DNA -The Other Half- Ch. 01
Genre : Drama, Slice of Life, Family
Rate : T
Main Cast : Min Yoongi (BTS), Yoongi's Father
Other Casts : Jung Hoseok (BTS), Yoongi's school friends (minor)
-----------------------------------------------------------------------------------------------------
CHAPTER 01
SEOUL SUMMER CAMP
Daegu. April 2017.
“Min
Yoongiii..”
Seorang
anak laki-laki berhenti ketika namanya dipanggil. Dia berdecak kesal kemudian
berbalik dan mengulas senyum di wajahnya –dengan terpaksa.
“Ada
perlu apa?”
Yoongi
menyadari satu hal ketika melihat wajah kesal tiga anak laki-laki yang berdiri
di depannya. Mereka semua punya masalah yang sama. Rambut. Ada apa dengan
rambut mereka?
Tiga
hari yang lalu tepatnya, Yoongi yang menjabat sebagai salah satu anggota dewan
sekolah melaporkan mereka pada guru karena panjang rambut mereka menyalahi
aturan sekolah. Karena hal ini, Yoongi tidak begitu disukai oleh
teman-temannya, tapi ia tidak benci atau jadi arogan. Ia bersikap biasa, tetap
bersahabat dan melakukan tanggung jawabnya sebagai anggota dewan sekolah.
“Perlu
waktu bagiku untuk menata rambut seperti kemarin, Min Yoongi-ssi. Kau tahu, aku
punya janji kencan dengan gadis dari sekolah wanita dan ingin memperlihatkan model itu, tapi kau
mengacaukannya.”
“Kau
lebih rapi dengan rambut seperti ini, bodoh!” kata Yoongi.
“Tapi
tidak keren!” seru temannya.
Mereka
kembali berjalan beriringan hingga akhirnya tiba di kelas dan saling menyapa
satu sama lain. Yoongi meletakkan tasnya di loker yang ada di belakang kelas,
mengambil buku pelajaran untuk kelas pertama kemudian duduk di kursinya yang
berada di deretan paling belakang dekat jendela. Ia melirik jam tangannya,
masih ada beberapa menit lagi sebelum bel berbunyi. Ia bersandar di kursinya,
bersedekap, dan memejamkan matanya.
Tiba-tiba
ponsel di sakunya bergetar. Dengan malas ia mengeluarkan ponselnya. Sebuah
pesan dari Jung Hoseok.
Hoseokjung Subject : SSC
Yoongi
mengerutkan dahinya sembari membuka pesan dari temannya itu. SSS?
Yoongi-hyung, bagaimana
kabarmu? Aku rindu. Hahaha..
Yoongi
memutar matanya.
Aku baik-baik saja di
sini, kau tidak perlu khawatir..hehehe
Oh, hyung, aku ada
kabar baik untukmu. Ada kegiatan yang menghasilkan uang di Seoul! Kau ingin sekali ke
Seoul, kan?Kau bisa cek selebaran yang aku sertakan di pesan ini. Kabari aku
jika kau ingin mendaftar, aku mau ikut juga hehehe… bye, hyung… Saranghanta lol
Yoongi
membaca dengan seksama detail informasi yang ada disana. Menjadi relawan untuk program musim panas
internasional? Dan dibayar? Ia menimang-nimang. Ada peralatan pembuat music yang
ingin dibelinya dan kebetulan ia memang sudah lama
sekali ingin ke Seoul. Ingin melihat kota besar itu dengan kedua matanya
sendiri. Ia belum pernah keluar dari Daegu selama enam belas tahun hidupnya.
Sang ayah tak pernah mengizinkan. Tapi kesempatan kali ini tak boleh ia
sia-siakan. Ya, ia harus pergi ke perkemahan
musim panas ini bagaimana pun caranya.
***
“Yoongi-ah!
Yoongi-ah! Makan malam sudah siap.”
kata sang ayah sembari mencuci
tangannya. Sepiring penuh tumisan daging tersedia di meja makan. Asap halus
masih mengepul dari beberapa hidangan yang ada.
Yoongi
keluar dari kamarnya dengan mata yang
masih setengah terpejam. Ia menguap
lebar. Hal itu membuat ayahnya tertawa. “Cepat basuh
wajahmu, tukang tidur!”
Anak
laki-laki bermata sipit itu beringsut menuju basin dan membasuh wajahnya.
Ayahnya hanya geleng kepala. Ia menaruh semangkuk nasi bagian Yoongi di sisi
lain meja.
“Bagaimana
sekolahmu, Nak?”
“Baik-baik
saja.” jawab Yoongi sembari mengambil tumisan daging dan menyuapkan ke
mulutnya.
“Bagaimana
dengan pelajaran sekolah? Apa kau mengalami
kesulitan?”
Yoongi
menggeleng. Nilai-nilai mata
pelajarannya tidak terlalu buruk.
“Ayah
bisa mendaftarkanmu di tempat les.”
Yoongi
menatap ayahnya, “Tidak perlu.”
Ia
tidak tertarik untuk bekerja terlalu keras untuk pelajaran sekolah.
“Kenapa?
Kau bisa meningkatkan nilaimu, masuk universitas, bekerja di perusahaan besar
atau menjadi pegawai negeri.” katanya lagi dengan raut wajah serius.
Stereotype.
Yoongi
lebih tertarik bekerja di
bidang musik ketimbang menjalani kehidupan seperti
itu. Ia sudah sering membahas hal ini dengan ayahnya saat makan bersama. Yoongi
tetap pada keinginannya, begitu juga ayahnya. Tidak pernah lagi Yoongi membahas
hal itu karena ia tahu seberapa banyak ia memberi penjelasan, sang ayah tetap
pada pendiriannya.
“Bagaimana
dengan seorang pacar? Apa kau sudah punya pacar?” Entah mengapa pertanyaan
seperti ini keluar dari mulut ayah Yoongi.
Ia hanya ingin mencairkan suasana, mencoba dekat dengan menanyakan hal-hal yang
berkaitan dengan remaja seumuran anaknya.
Yoongi
nyaris tersedak karena pertanyaan yang berubah tiba-tiba. Dari beberapa makan
malam baru kali ini ayahnya
menanyakan soal perempuan.
“Kenapa?
Kau kan masih muda, tidak apa punya satu atau dua pacar.” kata ayahnya sambil
terkekeh.
“Semua
murid di sekolahku laki-laki!”
“Bukannya
tak jauh dari sekolahmu ada sekolah khusus wanita? Kau pasti melewatinya, kan?
Tidak ada yang menarik perhatianmu?”
Pertanyaan
bertubi-tubi itu menghentikan kegiatan makan Yoongi. Ia berdiri dari tempat
duduknya dan kembali ke kamar karena teringat sesuatu.
“Hey!
Yoongi-ah! Selesaikan dulu makan malammu!”
Yoongi
keluar lagi dari kamarnya dengan
sebuah selebaran di tangan dan menyerahkannya pada sang ayah. Laki-laki berusia empat puluh tahunan
itu memakai kacamatanya dan membaca setiap informasi yang ada tertera selebaran tersebut.
“Volunteer di Seoul?”
Yoongi
mengangguk tanpa melihat ke arah ayahnya. Ia
tidak berani karena pasti akan banyak pertanyaan yang keluar dari mulut ayahnya
dan ia sedang tidak ingin berdebat.
“Apa
sekolah mengutusmu untuk ikut?”
Bagaimana
jika ia berbohong saja dan mengiyakan pertanyaan tersebut? Yoongi mengangkat
kepalanya dan menatap mata ayahnya kemudian ia mengangguk dengan sangat pelan. Itu
bukan anggukan yang mantap, Min Yoongi. Ia memang tidak bisa berbohong.
Sang ayah menatapnya dengan tatapan kau-bohong-ya, “Akan
kupikirkan. Jadi, bagaimana dengan pacarmu tadi?”
“Ayah!!!”
Ayah Yoongi tertawa melihat
ekspresi anak laki-laki satu-satunya itu.
***
Hoseok Subject
: Bagaimana?
Hyung, Hyung…
Sudah lihat selebarannya, kan? Kau pasti tertarik,
kan?
Sayang sekali jika kita tidak ikut, Hyung…
Yoongi-Min Subject
: Tidak tahu.
Ayahku sudah tahu. Dipikirkan dulu, katanya.
Hoseok Subject
: Oh..
Baiklah. Aku harap ayahmu memberi izin.
Yoongi mematikan ponselnya. Ia bergerak gelisah di atas
tempat tidur sambil memikirkan keputusan apa yang akan ayahnya berikan. Selebaran
itu ditatapnya lagi lekat-lekat. Yoongi merasakan sesuatu akan terjadi jika ia
mengikuti program ini. Namun, semua tergantung dari izin sang ayah. Lagipula
musim panas masih beberapa minggu lagi. Masih banyak waktu untuk meyakinkan
ayahnya.
Ia mendadak menyesal karena selama ini
tidak bisa dekat dengan ayahnya. Bukankah segalanya lebih mudah jika begitu? Bukankan anak-anak di keluarga
lain merasakan kemudahan saat mereka menginginkan sesuatu? Jika tidak merengek
pada ayah, mereka pasti meminta ibu yang membujuk ayah. Sayangnya, Yoongi hanya
punya ayah. Ia tidak bisa merengek pada ibunya.
Ibu Yoongi meninggal karena sakit keras saat ia masih kecil -begitulah
menurut pengakuan sang ayah. Yoongi selalu bertanya-tanya seperti apa sosok
ibunya, bagaimana wajah dan sifatnya. Tak ada memori ibu dalam ingatannya. Ia juga heran kenapa tak ada
satu pun potret ibunya di rumah. Ayahnya selalu mengelak jika Yoongi meminta
untuk berkunjung ke makam. Selalu marah jika Yoongi mulai membahas soal ibunya.
Hal ini membuat Yoongi berasumsi bahwa sebuah masalah besar terjadi pada kedua
orangtuanya sebelum akhirnya sang ibu meninggal. Atau ayahnya selama ini
berbohong soal kematian ibunya?
..TBC..


Comments
Post a Comment