa kau menyukaiku karena hanya aku yang kau lihat saat ini?" tanya akari.
"tentu saja tidak, aku benar-benar menyukai akari chan.."
"hal itu? Apakah.." akari duduk di pinggir tempat tidurnya.
"jika kau pergi mungkin aku akan menangis,"
"menangis?"
"ya dan setelah itu aku tidak tahu harus berbuat apalagi,"
Jika ini terus terjadi dia tidak akan bisa mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri, aku harus melakukan sesuatu padanya.
Ponsel akari tiba-tiba berdering.
"Akari, apa ryosuke ada bersamamu?" itu suara Satou-san
"ya, ada apa,paman?"
"syukurlah kalau begitu, ada rumor jika sejumlah klan kecil mengadakan pertemuan untuk menentang hal ini,"
Akari menoleh pada ryosuke dan laki2 itu mengangguk.
"sepertinya ada yang menyebarkan berita mengenai pengambil alihan klan, tapi jika ryosuke ada bersamamu sekarang tidak masalah, kami akan menjemputnya sebentar lagi.."
Telfon diputus.
"bagaimana bisa tersebar?" tanya akari.
"entahlah, saat pemberitahuan pengambil alihan klan di kediamanku hanya ada kau dan toya sebagai orang luar,"
Dan mereka berdua sama-sama terkejut. Mereka tahu siapa yang menyebarkan berita ini.
"jangan salah sangka, mereka yang menyerang duluan. Aku tidak akan membalas jika mereka tidak membuat ulah,"
"paman Satou sudah tahu?"
"tidak usah beritahu mereka, selama masih bisa diatasi sendiri olehku tidak perlu melibatkan mereka,"
Ryosuke, sadar atau tidak kau punya jiwa kepemimpinan..batin akari. Ia tersenyum kecil.
"nee..akari~"
"hmm?" akari tengah membereskan kembali obat-obatan ke dalam kotaknya.
"menoleh padaku.."
"ha? Hmmp.." akari menoleh dan secara tidak sengaja bibirnya bersentuhan dengan bibir ryosuke.
Apa yang... Wajah akari memerah dan refleks ia menjauh kemudian memukul keras kepala ryosuke.
"itttaaaaiiii..."
"ryosuke bodoh!!! apa yang kau lakukan bodoh bodoh bodooohhh.. Sudah ku bilang simpan itu untuk pacarmu, calon istrimu, bodoh!!!" akari memberengut. Ia sangat terkejut dengan kelakuan ryosuke barusan.
"aku tidak mau punya pacar, aku hanya ingin akari.."
Akari berdiri. Walaupun mereka saling suka bukan berarti ryosuke bisa seenaknya.
"akari..akari..akari..akariii.." ryosuke bertingkah seperti anak kecil, ia bergelayut di pinggang akari.
"ada apa denganmu ryosuke? Hormonmu sedang naik?" ungkap akari kesal.
"ya, dan itu semua karenamu."
Ryosuke menarik dagu gadis itu kemudian mencium lembut bibir akari. Merasakan tiap kecup yang terjadi. Hal itu membuat akari sedikit terpancing dan membalas ciuman ryosuke. Wajahnya memanas. Ryosuke menangkupkan tangannya dikedua pipi akari dan memberinya ciuman lebih dalam. Perlahan tangan ryosuke menyelinap masuk ke balik piyama gadis itu dan...
"itttaaaii..ittaaaii..ittaaaiii..."
Akari mengunci tangan ryosuke. Laki-laki itu kesakitan.
"aku membiarkanmu menciumku bukan berarti bisa berlanjut ke arah lain,"
"aku hanya bercandaaaaa.."
"haaa.. Kau ini ryosukeeeee!!!"
"maaf, aku tidak bisa mengontrol jika ada di dekatmu,"
"kalau begitu, mulailah belajar mengontrol dirimu." akari meletakkan kotak obat di atas lemarinya.
"apa yang kau bisa lakukan tanpa aku,ryosuke?" gumam akari. Laki-laki di hadapannya ini benar-benar tergantung padanya dalam segala hal.
"apa kau menyukaiku karena hanya aku yang kau lihat saat ini?" tanya akari.
"tentu saja tidak, aku benar-benar menyukai akari chan.."
"hal itu? Apakah.." akari duduk di pinggir tempat tidurnya.
"jika kau pergi mungkin aku akan menangis,"
"menangis?"
"ya dan setelah itu aku tidak tahu harus berbuat apalagi,"
Jika ini terus terjadi dia tidak akan bisa mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri, aku harus melakukan sesuatu padanya.
Ponsel akari tiba-tiba berdering.
"Akari, apa ryosuke ada bersamamu?" itu suara Satou-san
"ya, ada apa,paman?"
"syukurlah kalau begitu, ada rumor jika sejumlah klan kecil mengadakan pertemuan untuk menentang hal ini,"
Akari menoleh pada ryosuke dan laki2 itu mengangguk.
"sepertinya ada yang menyebarkan berita mengenai pengambil alihan klan, tapi jika ryosuke ada bersamamu sekarang tidak masalah, kami akan menjemputnya sebentar lagi.."
Telfon diputus.
"bagaimana bisa tersebar?" tanya akari.
"entahlah, saat pemberitahuan pengambil alihan klan di kediamanku hanya ada kau dan toya sebagai orang luar,"
Dan mereka berdua sama-sama terkejut. Mereka tahu siapa yang menyebarkan berita ini.
» « » «
"bukankah itu berita bagus? Yamada ryosuje menjadi penerus klan yamada selanjutnya, iya kan? Makanya aku beritahu semua orang," ungkap toya dengan polos.
Akari menepuk dahinya sementara ryosuke hanya bengong. Setelah menanyai toya hal tersebut mereka berbalik meninggalkan kouhai mereka itu.
"apakah aku salah? Yamada-kun, akari chaaan.."
Akari menepuk dahinya sementara ryosuke hanya bengong. Setelah menanyai toya hal tersebut mereka berbalik meninggalkan kouhai mereka itu.
"apakah aku salah? Yamada-kun, akari chaaan.."
"kau harus menjaga dirimu mulai sekarang, bisa saja ada klan yang tidak suka dan mereka berencana melukaimu," akari cemas.
Ryosuke mengacak rambut akari. "tenang saja, tidak akan terjadi apapun padaku.." ryosuke tersenyum.
Di tengah perjalanan pulang, ryosuke dan akari dihalang oleh beberapa orang dari klan lain. Belum beberapa menit akari berkata sudah terjadi hal yang ditakutkan.
"ada apa? Sepertinya aku tidak mengganggu kalian," ryosuke menatap tajam lawannya yang berjumlah empat orang itu. Ia berdiri di depan akari, melindungi gadis itu.
"kau anak kecil.."
Dan satu per satu mereka menyerang ryosuke namun ryosuke berhasil menangkis serangan mereka, membuat mereka lebam di wajah. Tak disangka seorang dari mereka mencoba menggertak ryosuke dengan menahan akari. Ryosuke tersenyum sinis.
Akari menginjak kaki laki-laki yang menahannya dan mengunci lengan penyerangnya.
"kau tidak menyangka kan jika akari ku bukan gadis lemah,"
"akari ku?" akari menaikkan sebelah alisnya. Dasar ryosuke.
Tanpa sadar salah satu dari mereka mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya pada ryosuke. Ia menarik pelatuk senjatanya dan menembakkan peluru itu.
"ryosukeeee..."
Peluru itu meleset dan menyerempet akari. Namun untungnya hanya mengenai lengan dan membentuk luka sepanjang 10 cm. Darah keluar dari luka itu. Akari memegangi lukanya, sedikit nyeri.
Ryosuke yang melihat itu menjadi emosi. Ia mendekati si pelaku.
"kau! Berani-beraninya kau!" ryosuke berkali-kali memukuli wajah laki-laki yang telah menembakkan peluru itu.
"ryosuke.." panggil akari
Namun ryosuke tidak mendengarkan.
"ryosuke! Ini hanya luka kecil,"
Ryosuke masih memukuli laki-laki itu.
"hentikan ryosuke! Cukup!" akari menahan lengan ryosuke. "sudah, dan kau cepat pergi darisini atau hal yang lebih buruk akan terjadi jika berani macam2 dengan ryosuke,"
Laki-laki dari klan yang akari tidak ketahui itu berlari meninggalkan mereka.
"apakah kau akan hidup?" tanya ryosuke
"ehhh? Tentu saja bodoh! Ini hanya luka kecil, bukan masalah." akari menyentuh lukanya.
"maafkan aku.."
"daijoubu, ryosuke.." akari tersenyum. Ini resiko yang sudah ia terima sejak berteman dengan ryosuke dari kecil.
"aku heran mereka punya senjata api seperti itu,"
"kami...juga punya benda itu,akari."
Akari hanya menatap ryosuke. Terkejut, sedikit.
"banyak pengikut klan kami yang terluka karena benda itu, maka dari itu jika aku menerima keputusan ayah sebagai penerus klan, maka..
Ryosuke berdiri,
"aku harus...
Akari mendongak.
"aku harus membiarkanmu pergi dariku,"
Bagai petir di siang bolong, akari terkejut dengan pernyataan ryosuke.
"apa yang..
Matanya melebar terkejut.
Seharusnya, bukan kau yang mengatakan itu. Seharusnya, aku yang pertama kali akan meninggalkanmu. Seharusnya,
Airmata akari berlinang. Ia berdiri dan berlari menuju ryosuke yang belum terlalu jauh. Akari memeluknya.
"akari?" ryosuke nampak terkejut
"ayo pergi,"
Akari menarik tangan ryosuke. Kepalanya masih tertunduk bagaimanapun ia tidak ingin berpisah dari ryosuke.
"akari chan, kemana?"
Siapa yang pertama kali berjanji selalu bersama? Siapa yang berjanji jika kita tidak boleh berpisah? Ryosuke...
Ryosuke mengacak rambut akari. "tenang saja, tidak akan terjadi apapun padaku.." ryosuke tersenyum.
Di tengah perjalanan pulang, ryosuke dan akari dihalang oleh beberapa orang dari klan lain. Belum beberapa menit akari berkata sudah terjadi hal yang ditakutkan.
"ada apa? Sepertinya aku tidak mengganggu kalian," ryosuke menatap tajam lawannya yang berjumlah empat orang itu. Ia berdiri di depan akari, melindungi gadis itu.
"kau anak kecil.."
Dan satu per satu mereka menyerang ryosuke namun ryosuke berhasil menangkis serangan mereka, membuat mereka lebam di wajah. Tak disangka seorang dari mereka mencoba menggertak ryosuke dengan menahan akari. Ryosuke tersenyum sinis.
Akari menginjak kaki laki-laki yang menahannya dan mengunci lengan penyerangnya.
"kau tidak menyangka kan jika akari ku bukan gadis lemah,"
"akari ku?" akari menaikkan sebelah alisnya. Dasar ryosuke.
Tanpa sadar salah satu dari mereka mengeluarkan senjata api dan mengarahkannya pada ryosuke. Ia menarik pelatuk senjatanya dan menembakkan peluru itu.
"ryosukeeee..."
Peluru itu meleset dan menyerempet akari. Namun untungnya hanya mengenai lengan dan membentuk luka sepanjang 10 cm. Darah keluar dari luka itu. Akari memegangi lukanya, sedikit nyeri.
Ryosuke yang melihat itu menjadi emosi. Ia mendekati si pelaku.
"kau! Berani-beraninya kau!" ryosuke berkali-kali memukuli wajah laki-laki yang telah menembakkan peluru itu.
"ryosuke.." panggil akari
Namun ryosuke tidak mendengarkan.
"ryosuke! Ini hanya luka kecil,"
Ryosuke masih memukuli laki-laki itu.
"hentikan ryosuke! Cukup!" akari menahan lengan ryosuke. "sudah, dan kau cepat pergi darisini atau hal yang lebih buruk akan terjadi jika berani macam2 dengan ryosuke,"
Laki-laki dari klan yang akari tidak ketahui itu berlari meninggalkan mereka.
"apakah kau akan hidup?" tanya ryosuke
"ehhh? Tentu saja bodoh! Ini hanya luka kecil, bukan masalah." akari menyentuh lukanya.
"maafkan aku.."
"daijoubu, ryosuke.." akari tersenyum. Ini resiko yang sudah ia terima sejak berteman dengan ryosuke dari kecil.
"aku heran mereka punya senjata api seperti itu,"
"kami...juga punya benda itu,akari."
Akari hanya menatap ryosuke. Terkejut, sedikit.
"banyak pengikut klan kami yang terluka karena benda itu, maka dari itu jika aku menerima keputusan ayah sebagai penerus klan, maka..
Ryosuke berdiri,
"aku harus...
Akari mendongak.
"aku harus membiarkanmu pergi dariku,"
Bagai petir di siang bolong, akari terkejut dengan pernyataan ryosuke.
"apa yang..
Matanya melebar terkejut.
Seharusnya, bukan kau yang mengatakan itu. Seharusnya, aku yang pertama kali akan meninggalkanmu. Seharusnya,
Airmata akari berlinang. Ia berdiri dan berlari menuju ryosuke yang belum terlalu jauh. Akari memeluknya.
"akari?" ryosuke nampak terkejut
"ayo pergi,"
Akari menarik tangan ryosuke. Kepalanya masih tertunduk bagaimanapun ia tidak ingin berpisah dari ryosuke.
"akari chan, kemana?"
Siapa yang pertama kali berjanji selalu bersama? Siapa yang berjanji jika kita tidak boleh berpisah? Ryosuke...
"minum ini,"
"eh?"
Secawan sake berada di depan ryosuke.
"eh? Akari, aku belum memutuskan untuk menerima pengambil-alihan, masih ada beberapa minggu lagi dan aku masih ingin melakukan banyak hal denganmu, dan kau tahu kan apa artinya jika meminum sake ini."
"un, kau akan terikat dengan janjimu tapi sake ini bukan untuk hal itu."
"ha?"
"kau sudah tahu jika kau akan meninggalkanku dan membiarkanku lepas dari kehidupanmu suatu saat nanti, tapi jika aku pergi kau akan menangis dan setelah itu kau tidak tahu harus berbuat apa, bukan?"
"akari.."
"sejak kau mengatakan itu aku jadi khawatir denganmu, aku tidak tahu apa jadinya kau jika aku tak ada,"
"akari.."
"jadi, ayo buat suatu perjanjian,ryosuke. Perjanjian di antara yakuza,"
Hidup di lingkungan yakuza setidaknya memberi pengaruh pada akari.
"jadi aku sudah memutuskan untuk selalu bersamamu, kapanpun di waktu apapun dan dalam keadaan bagaimana pun juga,"
Akari meminum secawan sake miliknya.
"akari chaaannnn.. Tunggu!"
"hmm, daijoubu, ryosuke. Kau tidak usah mengkhawatirkanku,"
Akari tersenyum.
"lagi pula aku,
Akari mendekati ryosuke dan memberi ciuman sekilas pada bibirnya.
"aku sudah siap dengan hal terburuk, aku bisa menjaga diriku lagipula sejauh ini tidak ada hal buruk yang terjadi. Aku bisa melindungi diriku,"
"akari, kenapa kau sangat nekat?" ryosuke tertunduk lesu.
"bonds are stronger than marriage, iya kan, ryosuke?"
Lagi-lagi akari tersenyum. Setengah geli melihat ryosuke yang kini tak bisa bicara karena kenekatannya. Akari sudah berjanji untuk selalu berada di dekat ryosuke, pasti.
"eh?"
Secawan sake berada di depan ryosuke.
"eh? Akari, aku belum memutuskan untuk menerima pengambil-alihan, masih ada beberapa minggu lagi dan aku masih ingin melakukan banyak hal denganmu, dan kau tahu kan apa artinya jika meminum sake ini."
"un, kau akan terikat dengan janjimu tapi sake ini bukan untuk hal itu."
"ha?"
"kau sudah tahu jika kau akan meninggalkanku dan membiarkanku lepas dari kehidupanmu suatu saat nanti, tapi jika aku pergi kau akan menangis dan setelah itu kau tidak tahu harus berbuat apa, bukan?"
"akari.."
"sejak kau mengatakan itu aku jadi khawatir denganmu, aku tidak tahu apa jadinya kau jika aku tak ada,"
"akari.."
"jadi, ayo buat suatu perjanjian,ryosuke. Perjanjian di antara yakuza,"
Hidup di lingkungan yakuza setidaknya memberi pengaruh pada akari.
"jadi aku sudah memutuskan untuk selalu bersamamu, kapanpun di waktu apapun dan dalam keadaan bagaimana pun juga,"
Akari meminum secawan sake miliknya.
"akari chaaannnn.. Tunggu!"
"hmm, daijoubu, ryosuke. Kau tidak usah mengkhawatirkanku,"
Akari tersenyum.
"lagi pula aku,
Akari mendekati ryosuke dan memberi ciuman sekilas pada bibirnya.
"aku sudah siap dengan hal terburuk, aku bisa menjaga diriku lagipula sejauh ini tidak ada hal buruk yang terjadi. Aku bisa melindungi diriku,"
"akari, kenapa kau sangat nekat?" ryosuke tertunduk lesu.
"bonds are stronger than marriage, iya kan, ryosuke?"
Lagi-lagi akari tersenyum. Setengah geli melihat ryosuke yang kini tak bisa bicara karena kenekatannya. Akari sudah berjanji untuk selalu berada di dekat ryosuke, pasti.
Published with Blogger-droid v2.0.6
Comments
Post a Comment