38th Parallel
Genre : History,
Romance, Angst | One-Shot | Main-cast : Go Kyung-pyo, Kim Sae Ron |
Supporting-cast : Lee Hyun Woo, Yoo Seung Ho, Kim So-hyun |
Satu rahasia. Dunia kita tak sama,
terlalu jauh untuk dirindukan. Tapi, kau dapat menemukanku dengan mudah.
Disana. Diantara langit malam dan cahaya-cahaya yang meneranginya.
***
Asap putih tipis mengepul di ujung cerutu yang tengah
dihisapnya. Matanya menatap langit malam yang dipenuhi gemintang yang tak
terhitung jumlahnya. Diantara
ribuan benda bercahaya itu ada satu yang paling terang dan selalu muncul saat
ia tengah menatap langit seperti ini.
“Halo,” katanya, “Kita bertemu lagi.” Senyum tipis
mengiringi kalimatnya. Bintang itu bereaksi seperti kelopak mata yang berkedip.
“Hey, Go Kyung-pyo! Apa yang sedang kau lakukan?! Cepat
bersiap! Kita harus naik ke panggung beberapa menit lagi.”
Laki-laki bernama itu menoleh, “Tidak sopan! Gunakan hyung jika memanggilku.”
Temannya terkekeh, “Maaf, hyung.”
“Lagipula apa kau tidak lihat pakaianku sudah rapi
begini? Aku hanya menghabiskan waktu dengan cerutu sementara kalian sibuk
menggoda gadis-gadis.” Ia mematikan cerutunya kemudian masuk dan memeriksa
partitur yang ada di atas meja, “Lagu apa yang akan kita mainkan malam ini, Hyun
Woo?” tanyanya.
“Spring Waltz,”
jawab laki-laki yang berusia sekitar empat tahun lebih muda
darinya itu.
“Chopin lagi?” tanya temannya yang lain. Ia baru saja
masuk sambil mematikan cerutunya di asbak.
“Itu permintaan dari pemilik restoran, Seung Ho.
Pejabat militer Amerika Serikat kelas atas sepertinya lebih menyukai
musik-musik klasik.” ujarnya asal. Hyun Woo mematut dirinya di kaca sekali lagi, “Ayo,
penggemar kita sudah menunggu!” selorohnya sambil keluar dari ruang ganti.
Go Kyung-pyo pada piano, Lee Hyun Woo pada cello, dan Yoo
Seung Ho pada biola. Mereka bertiga adalah pemain musik yang berasal dari Seoul
dan biasa melakukan perjalanan sebagai musik pengiring di restoran yang sering
didatangi kalangan kelas atas, baik itu pengusaha atau pejabat-pejabat
pemerintahan. Tak jarang mereka juga menjadi pengiring musik bagi prajurit biasa yang butuh hiburan di pangkalan militer. Wajah-wajah asing dengan rambut
pirang, bertubuh tegap dengan tinggi menjulang sudah menjadi pemandangan biasa
bagi mereka. Dan saat ini mereka
sedang berada di sebuah restoran bertipe minimalis dua lantai dengan dekorasi
seadanya bernama Hando House. Yang membuat restoran itu menarik adalah
banyaknya lampu-lampu berwarna-warni yang dipasang di dinding-dinding,
langit-langit bangunan, dan pilar-pilar besar yang berdiri kokoh di bagian
teras. Di sekitar Hando House juga terdapat beberapa kamar yang dijadikan
penginapan bagi staf restoran atau petugas kesehatan yang bertugas di pangkalan
militer disana. Dalam keadaan tenang seperti ini, Hando House digunakan seperti restoran pada umumnya –tempat menikmati makan malam, berpesta, tempat pertemuan dan
sebagainya. Namun, jika keadaan sedang tidak kondusif, restoran itu akan
beralihfungsi menjadi tempat perawatan prajurit-prajurit yang cedera dan sebagai tempat penyimpanan obat-obatan
juga persenjataan.
Musik yang mereka mainkan bercampur dengan suara
dentingan gelas yang saling beradu, riuh rendah suara manusia-manusia di dalam
ruangan yang entah membicarakan apa –mungkin strategi penyerangan atau mengenai
politik. Kyung-pyo menekan tuts-tuts pianonya dengan emosi yang stabil. Nada
yang dimainkan akan sangat indah mengalun di telinga jika dibawakan sesuai
dengan partitur disertai emosi yang stabil. Sesekali ia melempar pandangan pada
penonton dan tersenyum.
Tiga pemuda itu menyelesaikan permainan mereka dengan
sempurna, tepukan tangan terdengar ketika mereka bangkit dari tempat masing-masing
dan melakukan penghormatan sekilas dengan membungkuk. Kemudian mereka turun dari panggung untuk beristirahat sejenak sebelum
Kyung-pyo melanjutkan permainan pianonya –ia diminta solo kali ini.
“AAh~” desah Seung Ho ketika ia meneguk habis wine di gelasnya. “Empat menit yang
sempurna! Hari ini kau sedang bahagia ya, Hyun Woo? Tidak biasanya permainan cello-mu stabil, semuanya pas.”
Kyung-pyo beranggapan sama dengan Seung Ho. Malam ini
bisa dikatakan salah satu pertunjukan terbaik mereka.
“Begitulah,” ujar Hyun Woo sambil tertawa kecil. Ia
memperhatikan es batu yang ada di dalam gelasnya, “Sebenarnya aku melihat
sesosok gadis saat pertunjukan tadi.”
“Kau selalu berkata seperti itu setiap bertemu
gadis-gadis.” celetuk Seung Ho. Kyung-pyo hanya mendengarkan sambil menyesap wine dari gelasnya.
“Tidak, tidak, kali ini berbeda. Gadis itu benar-benar
membuatku bersemangat untuk memberikan pertunjukan yang terbaik.”
Seung Ho dan Kyung-pyo saling tatap dan kemudian tawa
mereka pecah.
“Kau bukan remaja belasan tahun lagi, Hyun Woo,
ayolah!” ujar Seung Ho.
“Aku harap gadis itu selalu ada di setiap pertunjukan
kita.” timpal Kyung-pyo sambil menepuk pundak Hyun Woo.
“Ya, aku akan ada di setiap pertunjukan kalian.” ujar
seseorang. Seung Ho membeku di tempatnya saat menyadari siapa yang tiba-tiba
masuk dalam candaan kedua temannya.
“Halo, aku Kim So-hyun.” Gadis itu mengulurkan
tangannya pada mereka. “Dan aku sangat menyukai permainan musik kalian, indah
sekali. Aku seperti berada dunia lain.” katanya dengan antusias.
“Terima kasih, sebenarnya kami berdua tidak terlalu
berbakat.” kata Seung Ho, “tapi teman kami, Hyun Woo, yang membuat semuanya
jadi lebih indah seperti yang anda dengar.”
Hyun Woo memberikan tatapan apa-yang-sedang-kau-katakan-bodoh pada Seung Ho. Namun, temannya
yang jail itu membalas dengan senyum meledek.
“Apa kau datang sendirian, So-hyun ssi?” tanya Seung Ho. Ia tengah mencoba mengatasi rasa gugupnya.
“Tidak, aku bersama dengan seorang teman, tapi kami
terpisah.”
“Apakah kau perlu bantuan kami?” tanya Hyun Woo.
So-hyun menggeleng, “Mungkin dia sudah kembali ke
kamarnya.”
Dan kemudian perbincangan pun berlanjut.
Kyung-pyo menarik diri dari situasi perkenalan sesaat kemudian dengan alasan
ingin menghisap cerutunya. Selain itu ia juga ingin menenangkan diri sebelum
pertunjukan solonya berlangsung beberapa menit lagi. Dan kini ia sudah berada di teras restoran. Di depannya terhampar
lapangan yang dipenuhi dengan rumput ilalang yang bergoyang tiap kali angin
berhembus. Beberapa meter dari tempatnya berdiri terdapat sebuah batas. Batas
yang memisahkannya dengan dunianya yang lain. Dunia yang sebenarnya menyatu
dengan bangsanya, namun terpaksa dipisahkan karena berbagai kepentingan. 38th Parallel.
Singkatnya, setelah Perang Dunia II berakhir, Korea
menjadi daerah yang dipersengketakan. Dimana beberapa hari sebelum Jepang
menyerah pada tanggal 10 Agustus 1945, Amerika Serikat dan Uni Soviet akan
menerima tawanan-tawanan perang Jepang yang berada di daerah Korea. Korea
dibagi menjadi dua dengan batas yang dikenal dengan nama 38th Parallel. Area dimana Kyung-pyo menetap merupakan kepemilikan Korea Selatan yang berada di bawah
pengaruh Amerika Serikat, sementara di bagian utara 38th Parallel masuk dalam kepemilikan Korea Utara yang
berada dibawah pengaruh Uni Soviet.
Itulah yang terjadi. Penetapan blok-blok bagi sebuah
bangsa yang seharusnya bersatu seperti ini justru membuat orangtua dan anak
terpisah, membuat keluarga terpecah berada di balik batas yang tak seharusnya
menghalangi. Dunia kadang begitu serakah karena masing-masing ingin memperlihatkan kekuatan militer
yang dimiliki.
Cerutunya kembali mengeluarkan asap putih tipis yang
perlahan menghilang di udara. Kyung-pyo mengedarkan pandangannya kembali ke
lapangan dan menangkap kehadiran seseorang. Ia melebarkan matanya, meyakinkan
diri dengan penglihatannya. Seseorang tengah berdiri begitu dekat dengan 38th parallel. Kyung-pyo
sendiri tidak pernah mencoba mendekati area itu. Ia tidak pernah tahu apa yang
tersimpan disana. Bisa saja perangkap atau bahkan ranjau darat.
“Hei! Sedang apa kau disana?!” teriaknya sambil
bergegas mendekati sosok itu, “Disana berbahaya!” serunya lagi.
Kyung-pyo kini berjarak hanya beberapa meter dari sosok
itu. Seorang gadis dengan gaun berwarna putih selutut berdiri di depannya.
“Maaf, aku tidak tahu kalau tempat ini berbahaya. Aku
hanya…entahlah tiba-tiba aku sudah berada disini.” kata gadis itu dengan nada
suara gugup.
Kyung-pyo terpaku di tempat. Mereka bertatapan dan mata
gadis itu mengingatkan Kyung-pyo pada sesuatu. Sebuah benda yang selalu
dilihatnya tiap kali ia rindu. Mata yang begitu jernih dan seperti berpendar,
bercahaya.
Ia tersadar sesaat setelah mendengar namanya dipanggil
dengan keras. Ia menoleh ke sumber suara. Hyun Woo dan yang lainnya berada di
teras restoran masih meneriakkan namanya.
“Ayo, kita kembali.” ujar gadis itu sambil tersenyum,
“kau masih punya pertunjukkan solo setelah ini, kan?” Gadis itu berjalan
mendekatinya –berdiri tepat disampingnya, dan berkata, “Satu rahasia yang harus
kau jaga, oppa!” ujarnya tiba-tiba,
“Aku tidak berasal dari duniamu. Kita berbeda.” Gadis itu tersenyum tipis
kemudian pergi meninggalkan Kyung-pyo yang masih terpaku di tempatnya.
***
Suara berisik dari luar kamar membuatnya terbangun.
Sejumlah prajurit Amerika Serikat dan Korea
Selatan sedang mengadakan latihan gabungan. Pemandangan pagi yang tak pernah
terlewatkan olehnya dari penginapan yang disediakan oleh pihak restoran bagi
mereka. Setiap pemuda di Korea Selatan diwajibkan untuk menjalani wajib militer
di usia muda, sekitar 20 – 30 tahun selama 2,3 – 2,5 tahun. Hal ini
dilaksanakan sebagai antisipasi dari dampak hubungan kedua Korea yang sedang
tidak baik. Di samping itu Korea Selatan juga kekurangan jumlah prajurit
dibandingkan dengan Korea Utara. Kyung-pyo maupun dua temannya belum mendapat
panggilan untuk mengikuti wajib militer. Saat ini mereka masih bebas melakukan
apa yang mereka mau, tapi suatu saat nanti mereka harus siap. Demi tanah air mereka.
“Hei, hyung!
Mau sampai kapan kau berada di tempat tidur?” tanya Seung Ho yang tiba-tiba
masuk ke kamar sambil membawa senampan sarapan untuknya.
“Sebentar lagi, aku masih sedikit lelah.” jawabnya sambil menggelung tubuhnya di dalam selimut. Udara dingin menusuk hingga ke tulang-tulangnya.
Seung Ho tertawa, “Lelah? Kau tidak berlari seharian
seperti prajurit-prajurit itu. Apa yang membuatmu begitu lelah?”
Kyung-pyo tidak menjawab pertanyaan itu. Ia memilih bangun dan duduk dipinggir tempat tidurnya
sambil mulai memakan sarapannya –ternyata ia sangat lapar- sementara Seung Ho
memperhatikan entah apa yang ada di balik jendela.
“Hyung, coba
lihat! Hyun Woo sedang bersama So-hyun ssi.
Wah! Wah! Baru kali ini aku melihatnya benar-benar tertarik pada seorang
gadis.”
Kyung-pyo tidak memedulikan panggilan Seung Ho. Sambil mengunyah makanan, pikirannya melayang pada
gadis semalam, yang tak sempat ia tanya namanya.
“Aah! Dan lihat siapa yang ada di belakangnya? Hyung, bukankah itu gadis yang semalam bersamamu
di lapangan?”
Kyung-pyo hampir tersedak, bukannya minum ia malah mendekati pada Seung
Ho –menjulurkan kepalanya keluar jendela. Sejenak setelah itu ia segera
menghabiskan sarapannya kemudian menyeka wajah, menyikat gigi, dan berpakaian
rapi –ia memakai jas terbaiknya.
“Hyung,
kenapa kau tiba-tiba bersemangat seperti ini?” Seung Ho tertawa.
Tanpa banyak bicara, Kyung-pyo segera keluar dari
kamarnya dan meninggalkan Seung Ho yang masih bingung dengan sikap hyung-nya
yang tiba-tiba berubah.
Dengan cepat Kyung-pyo menemukan kehadiran gadis itu di
salah satu meja di restoran. Bersama Hyun Woo dan So-hyun, ia tengah menikmati
sarapan paginya. Kyung-pyo menghampiri mereka.
“Oh, hyung!
Mau bergabung?” tanya Hyun Woo.
“Tentu saja jika kalian tidak keberatan.” katanya sambil melempar senyum pada gadis itu.
“Tentu saja.” jawab So-hyun dengan riang, “Perkenalkan ini teman yang aku
ceritakan semalam, oppa.” katanya kemudian sambil menoleh pada temannya.
“Kim Sae Ron.” ucapnya, “Kau tidak perlu menyebutkan
namamu, oppa, semua perawat perempuan di pangkalan ini cukup banyak membicarakanmu.”
Kyung-pyo tersenyum canggung. Diantara ketiga pemusik itu memang Kyung-pyo yang
paling banyak penggemarnya.
“Apa
kau baik-baik saja, hyung? Wajahmu
terlihat..hmm..tegang sekali.” ujar Hyun Woo.
“Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat. Sikapnya masih
canggung dengan kehadiran Sae Ron disana.
“Hmm, bagaimana kalau mainkan sebuah lagu untuk kami?!”
ujar So-hyun tiba-tiba, “Pianonya menganggur.” katanya sambil melirik
panggung.
Tanpa sadar Kyung-pyo menoleh pada Sae Ron. Tindakan
itu seolah-olah ia sedang meminta izin pada Sae Ron dan anehnya, gadis itu
mengangguk. Kyung-pyo berangkat dari tempat duduknya dan menuju ke panggung. Ia
melemaskan jemarinya, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya kembali.
Berharap ia dapat melepaskan kecanggungannya saat itu juga walaupun sejuta
pertanyaan memenuhi benak Kyung-pyo mengenai Kim Sae Ron. Darimana ia berasal,
mengapa ia baru muncul sekarang sementara Kyung-pyo sendiri sudah cukup lama
berada di tempat ini, apa yang dilakukannya di tengah lapangan semalam, mengapa
ia tiba-tiba menghilang begitu permainan pianonya selesai. Namun, ia mencoba membuang semua pertanyaan itu dan berkonsentrasi memainkan nada-nada Melody of Love milik Beethoven.
Tepuk tangan menyertai ketika Kyung-pyo menekan tuts
terakhir. Tak hanya dari meja Sae Ron, tapi juga dari beberapa meja lainnya.
Kyung-pyo lega. Nyatanya bermain piano dapat membuatnya sedikit relaks. Ia
membungkuk sekilas dan kembali ke mejanya.
“Wah, oppa!
Kau benar-benar berbakat.” seru So-hyun. Ia tidak bisa menahan kekagumannya,
“Benar, kan, Sae Ron?”
Gadis berambut panjang sepunggung itu mengangguk, “Daebak!”
“Hyung!”
seruan itu membuat Kyung-pyo dan yang lainnya menoleh ke arah pintu masuk.
Seung Ho rupanya. “Kau disini ternyata, aku haa..haa..” Ia masih tersengal,
“Aku sudah mencarimu kemana-mana.” Seung Ho menarik salah satu kursi dengan
asal dan duduk. Ia menenggak habis air di gelas Hyun Woo. “Aku tidak mengira
pesona Sae Ron ssi membuatnya berlari
meninggalkanku.” seloroh Seung Ho kemudian.
Kyung-pyo menginjak kaki Seung Ho dan otomatis hal itu
membuatnya mengaduh, “Hyung! Apa yang
kau…”
Kyung-pyo memberinya tatapan akan-kubunuh-kau-setelah-ini. Seung Ho urung melanjutkan
kalimatnya.
“Oh ya, apa kalian sudah dengar berita hari ini?” tanya
Hyun Woo tiba-tiba, “Sebuah dokumen rahasia telah hilang semalam. Aku dengar
kabar dokumen itu berisi tentang segala pergerakan yang akan digunakan untuk
menggempur pasukan Korea Utara di perbatasan 38.”
“Maksudmu semacam strategi rahasia?” tanya Seung Ho.
“Ssh! Jangan bicara keras-keras!”
Seung Ho sontak menutup mulut dengan telapak tangan
kirinya.
“Sepertinya begitu, yang kudengar dari beberapa prajurit pagi ini, ada pengkhianat di antara
kita.”
Mereka semua saling pandang.
“Pengkhianat itu bisa siapa saja. Haa~ setidaknya kita
semua punya alibi semalam.” ujar Seung Ho.
“Beberapa orang dari badan intelijen sedang mengadakan
penyelidikan saat ini dan semua prajurit dalam keadaan siaga kalau-kalau ada
serangan mendadak dari pihak utara.” sambung Hyun Woo.
Atmosfer di sekitar mereka berubah tegang.
Masing-masing sibuk dengan pemikirannya sendiri. Benarkah semuanya mempunyai
alibi? Pandangan Kyung-pyo beralih pada Sae Ron. Semalam gadis itu tiba-tiba
muncul. Ia berada begitu dekat dengan perbatasan 38. Sikapnya tenang tapi mencurigakan,
terlebih perkataannya mengenai dunia mereka yang berbeda dan sebuah rahasia. Apa Sae Ron ingin memberitahunya
sesuatu? Mungkinkah ia pengkhianat yang dimaksud?
“Ah~ sudahlah! Lebih baik kita melakukan hal yang lain
daripada memikirkan hal ini. Kita
latihan saja, bagaimana? Malam ini kita diminta untuk memainkan dua lagu
dan Seung Ho! Kau diminta untuk bermain solo.” ujar Hyun Woo. Selain pemain
musik, ia juga bertindak sebagai manajer di grup itu.
“Siap!” ujar Seung Ho sambil melakukan sikap hormat.
***
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Kyung-pyo pada
Sae Ron. Mereka berdua sedang berada di balkon lantai dua restoran. Menikmati syahdunya malam yang terang karena bulan.
“Apa yang membuatmu bertanya apa yang sedang aku
pikirkan?” Sae Ron bertanya balik. Kyung-pyo tertawa kecil.
“Tidak ada, pertanyaan itu hanya basa basi pembuka
obrolan. Tidakkah terlalu sunyi di tempat yang ramai ini?” kata Kyung-pyo. Sae
Ron hanya tersenyum.
“Apa pendapatmu tentang pengkhianat yang dibicarakan
Hyun Woo pagi tadi?” tanya Sae Ron kemudian.
Kyung-pyo diam sejenak. Diantara banyak topik mengapa
Sae Ron membicarakan hal ini.
“Jika memang ada pengkhianat, sebaiknya ia segera
diberi hukuman. Kesetiaan pada negara bukanlah hal yang bisa dipermainkan, ada
konsekuensi yang dipikul.” Kata Kyung-pyo dengan tenang.
“Aku setuju denganmu, tentu saja ia harus dihukum ya,
kan?” Sae Ron tersenyum, “tapi bagaimana jika pengkhianat itu adalah seorang
wanita?”
“Apa maksudmu, Sae Ron ssi?
Apa kau mengetahui sesuatu tentang pengkhianatan ini?” tanya Kyung-pyo dengan
sengit. Ia merasakan hal yang mencurigakan.
Sae Ron bersedekap dan menggeleng, “Anggap saja itu
basabasi untuk membuat suasana yang dingin dan kaku ini menjadi hangat, oppa.” Ia tersenyum, “Aku tidak
bermaksud apa-apa.” lanjutnya.
“Benarkah? Kalau begitu, mari kita bicarakan hal yang
lain. Pengkhianatan dan segala tetek bengek tentang kesetiaan pada negara
adalah hal yang sensitive untuk dibicarakan, apalagi di tempat seperti ini.”
kata Kyung-pyo. Ia memperhatikan sekitarnya. Sepi. Syukurlah.
“Aku sering menatap langit malam,” kata Sae Ron, “dan
aku sering merasa seseorang tengah mengawasiku di suatu tempat.”
Kyung-pyo terdiam sejenak. Sebuah pemikiran mustahil
terbersit. “Sae Ron ssi,
apakah kau jelmaan dari bintang yang sering aku tatap ketika aku rindu?” tanya
Kyung-pyo tanpa sadar.
Sae Ron menoleh padanya kemudian tawanya pecah, “Eh?
Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?”
Kyung-pyo menggaruk-garuk pelipisnya yang sebenarnya
tidak gatal, “Tidak, maaf, aku hanya… ya ampun! Sepertinya aku sedang bingung
saat mengatakan hal barusan.”
Perasaan Kyung-pyo benar-benar campur aduk beberapa
hari sejak pertemuannya dengan Sae Ron. Kemisteriusannya yang memikat, belum
lagi mata Sae Ron yang mengingatkan Kyung-pyo pada cahaya bintang yang
dilihatnya.
“Hal-hal seperti itu rasanya tidak ada lagi, oppa,” Sae Ron masih tertawa, “Tapi,
kenyataan bahwa aku berasal dari tempat yang jauh seperti bintang itu mungkin
benar.”
Kemudian Sae Ron melangkah, memperkecil jaraknya dengan
Kyung-pyo. Tanpa diduga gadis itu melingkarkan tangannya di tubuh Kyung-pyo.
Laki-laki bertubuh tinggi itu terkejut. Ia dapat mencium aroma segar bunga lili
di rambut Sae Ron yang halus. Jantungnya berdebar keras. Mungkinkah Sae Ron
mendengar?
Sae Ron perlahan melepaskan pelukannya, “Sepertinya aku
terbawa suasana,” bibirnya menyunggingkan senyum sekilas, “Ayo, kembali ke
dalam. Kita tidak boleh ketinggalan penampilan Seung Ho.”
Sae Ron menggamit lengan Kyung-pyo dan mereka kembali
ke restoran. Melanjutkan pertunjukan dalam kemeriahan hingga malam membuai
mereka di peraduan.
***
“Hyung! Hyung! Cepat buka pintunya! Hyung!”
Ketukan pintu yang begitu keras membuat Kyung-pyo terbangun.
Sambil terhuyung ia membuka pintu kamarnya dan mendapati Hyun Woo dengan
ekspresi ketakutan bercampur cemas berdiri disana.
“Ada apa, Hyun Woo? Kau tidak lihat jam ya, ini masih pukul…”
“Sudahlah, hyung,
tidak perlu mengkhawatirkan hal itu! Ada hal yang lebih penting dan ini
mengenai So-hyun dan Sae Ron.” kata Hyun Woo penuh kepanikan, “Mereka ditangkap
oleh tentara Amerika Serikat karena dicurigai sebagai mata-mata.”
“HA?! Bagaimana mungkin mereka… Tunggu sebentar!” Kyung-pyo
bergegas kembali masuk ke kamarnya dan mengambil sebuah mantel, “Ayo, kita
kesana! Dimana Seung Ho?”
“Dia sudah berada di penginapan kedua gadis itu, mengintai
apa yang terjadi.”
Banyak prajurit penjaga yang mondar mandir di penginapan
khusus wanita saat Kyung-pyo tiba disana. Mereka berjalan mengendap-endap
sambil membungkuk agar tidak kelihatan. Seung Ho yang sedang bersembunyi di
balik gentong-gentong penyimpanan air di dekat penginapan itu melambai pada
mereka.
“Bagaimana situasinya?” tanya Kyung-pyo.
“Semua petinggi di pangkalan ini baru saja masuk ke kamar
mereka. Aku tidak bisa melihat jelas dari sini.”
“Apa ada tempat yang lebih baik untuk mengintai?” tanya Hyun
Woo.
“Sepertinya ada, seingatku ada sebuah ruangan tak terpakai
disebelah kamar mereka, mungkin disana ada celah untuk melihat atau mendengar
apa yang terjadi disana.” jawab Seung Ho. Ia tak sengaja menemukan ruangan itu
saat sedang diadakan pembersihan di lingkungan pangkalan. Tak banyak diskusi
mereka bertiga langsung menuju ruangan yang dimaksud.
“Sial! Ada penjaga disana, hyung!” ujar Hyun Woo tak sabaran.
Seung Ho berjalan menjauh dari mereka berdua dan menuju ke
lapangan rumput yang ada di samping penginapan. Ia bersembunyi di balik batu
besar yang ada disana. Kyung-pyo dan Hyun Woo saling pandang.
“Ada penyusup! Ada penyusup!” teriak Seung Ho yang ternyata
berhasil mengalihkan perhatian prajurit-prajurit penjaga itu. Beberapa dari
mereka segera bergegas menuju ke keributan tersebut. Seung Ho memberi tanda
pada Kyung-pyo untuk segera masuk ke ruangan tersebut sementara ia berjaga
disana.
Mereka menemukan sedikit kesulitan untuk menemukan celah di
ruangan tak terpakai itu sampai akhirnya mereka menemukan lubang ventilasi
udara yang ditutup dengan kayu triplek di bagian atas ruangan yang menghadap ke
kamar kedua gadis itu.
Dari celah itu, mereka mendapati So-hyun dan Sae Ron sedang
duduk di sebuah kursi dalam keadaan kedua tangan terikat ke belakang. Kaki
mereka pun diikat. Rambut mereka kusut masai dan terdapat beberapa luka memar
di wajah mereka. Melihat hal itu, amarah Kyung-pyo memuncak.
“Hyung! Kau mau
kemana?” tanya Hyun Woo.
“Tentu saja menyelamatkan mereka, apa kau tidak lihat kondisi
mereka? Tuhan, apa yang tentara-tentara gila itu pikirkan?! Menyiksa seorang
perempuan, ck!”
“Kau tenang dulu, hyung!
Aku juga sama marahnya sepertimu, tapi kita belum bisa melakukan apapun saat
ini. Kau lihat sendiri, kan, banyak perwira tinggi disana dan mereka semua
membawa senjata api. Kita bisa mati!”
Kyung-pyo terhenyak mendengar pernyataan Hyun Woo. Sinar mata
dan senyum Sae Ron memenuhi kepalanya sekarang. Apakah benar mereka berdua
pengkhianat yang selama ini dicari? Rahasia yang dimaksud Sae Ron adalah hal
ini?
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Seung Ho masuk dan
memberi mereka masing-masing sebuah pistol.
“Kau dapat ini darimana?” tanya Hyun Woo dengan wajah sedikit
ngeri. Ia belum pernah memegang senjata api sebelumnya.
“Ceritanya panjang, tidak usah dibahas. Bagaimana keadaan
mereka? Aku sempat dengar dari perbincangan prajurit-prajurit itu, mereka
berdua sengaja dikirim oleh militer Uni Soviet untuk memata-matai pergerakan
kita.” kata Seung Ho, “Dan mereka adalah warga negara Korea Utara. Pantas saja
kita tidak pernah melihat mereka sebelumnya, mereka baru saja datang beberapa
minggu yang lalu dan menyamar sebagai perawat.” Seung Ho menarik nafas sebelum
berkata, “Apa kalian yakin ingin menyelamatkan mereka? Kita bisa dicap sebagai
pengkhianat.”
Keraguan tiba-tiba meliputi mereka. Keduanya adalah hal
penting, tapi mereka hanya bisa memilih salah satu.
DUARRR! Sebuah ledakan besar terdengar. Beberapa saat tanah
di sekitar mereka bergetar. Semua prajurit yang berada di sekitar sana
berlarian sambil membawa senjata mereka ke arah perbatasan 38.
“Sepertinya serangan dari utara sudah mulai dilancarkan,”
kata Seung Ho. Ia mengintip apa yang terjadi dari balik pintu. Sayap kiri
bangunan itu terkena bom dan hancur. Sekarang api sedang menyala-nyala disana.
Beberapa saat kemudian terdengar kembali suara ledakan dan tembakan.
Kyung-pyo keluar dari ruangan itu diikuti Seung Ho dan Hyun
Woo. Mereka mendobrak pintu kamar Sae Ron dan mengarahkan pistol pada perwira
yang ada disana.
“Jangan ada yang bergerak! Letakkan senjata kalian di
lantai!” bentak Kyung-pyo, “Seung Ho! Lepaskan ikatan Sae Ron dan So-hyun.”
“Tapi, hyung!”
“Turuti apa kataku!”
Dibantu oleh Hyun Woo, Seung Ho melepaskan ikatan kedua gadis
itu dan memapah mereka keluar dari kamar. Kedua gadis itu dalam kondisi
setengah sadar.
DUARRR! Kali ini sebuah bom jatuh tepat di sayap kanan
penginapan itu. Mereka berlarian di lapangan itu, diantara tembakan dan ledakan
bom, menuju tempat perlindungan. Sae Ron membisikkan sesuatu pada Kyung-pyo.
“Apa yang ia katakan?” tanya Hyun Woo. Ada sedikit darah di
bagian kepalanya karena terkena serpihan bangunan yang dijatuhi bom. So-hyun
berada di gendongannya.
“Ada sebuah terowongan di dekat perbatasan. Kita bisa
berlindung disana.” kata Kyung-pyo. Ia menggendong Sae Ron di punggungnya.
Gadis itu tampak lemah sekali, entah apa yang dilakukan para perwira itu
padanya, “Bertahanlah, Sae Ron ssi!”
Namun, gadis itu tak bersuara. Tak terdengar tanda kehidupan
darinya. Tidak! Hal ini tidak mungkin terjadi!
***
Kyung-pyo membuka matanya perlahan. Selama beberapa saat ia
menatapi langit-langit kamarnya dan kemudian menyadari sesuatu. Seingatnya
semalam terjadi penyerangan di pangkalan ini dan semuanya hancur lebur. Ia
teringat Sae Ron. Dimana gadis itu? Apa yang terjadi padanya? Ia menelan ludah.
Apakah Sae Ron….?
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Hyun Woo masuk sambil
membawa sarapan untuk Kyung-pyo, “Apa kau baik-baik saja, hyung?” tanyanya sambil duduk di pinggir tempat tidur.
“Dimana dia? Dimana Sae Ron ssi? Kepalamu.. bukankah semalam berdarah?!” katanya dengan nada
histeris.
“Hyung, hyung! Apa
yang kau bicarakan? Benturan keras semalam sepertinya sudah membuatmu sedikit
linglung.”
“Benturan? Benturan apa? Semalam pihak utara menyerang kita
dan kedua gadis itu mereka rupanya mata-mata.”
Hyun Woo tertawa keras, “Hyung, sepertinya kau perlu
diperiksa. Semalam kau jatuh pingsan dan kepalamu terbentur. Sae Ron ssi baik-baik saja, sekarang ia sedang
menunggumu di luar.”
Kyung-pyo terpaku mendengar pernyataan Seung Ho. Tanpa banyak
bicara ia beranjak keluar dari kamarnya dan menemukan Sae Ron bersandar di
dinding sambil memegang beberapa tangkai bunga lili dan tersenyum dengan mata
berbinar cerah.
“Annyeong, oppa!”
.fin.
******************************************************
Diikutkan dalam Lomba Fanfiction di event Spring Competition 2016 (20 Maret 2016)
Comments
Post a Comment