Story at TOKYO TOWER
CHAPTER TWO
Part A
Mizunashi Akari
Part A
Mizunashi Akari
“Miki-chaaan~ kalung ini bagus sekali ya,”
“Un! Kau mau membelinya?”
“Tidak. Aku hanya menyukainya saja.”
“Kau ini,”
Akari dan Miki sedang berada di dalam toko aksesoris perempuan. Mereka baru saja pulang dari sekolah dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang sekolah.
Pandangan Akari tertuju pada sebuah rak yang berisi gelang. Ia seperti melihat … dia mencoba mengingat,
“Miki-chaaaan~” Akari berteriak. Orang-orang di sekelilingnya sampai-sampai menoleh pada Akari.
“Mizu-chan, pelankan suaramu. Ada apa?”
“Gomenasai, gomenasai,, Aku hanya terlalu senang, lihat ini!”
“Ya, ada apa dengan gelang ini?”
“Ya Tuhan, kau tidak ingat gelang ini seperti gelang siapa?”
Miki menggeleng.
“Ini gelang Yamada Ryosuke, maksudku mirip, mirip gelangnya. Kau lihat kan?”
“Oh ya? Kau ingat betul detailnya.”
“Tentu saja, kan sudah ku bilang aku jatuh cinta pada Yama dan tentu saja aku akan melihat detail dirinya.”
“Ya, ya, ya..”
“Aku serius Mizu-chan! Sebenarnya aku masih tidak percaya apa yang kau ungkapkan kemarin tapi …”
“Tidak apa, aku akan menunggu sampai kau percaya. Yatta! Aku akan membeli gelang ini,”
Setelah membayar gelang yang mirip dengan milik Yama juga beberapa aksesoris lainnya, Akari dan Miki keluar dari toko itu. Mereka membeli es krim dan pancake saat sedang berjalan-jalan sampai akhirnya Akari menyadari,
“Miki-chan, sepertinya rintik hujan.”
“E? Serius?” Miki menengadahkan telapak tangannya mencoba meyakinkan bahwa hujan turun. Tak lama berselang, hujan turun deras. Toko-toko di sekitar jalan, dipenuhi orang-orang yang berteduh.
“Hyaaa~ bajuku basah. Bagaimana ini, Miki-chan?”
Miki mengedarkan pandangannya mencari tempat berteduh.
“Disana!” Miki menunjuk sebuah restoran sushi. “Ayo, kita kesana, Mizu-chan.”
Mereka masuk ke restoran sushi itu, berdiri di depannya sebentar, mencoba setidaknya mengeringkan sedikit baju mereka dengan mengibas-ngibaskannya.
“Miki, apakah kita harus berdiri disini sampai hujan turun? Sebaiknya kita masuk.”
“Tapi apakah tidak apa? Kita kan tidak membeli,”
“Tidak apa, aku lapar, kita makan sushi saja, aku yang traktir. Bagaimana?”
Miki mengangguk.
Mereka duduk di sudut. Karena memang hanya tempat itu yang kosong. Akari memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar sana. Beberapa orangtua dan seorang laki-laki yang seumuran dengannya mengenakan topi, jaket dan kacamata hitam. Aneh, pikirnya. Tapi Akari tidak terlalu ambil pusing.
“Miki-chan, kau harus dengar ini.”
“Ada apa?”
“Dengarkan saja, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku.”
“Iya, ada apa?”
“Saat kita berada di TokyoTower kemarin, aku melihat Yamada Ryosuke. Dia duduk tidak jauh dari kita. Aku takut ia mendengar apa yang kita bicarakan kemarin, kalau ia mendengar, hyaaa~ betapa malunya aku,”
“Hah?! Mungkin hanya mirip,”
“Tidak. Bagaimana kalau ia mendengar?”
“Kalau begitu, sebaiknya ia memang mendengarnya jadi kau tidak perlu repot-repot pergi ke official JE dan mencarinya kemudian mendengarkan pernyataanmu,”
“Aku tidak ingin seperti itu caranya ia tahu bahwa aku mencintainya,” Akari menghela nafas
“Mizu-chan, aku yakin kepalamu terbentur atau kau demam.” Miki memeriksa kepala Akari.
“Aku yakin, aku yakin, kau harus percaya padaku.”
“Iya, aku percaya padamu, Mizu-chan. Tapi sebaiknya kau lupakan dulu Yamada Ryosuke dan makan sushi ini, kau bilang kau lapar?”
Miki kembali menyantap sushi yang ada di hadapannya tanpa peduli pada Akari yang saat itu juga terpaku seperti melihat hantu,
“Miki-chan?!”
“Iya.”
“Miki-chan, sebaiknya kita pergi darisini, segera!”
Akari mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa yen. Kemudian menaruhnya begitu saja di meja. Ia membereskan tasnya dan menarik tangan Miki kemudian keluar dari restoran itu.
“Ada apa, Mizu-chan? Tiba-tiba saja …”
“Nanti aku ceritakan sebaiknya kita berlari secepat mungkin supaya dia tidak melihat kita,”
“Dia siapa?”
Akari hanya diam. Dia yakin penglihatannya tidak salah. Ia juga yakin pendengarannya juga tidak salah, ia mendengar laki-laki itu memanggilnya. Seketika ia senang namun juga takut. Apakah ini sebuah pertanda??
“Un! Kau mau membelinya?”
“Tidak. Aku hanya menyukainya saja.”
“Kau ini,”
Akari dan Miki sedang berada di dalam toko aksesoris perempuan. Mereka baru saja pulang dari sekolah dan memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sebelum pulang sekolah.
Pandangan Akari tertuju pada sebuah rak yang berisi gelang. Ia seperti melihat … dia mencoba mengingat,
“Miki-chaaaan~” Akari berteriak. Orang-orang di sekelilingnya sampai-sampai menoleh pada Akari.
“Mizu-chan, pelankan suaramu. Ada apa?”
“Gomenasai, gomenasai,, Aku hanya terlalu senang, lihat ini!”
“Ya, ada apa dengan gelang ini?”
“Ya Tuhan, kau tidak ingat gelang ini seperti gelang siapa?”
Miki menggeleng.
“Ini gelang Yamada Ryosuke, maksudku mirip, mirip gelangnya. Kau lihat kan?”
“Oh ya? Kau ingat betul detailnya.”
“Tentu saja, kan sudah ku bilang aku jatuh cinta pada Yama dan tentu saja aku akan melihat detail dirinya.”
“Ya, ya, ya..”
“Aku serius Mizu-chan! Sebenarnya aku masih tidak percaya apa yang kau ungkapkan kemarin tapi …”
“Tidak apa, aku akan menunggu sampai kau percaya. Yatta! Aku akan membeli gelang ini,”
Setelah membayar gelang yang mirip dengan milik Yama juga beberapa aksesoris lainnya, Akari dan Miki keluar dari toko itu. Mereka membeli es krim dan pancake saat sedang berjalan-jalan sampai akhirnya Akari menyadari,
“Miki-chan, sepertinya rintik hujan.”
“E? Serius?” Miki menengadahkan telapak tangannya mencoba meyakinkan bahwa hujan turun. Tak lama berselang, hujan turun deras. Toko-toko di sekitar jalan, dipenuhi orang-orang yang berteduh.
“Hyaaa~ bajuku basah. Bagaimana ini, Miki-chan?”
Miki mengedarkan pandangannya mencari tempat berteduh.
“Disana!” Miki menunjuk sebuah restoran sushi. “Ayo, kita kesana, Mizu-chan.”
Mereka masuk ke restoran sushi itu, berdiri di depannya sebentar, mencoba setidaknya mengeringkan sedikit baju mereka dengan mengibas-ngibaskannya.
“Miki, apakah kita harus berdiri disini sampai hujan turun? Sebaiknya kita masuk.”
“Tapi apakah tidak apa? Kita kan tidak membeli,”
“Tidak apa, aku lapar, kita makan sushi saja, aku yang traktir. Bagaimana?”
Miki mengangguk.
Mereka duduk di sudut. Karena memang hanya tempat itu yang kosong. Akari memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar sana. Beberapa orangtua dan seorang laki-laki yang seumuran dengannya mengenakan topi, jaket dan kacamata hitam. Aneh, pikirnya. Tapi Akari tidak terlalu ambil pusing.
“Miki-chan, kau harus dengar ini.”
“Ada apa?”
“Dengarkan saja, aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku.”
“Iya, ada apa?”
“Saat kita berada di TokyoTower kemarin, aku melihat Yamada Ryosuke. Dia duduk tidak jauh dari kita. Aku takut ia mendengar apa yang kita bicarakan kemarin, kalau ia mendengar, hyaaa~ betapa malunya aku,”
“Hah?! Mungkin hanya mirip,”
“Tidak. Bagaimana kalau ia mendengar?”
“Kalau begitu, sebaiknya ia memang mendengarnya jadi kau tidak perlu repot-repot pergi ke official JE dan mencarinya kemudian mendengarkan pernyataanmu,”
“Aku tidak ingin seperti itu caranya ia tahu bahwa aku mencintainya,” Akari menghela nafas
“Mizu-chan, aku yakin kepalamu terbentur atau kau demam.” Miki memeriksa kepala Akari.
“Aku yakin, aku yakin, kau harus percaya padaku.”
“Iya, aku percaya padamu, Mizu-chan. Tapi sebaiknya kau lupakan dulu Yamada Ryosuke dan makan sushi ini, kau bilang kau lapar?”
Miki kembali menyantap sushi yang ada di hadapannya tanpa peduli pada Akari yang saat itu juga terpaku seperti melihat hantu,
“Miki-chan?!”
“Iya.”
“Miki-chan, sebaiknya kita pergi darisini, segera!”
Akari mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa yen. Kemudian menaruhnya begitu saja di meja. Ia membereskan tasnya dan menarik tangan Miki kemudian keluar dari restoran itu.
“Ada apa, Mizu-chan? Tiba-tiba saja …”
“Nanti aku ceritakan sebaiknya kita berlari secepat mungkin supaya dia tidak melihat kita,”
“Dia siapa?”
Akari hanya diam. Dia yakin penglihatannya tidak salah. Ia juga yakin pendengarannya juga tidak salah, ia mendengar laki-laki itu memanggilnya. Seketika ia senang namun juga takut. Apakah ini sebuah pertanda??
*****************************************
Part B
Yamada Ryosuke
Yamada Ryosuke
Mayonaka no kaubooi ni natte
Kimi ni kimi ni tsutaetai
Moji kimi ga nozomu no nara
Donna basho e mo tsureteiku
Single itu terdengar dari ruangan latihan, Hey!Say! JUMP sedang berlatih untuk mengisi acara di konser senpai mereka, Kinki Kids. Walaupun mereka sudah sering berlatih dan hafal seluruh gerakan dengan pasti, tidak ada salahnya sedikit mengulangi.
Yama tampak tidak konsentrasi, beberapa kali ia melakukan kesalahan. Chinen mencoba mengingatkan namun Yama sepertinya tidak mengindahkan. Masihkah ia marah karena kejadian kemarin? Chinen mencoba bertanya namun Yama selalu menghindar dan menutup mulutnya.
“Baiklah, aku sudah mencoba untuk mengerti keadaanmu, Yama-chan.. Tapi jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa berbuat apapun.” Chinen meninggalkan Yama setelah ia mengucapkan kalimat itu.
..Maaf, Chii, mungkin lain kali.. bisik Yama dalam hati
Mereka tidak hanya menyanyikan Mayonaka no Shadow Boy tapi single baru mereka yang berjudul Hitomi no Screen pun akan dinyanyikan. Sempat terjadi perdebatan unit mana yang akan menyanyikan lagu ini. Hey!Say!JUMP, NYCboys atau bahkan hanya Yama sendiri? Tapi bagaimanapun semuanya tampak sama saja, Yama berada dalam semua unit itu baik Hey!Say!JUMP ataupun NYCboys, tidak satu pun menguntungkan dirinya. Malah di lagu ini kebanyakan dia yang ambil bagian tapi wajar saja lagu ini adalah soundtrack filmnya, Hidarime Tantei Eye.
Latihan berakhir dan ia tidak mempunyai alasan untuk berlama-lama di kantor. Ia keluar mengenakan jaket, menutupi kepalanya dengan topi dan memasang headphone ditelinganya. Mendengarkan lagu-lagu senpainya atau bahkan lagunya sendiri. Yang paling sering diulang adalah Moonlight. Ia sangat menyukai lagu itu, entah karena liriknya yang menarik atau gadis yang ada di dalam mimpinya. Ia tertawa. Lucu sekali.
..Aku bahkan menyukai gadis yang aku tidak tahu seperti apa orangnya.. Ia menggelengkan kepalanya.
Yama berjalan menyusuri jalanan Tokyo yang ramai. Baru kali ini ia pergi sendiri, biasanya ia ditemani Chinen atau yang lainnya. Haa~ Chinen, ia merasa sangat berdosa telah membuat Chinen gusar akan sikapnya saat ini.
..Semua akan kembali seperti semula, Chii..
Entah darimana saat ini yang ada di pikiran Yama adalah kejadian kemarin saat ia ada di Tokyo Tower. Kenapa ia begitu tertarik dengan dua gadis -yang tanpa sengaja didengarnya- menyebut namanya. Penasaran. Tidak pernah ia sepenasaran ini. Dia ingat betul bagaimana wajah salah satu gadis itu –walau hanya sekilas terlihat- memerah saat menyebut namanya. Sementara gadis yang satunya terlihat … terkejut.
..Apakah sedahsyat itu saat orang lain mendengar namaku?..
Lagi, Yama tertawa sendiri.
Rintik. Ternyata hujan. Tempat berteduh, itu yang dibutuhkannya sekarang. Ia masuk ke sebuah restoran sushi. Sepi disana. Hanya ada beberapa orang dan sepertinya tidak ada yang mengenalinya. Ia heran mengapa tidak seorangpun mengenalinya hari ini, termasuk para fans, biasanya ada saja yang mengenalinya kemudian mencoba berdekatan dengannya. Mengenai fans, sebenarnya Yama tidak keberatan, karena tanpa ada fans tidak akan pernah ada seorang Yamada Ryosuke. Tapi ketika fans itu berlebihan, apakah kau yakin akan menyukai mereka secara tulus? Apalagi mereka sampai benar-benar mengganggu privasi dan keluarganya. Selalu ada dua sisi. Hanya itu yang diingat Yama.
Dua orang gadis masuk. Mereka nampak sangat kebasahan. Masih mengenakan seragam sekolah. Haa~ sekolah, tidak seperti sekolah bagi Yama. Dimana ia seharusnya menikmati pendidikan dan pergaulannya, ia malah tidak mempunyai teman, mungkin ada satu dua orang. Yang lain terlalu segan mendekatinya, apakah karena ia seorang artis terkenal atau apa, yama tidak mengerti. Teman-teman perempuannya hanya bisa berteriak-teriak aneh atau berlagak mencari perhatian tanpa bisa menjadi benar-benar temannya. Kenapa mereka tidak berani? Kalau kalian berani sedikit mendekatiku, mungkin aku akan menjadikan salah satu dari kalian pacarku. Haha. Pacar? Teman saja tidak boleh apalagi itu.
Yama terus berfikir, berputar-putar terkadang mengkhayal sampai-sampai ia harus dikagetkan dengan namanya yang kembali disebut oleh dua orang gadis. Ia mencari sumber suara dan yang ternyata datangnya dari dua gadis tadi. Dicobanya untuk mendengar tetapi tidak bisa karena suara mereka terlalu kecil. Dia hanya bisa mendengar, ‘aku yakin, aku yakin, kau harus percaya padaku’. Karena penasaran namanya disebut, Yama berdiri dari tempatnya dan mendekat. Gadis yang kurang lebih sama seperti di Tokyo Tower kemarin. Dia …
Belum sempat ia mendekat, gadis itu seperti menyadari keberadaannya. Gadis itu terpaku menatapnya kemudian segera membereskan tasnya dan keluar dari restoran itu terburu-buru bersama temannya.
“Hei, hei, kenapa kau pergi?!” Yama mencoba memanggil keluar tapi gadis itu telah hilang dari pandangannya.
Selintas ia melihat gelang yang sama yang dimilikinya, di tangan gadis itu. Ah~ mungkin hanya fans yang secara tidak sengaja menemukannya di toko aksesoris. Tapi rasa penasaran Yama berputar-putar di benaknya. Kenapa ia begitu tertarik dengan gadis ini? Suatu saat, mungkin mereka akan bertemu, lain waktu.
Yama tampak tidak konsentrasi, beberapa kali ia melakukan kesalahan. Chinen mencoba mengingatkan namun Yama sepertinya tidak mengindahkan. Masihkah ia marah karena kejadian kemarin? Chinen mencoba bertanya namun Yama selalu menghindar dan menutup mulutnya.
“Baiklah, aku sudah mencoba untuk mengerti keadaanmu, Yama-chan.. Tapi jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa berbuat apapun.” Chinen meninggalkan Yama setelah ia mengucapkan kalimat itu.
..Maaf, Chii, mungkin lain kali.. bisik Yama dalam hati
Mereka tidak hanya menyanyikan Mayonaka no Shadow Boy tapi single baru mereka yang berjudul Hitomi no Screen pun akan dinyanyikan. Sempat terjadi perdebatan unit mana yang akan menyanyikan lagu ini. Hey!Say!JUMP, NYCboys atau bahkan hanya Yama sendiri? Tapi bagaimanapun semuanya tampak sama saja, Yama berada dalam semua unit itu baik Hey!Say!JUMP ataupun NYCboys, tidak satu pun menguntungkan dirinya. Malah di lagu ini kebanyakan dia yang ambil bagian tapi wajar saja lagu ini adalah soundtrack filmnya, Hidarime Tantei Eye.
Latihan berakhir dan ia tidak mempunyai alasan untuk berlama-lama di kantor. Ia keluar mengenakan jaket, menutupi kepalanya dengan topi dan memasang headphone ditelinganya. Mendengarkan lagu-lagu senpainya atau bahkan lagunya sendiri. Yang paling sering diulang adalah Moonlight. Ia sangat menyukai lagu itu, entah karena liriknya yang menarik atau gadis yang ada di dalam mimpinya. Ia tertawa. Lucu sekali.
..Aku bahkan menyukai gadis yang aku tidak tahu seperti apa orangnya.. Ia menggelengkan kepalanya.
Yama berjalan menyusuri jalanan Tokyo yang ramai. Baru kali ini ia pergi sendiri, biasanya ia ditemani Chinen atau yang lainnya. Haa~ Chinen, ia merasa sangat berdosa telah membuat Chinen gusar akan sikapnya saat ini.
..Semua akan kembali seperti semula, Chii..
Entah darimana saat ini yang ada di pikiran Yama adalah kejadian kemarin saat ia ada di Tokyo Tower. Kenapa ia begitu tertarik dengan dua gadis -yang tanpa sengaja didengarnya- menyebut namanya. Penasaran. Tidak pernah ia sepenasaran ini. Dia ingat betul bagaimana wajah salah satu gadis itu –walau hanya sekilas terlihat- memerah saat menyebut namanya. Sementara gadis yang satunya terlihat … terkejut.
..Apakah sedahsyat itu saat orang lain mendengar namaku?..
Lagi, Yama tertawa sendiri.
Rintik. Ternyata hujan. Tempat berteduh, itu yang dibutuhkannya sekarang. Ia masuk ke sebuah restoran sushi. Sepi disana. Hanya ada beberapa orang dan sepertinya tidak ada yang mengenalinya. Ia heran mengapa tidak seorangpun mengenalinya hari ini, termasuk para fans, biasanya ada saja yang mengenalinya kemudian mencoba berdekatan dengannya. Mengenai fans, sebenarnya Yama tidak keberatan, karena tanpa ada fans tidak akan pernah ada seorang Yamada Ryosuke. Tapi ketika fans itu berlebihan, apakah kau yakin akan menyukai mereka secara tulus? Apalagi mereka sampai benar-benar mengganggu privasi dan keluarganya. Selalu ada dua sisi. Hanya itu yang diingat Yama.
Dua orang gadis masuk. Mereka nampak sangat kebasahan. Masih mengenakan seragam sekolah. Haa~ sekolah, tidak seperti sekolah bagi Yama. Dimana ia seharusnya menikmati pendidikan dan pergaulannya, ia malah tidak mempunyai teman, mungkin ada satu dua orang. Yang lain terlalu segan mendekatinya, apakah karena ia seorang artis terkenal atau apa, yama tidak mengerti. Teman-teman perempuannya hanya bisa berteriak-teriak aneh atau berlagak mencari perhatian tanpa bisa menjadi benar-benar temannya. Kenapa mereka tidak berani? Kalau kalian berani sedikit mendekatiku, mungkin aku akan menjadikan salah satu dari kalian pacarku. Haha. Pacar? Teman saja tidak boleh apalagi itu.
Yama terus berfikir, berputar-putar terkadang mengkhayal sampai-sampai ia harus dikagetkan dengan namanya yang kembali disebut oleh dua orang gadis. Ia mencari sumber suara dan yang ternyata datangnya dari dua gadis tadi. Dicobanya untuk mendengar tetapi tidak bisa karena suara mereka terlalu kecil. Dia hanya bisa mendengar, ‘aku yakin, aku yakin, kau harus percaya padaku’. Karena penasaran namanya disebut, Yama berdiri dari tempatnya dan mendekat. Gadis yang kurang lebih sama seperti di Tokyo Tower kemarin. Dia …
Belum sempat ia mendekat, gadis itu seperti menyadari keberadaannya. Gadis itu terpaku menatapnya kemudian segera membereskan tasnya dan keluar dari restoran itu terburu-buru bersama temannya.
“Hei, hei, kenapa kau pergi?!” Yama mencoba memanggil keluar tapi gadis itu telah hilang dari pandangannya.
Selintas ia melihat gelang yang sama yang dimilikinya, di tangan gadis itu. Ah~ mungkin hanya fans yang secara tidak sengaja menemukannya di toko aksesoris. Tapi rasa penasaran Yama berputar-putar di benaknya. Kenapa ia begitu tertarik dengan gadis ini? Suatu saat, mungkin mereka akan bertemu, lain waktu.
Comments
Post a Comment