A Poetry : IKRAR

IKRAR

Hanya aku dan ayah berkelana bagai pengembara
Ku bertanya dunia asing mana yang gerbangnya terbuka
Gentar kurasa, tapi teringat padanya
yang berjanji tak pernah khianat dan buat kecewa

Sebuah ruang besar untuk ditinggali sampai tiba masa pergi kembali
Wajah ayah berseri lihat kasur empuk yang tak pernah ia temui
Pelayan berjas hitam menghampiri hadiah dari tuan kami

Lelah membingkai raga capai batas
Mimpi membuai harapan membias
Semoga hadir kami di dunia asing ini masih pantas
untuk ditasbihkan dalam helaan nafas

Riuh rendah suara buat aku terjaga
Jalanan begitu ramai dan gempita
Bukan sebuah dosa berbaur dengan keasingannya

Kami singgah di sebuah kedai makan
dan bertemu sepasang insan
raga mereka sudah dimakan usia
tapi rona merah tak lepas ketika mereka saling bertatap mata

Ayah merona, dahiku mengernyit
Bisa-bisanya si lelaki makan bubur ayam menggunakan sumpit
Namun, sang wanita tak mampu berkelit
Wujud bahagia kadang hanya sesederhana bubur ayam dan sumpit

Dunia asing yang tak punya pijakan
Hari berlalu tanpa peringatan
Cakrawala kembali pada persiapan

Di sudut ruang penuh warna, Ayah duduk sambil baca
koran, berita dari dunia asing menarik hatinya
Di luar aku terpana lihat pemandangan yang tak biasa
Sebuah teras terhubung dengan laut yang biru tenang nan perkasa

Dunia ini aneh
Kuamini perkataannya
Sudah waktunya

Sang penguasa pagi terbit, berbagi kehangatan pada selubung jiwa-jiwa
Untuk terakhir kali kulihat langit
begitu indah dengan mega-mega

Aku siap pergi
Disampingku Ayah berdiri
Didorongnya aku lewati batas dunia baru
Tunai sudah ikrar Ayah padaku

---

Diikutkan dalam Lomba Puisi Nasional 2019 yang diselenggarakan oleh Pemuda Pena pada Juli 2019

Comments

Popular Posts