Story in TOKYO TOWER

Chapter Four

Akari’s Flashback Dream

Yamada? Mengapa ia menangis? Sesuatu terjadi padanya?

Akari menghela nafas. Ia mengingat kembali apa yang menyebabkan ia menyukai Yamada Ryosuke. Berkali ia memimpikan Yama dan berkali pula mimpi itu seolah menjadi nyata. Setelah ia bermimpi Yama menangis, tiba-tiba muncul sebuah video yang benar-benar menunjukkan Yama sedang menangis. Caranya menangis, tempatnya dan seragamnya. Sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpinya.

Akari menghela nafas sekali lagi. Ia meregangkan otot-ototnya. Saat ini ia berada di sebuah taman, menunggu kedatangan Miki, tapi nampaknya Miki belum terlihat sama sekali.

“Baiklah, aku akan menunggumu di Tokyo Tower jam satu siang. Bagaimana?”

“Baiklah, aku akan datang, tenang saja..”

Tokyo Tower jam satu siang,

“Maaf kalau aku mengajak Chinen, tapi mungkin kau akan mencari sesuatu dulu, Chii?”

“Ah, iya, aku harus mencari sesuatu. Aku akan segera kembali.”

Saat ini hanya mereka berdua. Entah apa yang dipikirkan Yama, tapi Akari terkejut dengan apa yang dilakukannya. Sebuah ciuman di pipi.

Wajah Akari memerah jika mengingat ini. Hyaa~ kenapa aku bisa memimpikan hal seperti ini? Sungguh memalukan, tidak seharusnya … kyaaa~ Akari menutupi wajahnya sendiri dengan tangan. Ini terjadi hampir setiap malam dalam mimpinya. Apakah bagian yang terakhir harus terjadi? Akari malu untuk membayangkannya.

Akari kembali menghela nafas. Andai saja~

Miki belum terlihat sama sekali, Akari mencoba menghubungi tapi ponsel Miki tidak aktif.

“Mizu-chan, kau pulang bersamaku hari ini.”

“Kau menjemputku?”

“Tentu saja, buktinya aku sudah berada disini. Ayo! Temani aku sebentar saja, aku akan memberi sebuah kejutan untukmu.”

Yamada langsung menarik tangan kiri Akari. Akari terkejut tapi senang.

Mereka sampai di sebuah toko.

“Mizu-chan, tunggu disini sebentar. Aku akan segera kembali,”

Akari menurut. Ia menunggu Yama di luar toko. Sedikit lama, entah apa yang Yama lakukan di dalam.

“Maaf membuatmu menunggu, ini untukmu.”

Yama memberikan Akari sepasang jepit. Jepit dengan aksen kesenangan Yama. Strawberry.

“Benarkah?”

“Ya, dan mulai sekarang panggil saja aku Ryosuke,”

Akari agak sedikit aneh dengan bagian ini, benarkah apa yang terjadi? Jepit strawberry? Itu menyenangkan. Tapi yang lebih menyenangkan Yama memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan Ryosuke. Akari menghela nafas. Ia memeriksa ponselnya. Sudah setengah jam ia berada di taman ini dan Miki belum terlihat juga.

Senyumannya. Mengapa terlihat begitu berbeda? Apa yang ia rasakan saat ini? Yama tersenyum namun setelah itu pergi, ia hanya meninggalkan sebuah senyuman. Apa maksudnya? Akari penasaran. Dia mencoba meraih tangan Yama untuk menahan kepergiannya. Herannya walau jarak mereka sangat dekat, Akari tidak mampu meraihnya.

Yamadaaa~ apa maksudmu? Aku tidak mengerti dan sampai sekarang pun masih tidak mengerti. Apakah kau benar-benar menginginkan untuk bersama Maria? Kau semakin jauh untuk dijangkau. Bagaimana bisa aku… hh~ seperti inikah akhirnya?

Miki datang, ia meminta maaf pada Akari karena keterlambatannya. Akari mengangguk lemah tapi rencana sepertinya dibatalkan karena perasaan Akari yang tiba-tiba memburuk memikirkan bagian terakhir tentang dirinya dan Yamada.

Comments

Popular Posts