Timeline of Love
Chapter One
Dont you know me? The reason i'm here is because of you
But my eyes tingle with the cold so i cant say anything
I just look toward you by myself
Tap. Tap. Tap. Bunyi sepatu beradu dengan lantai memenuhi lobi perusahaan itu. Direktur utamanya baru saja datang dengan segenap asisten dan bodyguardnya.
Perusahaan itu bernama Four-leaves company. Pemiliknya seorang pemuda, masih sangat muda untuk memiliki sebuah perusahaan besar tapi itu semua diperolehnya dengan kerja keras. Berwajah tampan, tubuh proporsional dan tentu saja dengan semua kekayaan yang dimilikinya, pemuda ini sanggup membuat wanita mana pun jatuh cinta. Tapi sayang belum satupun yang bisa memenangkan hatinya. Mungkin banyak wanita yang datang dan pergi dalam kehidupannya tapi yang tetap tinggal, belum ada.
"gomen, yamada-san.. Ada telepon dari ibumu.." ujar sekretarisnya
Dia hanya mengangguk sembari mengangkat telfon dari ibunya.
"Kau baru satu jam yang lalu tiba dari Seoul dan sekarang sudah bekerja lagi?" ujar ibunya.
"okaa-chan, pekerjaanku masih banyak."
"iya, ibu mengerti tapi kau akan sakit jika terlalu memaksakan diri. Kau harus berlibur sesekali."
"tenang saja, okaa-chan. Aku sudah sarapan dan minum suplemen."
"susah sekali menasehatimu, yamada ryosuke! Terserah kau sajalah, yang pasti malam ini kau harus pulang."
Ryosuke tergelak, "baiklah, okaa-chan..terima kasih."
telpon itu terputus kemudian.
ryosuke menghela nafas. ia memutar kursinya menghadap kaca tembus pandang yang menampakkan pemandangan langit biru yang terpampang bersih di luar sana. ia menerawang, fikirannya terpusat pada sebuah perasaan kosong.
seseorang mengetuk pintu ruangannya ketika baru saja ia akan memejamkan matanya.
"yamada-san, dia sudah disini.." ujar sekretarisnya.
ryosuke tersenyum.
» « » «
airmatanya berlinang, dengan berat hati ia harus meninggalkan rumah yang menjadi tempatnya berteduh selama ini. rumah itu disita oleh sebuah perusahaan. ayahnya memiliki hutang dengan perusahaan itu dan tidak sanggup membayarnya. selain rumah, kenyataan lain yang harus diterimanya adalah ia juga harus bekerja di perusahaan tersebut. ayahnya terpaksa menandatangani tambahan kontrak tersebut.
bagaimana bisa seseorang bertindak sekejam ini, membuat orang lain merelakan dirinya untuk menjadi barang sitaan.
gadis itu menghapus airmatanya ketika ia sampai di sebuah gedung perusahaan.
"permisi aku mencari yamada ryosuke," ujarnya tegas. pada dasarnya dia bukan gadis cengeng tapi kenyataan yang baru saja ia hadapi membuatnya harus menangis.
"mizunashi akari?" tanya resepsionis itu
gadis itu hanya mengangguk.
"tunggu sebentar,"
resepsionis itu tampak menelfon seseorang. akari mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. gedung yang besar dan luas dengan interior yang menakjubkan.
selera tuan yamada ini rupanya tinggi juga, batinnya.
"maaf, mizunashi-san, saya akan mengantar anda ke ruangan yamada-san."
akari mengikuti kemana resepsionis itu melangkah dan setelah melewati lima lantai dengan lift, sampailah dia di depan sebuah ruangan.
resepsionis itu mengetuk pintu dan disambut oleh seorang perempuan lagi.
"maeda-san, ini mizunashi akari-san, dia...
"baiklah, baiklah.. silahkan masuk mizunashi-san,"
kenapa semua orang tampak tegang, akari mengerutkan dahinya.
apa yamada ryosuke ini orang yang galak? dan pastinya sombong, batin akari skeptis.
"yamada-san, dia sudah disini.."
seseorang terlihat duduk di satu-satunya kursi disana. orang itu hanya menjentikkan jarinya tanpa berbalik untuk menyuruh sekretarisnya keluar dari ruangan.
astaga, dia benar-benar orang yang sombong, akari menaikkan sebelah alisnya.
"apa maumu, yamada ryosuke?" akari bersuara. ia tidak takut dengan orang sesombong yamada ryosuke.
» « » «
ryosuke berbalik dan menampakkan sosoknya. gadis ini pasti pemberontak karena dia berani berkata seperti itu. ryosuke tersenyum sinis.
"apa mauku ya, nona mizunashi? kau cukup berani dengan majikanmu rupanya.."
"majikan?" akari bertanya heran.
"seperti yang sudah kau ketahui, ayahmu punya hutang denganku, dan rumahmu tidaklah cukup untuk menutupi semuanya jadi itulah gunanya dirimu, bekerja untukku." ucap ryosuke dengan sombong.
terlihat raut terpukul dari wajah akari. ryosuke mendekatinya.
"lebih baik aku mati daripada harus bekerja dengan orang sombong sepertimu!" protes akari sembari melangkah ke pintu keluar.
"terserah padamu, yang jelas jika kau tidak menuruti perjanjian, pihak berwajib akan membawa ayahmu," ryosuke mencoba ngintimidasi.
langkah akari terhenti. airmata menggenang, ia tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi. ia berbalik, menguatkan hati untuk bekerja dengan laki-laki sombong ini.
"baiklah, aku akan menuruti apa yang kau katakan asal kau tidak menyentuh keluargaku."
"tentu saja, aku orang yang konsisten,nona mizunashi dan sekarang mari kita bahas apa pekerjaanmu,"
ryosuke kembali berjalan mendekati akari, gadis itu bahkan sempat mundur beberapa langkah karena ryosuke bergerak semakin lama semakin dekat dengannya.
"apa yang kau.."
akari tidak memiliki ruang kosong lagi untuk menghindari tendensi ryosuke. ia benar-benar terpojok dan saat itulah ia pasrah, jika 'melayani' ryosuke adalah salah satu pekerjaannya, terserah. asal ryosuke tidak menyentuh keluarganya. akari memejamkan matanya, ia benar-benar takut.
ryosuke tergelak. ia mendekatkan bibirnya ke telinga akari.
"jangan fikir aku akan melakukan hal aneh padamu, kau bahkan tidak menarik sedikitpun, mizunashi akari, hh!"
mata akari melebar, ia menggigit bibirnya karena kesal.
kau benar-benar brengsek, yamada ryosuke..
"pekerjaanmu adalah kau akan menjadi asisten rumah tangga di rumahku," ryosuke menjauh darinya dan kembali ke kursinya.
asisten rumah tangga?
"kau tahu kan apa yang dilakukan asisten rumah tangga?"
akari mengangguk.
"bagus kalau kau mengerti, sekarang kau boleh keluar dan tanyakan dimana alamat rumah pribadiku pada maeda, ia mengerti apa yang harus dilakukannya."
ryosuke menjentikkan jarinya, pertanda akari harus keluar dari ruangannya segera.
akari keluar sembari menggeram kesal.
"yamada ryosuke kau akan mendapatkan balasan suatu saat nanti," umpatnya.
akari langsung menemui maeda untuk menanyakan alamat ryosuke.
» « » «
ryosuke meregangkan otot-ototnya. baru saja ia bertemu dengan seseorang yang akan bekerja padanya. setidaknya ia tidak sendiri lagi di rumah itu dan gadis ini sepertinya menarik. ryosuke tersenyum sambil memandangi kontrak yang ditandatangani ayah akari.
selamat datang di kehidupanku, Akari, batinnya dan mendadak perasaan kosongnya terisi kembali.
» « » «
Akari tiba di sebuah rumah bertipe minimalis. Ia diantar oleh driver pribadi ryosuke. Mouri-san berumur setengah abad dan sudah cukup lama ikut keluarga ryosuke. Menurut Mouri-san keluarga ryosuke sangat baik, mungkin akari sependapat jika keluarga ryosuke baik tapi tidak dengan anaknya.
"mizunashi-san, aku akan memgantarmu ke kamar."
Mouri-san naik ke lantai atas dan berhenti di depan sebuah ruangan.
"disini?" tanya akari heran.
Mouri-san mengangguk seraya menyerahkan kunci pintu.
"jika aku asisten rumah tangga seharusnya kamarku di bawah bukan?"
"aku diperintahkan ryosuke untuk memberimu kamar disini, lagipula kamar ini dekat dengan kamar ryosuke." Mouri-san menunjuk sebuah ruangan di seberang kamar akari. Kamar mereka dipisahkan semacam jembatan penghubung. Interior aneh tapi unik.
Akari membuka kunci kamar itu dan masuk. Kamar yang sangat luas dan ehmm.. Apa ini tidak terlalu mewah untuk ukuran seorang asisten rumah tangga?
Akari duduk di pinggir tempat tidur, kasurnya empuk.
"ada lagi yang bisa ku bantu?" tanya Mouri-san.
"kemana asisten rumah tangga sebelumnya?" tanya akari
"mereka berhenti, karena yaa kau mungkin sudah tahu sikap ryosuke saat awal bertemu," jelas Mouri-san
Akari mengangguk. Sangat tahu.
"lalu orangtuanya?"
"aku kira fungsi kau disini sebagai asisten, nona mizunashi. Bukan wartawan infotainment,"
Akari berdiri. Sejak kapan dia? Oh baiklah ini rumahnya jadi kapan saja ia bisa pulang dan pergi.
"terima kasih atas bantuanmu,paman. Biar aku saja yang menangani gadis banyak tanya ini." ujar ryosuke dengan sopan
Setidaknya ia punya tata kram terhadap orangtua, batin akari
"dan kau, kau sebaiknya cepat kerjakan tugasmu." nada bicara ryosuke mendadak berubah. Memerintah.
Ohh ku tarik kalimatku barusan, batin akari menyesal.
Akari bergegas keluar dari kamar,ia berniat menuju lantai bawah. Mencari apa yang bisa dikerjakan asal bisa jauh dari pemuda semena-mena ini.
"tunggu!" ryosuke melepas jasnya, "ini!" ia melempar jas itu ke arah akari, "cucikan sekalian. Oh iya, aku akan pergi ke rumah orangtuaku jadi tolong setrikakan pakaianku," kemudian ryosuke masuk ke kamarnya.
akari menggeram kesal. Yamada ryosuke, kau! Tenang akari tenang~ dan akari hanya bisa menuruti perintah ryosuke.
Ia menuju bagian belakang rumah. Ada sebuah paviliun yang berisi lemari empat pintu. Semua pakaian ryosuke ada disana. Dahi akari berkerut,jadi apa yang ada di dalam kamarnya jika semua pakaian ada disini?
Sebuah lampu kecil menyala.
"jangan melamun!kerjakan tugasmu," suara ryosuke terdengar dari speaker yang berada di dekat lampu yang menyala tadi.
Oh jadi begitu caranya ia memerintah, hebat sekali orang ini.. Akari berdecak sinis sebelum akhirnya menyetrika pakaian ryosuke.
Tak lama kemudian, akari sudah naik ke atas dan berada di depan pintu kamar ryosuke dengan beberapa potong pakaian.
"yamada-san, ini pakaianmu.."
Tak ada sahutan.
Akari mengetuk lagi, sedikit kuat kali ini. "yamada-san, pakai.."
Pintu itu terbuka. "berisik! Aku dengar!" setelah mengambil pakaiannya, ryosuke kembali masuk ke kamarnya.
Dasar tidak tahu terima kasih,batin akari. Kemudian ia kembali turun ke bawah, menyelesaikan sisa pekerjaannya yang tidak sedikit. Masih banyak cucian kotor yang menumpuk dan beberapa piring kotor yang menunggu giliran.
Terdengar suara mobil keluar dari pelataran halaman rumah. Ryosuke sudah pergi nampaknya. Akari meluruskan pinggangnya. Ia tengah memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci dan mengatur waktunya menjadi 30menit. Setrikaannya sudah selesai dan tinggal menunggu mesin cucinya berhenti membilas dan mengeringkan pakaian. Sepertinya asisten sebelumnya sudah lama berhenti dan ryosuke terlalu malas untuk ke melaundry pakaiannya.
» « » «
"sepertinya akari gadis yang baik," ujar Mouri-san.
Ryosuke tersenyum. Menarik adalah kata yang lebih tepat untuk akari.
"kau tidak tertarik padanya?" tanya Mouri-san.
Ryosuke tergelak, "dia sama sekali tidak menarik, paman." bohong ryosuke.
"benarkah?"
"kita lihat saja,paman yang pasti untuk sekarang dia hanya asisten rumah tanggaku,"
"hati-hati ryosuke, perasaan bisa saja tumbuh." mereka sampai dan Mouri-san tengah memarkirkan mobil mereka.
"sudah sampai,"
Sepertinya ryosuke tidak mendengar karena ia tengah fokus pada sesuatu yang membuatnya tersenyum.
"ryosuke?" Mouri-san mengetuk kaca jendelanya.
"oh, maaf..aku.."
"ryo chaaan.." sambut ibunya
"kaa chan aku bukan anak2 lagi harus disambut seperti ini,"
"sebesar apapun kau sekarang,kau tetap bayi kecil ibu.."
Mouri-san berdeham geli, "akari.pasti terbahak jika mendengar ini,"
"dia tidak akan terbahak jika tak ada yang membocorkannya," bisik ryosuke. Mouri-san tersenyum geli.
"akari?" rupanya ibu ryosuke mendengar pembicaraan pelan ryosuke dan Mouri-san.
"bukan siapa-siapa, hanya asistenku yang baru."
Ibunya hanya mengangguk. "baiklah, ayahmu sudah menunggu di dalam sebaiknya segera masuk. Dan Mouri-san sebaiknya kau ikut kami makan malam,"
» « » «
Hatchuu,siapa yang membicarakanku? Akari menggosok hidungnya yang gatal. Ia menyesap kuah ramen instannya. Hanya ada itu di lemari makanan dan akari berfikir untuk berbelanja besok,ia akan memasak. Ia menghirup kuah ramennya lagi. Dia bertekad untuk menyukai kehidupannya yang baru. Pekerjaannya dan tentu saja yamada ryosuke.
Comments
Post a Comment