Story at TOKYO TOWER

CHAPTER ONE
Part A
Yamada Ryosuke

Sekilas gerakannya tampak anggun, tapi apakah ada yang tahu bahwa ia sangat kelelahan, dia pun ragu akan hal itu. Satu hari mungkin ia bisa bekerja sampai 12 jam tanpa henti, tidur disela-sela latihan atau making-of-video adalah makanan sehari-hari baginya, tapi apakah ada yang tahu bahwa tangannya gemetar, sekali lagi ia ragu. Agensi hanya tahu bahwa ia adalah idola dan idola harus melakukan semuanya dengan sempurna. Apakah ada pengertian dalam hal kelelahan atau gemetar? Ia hanya tersenyum pahit.

“Yama-chan, apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Chinen, sahabatnya. Chinen Yuri, entah harus dipanggilnya laki-laki atau anak lelaki karena di dalam tubuhnya yang kecil tersembunyi banyak kedewasaan. Sama halnya dengan dirinya, Chinen pun tampak lelah tapi ia heran Chinen bisa menyembunyikan semuanya dengan senyumnya yang menawan.
“Tidak ada, hanya saja … ah~ sudah lupakan saja,”
“Ya, baiklah kalau itu yang kau mau, aku tidak akan memaksa. Hmm.. bagaimana kalau kita makan siang dan ngobrol?”
“Ide yang bagus,”

Mereka berdua menuju ke sebuah ruangan yang di depannya bertuliskan Hey! Say! JUMP. Apakah mereka berdua masih akan menempati ruangan ini setelah apa yang dilakukan Johnny-san dengan membentuk NYCboys menjadi permanen? Tidak ada yang pernah tahu.

Di dalamnya sudah ada teman-teman mereka. Yabu, Inoo, Hikka, Daiki, Yuya, Ryutaro, Yuto, Keito, yang wajahnya sama saja, lelah, seperti tertulis di wajah mereka.

“Yama-kun, Chii-kun!!! Ayo, ayo kemari, kita makan bersama..” ajak Yabu
“Hai!” Yama mendekat diikuti Chinen
“Kenapa kalian lama sekali?” tanya Keito sambil mengunyah makanannya
“Kami sedang membicarakan sesuatu yang … penting,” Chinen tersenyum
“Penting? Sepenting apa?” tanya Yuya lagi
“Pembicaraan antara dua laki-laki sejati,” Chinen tertawa

Semuanya terlibat dalam pembicaraan ringan seputar sekolah, hobi atau apa pun yang dapat mereka bincangkan untuk melupakan sedikit pekerjaan mereka. Tapi tidak dengan Yama, dia hanya diam.

“Yama-chan? Ada apa?” tanya Chinen. “Kalau kau masih memikirkan tentang permanennya NYCboys sebaiknya jangan terlalu khawatir, itu tidak akan …
“Bagaimana aku tidak khawatir??!!”
Semua yang ada di dalam ruangan itu diam mendengar Yama berteriak, marah. Chinen sontak terperanjat, dia tidak menyangka Yama akan meledak.
“Bagaimana aku tidak khawatir??!! Kau tahu?! Aku lelah, lelah dengan semuanya, lelah dengan pekerjaan ini, lelah dengan semua latihan dan sekarang ditambah lagi dengan beban seperti ini, bagaimana aku tidak khawatir?! Dan aku lelah melihat sikapmu, Chii. Kau bisa terus tersenyum seperti itu seolah tidak ada apa pun yg terjadi. Apa yang kau lakukan? Kau menyembunyikan kegusaranmu tentang hal ini, apa kau tidak lelah?!” Yama mengeluarkan semua emosinya.

“Aku mengerti tapi …

“Oh, aku tahu mengapa kau bisa tersenyum? Aku tahu. Karena kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Fans-fans gila itu, mereka membututiku, membuat keluargaku gusar karena sikap mereka yang berlebihan, kemudian pekerjaanku, bertumpuk! Belum lagi ditambah permanennya NYCboys. Aku benar-benar bisa gila jika berlama-lama disini,”

Yama meninggalkan ruangan itu dengan perasaan marah, ia sadar bahwa sebenarnya tidak pantas mengatakan semua itu terlebih pada Chinen, sahabatnya, tetapi emosi mengalahkan akal sehatnya.

Yama memutuskan untuk pergi menuju TokyoTower, hanya tempat itu yang terpikir saat ia meninggalkan ruangan. Sesaat kemudian, ia sampai disana. Ia memakai atribut lengkap, topi dan kacamata hitam agar tak seorangpun mengenalinya. Ramai disekitar sana. Tapi ia melihat ada tempat kosong, tak jauh darinya berdiri. Hanya ada dua gadis remaja seumuran dengannya dan tampaknya terlibat dalam pembicaraan yang serius, dengan begitu mereka tidak akan menyadari bahwa ada dia disana.

Yama duduk, ia secara tidak sengaja mendengar namanya disebut dalam pembicaraan dua gadis itu. Namun sayang, saat ia menoleh, kedua gadis tadi telah menghilang.


Part B
Mizunashi Akari

“Moshi-moshi,”
“Moshi-moshi, Mizu-chan! Sudah siap~”
“Yooo~”

Hai, aku Mizunashi Akari, panggil saja Mizu-chan, hehe. Umurku baru 16 tahun dan saat ini aku bersekolah di salah satu sekolah swasta di Tokyo. Aku sedang bersama sahabatku, Miki-chan, kami akan pergi ke Tokyo Tower, menghabiskan akhir minggu.

“Ne~ Mizu-chan, kau tahu tentang permanennya NYCboys?”
“Un!”
“apa komentarmu?”
“Tidak ada.”
“Hah?”
“Mau apa lagi, Johnny-san sudah berkata seperti itu, kita tidak bisa melakukan apa pun. Apa kita harus berdemo di depan official agar membatalkan pembetukannya?”
“Mungkin saja itu terjadi,”
“Apa kau yakin bahwa semua fans akan berdemo di depan official? Tidak semuanya tidak setuju kan? Mungkin ada saja yang setuju,”
“Termasuk kau?”
“Tentu saja aku tidak setuju, tapi mau bagaimana, terkadang hati nurani tertutup oleh nafsu.”
“Maksudnya?”
“Maksudku adalah apa pernah Johnny-san memikirkan pegawainya bukankah dia seorang pebisnis yang menempuh jalan apa saja asal uang selalu mengalir ke kantongnya, khususnya dari kantong para fans.”
“Bicaramu seperti orangtua saja,”
“Aku memang sudah tua, hahaha.”
Kau tidak tahu bahwa aku sangat memikirkan Yama-chan, Miki.

Sebenarnya dibalik yang dikatakan oleh Akari, ia menyembunyikan sesuatu yang tidak diungkapkan, karena jika orang lain tahu, orang itu pasti akan menganggapnya gila tapi dia harus mengatakan hal ini, mungkin Miki-chan akan mengerti.

“Miki-chan,”
“Ya?”
“Aku ingin mengatakan sesuatu,”
“Ya, silahkan.”
“Tapi jangan tertawa!”
“Baiklah, ada apa sebetulnya?”
“Aku,”
“Un!”
“Aku,”
“Ya? Aku apa?”
“Aku,”
“Mizu-chan?? Kau mulai terlihat menyebalkan!”
“Ku mohon jangan tertawa!”
“Tidak akan.”
“Aku menyukai seseorang.”
“Eh? Benarkah? Bagus kalau begitu, siapa? Apakah teman sekolah kita? Toru-kun? Maru-chan? Siapa, siapa?”
“Bukan mereka, bukan teman sekolah kita,”
“Lalu?”
”Aku menyukai … Yamada Ryosuke, bahkan bukan suka lagi tapi lebih,”
“Oh~ Apa??? Yamada? Yamada Ryosuke? Hey!Say!JUMP??”
“Un!”
“Aku juga menyukai Chinen Yuri, ah~ dia kawai sekali, bukan?”
“Miki-chan, aku serius! Aku bukan menyukai, tapi mencintai,”
“Oke, ini mulai terlihat sedikit gila, bukan! Bukan sedikit, tapi benar-benar gila. Apa kau yakin? Atau aku yang salah mengartikan, maksudmu cinta fans pada idola kan??”
Akari menggeleng.
“Cinta seorang wanita pada seorang laki-laki?”
Akari mengangguk.
Miki terduduk di kursinya. Rasanya seperti mimpi mendengar hal itu, tapi..
“Kau yakin, Mizu-chan??”
“Aku sangat yakin. Berhari-hari aku memikirkan hal ini, meyakinkan semuanya, dan finally, itu benar-benar terjadi padaku,”
“Baiklah, sebaiknya kita pulang dan mungkin berendam sebentar kemudian membahas hal ini lain kali,”
“Baiklah,”

Akari dan Miki meninggalkan TokyoTower. Sekilas Akari menangkap bayangan seseorang saat ia meninggalkan tempatnya berbicara dengan Miki. Sangat dikenalnya, ia mencoba meyakinkan. Akari terperanjat. Yamada Ryosuke. Apa yang dilakukannya disini? Dia duduk tak jauh dariku. Astaga! Apa dia mendengar perbincanganku dengan Miki tadi? Jantung Akari berdegup kencang.

Comments

Popular Posts