Kenangan Sepeda


Pagi ini mendung menggelayut di balik jendela kamarku yang mulai buram. Ah! Sebaiknya aku bersih-bersih hari ini, sudah dua hari ini aku tidak melakukan pembersihan rumah. Bukannya aku malas tapi memang tidak sempat, pekerjaanku menumpuk. Banyak data-data keuangan yang belum aku input ke komputer, jadi dua hari kemarin aku lembur. Terlena di dalam kertas-kertas penuh deret kolom dan baris.
Aku menyesap Melyaku. Campuran kopi dengan bubuk cocoa dan madu. Aku selalu suka kopi ini. Membangkitkan semangat.
Kring! Bunyi bel sepeda melintas di depan rumahku. Aku sedikit menjulurkan kepala untuk melihat siapa yang datang. Aku selalu teringat kenangan masa SMA jika mendengar bunyi lonceng sepeda, atau sepeda itu sendiri. Aku teringat tentang kau.

Iya, Kau..

Aku menyesap lagi Melyaku. Itu sudah bertahun yang lalu tapi masih segar dalam ingatanku.

Biasanya kau datang ke sekolah dengan sepedamu yang berwarna gelap itu, jika banyak anak laki-laki yang memilih motor sebagai kendaraan atau dengan berbagai alasan lainnya, kau malah naik sepeda. Tidak berisik katamu. Aku hanya tertawa ketika mendengar celotehmu saat itu.
“Bagaimana? Tidak dijemput ya?” tanyamu saat sedang menemaniku menunggu supir.
“Sepertinya tidak,” Tidak biasanya terlambat seperti ini, sungutku dalam hati.
Kau hanya mengangguk sambil menoleh kiri-kanan.
“Kau sedang apa?” tanyaku, “Kenapa tidak pulang? Aku bisa disini sendiri.”
“Hah? Kau perempuan, tidak mungkin meninggalkanmu sendiri apalagi sekolah sudah sepi seperti ini,” kau menoleh ke belakang, memang sekolah sudah sepi. Hanya ada penjaga sekolah yang sedang mengunci pintu kelas.
Lima belas menit berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran Pak J, panggilan untuk supirku. Aku menghela nafas dan menoleh padamu yang sedang melihat ke jalanan. Apa yang kau lakukan disini? Menungguiku sampai aku menaiki mobil?
Aku tersenyum. Tanpa sadar, aku jadi memperhatikanmu. Rambut kecoklatan yang dibiarkan memanjang, kau tidak mematuhi peraturan sekolah rupanya. Beberapa helai poni yang kau biarkan jatuh menutupi matamu. Wajahmu yang tirus dan sedikit berwarna pucat. Matamu yang berwarna coklat gelap itu juga jadi daya tarik tersendiri bagiku. Seperti tersedot ke dimensi lain jika menatap lama kedua matamu itu. Aku tergelak.
“Kenapa tertawa?” tanyamu kemudian
“hmm? Tidak ada,” aku tersenyum
Tiba-tiba kau menepuk pelan kepalaku, “Kau ini,” dan kau tersenyum. Senyumanmu memikat ternyata. Aku merasakan desir aneh menghinggap ketika kau melakukan dua hal tadi. Haa~ tiba-tiba jadi gelisah sendiri berdekatan denganmu.
“Aku pulang naik angkot saja,” ujarku. Aku tidak ingin memunculkan desir-desir aneh lainnya. Cukup satu kali saja.
“Eh?” Ekspresi terkejutmu lucu sekali, aku jadi ingin tertawa lagi.
“Tidak boleh,” katamu
Aku mengerutkan dahi. Heran kenapa kau melarangku.
“Pulang denganku saja..” katamu lagi
“Hah? Naik sepedamu?” Aku menoleh ke parkiran. Sepeda hitammu satu-satunya penghuni yang tertinggal disana. Aku tidak keberatan sebenarnya, tapi bagaimana caranya. Hanya ada satu sadel disana, dan itu bukan sepeda untuk membonceng seseorang.
“Iya, ayo~”
Kau menggenggam tanganku dan menarikku pelan menuju parkiran.
Kau melepas stangnya dan naik ke atas sepedamu.
“Kau duduk disini?” kau menunjuk sebuah besi penghubung antara sadel dan kemudi sepeda. Biasanya besi ini dimanfaatkan untuk menaruh botol air minum.
“Eh? Disini? Memangnya bisa?” ujarku ragu
Kau mengangguk yakin. “Ayo~ nanti kau pulang terlalu sore,”
Baiklah daripada tidak pulang, batinku.
Aku duduk menyamping seperti ketika duduk di atas motor. Tasku, yang kebetulan tas model selempang, ku taruh di pangkuanku agar tidak mengganggumu mengayuh.
“Sudah siap?” tanyamu sambil memandangku. Aku tepat sejajar dengan hidungmu sekarang.
Aku mengangguk tapi tidak yakin. Bukan karena takut jatuh, aku yakin kau handal, tapi karena hal lain. Hal yang membuatku berdesir beberapa saat yang lalu. Roda sepedamu mulai berputar perlahan dan bergerak keluar dari sekolah.

Aku hanya diam di sepanjang jalan. Mengatur nafasku agar terlihat normal, karena sebenarnya tidak normal sama sekali. Jarak kita terlalu dekat, mungkin beberapa senti lagi aku bisa bersandar di dadamu. Posisimu yang sedikit membungkuk itu membuatku grogi. Nafasmu terdengar tepat di telingaku, mengalir di sepanjang tengkuk leherku. Aku bukan berfikir yang tidak-tidak, hanya saja, tidakkah ini sangat dekat? Kita memang sudah sangat lama berteman tapi apa pantas aku merasakan hal seperti ini.
“Kenapa diam saja?” tanyamu tiba-tiba sambil tertawa kecil.
“Memangnya apa yang harus kita bicarakan?” tanyaku lagi. Semakin banyak bicara, aku semakin gugup jadi aku memilih diam.
“Apa saja, keseharianmu, kesukaanmu belakangan ini.” ujarmu enteng
“Kau ini, seperti baru berteman denganku kemarin saja. Aku rasa tidak perlu ku beritahu kau sudah tahu banyak tentangku,” Aku tergelak.
Angin berhembus perlahan meniup rambut-rambutku yang terlepas dari ikatannya. Poni-ponimu pun ikut tertiup dan membuatku bisa melihat jelas lekuk di wajahmu. Aku kembali menoleh ke depan. Tidak ada desir-desir lagi setelah ini.
Kita diam lagi kemudian. Kenapa perjalanan ini sangat panjang? pikirku, apa karena ada kau?
Tiba-tiba kau menghentikan sepedamu.
“Ada apa?” tanyaku
“Beli minum dulu yuk~” Kau menunjuk sebuah kedai yang menjual es kelapa muda di pinggir jalan. Rumahku tak seberapa jauh lagi dari kedai itu.
“Baiklah,” aku turun dari sepedamu dan berjalan perlahan menuju kedai yang tak jauh sementara kau menggiring sepedamu.
“Es kelapa mudanya dua bungkus, Mang.” pintamu pada penjual es itu
“Lho, aku kira mau minum disini.”
“Kita minum di perjalanan saja, sambil ngobrol.” katamu lagi
“Ngobrol? Bukannya kita sering ngobrol di sekolah?” aku mengencangkan ikat rambutku.
“Itu di sekolah, di luar sekolah? Belum pernah, kan?” ujarmu seraya menyodorkan sebungkus es kelapa muda itu kemudian membayarnya.
“Ayo~”

Kau menggiring sepedamu kali ini. Aku berjalan bersisian denganmu sambil memegang sebungkus es kelapa muda yang sesekali aku hirup.
“Kita akan lulus sebentar lagi ya..” ujarmu
Aku mengangguk.
“Semoga tidak ada niat yang tak terucap sebelum kita berpisah,” katamu dengan tatapan misterius yang ditujukan padaku.
“Hmm?” aku menatapmu heran.
“Sudahlah,” kau tersenyum dan menepuk pelan lagi kepalaku sambil tergelak.
Wajahku menghangat. Pertama kalinya seseorang memperlakukanku seperti ini.

Dan akhirnya, aku tiba di rumah. Pak J yang membukakan pagar.
“Loh, mbak, tadi saya ke sekolah tapi tidak lihat mbak, saya kira sudah pulang. Kok di jalan tadi tidak bertemu ya?” tanya Pak J, dia selintas melirik dirimu.
“Ngga pa-pa kok, Pak. Saya tadi sudah tidak sabar, makanya pulang duluan.” Jelasku pada Pak J.
Pak J hanya mengangguk.
“Masuk dulu yok!” ajakku padamu
“Tidak usah, aku langsung pulang saja ya.” katamu seraya menaiki sepedamu
“Yakin tidak mau mampir?” tanyaku
Kau mengangguk.
“Baiklah, hati-hati dan terima kasih banyak.” ujarku
“Aku tidak keberatan..” katamu tulus, “Kalau begitu, aku pamit ya.” Kau mulai mengayuh pedal dan meninggalkan halaman rumahku. Aku sengaja menunggu hingga kau luput dari pandanganku. Namun tiba-tiba kau menghentikan sepedamu dan melambaikan tangan padaku.
“Selalu ada tempat untukmu di sepeda ini~” katamu setengah berteriak
Aku terkejut namun sejurus kemudian tersenyum. Aku mengangguk dan membalas lambaian tanganmu. Kemudian kau perlahan menghilang dari pandanganku.

Aku kembali menyesap Meyla-ku. Sesapan terakhir. Perlahan Meyla itu habis selama aku mengingat kau dan sepedamu itu. Aku tersenyum sendiri ketika kenangan seperti itu tiba-tiba terlintas lagi seperti film-film yang terputar di pikiranku. Film tentangmu yang akan selalu aku putar untuk membuatku tersenyum.


-------------------------------------------------------------------

20 Maret 2012, 22:23:13
credit image : blogskins

Comments

Popular Posts