Undelievered Message
HEARTBREAK THE SERIES
Ficlet
Genre : Romance, Angst
Main-cast : Aku, Park Jimin
Rating : PG 13+
Disclaimer : This is a work of fiction. Names, characters, places, events and incidents are either the products of the authors imagination or used in a fictitious manner. Any resemblance to actual persons, living or dead, or actual events is purely coincidental.
You will lose important thing in your life
◌⑅⃝●♡⋆♡...♡⋆♡●⑅◌
Menjalin persahabatan selama bertahun-tahun tak lantas membuat hatinya mudah diraih. Aku mungkin saja sangat dekat dengannya, tapi aku berada di sisi lain ruang hatinya.
Bagaimana denganku? Ck! Diam-diam telah meletakkan dia di ruang paling spesial. Dia tak pernah tahu, aku pun tak pernah mengutarakan. Aku tak ingin jalinan ini rusak dan hubungan kami jadi aneh.
Namun, ada masa dimana semua rasa yang kupendam untuknya tak mampu lagi dibendung.
Aku kadang tak sengaja menangis hanya dengan melihatnya dari kejauhan; di seberang jalan, dia melambai padaku sambil tersenyum. Melihat ekspresi sedihku, dia pun mendekat. Semakin kecil jarak, semakin cepat pula airmataku menetes.
Dadaku sakit.
"Mengapa?" tanyanya.
Pertanyaan itu hanya membuat aku semakin sedih. Tangannya merengkuh tubuhku masuk ke pelukannya. Sial! Bagaimana caranya lepas dari perasaan ini? Bagaimana aku meninggalkannya jika dia memperlakukanku dengan penuh kehangatan seperti ini?
"Apa kau baik-baik saja?"
Dan airmataku tak henti lagi menetes.

Tak sengaja kami berada dalam satu bus menuju Busan. Dia nampak kaget melihatku, aku pun begitu.
"Kenapa tidak beritahu aku kalau kau juga mau pulang?" tanyanya.
Aku hanya diam. Aku tak punya alasan khusus.
"Kau bisa duduk di sebelahku." katanya lagi.
Aku berpikir sejenak. Keputusan yang kubuat jauh sebelum hari ini adalah aku akan menghindarinya. Aku pikir ini cara praktis untuk meniadakan perasaanku. Aku pikir lebih baik tak banyak kontak langsung dengannya. Lagipula aku bukan siapa-siapa baginya. Dia tak begitu butuh aku.
Aku berdecak. Wanita memang begitu, kan? Mengasumsikan semua hal secara sepihak. Seolah paling tahu keputusan yang diambil adalah yang paling baik dan bijak. Aku terbahak sendiri. Egois, tapi lebih baik begini.
"Hey! Kenapa melamun? Ayo, duduk." katanya sambil meraih jemariku.
Aku menepisnya. Wajahnya terlihat kaget.
Aku berbalik dan duduk di deret kursi di lorong seberang. Matanya tak henti menatapku. Aku tahu banyak pertanyaan bergejolak di dalam dirinya. Dan akhirnya, aku lah yang menyebabkan hubungan kami menjadi buruk.

Kami sampai di Busan; kampung halaman yang sudah kutinggalkan selama dua tahun. Aku dan dia memutuskan untuk sekolah di Seoul, masing-masing ingin mewujudkan mimpi masa kecil. Dia ingin menjadi penari profesional dan aku ingin menjadi pianis.
Bus kami berhenti. Dia berdiri dari tempat duduknya, begitu juga aku.
"Sini, kubawakan tasmu." katanya.
Aku menggeleng, "Tidak usah, aku bisa sendiri."
Tolong, jangan bersikap baik padaku. Itu hanya akan mempersulit keputusan yang sudah kuambil.
Rumah kami bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima belas menit. Aku dan dia sudah biasa berjalan menuju sekolah ataupun tempat-tempat lainnya di kota ini.
Dia kini berjalan tepat di belakangku. Tanpa suara. Dia memang begitu. Tak banyak tanya setiap kali aku diam atau sedang marah. Tapi mungkin, sikapku kali ini membuatnya tak tahan.
"Aku minta maaf jika pernah membuatmu tak nyaman." katanya tiba-tiba, "bisakah kita bicara? Setidaknya aku tahu mengapa kau tiba-tiba diam. Kau selalu terbuka padaku selama ini."
Aku tak bereaksi.
"Tolong, jangan seperti ini!"
Airmataku menetes. Sial! Sial! Sial! Aku tidak ingin menangis. Tidak sekarang!
Tak terasa kami sudah sampai di depan rumah masing-masing.
"Kau bisa menelponku kapan saja," katanya, "aku akan datang ke rumahmu."
Aku melangkah masuk ke rumahku tanpa pernah menoleh padanya.

Berhari-hari sudah aku di rumah saja. Tak berminat untuk melakukan aktivitas apapun. Dia menelpon dan mengirimiku pesan, tapi semuanya kuabaikan. Tak ada yang ingin kubicarakan lagi dengannya.
Dari jendela kamar, aku bisa melihat langsung ke teras rumahnya. Ia sering duduk disana, melihat ke arah kamarku. Namun, aku tak lagi ingin memberinya ruang di hatiku. Biarlah. Biarlah seperti ini.
Ponselku bergetar. Pesan darinya lagi.
Apa kau tidak bosan menghabiskan liburan di rumah saja? Hari ini ada reuni SMA. Apa kau bisa datang? Jika iya, aku akan menjemputmu. Kita akan pergi bersama Park Eun Ji juga. Kau masih ingat dia, kan?
Aku tersenyum getir melihat sebuah nama yang tertera disana. Park Eun Ji. Gadis ini yang telah memikat hatinya sejak sekolah menengah. Mereka diam-diam pacaran. Dia tidak memberitahuku dan hanya tersenyum malu sambil menatap Eun Ji saat kutanyakan kebenarannya waktu itu.
Aku merasa dikhianati. Sebagai sahabat, aku kira dia akan memberitahuku secara langsung. Aku tak keberatan dia mau pacaran dengan siapa saja.
Benarkah? Tidak keberatan walaupun saat itu hatiku perih bukan main?
Aku membalas pesannya.
Tidak.
Tak lama kemudian ponselku bergetar lagi.
Baiklah.
Kemudian terdengar ketukan pintu yang cukup keras. Kulihat Park Jimin tak lagi di teras rumahnya. Bergegas aku berlari dan membukakan pintu. Kulihat dia sudah berdiri disana dengan raut wajah masam. Pertama kalinya Park Jimin marah padaku.
"Ada apa sih denganmu? Aku sudah coba mengintrospeksi diriku sendiri, sudah memikirkan berbagai kemungkinan dan segalanya, tapi aku masih tak mengerti kenapa sikapmu berubah." katanya tanpa jeda.
Aku diam.
"Apa aku pernah membuatmu tak nyaman? Apa kata-kataku pernah menyakitimu? Apa perbuatanku pernah melebihi batas?"
Airmataku keluar.
"Airmatamu tak akan pernah kumengerti artinya jika mulutmu tak mengatakan apapun." katanya lagi.
Park Jimin tak mengangkat tangannya untuk menghapus airmataku. Tak menarik tubuhku untuk direngkuh. Dia menghela nafas.
"Aku tidak mengerti."
"Aku sudah melepaskanmu, Park Jimin." kataku terbata, "aku sudah merelakanmu."
Dahinya mengerut, "Apa maksudmu?"
"Aku tak bisa lagi menganggapmu sekedar sahabat, aku tak bisa lagi berada dekat denganmu, karena hal itu akan menyakiti diriku."
Dia hendak menyentuh rambutku, tapi aku menarik diri.
"Pulanglah. Kau harus datang ke reuni SMA itu. Selamat tinggal."
Aku menutup pintu. Ya, aku benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Mengakhiri semua ceritaku dengan Park Jimin dalam isak tangis.

Park Jimin terpaku setelah mendengar sahabat kecilnya itu mengucapkan selamat tinggal padanya. Hatinya hancur.
Ia menoleh ke ponselnya. Tulisan di layar pesan itu terlihat kabur karena matanya kini basah. Ada pesan yang belum dikirimkannya sejak lama karena terlalu banyak pertimbangan.
Aku Menyukaimu.
.fin.
Comments
Post a Comment