Story at TOKYO TOWER
Chapter Five (Ending)
Between Us
Akari mulai menyerah dengan perasaannya terhadap Yamada. Kabar kedekatan Yama dengan Maria membuatnya tidak bisa bernafas dengan baik. Walaupun kabar ini sudah lama tetap saja Akari merasa … hh~ bahkan dia pun tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Namun Miki yang secara tidak terduga memberinya harapan untuk terus menyentuh Yamada. Miki selalu mengatakan bahwa semua hal bisa terjadi, termasuk antara Akari dan Yamada. Bukankah saat pertama Akari menceritakan hal ini pada Miki, Miki tidak percaya bahkan menganggapnya gila, justru memberinya harapan seperti itu.
“Mizu-chan, bukankah kau harusnya tidak menyerah seperti ini? Kau yang mengambil perasaan seperti ini, harusnya kau berani mengambil semua resiko yang ada, bukankah kau sudah yakin tentang perasaanmu? Kau harus memperjuangkannya, tidak boleh menyerah!”
Ia ingat betul Miki mengatakan itu. Hampir tidak percaya, tapi Miki benar-benar mengatakannya.
Akari keluar dari rumahnya. Ia memakai sweater karena meskipun cuaca hangat tetap saja dingin baginya. Ia kembali ke Tokyo Tower , tempat yang terpikir saat ia keluar dari rumahnya.
Akari duduk di sebuah kursi tak jauh dari tempatnya berdiri. Kursi yang sama seperti saat ia melihat sosok Yamada disana. Kemudian diikuti dengan kejadian-kejadian beruntun tentang Yama. Restoran Sushi, Tokyo Dome dan mungkin suatu hari dia akan bertemu. Sanggupkah? Akari menghela nafas. Ia kembali mengingat mimpi-mimpinya. Namun pada bagian akhir mimpinya, ia tertunduk.
“Menghabiskan waktu sendiri menurutku tidak menarik, Iya kan ?”
Akari mengiyakan tanpa melihat lagi siapa yang berbicara padanya. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Sedang memikirkan apa?”
“Aku hanya memikirkan …
Akari terperanjat.
Senyum yang sama dengan mimpinya. Senyum yang sama dengan Tokyo Dome.
Akari bangun! Sudah terlalu banyak bermimpi hari ini. Ayo, bangun!
“Hei, ada apa? Kenapa kau terlihat bingung? Apakah aku membuatmu takut atau apa?”
“Tidak. Tidak apa. Aku hanya … aku tidak bisa mengatakannya.”
“Tidak. Tidak apa. Aku hanya … aku tidak bisa mengatakannya.”
“Ada yang ingin kutanyakan, boleh?”
“Baiklah, tanyakan saja.” Bibir Akari bergetar. Jantungnya berdegup cukup kencang. Semoga ia tidak mendengar.
“Apa yang selama ini kau bicarakan dengan temanmu selama ini? Ingat? Disini, di restoran sushi, Tokyo Dome. Aku selalu melihatmu bicara serius denganmu tentang aku.”
“Kau mendengarnya?”
“Tidak banyak. Hanya mendengar namaku. Tapi aku melihat ekspresi temanmu dan ekspresimu yang nampaknya sangat serius sekali, kadang kau terlihat bahagia, kemudian ingin menangis. Yang benar-benar membuatku sangat penasaran adalah kau menangis di Tokyo Dome. Apakah ada hubungannya denganku? Kalau memang ada, aku minta maaf.”
Akari benar-benar tidak bisa berkata apapun. Ternyata selama ini dia memperhatikan.
“Maaf,”
“Untuk apa meminta maaf? Kau tidak melakukan kesalahan apapun,”
“Mungkin saja secara tidak sengaja aku melakukannya, apakah kau ingin memberitahukanku sesuatu?”
Akari tidak ingin tapi jika tidak, kapan lagi dia bisa mengungkapkannya.
“Tentang apa?”
“Tentang yang kau bicarakan dengan temanmu, apakah itu aku?”
“Iya itu kau,”
“Aku penasaran,”
“Jika aku tidak ingin?”
“Aku tidak akan memaksa.”
“Maafkan aku,”
“Tidak mengapa, baiklah~ aku harus pergi sekarang, masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan.”
Akari, lakukan sesuatu. Namun tubuh Akari tidak ingin melakukan apa yang diperintahkan hatinya.
Yamada berdiri dari tempatnya. “Aku pergi dulu, terima kasih, paling tidak aku sudah melihatmu, aku merasa senang karena bisa bertemu denganmu, kau tahu kan selama ini kita hanya hampir bertemu. Jyaaa~”
Yamada berbalik meninggalkan Akari. Belum jauh.
“Yama-chaaaan!!!”
Yama berhenti namun tidak berbalik.
“Maafkan, maafkan aku. Maafkan jika aku lancang atau tidak sopan tapi …
Akari mulai gentar dengan kalimatnya sendiri. Apapun yang terjadi, ia harus mengatakannya.
“Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Mungkin terdengar gila, tapi aku mencintaimu, bukan rasa suka fans pada idola tapi .. tapi .. rasa suka seorang wanita pada laki-laki. Ku harap kau mengerti, jika aku tidak mengatakan ini mungkin aku akan terkurung dalam perasaanku sendiri. Intinya, aku hanya ingin kau tahu apa yang aku rasakan, mungkin aku tidak berarti bagimu tapi kau berarti bagiku, Yama-chan.”
Mata Akari berkaca-kaca saat mengatakan hal ini kemudian terduduk di kursinya karena Yama tidak berbalik ataupun menanggapi apa yang dikatakannya. Resiko yang harus dihadapi, ia ingat kata-kata Miki.
Yamada sudah menghilang dari pandangannya. Tapi Akari lega dengan apa yang ia lakukan hari ini, setidaknya Yama tahu apa yang dirasakannya. Ia memang berharap seperti itu. Dia tidak ingin Yama menjadi miliknya tapi ia hanya butuh Yama tahu ada dirinya disini.
Lama Akari berdiam disana. Memikirkan yang terjadi barusan, sungguhkah itu sebuah kenyataan atau dia bermimpi lagi? Jika memang mimpi, mengapa semuanya tampak nyata? Akari memutuskan untuk pulang. Ia sudah cukup puas hari ini. Bertemu Yamada Ryosuke dan mengungkapkan semuanya. Ia tidak akan menyangka kejadian seperti ini akan terjadi di dalam hidupnya. Akari tersenyum. Ia sudah tidak sabar ingin menceritakannya pada Miki.
Beberapa langkah ia meninggalkan Tokyo Tower . Seseorang memanggil. Ia kenal suara siapa. Benarkah dia kembali?
Akari berbalik. Darimana ia tahu namaku?
“Akari-chan, terima kasih kau telah mengatakan semua itu, aku senang ada fans sepertimu, maaf kalau aku tidak mengatakan apa-apa soal perasaanmu padaku,” Akari tertunduk malu.
“Sebenarnya aku pun tidak tahu harus mengatakan apa karena baru satu kali ini aku mendapatkan pernyataan yang mengejutkan dari seseorang. Aku hanya bisa bilang terima kasih kau telah menyukaiku, aku sangat senang. Haha.” Yama tertawa. Membuat Akari semakin menyukainya.
“Seperti yang kukatakan tadi Yama-chan, aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku, itu saja. Sejujurnya aku tidak menyangka akan terjadi perbincangan seperti ini, suatu hal yang mustahil dalam hidupku terjadi.”
“Tidak ada yang mustahil, Akari-chan. Baiklah aku harus pergi. Terima kasih untuk waktumu. Ini.” Yama meraih tangan Akari dan menyelipkan sesuatu di tangannya. “Aku pergi dulu, jyaaa~ Satu lagi, panggil saja aku Ryosuke.” Yamada pergi meninggalkan Akari dengan senyumannya yang membuat jantung Akari akan keluar.
“Jyaaa~” Akari melambaikan tangannya.
Akari menghela nafas. Ia sangat senang, baru kali ini, baru kali ini terjadi. Yamada begitu dekat dan ia memegang tangan kirinya memberinya sesuatu. Akari seperti mengalami déjà vu. Mimpinya. Sama persis. Jika ia benar, maka …
Akari buru-buru membuka kotak yang diberi Yamada padanya. Ia benar!
Yamada memberinya sepasang jepit rambut strawberry, sama persis dengan mimpinya. Bukan sama persis tapi memang benar-benar1 seperti yang ada di dalam mimpinya. Akari memegang erat jepit itu.
Terima kasih, Yamada Ryosuke. Aku akan tetap menyimpan perasaan ini, selamanya. Terima kasih.
Comments
Post a Comment