Perfect Love

Chapter 6
Sudah beberapa hari ini miyuki tinggal bersama mereka di rumah penginapan. Dia bilang dia dapat izin lebih lama karena pemilik perusahaan perikanan di tempatnya magang masih berada di luar kota. Akari harus sedikit menahan hati melihat miyuki yang terkadang suka pamer kemesraan dengan yamada di depannya. Seperti malam itu, saat mereka tengah menunggu hanabi di akhir festival yang diadakan di pusat kota.
"ne~ ryochan, aku mengantuk." ujar miyuki sambil menguap.
"tapi hanabinya?" sanggah yamada
Akari hanya memperhatikan.
"tapi aku juga ingin melihat hanabi, apa masih lama?" tanya miyuki lagi.
Yamada menoleh pada akari, "apa masih lama?"
"sekitar 30menit lagi. Miyuki-chan mau tidur?"
Kenapa tidak kembali saja ke rumah dan tidur? sambung akari dalam hati.
"dia mengantuk tapi masih ingin menyaksikan hanabi." jawab yamada
"hmm.."
Miyuki bergelayut manja di lengan yamada.
"aku tahu tempat yang enak untuk rebahan sekaligus menyaksikan hanabi." ujar akari
"he? Dimana?" tanya yamada
"ayo ikut~"
Akari berbalik dan berjalan mendahului. Yamada dan miyuki mengikuti dari belakang.
Mereka sampai di sebuah padang rumput luas. Rumputnya tidak terlalu tinggi dan bersih. Langit berbintang juga terpapar luas di atas mereka. Cantik.
"kirei na~ indah sekali langit malam ini." seru miyuki, ia tersenyum pada yamada.
"un.."
"ini tempat kesukaanku jika sedang bosan, tapi aku rasa akan jadi tempat kesukaan kalian juga." papar akari. Gadis itu duduk meluruskan kakinya. Ia melepas getanya. Hari itu khusus festival akari mengenakan yukata. Ia juga mencepol rambutnya. Sedikit make-up natural ia poles di wajahnya yang memang sudah manis. Yamada sempat terkesima melihat akari. Akari itu nampak sangat berbeda dengan kesehariannya yang bisa dibilang sangat cuek dan santai. Gadis ini benar-benar menyimpan banyak kejutan.
Yamada bermaksud duduk di samping akari, sejak kehadiran miyuki disana ia sudah jarang bicara dengan akari. Ia disibukkan dengan permintaan atau rengekan miyuki. Sekarang ia sendiri bingung dengan perasaannya dan miyuki. Sedikit perasaan itu masih ada untuk miyuki tapi tidak sama lagi, tidak seperti dulu saat ia benar-benar jatuh cinta pada sosok miyuki. Ia sadar ada perasaan lain yang hadir dalam dirinya dan itu untuk... Yamada menatap akari yang tengah memandangi langit di atasnya. Menghitung berulang-ulang bintang di atas sana.
Yamada tahu untuk siapa perasaannya. Laki-laki itu tersenyum.
"mau sampai kapan kamu menghitung bintang? Terlalu banyak." ujar yamada
Akari tersenyum dan kembali melanjutkan hitung menghitungnya.
"ryochan!" miyuki mendekati mereka. Ia menarik tangan yamada.
"kita duduk di sebelah sana saja, lebih indah."
Yamada menoleh pada akari seolah minta persetujuan. Akari mengangguk.
"kamu tidak mau ikut?" tanya yamada
"sepertinya akari sedang sibuk. Ya kan?" potong miyuki sambil menatap tajam akari.
"tidak usah, kalian saja. Disini tempat favoritku untuk menyaksikan hanabi." ujar akari. Sebenarnya ia bohong.
"benarkah?" tanya yamada lagi
"un."
Miyuki menarik yamada menjauh dari tempat akari. Mereka duduk di tempat yang kata miyuki lebih indah itu.
Sendiri lagi di festival tahun ini. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Akari menatap yamada dan miyuki yang tengah bercengkrama. Miyuki merebahkan kepalanya di pangkuan yamada. Mereka tertawa. Mereka berpelukan. Mereka saling membelai rambut. Mereka... Akari menghela nafas. Ia akan selalu begini, menghitung bintang yang tak terbatas jumlahnya itu.
Satu per satu letusan hanabi terdengar. Percikannya di langit berwarna-warni. Bermacam-macam dari yang kecil hingga yang sangat besar. Langit semarak malam itu. Yamada dan miyuki berdiri sambil menyaksikan langit malam itu. Miyuki tidak jadi tidur karena sibuk membuat akari merasa kesal padahal hal itu tidak berpengaruh pada akari. Mungkin bukan tidak tapi sedikit.
"sebentar lagi puncaknya.." ujar akari. Kini ia berdiri di samping yamada. Miyuki melirik sinis padanya dan semakin mempererat pelukannya di lengan yamada.
Satu hanabi puncak meluncur ke langit kemudian meletus. Bunga-bunga hanabi yang lebih berwarna-warni berserakan di langit. Mereka bertiga yang berdiri disana terpukau.
"kirei~" gumam akari. Matanya berkilat antusias melihat pemandangan cantik di depannya.
Yamada menatap gadis itu sekilas kemudian menatap ke depan. Diam-diam ia mendekatkan tangannya ke tangan akari kemudian mengaitkan jarinya di sela-sela jari akari. Menggenggamnya erat.
Akari menoleh pada yamada. Menatap tak percaya pada laki-laki yang kini masih menatapi langit yang masih penuh dengan hanabi-hanabi susulan setelah hanabi puncak. Akari tersenyum. Ia tahu ia harus bersabar untuk mendapatkan saat yang indah bersama yamada.
Festival hanabi telah selesai beberapa saat yang lalu dan kini ketiga orang itu sedang berjalan menuju rumah penginapan. Malam sudah sangat larut dan masing-masing dari mereka sudah mengantuk apalagi miyuki yang kini sudah tertidur di punggung yamada.
"berat?" tanya akari sambil menunjuk miyuki.
"tidak juga." jawab yamada
Mereka diam beberapa saat. Sebentar lagi mereka sampai.
"apa kamu punya orang yang disukai, akari?" tanya yamada
"hmm?" akari sedikit terkejut
"jangan pasang tampang takut begitu, aku hanya tanya apa kamu punya orang yang disukai."
"hmm.. Ada."
"oh.."
Jawaban akari sedikit membuat yamada kecewa.
"tapi aku tidak tahu apa ia menyukaiku juga, lagipula..
"lagipula apa?" tanya yamada ingin tahu
Akari tertawa, "kenapa begitu ingin tahu?"
Yamada hanya diam.
Miyuki meringsek bangun dari tidurnya.
"belum sampai ya?" gumamnya. Matanya masih terpejam.
"belum." jawab yamada. Kemudian miyuki tertidur lagi.
"kamu belum jawab pertanyaanku, lagipula apa?"
"lagipula ia sudah memiliki seseorang yang ia jaga."
"hmm.. Siapa? Apa aku mengenalnya?" tanya yamada.
Akari menatap laki-laki itu. Ia ingin mengatakan bahwa ia menyukai yamada tapi..
"kamu tidak mengenalnya."
"hmm.."
"kita sampai.." seru akari. Gadis itu berlarian kecil menuju rumah dan membuka kunci pintunya. Miyuki sudah bangun lagi.
"selamat malam." ujar akari sebelum masuk ke kamarnya.
"selamat malam." balas yamada
Akari merebahkan dirinya di tempat tidur. Ia memperhatikan tangannya yang digenggam yamada saat hanabi puncak membumbung tinggi tadi. Gadis itu tersenyum.
Orang yang aku sukai itu kamu, Yamada Ryosuke.
Paginya yamada terbangun sedikit terlambat. Sudah pukul sebelas siang, untungnya ini hari minggu dan mereka libur. Yamada bergegas keluar kamar untuk mandi. Ia mendapati akari sedang berada di teras samping. Hanya duduk sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang bertiup. Miyuki tidak terlihat. Biasanya gadis itu akan bangun sangat terlambat jika sudah tidur sangat larut.
"eh, yamada, baru bangun?" tanya akari.
Laki-laki itu cengengesan.
"ada apa?"
"tidak ada,aku baru mau mandi."
"hmm.."
Tiba-tiba yamada teringat kalau samponya habis.
"akari."
"ya?"
"aku boleh minta sampomu? Aku sedang kehabisan."
"oh, ambil saja di lemari kamarku."
"tidak apa-apa aku masuk ke kamarmu?"
"un, jika ada yang hilang sudah pasti itu kamu." canda akari
"baiklah."
Yamada berbalik menuju kamar akari. Semuanya tertata rapi disana,ruangan itu juga harum. Parfum lavender. Akari sepertinya menyukai lavender.
Yamada mencari-cari sampo di lemari yang dimaksud akari dan ia menemukannya. Ia baru saja akan keluar ketika sesuatu di balik pintu akari menarik perhatiannya. Kertas segi empat warnawarni tertempel disana. Ada tulisan-tulisan.
Aku dapat teman baru di rumah penginapan hari ini dan ia pintar masak.
Yamada tersenyum melihat gambar seorang koki sedang memasak disebelah tulisan itu.
Namanya yamada ryosuke dan ia takut gelap ha ha ha
Kami ke kota dan menghabiskan banyak waktu bersama. Aku senang. Aku suka senyum Yamada.
Di kertas berikutnya ada sebuah gambar seorang gadis yang memeluk hati. Apa aku mulai menyukainya? Tulisan itu tertera sangat kecil disana.
:'(
Dia sudah punya seseorang.
Kertas-kertas itu seperti timeline. Timeline perasaan akari dimulai dari yamada tinggal disini.
Apa aku harus menyerah? Nama gadisnya Miyuki. Hiks.
Aku menyukainya. Aku menyukai yamada ryosuke.
Satu kertas terakhir kosong. Sepertinya belum dilanjutkan lagi oleh akari.
"yamada mengapa lama seka..
Akari terdiam. Menatap yamada dan balik pintunya bergantian. Ia lupa jika ada kertas-kertas itu.
"ada yang mau kamu katakan?" tanya yamada. Jantungnya berdebae keras karena senang.
"kertas-kertas itu.." jawab akari terbata. Ia menarik nafas dan menghembuskannya, "maaf, aku menyukaimu. Kamu itu cinta pertamaku, yamada ryosuke."
Akari menangis.
Yamada memeluk gadis itu.
"kenapa tidak bilang dari dulu?" tanya yamada pelan. Perasaannya pun kini berbalas.
Lama sekali mereka berpelukan.
"sedang apa kalian?" suara miyuki sontak mengagetkan mereka. Pelukan pun terlaksa dilepaskan. Sesuatu harus diterangkan dan diputuskan saat itu juga.
"ryo-chan, aku kira kita masih bisa bersama lagi seperti dulu, aku datang kesini untuk memperbaiki semuanya. Aku ingin minta maaf atas kejadian waktu itu." ujar miyuki dengan pahit. Ia merasa ditikam dengan bilati melihat yamada dan akari berpelukan.
"aku sudah memaafkanmu, miyuki, tapi semuanya tidak bisa kembali seperti dulu." jelas yamada
"kita tidak tahi jika kita tidak mencobanya lagi, ryosuke."
"kita sudah pernah mencobanya, berkali-kali dan sudah cukup rasanya, miyuki. Hubungan kita tidak pernah berjalan mulus jika kamu masih bersikap seperti ini."
Kalimar itu membungkam miyuki. Ia menatap akari yang berdiri di belakang yamada.
"apa karena gadis ini?" tanya miyuki, "apa karena dia?"
"bukan karena dia. Ini sudah jadi keputusanku sejak kamu mengatakan putus di pantai waktu itu, akari tidak ada hubungannya dengan ini."
"kenapa kamu begitu membelanya? Kamu baru saja mengenalnya."
Airmata membanjiri wajah miyuki. Emosinya sudah tak dapat ditahan lagi.
"sudahlah, miyuki. Masih banyak laki-laki yang menyukaimu di luar sana,aku rasa mereka bisa memberikan apa yang kamu butuhkan, aku rasa mereka bisa jauh lebih mengerti dirimu daripada aku."
"aku tidak mau, ryosuke,aku hanya mau kamu."
Akari sebenarnya sedih melihat miyuki tapi genggaman tangan yamada selalu memberi kode untuk tidak turut campur.
Jeda beberapa menit. Yamada dengan sejuta pikirannya, akari dengan begitu banyak perasaan yang berkecamuk di dadanya dan miyuki dengan kekalutannya.
Miyuki tiba-tiba masuk ke kamarnya dan keluar lagi beberapa menit kemudian dengan barang-barangnya.
"aku rasa sudah berakhir, sebaiknya aku pulang. Selamat, akari, kamu menang." ujar miyuki seolah ini sebuah pertarungan.
"sebenarnya aku sudah merasa bahwa yamada menyukaimu sejak ia menceritakan tentangmu di pantai waktu itu, aku kira aku bisa membuatnya lupa padamu, tapi nyatanya tidak. Maafkan aku." miyuki menggerek koper dan tasnya keluar rumah penginapan. Perasaannya sakit.
"maafkan aku, miyuki." seru yamada tapi miyuki tidak mengindahkan dan terus berjalan. Ceritanya dan yamada sudah menemukan akhir.
"yamada, apa tidak apa-apa, miyuki." akari buka suara. Bagaimanapun ia juga cemas pada miyuki. Gadis itu baik, ia hanya tidak bisa mengontrol emosinya.
"tidak apa-apa, miyuki itu gadis yang kuat. Aku juga sebenarnya tahu hubungan kami tidak akan bisa dipertahankan, lebih baik diputuskan sekarang daripada nanti akhirnya tak ada seorangpun dari kami yang bahagia." jelas yamada panjang lebar.
Akari diam memperhatikan. Semoga miyuki dapat menemukan orang yang benar-benar mencintainya, doanya dalam hati.
"hey, kenapa bengong? Kita juga belum selesai."
"eh?"
"kamu tidak mau tahu apa jawabanku?" tanya yamada sambil mengusap pipi akari.
"eh?"
"aku juga menyukaimu." ujar yamada sembari mencium lembut bibir gadis itu.
Kertas terakhir itu berisi gambar dua orang yang tengah berpegangab tangan sambil menarap hanabi. Dia juga menyukaiku.
-end-
Published with Blogger-droid v2.0.10

Comments

Popular Posts